https://www.jawapos.com/ekonomi/07/10/2019/indonesia-kalah-di-manufaktur-unggul-di-ekonomi-digital/


*Indonesia Kalah di Manufaktur, Unggul di Ekonomi Digital*

*Pemerintahan Harus Perbaiki Iklim Investasi*

EKONOMI <https://www.jawapos.com/ekonomi/>

7 Oktober 2019, 12:57:39 WIB



*JawaPos.com* – Indonesia disebut tidak bisa meraih peluang investasi di
tengah perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Kalah oleh
sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Bahkan, Vietnam menjadi ”pemenang”.

Negara-negara tersebut mampu mendapatkan peluang bisnis yang berupa
investasi langsung atau *foreign direct investment* (FDI) dari sejumlah
pabrikan yang terdampak perang dagang.

Peneliti Indef Bhima Yudhistira menuturkan, dari segi manufaktur, tidak
dimungkiri daya saing Indonesia memang kalah jika dibandingkan dengan
Vietnam, Malaysia, atau Thailand. Banyak perusahaan melakukan relokasi dari
Tiongkok ke negara-negara tersebut karena prosesnya jauh lebih cepat jika
dibandingkan dengan di Indonesia.

Kondisi regulasi negara-negara itu cenderung sentralistis alias satu pintu
di pemerintah pusat. Berbeda dengan Indonesia yang perizinan investasinya
lebih berbelit lantaran juga harus melalui pemerintah daerah. ”Kalau di
Indonesia, mungkin relokasi industri butuh waktu 5 sampai 10 tahun. Jadi,
momentum perang dagang sudah lewat, baru perusahaan bisa relokasi ke sini,”
ujarnya kemarin.

Meski dari sisi manufaktur Indonesia tertinggal, papar Bhima, harus
dipahami, ada pergeseran struktur investasi langsung atau FDI. Dari
biasanya berbasis sektor industri bergeser ke sektor jasa. Karena itu,
banyak perusahaan berbasis ekonomi digital yang melakukan relokasi ke
Indonesia.

Bahkan, Bhima mengklaim, untuk relokasi perusahaan berbasis ekonomi
digital, Indonesia adalah pemenangnya. ”Perkembangan ekonomi digital, yang
melakukan relokasi ke Indonesia ini banyak yang terafiliasi dengan
perusahaan-perusahaan asing, dari Tiongkok khususnya,” ungkapnya.

Berdasar studi Google-Temasek, pada 2025 ekonomi digital Indonesia akan
menyentuh angka USD 100 miliar dan menjadi yang paling besar di Asia
Tenggara. ”Jadi, mungkin Tiongkok tertarik dengan itu. Pergeseran struktur
investasi itu juga perlu dicermati,” imbuhnya.

Lantas, apa yang perlu dilakukan pemerintahan baru nanti? Bhima
menguraikan, ada dua formula berbeda yang harus dilakukan oleh pemerintah.
Pertama, untuk menarik industri manufaktur, diperlukan kemudahan perizinan,
penyelesaian masalah koordinasi pemerintah daerah dan pusat yang masih
kacau, infrastruktur penunjang seperti kawasan industri, serta kemudahan
akses terhadap bahan baku.

Formula kedua diperuntukkan sektor jasa, khususnya ekonomi digital yang
potensinya cukup besar. Antara lain, pembenahan infrastruktur, khususnya
internet yang lebih merata. Juga penyediaan sumber daya manusia (SDM) yang
lebih berkualitas di sektor digital dan insentif untuk *research &
development*. ”Formula yang berbeda itu harus dikembangkan dua-duanya
sehingga dapat dimanfaatkan dalam perang dagang. Manufaktur makin kuat,
sektor jasa juga makin berkembang,” tandasnya.

Di tempat terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan,
pemerintah berupaya terus mengantisipasi berbagai kondisi global agar dapat
memperbaiki iklim investasi. ”Jadi, artinya, stabilitas makro tetap
terjaga, kondisi dan policy pemerintah tetap commit. Tentu kita tahu bahwa
tekanan dari luar, apalagi situasi politik di AS, itu pasti akan memberikan
dampak kepada seluruh dunia,” tuturnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ken/dee/far/c11/fal

Kirim email ke