AS Terapkan Standar Ganda “Manipulator Nilai Tukar”
http://indonesian.cri.cn/20190809/2db7fd1e-40a0-d33e-bd42-8edc42337848.html
2019-08-09 10:19:10
Departemen Keuangan AS belakangan ini memberikan predikat kepada
Tiongkok sebagai “negara manipulator nilai tukar”, perbuatan itu tidak
saja membelakangi apa yang disebut standar evaluasi yang disusunnya
sendiri, lebih-lebih tidak mengindahkan perbuatan pemerintah AS yang
berulang kali mendesak Cadangan Federal AS untuk menurunkan suku bunga,
menindas pesaingnya dengan menggunakan standar ganda.
Selama masa belakangan ini, karena pihak AS menjalankan kebijakan
unilateral, meningkatkan pertikaian perdagangan dengan Tiongkok,
memperhebat keguncangan pasar moneter global, elastisitas nilai tukar
RMB meningkat di atas dasar peranan menentukan dalam penyuplaian dan
permintaan pasar, maka terjadi fluktuasi tertentu. Akibatnya, sejumlah
orang AS nampaknya sudah lupa apa yang dikatakannya, cepat mengubah
sikapnya dengan mencela Tiongkok sebagai “manipulator nilai tukar.”
Selama satu tahun lebih yang lalu, sebagian orang AS berkali-kali
mendesak Cadangan Federal AS untuk menurunkan suku bunga, dengan sengaja
melemahkan nilai tukar dolar Amerika. Sebagai dampaknya, dalam keadaan
ekonomi AS kini belum mencapai syarat penurunan suku bunga, Cadangan
Federal AS terpaksa menurunkan suku bunga pada tanggal 31 Juli waktu
setempat.
Berkenaan dengan penurunan suku bunga pertama kali selama sepuluh tahun
lebih, Mantan Presiden Cadangan Federal AS, Paul Volcker, Alan
Greenspan, Ben Bernanke dan Janet Yellen baru-baru ini dalam artikel
mereka yang dimuat di harian The Wall Street Journal menunjukkan, “AS
memerlukan Cadangan Federal AS yang independen,” mereka menyerukan untuk
menjamin kebijakan mata uang AS tidak terpengaruh oleh tekanan politik
jangka pendek.
Akan tetapi, sebagian orang AS tetap menuntut Cadangan Federal AS untuk
menurunkan suku bunga dengan “intensitas yang lebih besar dan lebih
cepat.” Pihak AS yang berniat untuk menekan dolar Amerika, malah mencela
fluktuasi RMB yang timbul sesuai dengan penyuplaian dan permintaan
pasar, inilah standar ganda yang tipikal.
Sebagai komunitas ekonomi besar kedua yang bertanggung jawab di dunia,
Tiongkok selalu menaati komitmennya di KTT G20 mengenai masalah nilai
tukar, tak pernah dan juga tak akan menanggapi pertikaian perdagangan
dengan menggunakan nilai tukar sebagai alat kebijakan.
Di satu aspek, keunggulan persaingan Tiongkok di dunia internasional
tidak diperoleh dengan memanipulasi nilai tukar, tetapi tergantung pada
harga efektif produksi. Tiongkok memiliki rantai produksi yang paling
lengkap di dunia, unggul di bidang rantai suplai, bagi sebagian besar
importir AS, produk Tiongkok tak tergantikan. Pada paro pertama tahun
ini, ekspor Tiongkok ke AS menurun 2,6% dibandingkan dengan periode sama
tahun lalu, sedangkan impor dari AS menurun 25,7%, terdapat selisih
besar antara impor dan ekspor, sudah jelas bahwa produk Tiongkok tak
tergantikan.
Pada aspek lainnya, tuduhan tentang apa yang disebut “manipulator nilai
tukar” sama sekali tidak sesuai dengan permintaan realitis ekonomi
Tiongkok yang berubah dari pertumbuhan cepat ke perkembangan
berkualitas. Kini, ekonomi Tiongkok sudah beralih ke konsumsi domestik,
tingkat sumbangan pertumbuhan konsumsi pada paro pertama tahun ini
kepada pertumbuhan ekonomi pada paro pertama tahun ini melampaui 60%,
sumbangan ekspor bersih terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok sudah
sangat terbatas. Apalagi, kalau dengan sengaja menekan nilai tukar RMB,
maka tidak bermanfaat bagi perusahaan Tiongkok untuk transformasi dan
eskalasi serta tidak bermanfaat untuk meningkatkan daya saing pasar, ada
pula kemungkinan mendampak keyakinan pasar, tidak menguntungkan
stabilitas moneter.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com