Tokoh Muda NU: Kabinet Jokowi, Kabinet Melawan Radikalisme
------------------------------------------------------------------------
....
<https://sp.beritasatu.com/politik/tokoh-muda-nu-kabinet-jokowi-kabinet-melawan-radikalisme/583589/#>
Suara Pembaruan
Selasa, 05 November 2019 - 07:20
<https://sp.beritasatu.com/politik/tokoh-muda-nu-kabinet-jokowi-kabinet-melawan-radikalisme/583589/#>
....
Mohamad Guntur Romli
*Jakarta, Beritasatu.com*- Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Mohamad
Guntur Romli alias Gus Romli menyebutkan kabinet Presiden Joko Widodo
(Jokowi) dan KH Ma'ruf Amin sebagai kabinet perang melawan radikalisme
agama di Indonesia. Hal ini, kata Romli, tampak dari figur-figur yang
menempati jabatan di Kabinet Indonesia Maju (KIM).
"Formasi kabinet Jokowi-Ma'ruf adalah formasi perang melawan
radikalisme. Ini formasi tepat untuk memerangi agenda radikalisme," ujar
Gus Romli pada diskusi yang digelar Lembaga Pemilih Indonesia (LPI)
bertajuk "Radikalisme atau Manipulasi Agama?" di Jakarta, Senin (4/11/2019).
Gus Romli mencontohkan figur-figur yang ditempatkan Jokowi dengan agenda
melawan radikalisme adalah Jendral Purn Tito Karnavian sebagai menteri
dalam negeri, Jenderal Purn Fachrul Razi sebagai menteri agama, Prabowo
Subianto sebagai menteri pertahanan, dan Mahfud MD sebagai Menko
Polhukam. Menurut dia, figur-figur tersebut merupakan upaya besar
Jokowi-Ma'ruf memerangi radikalisme.
"Jokowi-Ma'ruf pasti sudah berhitung dan konsen mereka ke depan salah
satunya adalah mencegah dan memberantas radikalisme karena tantangan itu
nyata dan sangat berbahaya untul Indonesia maju," ujar dia.
Dengan formasi kabinet demikian, Gus Romli berharap Presiden Jokowi dan
jajarannya tidak berhenti hanya sampai pada pembubaran organisasi
terlarang yang memiliki paham radikal, seperti Hizbut Tahrir Indonesia
(HTI). Namun, kata dia, pemerintah perlu melakukan penegakan hukum
terhadap tokoh-tokoh yang terlibat dalam organisasi terlarang tersebut.
"Saya kira tugas mendagri, menag dan Kapolri adalah tidak cukup
membubarkan ormas HTI, tetapi melakukan upaya penegakan hukum terhadap
aktor-aktor utamanya. Setelah di negara lain upaya hukum ditegakan,
tokoh-tokoh utamanya lari ke negeri lain," tegas dia.
Menurut dia, para radikalis agama sebenarnya bisa dibina dengan
cara-cara edukasi. Namun, kalau mereka terus mengampanyekan ideologi dan
gerakan radikal agama, termasuk memperjuangkan khilafah di Indonesia,
maka hukum harus bertindak.
"Negara harus hadir dan tegas menidak orang-orang yang mau mengubah
ideologi negara," ujar Gus Romli.
Sumber : Suara Pembaruan