1.:

Merdeka > Politik
Minggu, 24 November 2019 16:00 
Reporter : Intan Umbari Prihatin

Refly Harun Nilai Pengangkatan Stafsus Jokowi Hamburkan Anggaran Negara

Merdeka.com - Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun menyayangkan terkait
Presiden Joko Widodo menunjuk beberapa 7 milenial jadi staf khusus. Dia
menilai beberapa yang diangkat adalah sosok yang sudah mengabdi di
lingkungan masyarakat dan hanya bertugas untuk memberikan opini.
Seharusnya Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut kata dia cari ahli-ahli
profesional dan tidak digaji tetap.

"Padahal pekerjaan mereka hanya memberikan opini dan pendapat saja.
Kalau hanya itu, lebih baik Presiden dibantu oleh ahli-ahli yang tidak
perlu diikat oleh jam kerja, cukup diikat kode etik, tidak perlu
diberikan kompensasi pilihan juta," kata Refly di Kawasan Jakarta
Pusat, Minggu (24/11).

Dia menilai memberikan gaji puluhan juta untuk para stafsus akan
menghamburkan anggaran negara. Rafly pun menilai para stafsus tersebut
tidak perlu dijadikan tetap melainkan diperuntukan untuk honorer saja.

"Anak-anak muda yang jadi stafsus sudah berubah, mungkin mereka dari
kalangan orang yang mampu. Belum tentu presiden dapat masukan yang
sesuai, mereka kan belum tentu ahli dalam bidangnya," ungkap Refly.


Gaji Stafsus Rp 51 Juta

Berdasarkan beleid itu, gaji Staf Khusus Presiden ditetapkan sebesar Rp
51 juta. Gaji itu merupakan pendapatan keseluruhan dan sudah termasuk
di dalamnya gaji pokok, tunjangan kinerja, dan tunjangan pajak
penghasilan.

Berbeda dengan menteri dan wakil menteri, Staf Khusus Presiden tidak
memperoleh rumah dan kendaraan dinas. Gaji dan tunjangan yang diterima
Staf Khusus Presiden sama dengan hak keuangan Staf Khusus Wakil
Presiden.

Sementara tugas, fungsi dan segala hal yang mengatur Staf Khusus
Presiden, diatur dalam Perpres Nomor 39 Tahun 2018 tentang Utusan
Khusus Presiden, Staf Khusus Presiden, dan Staf Khusus Wakil Presiden.
[ded]



2.:


Merdeka > Politik
Sabtu, 23 November 2019 21:04 
Reporter : Merdeka

Posisi 7 Stafsus Milenial Dianggap Tak Terlalu Krusial untuk
Pemerintahan Jokowi
 

Merdeka.com - Pengamat politik Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi
Kurnia memandang tujuh staf khusus milenial Presiden Jokowi tak krusial
bagi pemerintahan. Menurutnya, keberadaan para stafsus itu tak akan
berpengaruh banyak untuk mengambil kebijakan.

"Mereka tak bisa mempengaruhi presiden dan hanya sekedar keberadaan
mereka untuk input dan itu juga menunggu saat presiden memerlukan dia.
Menurut saya mereka tak terlalu krusial," kata Dedi saat diskusi
Polemik MNC Trijaya di Hotel Ibis Tamarin Jakarta Pusat, Sabtu (23/11).

Bahkan, dia memandang keberadaan mereka hanya sebagai wadah akomodatif
Presiden Jokowi pasca-kemenangan di Pilpres 2019. Sebab, latar belakang
ketujuh orang ini adalah para kelompok pendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf
Amin.

"Saya lihat latar belakang mereka yang justru lebih banyak punya
relevansi pemenangan presiden, ada kader partai dan tim pemenangan
2019," beber Dedi.






 

Kirim email ke