https://pemilu.antaranews.com/berita/829490/lima-debat-lima-cerita
Lima debat, lima cerita
* Pilpres <https://pemilu.antaranews.com/pilpres>
* 13 April 2019 23:36
Kubu 02 akan banyak berdoa di masjid saat hari tenang Suasana panggung
debat kelima yang diikuti pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko
Widodo dan Ma'ruf Amin dan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto dan
Sandiaga Uno di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019). Debat kelima
tersebut mengangkat tema Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan
Investasi serta Perdagangan dan Industri. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras.
Jakarta (ANTARA) - Debat calon presiden dalam pemilu 2019 menjadi salah
satu barometer bagaimana pasangan calon mampu menuangkan pemikirannya
dalam isu terpilih dan dapat dipahami oleh masyarakat yang menyaksikannya.
Di Indonesia, debat yang diikuti oleh calon presiden yang berlaga dalam
pilpres mulai dikenalkan ke publik pada penyelenggaraan pilpres pada
2009. Dalam format yang masih ujicoba tersebut, debat yang diikuti oleh
Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla itu
lebih menampilkan bagaimana masing-masing kandidat presiden itu
menyampaikan visi dan misinya.
Kini, dalam pilpres 2019 seakan mengulang debat capres pada lima tahun
sebelumnya, Joko Widodo kembali bertemu dengan Prabowo Subianto untuk
beradu argumentasi dalam mempertahankan program yang ditawarkan kepada
masyarakat.
Debat pertama dilakukan pada 17 Januari 2019 dengan tema hukum, hak
asasi manusia dan terorisme. Debat berlangsung di Pusat Konvensi
Bidakara dan dihadiri tak hanya oleh kedua pasangan calon namun juga
ketua partai yang menjadi pendukung dari masing-masing calon.
Prabowo bersama Sandiaga tiba di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan,
bersamaan sekitar pukul 18.55 WIB. Prabowo yang menumpang mobil Alphard
berwarna hitam mengenakan kemeja putih dibalut jas hitam dan dasi merah
hati lengkap dengan kopiah hitam Sedangkan Sandiaga Uno juga mengenakan
kemeja putih dan jas hitam serta dasi merah dan kopiah hitam, mereka
berdua kemudian melambaikan tangan kepada awak media di depan banner
Debat Pertama Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Pemilu 2019.
Sebelumnya, mereka menggelar doa bersama dengan anak yatim dan salat
Maghrib berjamaah di kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta
Selatan, sebelum melaksanakan debat capres
Demikian pula pasangan calon nomor 01, Joko Widodo dan KH. Ma'ruf Amien
berangkat dari Kompleks Istana Presiden Jakarta secara bersama-sama dan
didahului dengan sholat Maghrib berjamaah.
"Sudah mantul, mantap betul," kata Jokowi kala itu.
Ketika ditanya apakah ada pembagian materi atau jawaban yang nanti akan
disampaikan, Jokowi mengatakan tidak ada.
"Ya kira-kira kalau dari saya masih kurang, nanti ditambahin oleh Pak
Kiai, ada juga yang Pak Kiai menyampaikan semuanya pada beberapa
bidang," katanya. Ia menyebutkan dirinya bersama Ma'ruf Amin menghadapi
Debat I Pilpres 2019 dengan santai.
"Kami santai santai sajalah," kata Jokowi yang mengenakan kemeja putih
kala itu.
Salah satu yang menarik dalam debat pertama itu ketika Prabowo
mempertanyakan mempertanyakan kinerja Presiden Joko Widodo dalam
memberikan jabatan penting kepada anggota bahkan pengurus partai
politik, yang diduga akan menimbulkan konflik kepentingan.
"Bagaimana tanggapan Bapak (Jokowi) bahwa jabatan yang penting itu
diserahkan kepada kader yang aktif dari partai politik dan bukan seorang
yang benar-benar netral," tanya Prabowo dalam debat capres putaran
pertama di Hotel Bidakara Jakarta, Kamis.
