Sabtu 16 November 2019, 11:43 WIB
Kolom
Jalan Tikus Menuju Roma
Abdullah Sammy - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/abdullah.sammy>
Abdullah Sammy <https://connect.detik.com/dashboard/public/abdullah.sammy>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4786857/jalan-tikus-menuju-roma?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.118978377.1376707446.1573907144-602896180.1573907144#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4786857/jalan-tikus-menuju-roma?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.118978377.1376707446.1573907144-602896180.1573907144#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4786857/jalan-tikus-menuju-roma?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.118978377.1376707446.1573907144-602896180.1573907144#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4786857/jalan-tikus-menuju-roma?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.118978377.1376707446.1573907144-602896180.1573907144#>
Jalan Tikus Menuju Roma Ilustrasi: detikcom
*Jakarta* -
/Banyak jalan menuju Roma. Tapi pemenang hanya dia yang pertama kali
sampai.
/Adagium yang pertama kali ditulis Alain de Lille pada 1175 itu sengaja
sedikit saya revisi mengikuti semangat zaman. Sebab di era digital
seperti saat ini, kecepatan menjadi pembeda antara keberhasilan dan
kegagalan. Menuju Roma tak lagi ditentukan oleh banyaknya jalan,
melainkan mana yang mampu menemukan rute tercepat.
Jika Roma terlalu jauh, mari kita ambil pengandaian di Kota Jakarta.
Dalam kondisi jalanan Jakarta yang supermacet, mana di antara dua opsi
jalan yang akan Anda pilih? Opsi pertama, bertahan di jalur utama sesuai
petunjuk aplikasi. Sedangkan opsi kedua, mengambil risiko mencari jalan
tikus yang tak pernah Anda ketahui sebelumnya.
Kencenderungannya, opsi pertama dipilih orang yang tak suka
berspekulasi. Seseorang yang setiap langkahnya selalu berdasarkan
perhitungan yang matang. Opsi ini cocok bagi orang yang terbiasa dengan
formalisasi tinggi. Bekerja berdasarkan SOP. Konservatif.
Sebaliknya, opsi kedua lebih cocok bagi orang yang sedang bereksperimen.
Anda yang punya karakter berani mengambil risiko lebih cenderung memilih
opsi kedua ini. Kompatibel dengan karakter orang yang imajinatif. Kreatif.
Baik opsi pertama atau kedua punya sisi plus dan minus. Kelemahan opsi
pertama adalah kondisi yang didapati cenderung statis. Namun, lebih
memberi kepastian mengenai waktu, kondisi, dan situasi yang relatif
lebih terukur. Sebaliknya, /uncertainty/ dari opsi kedua begitu tinggi.
Opsi kedua lebih dinamis ketimbang opsi pertama.
Anda semua tentu punya pengalaman empirik terkait pencarian jalan tikus.
Risiko paling umum jika mencari jalan tikus adalah tersesat dan situasi
tak terduga, seperti jalan ditutup karena hajatan. Tapi jika segala
risiko mampu dihindari, maka Anda bisa jadi akan sampai ke lokasi lebih
cepat dibanding bertahan di jalan utama.
Di sisi lain, eksperimen mencari jalan tikus yang sukses akan membuat
Anda memiliki pengetahuan baru.
*Kebijakan Bernegara*
Layaknya eksperimen jalan tikus vs jalan utama, perdebatan soal pola
kebijakan bernegara juga bermuara pada dua mazhab yang berbeda. Ada yang
menganut mazhab bernegara dengan penuh formalitas, konservatif, dan
/text book/. Layaknya pengemudi konservatif yang lebih memilih bertahan
di jalan utama yang serba pasti.
Sebaliknya, mazhab lain adalah mereka yang bernegara dengan keberanian
mengambil risiko. Mereka yang tidak suka dengan formalitas dan lebih
suka dengan kreativitas. Mazhab ini cocok dengan mereka yang enggan
berada dalam posisi statis saat kemacetan melanda jalan utama. Mereka
yang berani mencari jalan tikus untuk sampai ke tujuan lebih cepat.
