https://news.detik.com/kolom/d-4793411/ekstremisme-amerika-serikat-di-timur-tengah?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199449965.233745603.1574342360-920256210.1574342360
Kamis 21 November 2019, 17:08 WIB
Analisis Zuhairi Misrawi
Ekstremisme Amerika Serikat di Timur-
Tengah
Zuhairi Misrawi - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4793411/ekstremisme-amerika-serikat-di-timur-tengah?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199449965.233745603.1574342360-920256210.1574342360#>
Zuhairi Misrawi
<https://news.detik.com/kolom/d-4793411/ekstremisme-amerika-serikat-di-timur-tengah?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199449965.233745603.1574342360-920256210.1574342360#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4793411/ekstremisme-amerika-serikat-di-timur-tengah?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199449965.233745603.1574342360-920256210.1574342360#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4793411/ekstremisme-amerika-serikat-di-timur-tengah?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199449965.233745603.1574342360-920256210.1574342360#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4793411/ekstremisme-amerika-serikat-di-timur-tengah?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199449965.233745603.1574342360-920256210.1574342360#>
2 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4793411/ekstremisme-amerika-serikat-di-timur-tengah?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199449965.233745603.1574342360-920256210.1574342360#>
Ekstremisme Amerika Serikat di Timur-Tengah Zuhairi Misrawi (Ilustrasi:
Edi Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Timur-Tengah membara, dan akan selalu membara. Sebuah
pemandangan yang sudah bisa kita saksikan bersama selama beberapa dekade
terakhir, berlangsung hingga saat ini. Inti persoalannya karena Amerika
Serikat selalu menerapkan kebijakan yang bersifat ekstrem. Lebih-lebih
pada masa kepemimpinan Donald Trump yang menyebabkan Timur-Tengah terus
bergejolak. Ekstremisme AS di Timur-Tengah semakin ugal-ugalan, dan
celakanya menciptakan instabilitas, bahkan ekstremisme susulan.
Teranyar, AS secara mengejutkan, tidak ada angin dan tidak ada hujan
mengeluarkan sebuah pernyataan yang memantik kemarahan dunia
internasional, bahwa pendudukan dan pembangunan Israel di Tepi Barat dan
Jerusalem Timur dinyatakan sebagai tindakan yang legal. Padahal semua
tahu bahwa tindakan Israel selama bertahun-tahun di kawasan Palestina
tersebut merupakan tindakan ilegal yang bertentangan dengan sejumlah
resolusi PBB.
Setidaknya hingga saat ini sudah ada 600.000 pemukiman ilegal di Tepi
Barat dan Jerusalem Timur. Israel secara sepihak mencaplok kawasan yang
sebenarnya milik Palestina. Pada masa kepemimpinan Barack Obama, AS
mempunyai sikap yang jelas, yaitu meminta Israel untuk menghentikan
pembangunan pemukiman ilegal tersebut. Sebab langkah Israel menjadi
hambatan serius bagi solusi perdamaian dan jalan menuju solusi dua
negara (two states solution).
Berbeda dengan Presiden Obama, Trump justru mengambil langkah ekstrem
dengan memberikan stempel kepada Israel untuk melanjutkan pembangunan
pemukiman ilegal di Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Trump sedang
memainkan perannya sebagai sosok ekstremis yang menggunakan tangan besi
kekuasaannya untuk melindas dan menggilas seluruh aturan main
internasional, yang akan berdampak luas bagi perdamaian di Timur-Tengah
bahkan di dunia.
Sikap ekstrem AS bukan hanya sebuah kemunduran, tetapi justru menjadi
sebuah kegagalan dalam mendorong perdamaian dunia. Kita tahu, isu
Palestina merupakan salah satu isu sentral yang mestinya harus dikelola
dengan mengedepankan rasionalitas dan akal sehat. Pintu perdamaian dan
peta keadilan merupakan harga mati yang harus dijadikan sebagai fondasi
dalam setiap kebijakan yang akan terkait langsung dengan Palestina.
Namun Trump sepertinya tidak menggunakan akal sehat, melainkan memakai
kacamata kuda dalam memotret isu Palestina. Yang menjadi tolok ukurnya
bukan perdamaian global, tetapi posisi dirinya yang saat ini sedang
diadili oleh parlemen AS terkait dengan skandal bantuan ke Ukraina.