Menurut Prabowo selama empat tahun Jokowi memimpin ada kesan bahwa
penegakan hukum dan keadilan hanya masih timpang.
"Sekarang ini kesan bahwa penegakan hukum keadilan itu hanya untuk orang
kuat atau orang kaya yang punya koneksi," ujar Prabowo.
Menanggapi hal tersebut, Jokowi mengatakan sebuah jabatan itu harus
diberikan kepada orang yang kompeten, menurutnya proses rekrutmen yang
mengacu pada kompetensi, integritas dan kapasitas, tidak hanya berlaku
kepada orang yang bukan berasal dari partai.
"Karena jabatan harus diberikan kepada orang yang kompeten dengan proses
panjang yang transparan,banyak kok yang berasal dari partai yang dalam
memimpin kita sangat baik dan legendaris," ujar Jokowi.
Debat kedua, menguji komitmen atas sumber daya alam
Dalam debat kedua yang diikuti kembali oleh pasangan calon 01 Joko
Widodo dan pasangan calon 02 Prabowo Subianto ini berlangsung pada 17
Februari 2019 di Hotel Sultan dengan tema energi dan pangan, sumber daya
alam dan lingkungan hidup, dan infrastuktur.
Beberapa jam sebelum debat, Sandiaga Uno dan Ketua Umum PAN Zulkifli
Hasan mendatangi kediaman Capres Prabowo Subianto, di Jalan Kertanegara
No 4, Kebayoran, Jakarta Selatan.
Zulkifli Hasan terlebih dahulu sampai ke kediaman Prabowo Subianto yakni
sekitar pukul 15.15 WIB. Kemudian, disusul oleh Sandiaga Uno yang tiba
pukul 15.35 WIB.
Zulkifli dan Sandi yang langsung masuk ke halaman rumah Prabowo dengan
menggunakan mobil tak memberikan sepatah kata kepada wartawan terkait
kunjungannya ke rumah Prabowo. Sementara itu, sejumlah anggota tim Badan
Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berkumpul di
Kertanegara, Jakarta Selatan. Mereka berkumpul untuk briefing persiapan
debat capres.
Sementara pasangan calon 01 Joko Widodo, mengaku akan menjalani debat
kedua Pilpres 2019 secara santai.
"Ya tergantung situasi sajalah, kalau kita ini santai-santai saja," kata
Jokowi ditemui di veranda Istana Merdeka, Jakarta pada Minggu sore.
Dalam jumpa pers itu, Jokowi didampingi oleh istrinya Iriana Joko
Widodo, putri keduanya Kahiyang Ayu, menantunya Bobby Nasution serta
cucunya Sedah Mirah.
Menurut Jokowi, debat kedua diharapkan berlangsung secara lebih baik
kendati KPU tidak memberikan kisi-kisi debat. Terkait dengan tema debat
yang akan diangkat mengenai energi, pangan, infrastruktur, sumber daya
alam dan lingkungan hidup, mantan gubernur DKI Jakarta itu menegaskan
dirinya telah siap.
"Ceritakan aja apa yang sudah kita lakukan dan apa ke depan visi yang
ingin kita kerjakan," jelas Jokowi.
Dalam perdebatan "empat mata" tersebut, baik Jokowi maupun Prabowo
sama-sama mengeluarkan pertanyaan yang cukup membuat lawan perlu tangkas
dalam memberikan jawaban dan data.
Prabowo Subianto menyoroti banyaknya utang akibat pembangunan
infrastuktur di era pemerintahan Joko Widodo yang menyebabkan inefisiensi.
"Saya melihat bahwa masalah 'cost of money', banyak utang komersial
untuk membangun infrastruktur yang menyebabkan inefisiensi," kata
Prabowo dalam Debat Capres Putara Kedua sesi pendalaman visi misi di
Jakarta, Minggu.
Prabowo menambahkan banyak masyarakat yang dinilai dirampas tanahnya
karena pembangunan tersebut.
"Masyarakat tanahnya diambil, memindahkan kehidupan mereka," katanya.
