*Tak usah kawatir Bu, karena ada prof Dr haji Kiyai Ma'ruf Amin ahli ilmu
syriah dan ahli-ahli dari pesantren akan turut bekerja, bekerja untuk
mengatasi semua persolan dan rintangan, demikian keterang seorang di
kalangan pakar ilmu langitan. Patut dicatat bahwa Kementrian Agama sedang
mempersiapkan 5.000 pakar ilmu langitan. Pasti mereka akan bersedia dan
bisa mensejahterakan rakyat dan revolusi indunstri 05,06, 07 pun akan
berhasil, demikian kata beliau.*

http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/7824/sri_mulyani_beberkan_kelemahan_sdm_ri_hadapi_revolusi_industri_4_0



Sumber Foto : Istimewa
Sri Mulyani Indrawati
*Sri Mulyani Beberkan Kelemahan SDM RI Hadapi Revolusi Industri 4.0*

Kamis , 11 April 2019 | 10:36 JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri
Mulyani Indrawati mengatakan ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan
dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia untuk
menghadapi revolusi industri 4.0.

Pertama adalah tingginya kasus stunting. Untuk itu, Pemerintah telah
mengalokasikan 5 persen dari APBN untuk meningkatkan kualitas kesehatan.

"Indonesia masih memiliki berbagai persoalan kesehatan seperti stunting.
Ini menjadi salah satu tantangan terbesar di Indonesia. Kami kembangkan
penanganannya dibantu oleh World Bank dengan penanganan lintas institusi.

 Dalam bidang kesehatan kami juga membuat universal health coverage.
Tantangan terbesar bukan dalam anggaran ataupun kebijakannya namun terletak
pada eksekusinya," jelas Menkeu dalam kuliah umum di Cornell University,
New York, Amerika Serikat, seperti dikutip dari laman Kementerian Keuangan,
Kamis (11/4/2019).

Tantangan kedua yaitu di bidang pendidikan. Menkeu mengatakan, bagaimana
cara meningkatkan kualitas pendidikan yang merata di wilayah Indonesia yang
sangat luas. Selanjutnya, meningkatkan kualitas pendidikan dengan anggaran
yang telah didesentralisasi dengan penguatan sinergi antara pemerintah
pusat dan daerah. Kemudian, bagaimana pendidikan menghasilkan keterampilan
yang tepat. Pemerintah saat ini mengalokasikan anggaran tertinggi dalam
APBN bukan untuk militer tapi untuk pendidikan sebesar 20 persen.

Ketiga, melibatkan pihak swasta agar bisa berpartisipasi dalam pendidikan.
 Salah satunya adalah dengan memberikan insentif seperti pengecualian pajak
untuk buku literatur, insentif pajak untuk riset dan pelatihan vokasi serta
dana abadi pendidikan untuk riset.

"Dalam kebijakan fiskal, kami memberikan beberapa mekanisme insentif antara
lain insentif pengecualian pajak untuk buku literatur, insentif pajak untuk
riset dan pelatihan vokasi. Kami juga membuat sovereign wealth fund untuk
pendidikan dimana dalam periode 10 tahun telah menghasilkan banyak hal
(sekaligus) untuk riset sebagai sarana alumni dan swasta untuk menguatkan
riset dan development," jelasnya.

Menkeu melanjutkan, membangun SDM merupakan tantangan yang sulit karena
hasilnya tidak dapat dilihat dalam waktu singkat.

"Kalau anggaran infrastruktur, kita bisa melihat hasilnya. Sementara hasil
belanja untuk human capital tidak terlihat secara langsung dan butuh waktu
lama," jelas Menkeu.

Oleh karena itu, Menkeu mengatakan, isu SDM juga perlu campur tangan
teknologi. Ia mengapresiasi salah satu solusi start up seperti Ruang Guru
untuk mengurangi gap kualitas guru sekaligus sebagai alternatif siswa dapat
belajar lebih mandiri.

"Isu human capital harus diatasi dengan teknologi. Salah satu inisiatif
dalam peningkatan SDM adalah dengan adanya startup baru dengan Ruang Guru
untuk mengurangi gap kualitas guru. Ini menjadi alternatif agar siswa
meningkatkan kualitas," tuturnya.

Tantangan lain adalah pemerintah membutuhkan dana yang tidak sedikit dalam
melakukan investasi dalam pengembangan revolusi industri 4.0. Untuk itu,
optimalisasi pendapatan serta perbaikan sistem perpajakan menjadi langkah
reformasi kebijakan fiskal yang diambil oleh Kementerian Keuangan.

"Agar kebijakan pengembangan SDM tetap berlangsung, kita butuh pajak.
Indonesia telah melakukan reformasi perpajakan agar keberlangsungan ekonomi
tetap berjalan. Reformasi perpajakan bukan hanya agar bisa memperoleh
sumber perpajakan yang lebih banyak namun dengan cara yang lebih efisien
dan lebih baik," paparnya.

Terakhir, Menkeu dalam penutupnya mengatakan dunia telah berubah dalam
revolusi Industri dan memberikan keuntungan untuk banyak negara. Revolusi
industri 4.0 memberikan kesempatan negara berkembang dan negara emerging
untuk melanjutkan pembangunan atau demokratisasi program pembangunan.

Kirim email ke