Astagafirullah, hasil revolusi mental membuat sebahagian manusia menjadi
monyet!

*https://suaramerdeka.id/9787/orang-papua-monyet-topeng-mony
<https://suaramerdeka.id/9787/orang-papua-monyet-topeng-monyet/>*

REDAKSI <https://suaramerdeka.id/author/pilar-media-grup/>-OPINI
<https://suaramerdeka.id/category/opini/>, POLITIK
<https://suaramerdeka.id/category/politik/>-

   -

   -


Asyari Usman, Wartawan Senior


Orang Papua Balas Rasisme Monyet dengan Topeng Monyet. Oleh: *Asyari Usman
<https://suaramerdeka.id/9776/pak-dasco-mana-penumpang-gelap/>*, *Wartawan
Senior
<https://hariannkri.com/9083/demokrasi-konglomerat-opini-asyari-usman/>*.

Para petinggi negara bingung menghadapi Papua. Mau diambil tindakan keras,
takut salah. Khawatir eskalasi situasi. Takut semakin runyam. Dengan
pendekatan lemah-lembut, ketahuan pemerintah pusat lemah. Padahal memang
lemah menghadapi Papua. Jakarta menjadi serba salah.

Hebat dan salut kepada orang Papua. Dalam waktu 48 jam saja setelah rasisme
“monyet” diteriakkan kepada mereka di Surabaya, label “monyet” itu mereka
kembalikan ke Jakarta. Bahkan makna kemonyetan yang dikembalikan itu lebih
tajam. Sangat menohok.

Rasisme monyet yang dibalikkan ke Jakarta itu mengandung arti yang sangat
rendah. Cukup hina. Orang Papua mengembalikan ucapan kasar itu bukan dengan
kata-kata kasar. Mereka cukup menunjukkan isyarat menuntut penentuan nasib
sendiri.

Baca Juga :  Mengenang Kembali Wasiat dan Wakaf Nyawa Prabowo
<https://suaramerdeka.id/8173/wasiat-dan-wakaf-nyawa-prabowo/>

Mereka kibarkan bendera Bintang Kejora di jalan-jalan Papua. Mereka buat
rapat umum dengan teriakan “Papua Merdeka” atau “Kami Mau Referendum”, dan
yel-yel lain yang intinya meminta agar Papua lepas dari Indonesia. Tak ada
yang berani mencegah.

Bintang Kejora dan semua yel-yel itu membuat para penguasa di Jakarta
menjadi kecut. Mereka gamang. Para menteri Polhukam takut Timor Timur akan
terulang.

Yang mengidap diabetes, kadar gulanya langsung turun-naik. Khawatir
tuntutan “Papua Merdeka” semakin membolasalju.

Dalam situasi seperti ini, orang Papua jelas berada pada posisi di atas
angin. Mereka yang memegang kendali. Secara politis, Papualah yang saat ini
mendikte penguasa pusat.
*Saya teringat pertunjukan Topeng Monyet yang banyak dijumpai di Jakarta.
Terbayang saya orang Papua yang menjadi Tuan atau pengendali si Topeng
Monyet itu. Sebaliknya, si monyet melakukan semua perintah tuannya. Orang
di luar Jakarta tidak begitu tahu Topeng Monyet. Yaitu, atraksi di
jalan-jalan kampung yang menyalahgunakan monyet terlatih untuk cari duit
alias ‘ngamen’.*

Leher monyet diikat dengan tali panjang. Diarak keliling kampung. Di suruh
naik sepeda mini bolak-balik sepanjang talinya. Untuk menghibur warga. Si
monyet tidak punya pilihan lain. Harus mengikuti perintah tuannya.

Baca Juga :  Korban Nyawa dalam Melawan Kezaliman, Sebuah Opini Asyari Usman
<https://suaramerdeka.id/7271/korban-nyawa-dalam-melawan-kezaliman/>

Begitulah gambaran hubungan Jakarta-Papua saat ini. Orang Papua tak perlu
membalas teriakan “monyet” dengan kata “monyet” juga. Cukup mereka balas
dengan makna atraksi Topeng Monyet.*

Kirim email ke