Karena itu, Prabowo menawarkan untuk pembangunan infrastruktur sedianya
dilakukan dengan pendekatan kerakyatan.
"Ini sangat penting dengan bicara, kita harus berorientasi untuk
meningkatkan nilai tambah dari segi ekonomi agar bisa membayar
utang-utang itu yang membuat pertumbuhan ekonomi melambat," katanya.
Jokowi menjawab menyatakan tidak benar bila pembangunan infrastruktur
dilakukan tidak efisien dan grasa-grusu seperti tudingan capres nomor
urut 02 Prabowo Subianto, karena pembangunan infrastruktur telah
direncanakan sejak lama dan melalui proses perencanaan yang baik dan benar.
"Kalau dikatakan tanpa feasibilty tadi salah besar karena ini telah
direncakan sejak lama. Semuanya ada, dan ada juga DED (Detail
Engineering Design)," katanya
Jokowi mengemukakan hal tersebut guna membantah pernyataan Prabowo bahwa
pembangunan infrastruktur dilakukan secara grasa-grusu.
Ia mencontohkan seperti proyek LRT Palembang dan LRT Jakarta semuanya
membutuhkan waktu terutama dalam memindahkan budaya orang untuk beralih
dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
"Yang saya pelajari dari negara lain butuh waktu 10-20 tahun untuk
memindahkan budaya itu," ucapnya.
Tak hanya materi debat, tata busana pun menarik perhatian dalam debat
kedua ini, meski sama dengan debat pertama gaya busana Joko Widodo dan
Prabowo Subianto yaitu Jokowi mengenakan kemeja putih dipadukan dengan
celana hitam, sementara Prabowo memakai setelan jas hitam dengan peci
cukup memberikan impresi.
Pengamat mode Sonny Muchlison menilai pakaian dapat menjadi representasi
seseorang. Menurut dia, pemilihan warna putih dari busana yang dikenakan
Jokowi malam ini sebagai simbol ketulusan, murni dan berusaha untuk jujur.
"Konsisten dengan warna putih karena tulus dan terus merakyat, lebih
jujur dan apa adanya," kata Sonny saat dihubungi Antara, Minggu.
Prabowo, yang mengenakan jas hitam menurut Sonny terlihat necis dan
perlente dengan gaya seperti itu.
"Prabowo menampakkan karismanya dengan membuat tampilan yang perlente,
necis dan penuh dengan kewibawaan," kata dia.
Menurut Sonny, Prabowo terlihat lebih keren mengenakan setelan jas
dibandingkan dengan busana safari yang kerap dia kenakan saat kampanye
karena membuat tubuhnya terlihat lebih ramping.
Perancang busana yang juga membuat buku "Batik Ing Banten" ini menilai
gaya busana seperti ini akan terus bertahan hingga debat ketiga, yang
akan mempertemukan calon wakil presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno.
Dalam debat kedua ini, juga diwarnai dengan adanya ledakan di sekitar
lokasi nonton bareng debat di Parkir Timur Senayan, namun polisi segera
menangani kasus tersebut sehingga tidak menganggu keamanan selama debat
berlangsung.
Debat ketiga, perdebatan antar cawapres lintas generasi
Dalam debat ketiga yang berlangsung 17 Maret 2019, banyak menarik
perhatian masyarakat karena dalam debat kali ini, saling berhadapan
cawapres dari paslon 01 Ma'ruf Amien dan cawapres paslon 02 Sandiaga Uno.
Ma'ruf Amien dipandang sebagai representasi dari ulama yang memiliki
pengalaman mumpuni di bidang sosial, agama dan kemasyarakatan. Sementara
Sandiaga Uno dipandang sebagai sosok yang mewakili generasi muda di
bidang politik dan kewirausahaan, akrab dengan kaum milenial dengan gaya
khasnya.
Saat disandingkan, Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno terlihat kontras. Ma'ruf
Amin dikenal sebagai pemuka agama, sementara Sandiaga identik dengan
dunia bisnis.
