https://news.detik.com/kolom/d-4521589/kartini-sebagai-pejuang-kesadaran-literasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.43399975.383017758.1556034288-1132385346.1556034288
Selasa 23 April 2019, 15:30 WIB
Sentilan Iqbal Aji Daryono
Kartini sebagai Pejuang Kesadaran Literasi
Iqbal Aji Daryono - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4521589/kartini-sebagai-pejuang-kesadaran-literasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.43399975.383017758.1556034288-1132385346.1556034288#>
Iqbal Aji Daryono
<https://news.detik.com/kolom/d-4521589/kartini-sebagai-pejuang-kesadaran-literasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.43399975.383017758.1556034288-1132385346.1556034288#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4521589/kartini-sebagai-pejuang-kesadaran-literasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.43399975.383017758.1556034288-1132385346.1556034288#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4521589/kartini-sebagai-pejuang-kesadaran-literasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.43399975.383017758.1556034288-1132385346.1556034288#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4521589/kartini-sebagai-pejuang-kesadaran-literasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.43399975.383017758.1556034288-1132385346.1556034288#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4521589/kartini-sebagai-pejuang-kesadaran-literasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.43399975.383017758.1556034288-1132385346.1556034288#>
Kartini sebagai Pejuang Kesadaran Literasi Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi:
Edi Wahyono)
*Jakarta* - Di grup Whatsapp alumni pers kampus yang saya ikuti, seorang
kawan yang belakangan menjadi aktivis militan antikomunis menyebarkan
tulisan tentang Kartini. Gagasan tulisan tersebut lumayan klise dan
sudah pernah saya baca sejak belasan tahun silam dari penulis-penulis
lain. Poin utamanya adalah bahwa penokohan Kartini tak lebih dari upaya
kolonial Belanda untuk meminggirkan peran tokoh-tokoh perempuan muslim
dalam sejarah Nusantara.
Pembanding Kartini dalam tulisan itu adalah Dewi Sartika, Rohana Kudus,
juga para perempuan muslim ternama yang lebih klasik, semisal Cut Nyak
Dhien, Tengku Fakinah, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatudin Johan
Berdaulat, Siti Aisyah We Tenriolle, serta beberapa nama lainnya.
Saya tidak sepenuhnya menolak tulisan itu. Pada beberapa sisi argumen,
ia cukup masuk akal, misalnya bahwa tokoh-tokoh tersebut menjalankan
peran yang jauh lebih konkret daripada "sekadar berkirim-kirim surat"
ala Kartini. Cut Nyak Dhien adalah tokoh militer yang terjun bertempur
melawan kolonial. Aisyah We Tenriolle menuliskan ikhtisar epos besar /I
La Galigo/. Dewi Sartika mendirikan sekolah-sekolah. Rohana Kudus
menyebarkan gagasannya secara langsung kepada masyarakat lewat publikasi
di koran-koran.
Namun, untuk memosisikan Kartini sebagai sosok yang tidak punya peran
dalam dunia Islam di Nusantara, sepertinya perlu dibincangkan ulang.
Sebab, justru Si Putri Jepara itu merupakan pemantik penting yang
membawa masyarakat Islam, khususnya di Jawa, menjadi lebih dekat dan
/nyebur/ lebih utuh ke dalam keislaman mereka.
***
Ceritanya, suatu hari Kartini berkunjung ke rumah pamannya, Pangeran
Aria Hadiningrat, Bupati Demak. Di sana tengah berlangsung pengajian
keluarga, dengan guru Kiai Soleh Darat Semarang. Sang Kiai membahas
Surat/Al Fatihah/ berikut makna-makna terdalamnya. Kartini yang
bergabung menyimak pengajian itu jadi sangat terkesan dengan uraian Kiai
Soleh Darat.
Usai pengajian, Kartini sowan menghadap Kiai Soleh. Ia menyatakan bahwa
dalam hidupnya, baru kali itulah dirinya sempat mengerti makna surat
terpenting dalam Al Quran itu. Namun, ia menyusulkan sebuah keheranan
luar biasa.
"Kiai, apa hukumnya bila orang yang berilmu menyembunyikan ilmunya?
Mengapa para ulama kita melarang penerjemahan dan penafsiran Al Quran
dalam bahasa Jawa? Bukankah Al Quran itu pimpinan untuk hidup bahagia
dan sejahtera bagi manusia?"
Demikian Kartini bertanya. Atau mengkritik. Atau menggugat, dengan
sebuah gugatan yang keras.
Pada masa itu, pemerintah kolonial melarang penerjemahan Al Quran.