Opsi jalan tikus alias kreatif ini biasanya melekat pada seorang yang
punya /background/ sebagai pengusaha. Sebaliknya, opsi jalan konservatif
biasanya ada dalam karakter seorang berlatar akademisi. Lantas mari kita
mengkaji kedua konteks ini dalam landskap pengelolaan negara. Apakah
bangsa ini butuh pengelolaan yang konservatif yang /alon-alon/ /asal
kelakon/, atau kreatif cepat namun berisiko?
Memang, mazhab konservatif dan kreatif dalam tingkatan pengelolaan
negara punya sisi plus dan minus. Efektivitasnya tergantung pada waktu
dan kebutuhan.
Mengintip jurnal dari Hsiu Fen Tsai dan Chin Jung Luan yang dimuat
Business Research Quarterly pada 2016, pola konservatif cocok diterapkan
pada sektor yang krusial dan rentan krisis. Sebaliknya, pola kreatif
cocok diterapkan pada lingkungan yang menyajikan banyak peluang
(/opportunity/). Semakin banyak peluang di satu bidang, maka dibutuhkan
nahkoda yang berani mengambil terobosan. Nahkoda yang punya kemampuan
mengelola risiko (/risk taking capability/).
*Karakter Kreatif*
Kita tentu tak perlu meragukan bahwa Presiden Jokowi yang punya
/background/ sebagai pengusaha lebih kuat pada karakter kreatif. Jokowi
tipikal pemimpin yang berani mengambil risiko. Sebagai presiden, tingkat
formalisasi dalam melaksanakan tugasnya lebih rendah. Jokowi bukan
tipikal pemimpin yang semua berdasarkan /planning/, melainkan /learning
and doing/. Walhasil, gaya kepemimpinan Jokowi lebih organik ketimbang
mekanistik.
Menariknya, pada periode kedua pemerintahannya ini Jokowi cenderung
memilih anggota kabinet yang juga berlatar sama dengannya. Kreatif dan
berpikir /out of the box. /Muncul sosok seperti Erick Thohir, Nadiem
Makarim, Wishnutama, atau Bahlil Lahadalia yang sudah terbukti mampu
menemukan "jalan tikus" masing-masing di bidang yang sebelumnya mereka
geluti.
Sesuai dengan Hsiu Fen Tsai dan Chin Jung Luan, sektor yang penuh
peluang (/high opportunity/) cocok ditempati oleh orang kreatif yang
berani mengambil risiko. Sebaliknya sektor yang tinggi akan ancaman
(/high threat/) lebih cocok ditempati orang yang konservatif.
Dalam hal ini, Kementerian BUMN dan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan menjadi sektor yang paling membuka peluang (/high
opportunity/). Dari kaca mata pasar atau /market based view/,
Kementerian BUMN adalah salah satu sektor yang paling tinggi
/opportunity/-nya. Sedangkan dari kacamata sumber atau /resource based
view/, sektor pendidikan yang paling krusial.
Pada dua sektor yang paling menyajikan peluang dari sisi /market/ dan
/resource/ itu ditempati oleh dua orang kreatif yang sudah punya jam
terbang dunia, Erick Thohir dan Nadiem Makarim. Sebaliknya, sisi yang
paling tinggi akan ancaman (/high threat/) di Kementerian Keuangan
ditempati sosok akademisi konservatif yang memiliki kaliber dunia pula,
Sri Mulyani.
Di tangan Erick Thohir kini terdapat ratusan perusahaan milik negara
yang tak hanya menjadi andalan untuk mencetak pemasukan, melainkan juga
mendorong tumbuhnya sektor mikro lain. Sementara di tangan Nadiem,
ratusan manusia Indonesia yang akan jadi motor perekonomian dicetak.