Mereka berasal dari generasi berbeda dengan perbedaan usia yang terpaut
jauh. Sandiaga kini berusia 49 tahun, sedangkan Ma'ruf Amin baru saja
merayakan ulang tahun ke-76 pada 11 Maret silam.
Ma'ruf dan Sandi bagaikan berada dari kutub yang berbeda dari segi
penampilan, pendekatan berkomunikasi hingga rekam jejak di media sosial.
Pada umumnya, Sandi memang terlihat sangat memperhatikan penampilan,
seperti dikomentari oleh pengamat mode Sonny Muchlison setelah melihat
gaya berbusana sang politisi pada debat calon presiden putaran pertama.
Di sisi lain, Ma'ruf Amin punya tampilan yang tidak kalah berkarakter:
sarung. Dia selalu mengenakan sarung sebagai pengganti celana, dipadukan
dengan kemeja sebagai atasan.
Pada acara-acara formal, pria yang selalu mengenakan peci itu kerap
memakai jas yang membuat tampilannya terlihat lebih resmi. Sesekali,
sorban menghiasi lehernya.
"Itu pakaian santri," ujar perancang Deden Siswanto. Tradisi bersarung
awalnya dimulai dari kebiasaan kaum sarungan di wilayah Jawa.
Menurut antropolog Cliffort Geertz dalam buku "Abangan, Santri, Priyayi
dalam Masyarakat Jawa", kaum santri identik dengan pelaksanaan ritual
pokok agama Islam. Kini sarung juga jadi objek karya para
perancang-perancang Indonesia, salah satunya Deden. Dia adalah salah
satu orang di industri mode yang ingin melejitkan popularitas sarung
sebagai kain Indonesia.
Lantas, apakah gaya busana Ma'ruf Amin juga berkontribusi secara
signifikan dalam misi mempopulerkan penggunaan sarung di luar busana
untuk beribadah? Deden berpendapat, dampaknya tidak begitu signifikan
untuk kampanye "Sarung is My New Denim", di mana masyarakat diajak
memperlakukan sarung seperti celana-celana jins yang tak lepas dari
keseharian untuk acara formal dan informal.
Sementara peneliti Komunkasi Vokasi UI Devie Rachmawati menjabarkan tiga
perbedaan antara kedua kandidat calon wakil presiden: isi, gaya dan
target khalayak.
"Value yang ditawarkan keduanya sama, positif dan optimistis," ujar
Devie. Hanya saja, Ma'ruf amin biasanya menyampaikan pesan dengan
tema-tema yang lebih umum, sementara Sandiaga cenderung lebih spesifik.
Tema yang identik dengan sosok Sandiaga berkisar pada kewirausahaan,
ekonomi, serta kesehatan olahraga.
"Dua tema ini mudah diasosiasikan dengan Sandi karena dia memilih tema
yang spesifik."
Dari sisi gaya, Ma'ruf Amin dinilai jauh lebih formal ketimbang Sandiaga
yang lebih kasual. Ma'ruf Amin identik dengan balutan keagamaan,
sementara Sandi lekat dengan gaya-gaya kontemporer yang kerap
diperbincangkan di media sosial, sebut saja guyonan "rambut petai" saat
berkampanye di pasar Subang, juga komentarnya mengenai tempe setipis
kartu ATM. Perbedaan gaya ini berhubungan dengan karakter masyarakat
yang jadi sasaran mereka.
"Segmentasinya, kyai Ma'ruf Amin menyasar usia senior dan old milenial.
Sandi betul-betul menyasar kalangan muda, younger milenial."
Itu adalah bagian dari strategi masing-masing kubu untuk menjangkau
sebanyak mungkin lapisan masyarakat. Dari segi gaya, Sandiaga sebenarnya
lebih bisa dibandingkan dengan Joko Widodo yang lebih aktif menyajikan
konten-konten mutakhir yang menarik perhatian generasi muda.
