https://news.detik.com/kolom/d-4785953/merayakan-filologi-nusantara?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16168432.715277498.1573840486-37691120.1573840486
Jumat 15 November 2019, 15:31 WIB
Kolom
Merayakan Filologi Nusantara
Fathurrochman Karyadi - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/petualanganglentong>
Fathurrochman Karyadi
<https://connect.detik.com/dashboard/public/petualanganglentong>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4785953/merayakan-filologi-nusantara?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16168432.715277498.1573840486-37691120.1573840486#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4785953/merayakan-filologi-nusantara?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16168432.715277498.1573840486-37691120.1573840486#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4785953/merayakan-filologi-nusantara?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16168432.715277498.1573840486-37691120.1573840486#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4785953/merayakan-filologi-nusantara?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16168432.715277498.1573840486-37691120.1573840486#>
Merayakan Filologi Nusantara Foto: Bayu Ardi Isnanto
*Jakarta* -
Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa Belanda mengajak saya berdiskusi
di Jakarta. Kami berbincang banyak hal mulai dunia akademik, penelitian,
sampai bisnis. Lalu ia bertanya tentang jurusan kuliah saya. Ketika saya
jawab "filologi", ia bingung. "Apa itu?"
Saya kira ketidaktahuan dia tentang filologi cukup mewakili generasi
milenial. Ya, pasti anak-anak muda sekarang lebih familiar dengan
biologi, sosiologi, psikologi, dan antropologi ketimbang filologi.
Meski demikian, para filolog (ahli filologi) masih terus rajin berkarya
dan menyosialisasikan hasil temuannya. Pada 6 November lalu, Guru Besar
Filologi Universitas Indonesia Profesor Achadiati Ikram menelurkan
kembali buku terbarunya /Pengantar Penelitian Filologi/.
Buku yang diterbitkan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)
itu diluncurkan bersamaan dengan seminar nasional di FIB UI dengan tema
"Naskah dalam Kajian Antardisiplin pada Era 4.0". Hadir memeriahkan
acara tersebut Oman Fathurahman, Sudibyo, Munawar Holil, Titik
Pudjiastuti, Mujizah, dan lainnya.
Henri Chambert-Lior mengatakan, tidak ada ahli yang lebih tepat daripada
Achadiati Ikram untuk menulis buku ini karena dia sudah empat puluh
tahun mengabdi kepada ilmu filologi. Disertasinya tentang edisi teks
Hikayat Sri Rama dibimbing langsung oleh A. Teeuw di Universitas Leiden,
Belanda. Buku lain yang ditulis Ibu Ikram di antaranya /Filologia
Nusantara, Katalog Naskah Buton/, dan /Katalog Naskah Palembang/.
Jika kita melihat khazanah filologi di Indonesia, sebenarnya sudah ada
beberapa buku yang ditulis sebagai acuan sebuah disiplin ilmu. Seperti
yang telah ditulis Siti Baroroh Baried, Chamamah Soeratno, Edwar
Djamaris, Panuti Sudjiman, Nabilah Lubis, Oman Fathurahman, dan Karsono
H Saputra.
Tentunya mereka juga merujuk karya filolog Barat seperti Pigeaud dan
Stuart Robson. Maka menarik pernyataan Henri Chambert-Lior bahwa
filologi Eropa perlu dipelajari, tetapi sebuah filologi khas Indonesia
perlu juga dibangun.
*Filologi Nusantara
*
Pada 21-23 November nanti, akan digelar Borobudur Writers & Cultural
Festival (BWCF) yang kedelapan di Yogyakarta dan Magelang. Pertemuan
tahunan ini diperuntukkan para penulis baik fiksi maupun nonfiksi, para
pekerja kreatif, aktivis budaya dan keagamaan lintas iman. Peserta BWCF
terdiri dari sastrawan, penulis, pemusik, penari, perupa, pewarta,
sejarawan, sosiolog, arkeolog, filolog, antropolog, ilmuwan, budayawan,
dan teolog.
Kabar gembiranya, BWCF kali ini akan memberikan Sang Hyang Kamahayanikan
Award kepada Achadiati Ikram. Ia diakui sebagai tokoh yang memiliki
kontribusi besar dalam bidang seni-budaya dan humaniora di tengah
masyarakat, terutama dedikasinya melakukan inventarisasi, preservasi,
katalogisasi, penelitian, dan publikasi manuskrip Nusantara.
Ini akan menjadi momen penting dalam merayakan filologi Nusantara. Di
mana filologi mendapatkan porsi utama dalam perhelatan luar biasa itu.
Tentunya kita juga tidak lupa bahwa pada 2016, Presiden Joko Widodo
menganugerahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Ibu
Ikram. Ia dinilai telah mengembangkan studi filologi untuk membangkitkan
apresiasi terhadap karya-karya intelektual Indonesia.
Dalam sebuah wawancara, Ibu Ikram menjelaskan bahwa filologi adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari naskah-naskah lama. Indonesia memiliki
harta warisan naskah lama yang luar biasa banyaknya. Naskah lama
berbahasa Jawa saja tidak kurang dari 19.000, hanya 10% yang baru
diteliti. Belum terhitung naskah dari Melayu, Bugis, Bali, Lombok,
Madura, dan banyak lagi.
Ia menegaskan, "Kita sebagai bangsa perlu mengetahui sejarah bangsa kita
untuk mengembangkan jati diri kita. Kita sebagai bangsa tidak mempunyai
jati diri. Kita tidak tahu apa dan dari mana kita. Kita mempelajari
sejarah dan gaya bangsa lain, tetapi budaya kita sendiri kita tak paham.
Dengan mempelajari naskah lama kita bisa mengenal diri kita dan hal itu
akan membuat jatidiri kita akan jadi kokoh".
Saya membayangkan, pasca-BWCF filologi menjadi "viral" di negeri ini.
Sehingga tak menutup kemungkinan, Mendikbud baru kita Nadiem Makarim
berkenan menetapkan filologi sebagai salah satu materi kurikulum wajib
di tingkat sekolah. Minimal, teman saya yang mahasiswa Belanda itu tahu
bahwa Indonesia gudangnya filologi.
*Fathurrochman Karyadi* /peneliti, bergiat di Lingkar Filologi Ciputat
(LFC)/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*