Tanpa manusia unggul, mustahil menciptakan daya saing yang unggul pula.
Karenanya, untuk menangkap peluang besar itu dipilih orang kreatif macam
Erick Thohir dan Nadiem. Di tangan Erick, BUMN diharapkan mampu bergerak
lebih dinamis dan tidak konservatif. Di tangan Nadiem, pendidikan
diharapkan tak hanya tekstual yang bermuara hanya menjadi pencetak pola
pikir konservatif. Lebih dari itu Nadiem diharapkan mampu mengubah
konsep pendidikan yang kontekstual untuk mencetak pola pikir yang kreatif.
Pada era /disruptive innovation/ seperti saat ini, bertindak kreatif
bukan lagi menjadi pilihan melainkan kewajiban untuk dapat menghasilkan
keunggulan kompetitif. Bermain aman hanya di jalan konservatif, malah
akan menghambat peluang untuk tumbuh lebih besar.
Dari sisi pasar, ini saatnya BUMN agar tak hanya terpaku pada jalan
utama bisnis yang sudah penuh sesak. Jalan sesak ini yang akhirnya
menyebabkan sesama BUMN malah saling bunuh di satu sektor. Pun halnya
sektor swasta yang akhirnya ikut tergilas mati akibat jalan utama bisnis
BUMN yang begitu penuh sesak.
Di tengah persaingan sesak ekonomi yang semakin mengglobal, BUMN sudah
saatnya berpikir /out of the box/ dalam mencari "jalan tikus" lebih
cepat untuk mencapai tujuan. Membuka peluang dan pasar baru, bukan
justru saling tikam di sektor yang sama.
BUMN mesti berani mengembangkan sayapnya secara lebih organik dan masuk
ke sektor bisnis digital. Bergerak konservatif apalagi birokratif hanya
akan mengancam kelangsungan bisnis BUMN.
Tokoh yang pertama kali mengemukakan tentang /disruptive innovation/,
Clayton M Christensen, pernah mengatakan bahwa kunci dari era disrupsi
inovasi seperti saat ini bukanlah saat inovasi yang dilakukan sukses
mengganggu pasar. Namun, kesuksesan /disruptive innovation/ terjadi saat
berhasil menyajikan jalan berbeda dari jalan utama yang sudah dikuasai
pemegang pasar.
Menemukan "jalan tikus" yang membuka pasar baru. Itulah awal dari
kesuksesan /disruptive innovation/ menurut Christensen.
Memang, pada akhirnya tak semua jalan tikus itu berujung kesuksesan.
Sebab dari penelitian Christensen yang dimuat dalam Jurnal /Harvard
Business Review/ terungkap hanya enam persen saja dari "jalan tikus"
yang berbuah kesuksesan. Sedangkan 94 persen tak mampu mengantisipasi
jebakan jalan tikus yang serba tidak pasti.
Tapi untuk mewujudkan target Presiden Jokowi agar BUMN Indonesia bisa
berbicara di level dunia, maka tak ada pilihan selain menjadi bagian
dari enam persen perusahaan yang dikatagorikan Clayton M Christensen itu.
Mengakhiri tulisan ini, saya mengutip peneliti transportasi dan lalu
lintas dari Universitas Dresden, Madlen Ringhand yang meneliti
efektivitas memilih jalan utama vs jalan alternatif. Dari penelitiannya
terungkap bahwa faktor yang paling menentukan adalah waktu untuk
memutuskan pilihan jalan.
Jika terlalu lama bertahan di jalan utama kemudian berputar arah ke
jalan alternatif, maka itulah menjadi kemungkinan terburuk. Sebab jalan
tikus yang jadi alternatif sudah telanjur diserbu pengendara lain.
Walhasil percuma banyak jalan menuju Roma, jika semua jalurnya macet total.
*(mmu/mmu)
*
**