Debat keempat, menguji wawasan di bidang keamanan dan hubungan internasional
Debat capres keempat, berlangsung pada 30 Maret 2019 dengan kembali
menghadirkan capres paslon 01 Joko Widodo dan capres paslon 02 Prabowo
Subianto. Kali ini mereka berdebat dan saling mengadu program di bidang
ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan serta hubungan
internasional berlangsung di Hotel Shangri-la.
Perdebatan yang menarik dalam debat capres putaran keempat ini adalah
calon Presiden Joko Widodo yang akan mendorong penerapan digitalisasi
dalam layanan pemerintahan.
Ia mengatakan Indonesia ke depan membutuhkan pemerintahan "dilan" atau
digital melayani, mengingat perkembangan dunia saat ini yang sudah
memasuki era digital reformasi.
"Oleh sebab itu dibutuhkan reformasi dan pelayanan publik melalui yang
menggunakan teknologi informasi dan elektronik, sehingga dalam hal ini
diperlukan persamaan dan peningkatan sumber daya masyarakat, begitu pula
dengan reformasi tata kelola," ujar Jokowi.
Sementara Prabowo menegaskan perlunya Indonesia memiliki hubungan luar
negeri yang aktif dan mendorong kepentingan nasional.
"Di bidang hubungan internasional, kita menganut (prinsip) seribu kawan
terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Kita akan baik dengan semua
negara dan semua kekuatan di seluruh dunia," ujar Prabowo.
Prabowo mengatakan, bila terpilih ia akan menjalin hubungan antara
Indonesia dengan negara-negara lain dengan prinsip saling menguntungkan
dan dengan tetap mengutamakan kepentingan rakyat Indonesia.
"Kita akan mencari hubungan yang saling menguntungkan, tetapi kita juga
akan mempertahankan dan membela rakyat kita, itu yang utama," ucap Prabowo.
"Bagi kami membela rakyat adalah kehormatan yang sangat mulia dan kami
bertekad untuk menuju Indonesia menang," lanjutnya.
Yang menarik dalam debat ini, penutup dari kedua paslon, mendorong agar
pemilu dan pilpres bukanlah ajang permusuhan dan perseteruan, namun
menjadi ajang untuk mencari pemimpin terbaik bagi bangsa.
"Kita berjuang untuk rakyat sama-sama, biarlah rakyat yang menentukan
yang terbaik untuk bangsa kita," kata Prabowo dalam kesimpulan Debat
Ke-4 Capres Pemilu 2019.
Menurut Prabowo, kendati berbeda pandangan dalam masalah kenegaraan,
dirinya tetap bersahabat dengan para tokoh kubu pendukung calon presiden
nomor urut 01.
Dia menyebutkan beberapa tokoh yang hadir dalam acara itu antara lain
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati, putri Abdurrahman Wahid Yenny Wahid,
dan politisi senior PDI Perjuangan Pramono Anung merupakan sahabatnya.
"Saya juga yakinkan bapak, saya tetap bersahabat. Tokoh-tokoh semua
sahabat saya; Ibu Megawati, Mba Yenny, semuanya sahabat-sahabat saya,
Mas Pramono, jadi kita pun tidak akan putus persaudaraan kita," ujar
Prabowo.
Sementara Joko Widodo yang tampil mengenakan kemeja putih lengan panjang
yang digulung menyatakan hal itu sambil berdiri, sementara Prabowo yang
tampil dalam setelan jas hitam dasi merah dan peci hitam, memerhatikan
ucapan-ucapan itu.
"Saya senang naik sepeda dan seringkali rantainya putus, Pak. Tapi
percayalah, persahabatan kita, rantai persahabatan saya dan Pak Prabowo
yang indah tidak akan pernah putus," ujar Jokowi, dalam pernyataan
tertutup usai debat capres keempat.
Jokowi juga mengingatkan, debat yang memunculkan banyak perbedaan
pendapat itu bukanlah hal yang terpenting di Indonesia.