Aturan itu membawa akibat pasti, yaitu butanya masyarakat Islam di Jawa
akan pemahaman atas kitab suci mereka sendiri. Terjemahan Al Quran di
Nusantara bukannya belum ada, sebab dua abad sebelumnya ulama besar
Abdurrauf As-Singkili sudah menulis kitab tafsir Al Quran dalam bahasa
Melayu. Tetapi, Jawa bukan Melayu, dan masyarakat Jawa tidak mengakses
kitab tafsir berbahasa Melayu.
Berangkat dari gugatan Kartini itulah, Kiai Soleh Darat lantas menulis
kitab /Faidlur Rahman/, kitab tafsir Al Quran pertama dalam bahasa Jawa,
dengan huruf Pegon alias Arab-Jawa. Itu menjadi tonggak awal pemahaman
masyarakat awam Jawa atas kitab yang selama ini nyaris tidak mereka
pahami, selain semata lewat para kiai.
Kitab /Faidlur Rahman/ menjadi hadiah istimewa dari Kiai Soleh Darat
untuk Kartini, pada saat gadis mungil yang penuh rasa ingin tahu itu
dinikahkan dengan Adipati Djojoadiningrat.
***
Kartini memang cuma bertanya, bukan berjuang turun ke lapangan
sebagaimana Cut Nyak Dhien atau Dewi Sartika. Namun, dalam lingkungan
kaum ningrat dengan tradisi yang super-kaku, dalam himpitan tata
hierarki yang begitu ketat, juga dalam cengkeraman aturan kolonial yang
serba memblokade akses pengetahuan, pertanyaan Kartini itu adalah
lemparan bom molotov kegelisahan. Untuk lontaran yang tampak kecil itu
dibutuhkan keberanian besar, juga rasa ingin tahu yang meluap-luap tak
terbendung.
Maka, ia bukan hanya sebentuk perjuangan dakwah dalam lingkup seterbatas
sistem keyakinan bernama Islam. Ia jauh lebih luas dari itu, yakni
tentang bagaimana selembar pintu baja yang tebal didobrak, agar cahaya
dan oksigen merangsek masuk, agar kaum jelata bisa memperoleh sesuatu
yang sebelumnya teramat mewah: pemahaman.
Rasanya, itulah kata kunci dari aksi kecil Kartini: pemahaman. Pemahaman
atas apa yang senantiasa dibaca, didaras, diucapkan, namun tidak
dimengerti. Membaca tanpa mengerti adalah tindakan absurd yang nyaris
sia-sia, dan sulit diterima Kartini. Bagaimana bisa sesuatu yang
seharusnya dijadikan pedoman hidup justru terus dengan sengaja
diselubungi kabut?
Dengan begitu, ketika kita melihat respons Kiai Soleh Darat yang
menerjemahkan dan menafsir Al Quran dalam bahasa Jawa, itulah jawaban
yang sesungguhnya. Masyarakat tempat hidup Kartini adalah masyarakat
Jawa. Bahasa yang paling dipahami dan menjadi instrumen komunikasi
terdasar masyarakat tersebut adalah bahasa Jawa. Artinya, menerjemahkan
sebuah kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa adalah langkah konkret
untuk membawa suatu sistem nilai ke puncak kebermaknaannya.
Bukan klaim berlebihan ketika kita menempatkan Kartini sebagai sosok
yang memperjuangkan literasi, meskipun perjuangan itu hanya ia jalankan
dengan sebuah tindakan menggugat, yang untuk ukuran zaman ini terasa
remeh sekali. Literasi dalam makna tingkat dua. Bukan hanya mengubah
masyarakat yang tidak bisa membaca menjadi bisa membaca, melainkan
mengubah masyarakat yang tidak paham menjadi berjalan berbondong-bondong
ke arah paham.
***
Pada titik inilah, spirit 21 April semestinya bukan cuma diletakkan
dalam konteks kesetaraan gender (dan toh memang banyak tokoh perempuan
lain yang berperan lebih daripada Kartini), apalagi sekadar kegembiraan
mengenakan kebaya dan pakaian adat. Ada spirit pendobrakan benteng
doktrin dan eksklusivisme, pembongkaran atas hijab-hijab pengetahuan,
juga semangat untuk merebut pemahaman.
Spirit semacam itulah yang agaknya mendesak untuk dibangkitkan kembali
hari ini. Ya, hari ini, ketika segenap informasi digital pada Zaman
/Kalabendu/ Kebenaran membuat kita merasa tahu padahal sesungguhnya
tidak cukup tahu, merasa mengerti masalah padahal sebenarnya hanya
membaca /cuilan/ dari satu sisi masalah. Mari kita tunggu bangkitnya
Kartini dan Kiai Soleh Darat versi Era Pasca-Kebenaran.
*Iqbal Aji Daryono* /esais, tinggal di Bantul/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*