Trump sengaja mengambil langkah ekstrem mendukung penuh pembangunan
pemukiman ilegal Israel di Tepi Barat dan Jerusalem Timur karena ingin
mendapatkan dukungan penuh dari para pendukungnya, khususnya kaum
konservatif dan lobi Yahudi. Apalagi tahun depan merupakan momentum
Pemilihan Presiden yang sangat menekan dirinya karena merosotnya
dukungan publik terhadap Trump.
Di pihak lain, Trump ingin memberikan dukungan penuh terhadap Netanyahu
yang dalam dua pemilu terakhir gagal mendapatkan suara mayoritas dan
membangun pemerintahan. Israel berada dalam dilema serius, karena
Netanyahu dan koalisinya gagal memenangkan pemilu. Trump ingin
memberikan dukungan terhadap Netanyahu, bahwa AS akan mendukung seluruh
tindakan Israel terhadap Palestina, termasuk dalam hal pemukiman ilegal
di Tepi Barat dan Jerusalem Timur.
Maka dari itu, Netanyahu merespons kebijakan Trump sebagai kemenangan
historis bagi Israel. Setelah Israel berhasil menjadikan Jerusalem
sebagai ibu kota Israel dengan dukungan penuh dari AS, dan AS
memindahkan Kedutaan Besarnya dari Tel Aviv ke Jerusalem, maka Israel
merasa bisa berbuat apa saja terhadap Palestina.
Sikap ekstrem AS tersebut telah menutup rapat-rapat jalan perdamaian.
Palestina pun tidak mempunyai opsi kecuali melakukan perlawanan. Tidak
hanya itu, sikap AS yang terlihat sembrono ini sama sekali tidak
mendorong pada terwujudnya perdamaian global. Alih-alih ingin mewujudkan
perdamaian global, sikap AS akan menghidupkan sel-sel kaum ekstremis
yang dapat mengancam keamanan global.
Selain itu, kebijakan ekstrem AS terhadap Iran juga telah mengancam
stabilitas politik. Embargo dan blokade ekonomi yang diambil Trump
dengan menganulir kesepakatan nuklir secara sepihak telah menimbulkan
instabilitas politik dan ekonomi. AS terlalu ekstrem dalam menyikapi Iran.
Apa yang terjadi di Iran dalam beberapa hari terakhir adalah akibat
kebijakan ekstrem AS. Jalan perdamaian di kawasan Timur-Tengah yang
diinisiasi oleh Presiden Obama hancur lebur, karena ekstremisme Trump.
AS di masa Obama berusaha membangun kesepahaman dengan Iran, sehingga
mampu bersama-sama melawan ISIS. Namun kebijakan Trump terhadap Iran
merusak asa perdamaian.
Akibatnya, Iran harus berada dalam krisis ekonomi yang jika tidak
diambil terobosan, maka akan menyebabkan krisis politik yang serius.
Sebab itu, Presiden Iran mengambil langkah tidak populer dengan
menaikkan harga bensin untuk memastikan kelas bawah mendapatkan insentif
dari negara.
Semua mencermati apa yang terjadi di Iran merupakan buah dari
kesombongan AS. Bahkan AS sengaja membuat kebijakan yang ekstrem,
sehingga sebuah negara berada di ambang kehancuran dan kebangkrutan.
Padahal Iran adalah negara dengan sumber daya alam dan sumber daya
manusia yang sangat luar biasa.
Begitu halnya dengan apa yang terjadi di Yaman. Konflik yang tak kunjung
selesai itu akibat rudal-rudal mematikan AS. Demi mendulang keuntungan
fulus dari bisnis senjata, AS sama sekali tidak mendorong solusi yang
mendamaikan bagi Yaman. Akibatnya ratusan ribu warga tewas dan jutaan
lainnya mengungsi.
AS secara eksplisit berpihak kepada Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang
menggunakan cara-cara ekstrem dalam menyelesaikan konflik politik di
Yaman. Akibatnya, masalah di Yaman terus menggantung tanpa solusi. AS
terlibat langsung dengan pihak-pihak yang tidak menghendaki perdamaian
di Yaman.
Dengan demikian, apa yang terjadi di Timur-Tengah saat ini adalah buah
dari ekstremisme AS. Kebijakan yang cenderung ugal-ugalan dan ekstrem
itu, cepat atau lambat akan melahirkan ekstremisme baru. Apa yang
dilakukan AS sama sekali tidak memberikan harapan bagi terwujudnya
perdamaian dan keadaban publik. Timur-Tengah pada hakikatnya adalah
korban dari ekstremisme AS.
*Zuhairi Misrawi* /cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan
politik Timur-Tengah/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*