"Jangan pernah lupa bahwa yang terpenting bukanlah tentang debat,
melainkan tentang masa depan dan kesejahteraan rakyat Indonesia, juga
tentang memahami dan menyayangi rakyat, dan bagaimana mendengarkan dan
mencarikan solusi bagi persoalan-persoalan negeri ini," kata Jokowi.
Debat kelima, akhir perdebatan jelang pemungutan suara
Debat terakhir, atau putaran kelima berlangsung 13 April 2019 di Hotel
Sultan Jakarta atau empat hari menjelang pemungutan suara. Sama seperti
debat capres putaran pertama, debat capres putaran kelima ini diikuti
oleh capres dan cawapres dari masing-masing paslon. Tema debat kali ini
terkait ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta
perdagangan dan industri.
Yang menarik dalam perdebatan terakhir ini salah satunya Calon Presiden
nomor urut 02 Prabowo Subianto menilai badan usaha milik negara (BUMN)
adalah benteng terakhir perekonomian Indonesia. Ia meminta agar
seharusnya kekuatan BUMN ditingkatkan dan tidak kalah dengan perusahaan
swasta atau perusahaan asing lainnya.
Capres pasangan calon 01 , Joko Widodo mengingatkan bahwa berbagai pihak
harus selalu memandang dengan optimis karena tidak ada negara manapun
yang akan maju kalau rakyatnya tidak optimistis.
"Kalau ada masalah itu tugas kita sebagai pemimpin bagaimana
menyelesaikan masalah," katanya.
Jokowi menyatakan dirinya tidak mau membuka masa lalu tetapi memang ada
sejumlah BUMN yang mengalami salah kelola. Namun dirinya tidak ingin
menyalahkan mereka tetapi berupaya mencari jalan keluar agar BUMN
menjadi lebih baik.
Debat pamungkas ini diakhiri dengan pernyataan terakhir dari
masing-masing paslon. Sandiaga mengatakan dirinya dan Calon Presiden
nomor urut 02 Prabowo Subianto tidak akan mengambil gaji apabila
terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024.
"Kami berkomitmen tidak mengambil gaji serupiah pun, jika mendapatkan
amanah ini," kata Sandiaga saat menyampaikan kata penutup dalam debat
kelima capres di Jakarta, Sabtu.
Sandi mengatakan gaji tersebut akan diberikan kepada negara, kaum yatim
maupun dhuafa yang lebih berhak mendapatkannya. Dalam kesempatan ini,
Sandiaga menyakini Allah akan memberikan masyarakat untuk memilih
pemimpin terbaik dalam Pemilu 2019.
Sementara capres paslon 01 Joko Widodo selain mengatakan bahwa
persahabatannya dengan Prabowo dan Sandiaga tidak akan putus, juga
menyampaikan agar bangsa Indonesia selalu optimistis. Dia mengingatkan
masyarakat untuk tidak pesimistis dan tidak kufur nikmat terhadap
kondisi perekonomian, yang sudah membaik.
"Untuk menjadi negara maju, tantangan kita besar, kita wajib bersyukur.
Kita jangan kufur nikmat, inflasi sangat terjaga, inflasi pangan
terjaga, tingkat pengangguran turun, angka kemiskinan tinggal satu
digit, kita tidak boleh takut. Bukan kesulitan yang membuat kita takut,
seringkali ketakutanlah yang membuat kita jadi sulit," ujar Jokowi.
*Baca juga: Menelisik pengembangan ekonomi kedua paslon dalam debat
capres
<https://www.antaranews.com/berita/829462/menelisik-pengembangan-ekonomi-kedua-paslon-dalam-debat-capres>
Baca juga: Ini potensi serangan kedua kubu di Debat Capres kelima
<https://www.antaranews.com/berita/829004/ini-potensi-serangan-kedua-kubu-di-debat-capres-kelima>*
Pewarta: Panca Hari Prabowo
Editor: Joko Susilo
Copyright © ANTARA 2019
* debat capres <https://pemilu.antaranews.com/tag/debat-capres>
AddThis Sharing ButtonsShare to Facebook