aha

https://suaraislam.id/nabi-saw-inspirator-kemerdekaan-ri/

Nabi Saw Inspirator Kemerdekaan RI
 1 Desember 2019

Lagi, Sukmawati Soekarnoputri melakukan pelecehan terhadap agama Islam.
Kali ini dia membandingkan peran Nabi Muhammad Saw dengan Ir Sukarno di
abad ke-20. Sontak apa yang dilakukan Sukmawati ini membuat umat Islam
marah hingga akhirnya Sukmawati dilaporkan atas perbuatannya tersebut.
(Tempo.co, 18/11/19)

Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama. Nama
Jayakarta diangkat dari Al-Quran Surah 48:1, *“Inna Fatahna laka Fathan
Mubina.”* Makna Fathan Mubina adalah Kemenangan Paripurna atau Jayakarta.
Dan hari ini dikenal dengan sebutan Jakarta.

Nama Jakarta melambangkan rasa syukur kepada Allah atas kemenangan dalam
menggagalkan usaha penjajahan Kerajaan Katolik Portugis di Pelabuhan Kelapa
atau Sunda Kelapa. Ternyata, nama Jayakarta sebagai karya salah seorang
wali dari Walisongo, bersumberkan Al-Quran dan terjadi bertepatan pada
Ramadhan.

Nama Fathan Mubina atau Jayakarta sebagai jawaban ulama dan santri melawan
Paus Alexander VI dalam Perjanjian Tordesilas, 1494 M, yang memberikan
kewenangan Kerajaan Katolik Spanyol dan Portugis untuk memelopori
penegakkan imperialisme atau penjajahan Barat di dunia.

Dari fakta sejarah ini, ternyata ulama dan Walisongo sebagai peletak dasar
nama Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nama Fathan Mubina atau
Jayakarta, setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Jumaat Legi, 9 Ramadhan
1364, Puluhan Pertama Ramadhan, Puluhan Rahmat, sebagai lambang runtuhnya
kekuasaan penjajahan Barat: Kerajaan Katolik Portugis, Kerajaan Protestan
Belanda, dan sekaligus penjajahan Timur, Kekaisaran Shinto Jepang di bumi
Nusantara Indonesia. Jelas hal ini sebagai fakta bahwa kebenaran agama
Islam dimenangkan oleh Allah di atas seluruh agama non-Islam (QS al-Fath
[48]: 28).

Perjuangan dakwah wirausahawan dan ulama diawali dari pasar, dengan masjid
dan pesantrennya. Tidak hanya melahirkan mayoritas bangsa Indonesia memeluk
Islam sebagai agamanya. Melainkan juga membangkitkan kesadaran politik
umat, membangun sekitar 40 kekuasaan politik Islam atau kesultanan.

Kelanjutannya tidaklah heran jika pengaruh perjuangan ulama melahirkan
Proklamasi, 17 Agustus 1945, Jumat Legi, 9 Ramadhan 1364. Sebelum
Proklamator Ir Sukarno membacakan teks proklamasi, ia meminta restu dari
beberapa ulama terkemuka di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Betapa besarnya peran kepemimpinan ulama dan santri dalam perjuangan
menegakkan kedaulatan bangsa dan Negara dalam menjawab serangan imperialis
Barat dan Timur. Diikuti pula dengan perjuangan ulama dan santri
mempertahankannya serta membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh
karena itu, tepatlah kesimpulan E.F.E. Dowes Dekker Danodirjo Setiabudi
dari Indische Partij: “Jika tidak karena sikap dan semangat perjuangan para
Ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.”

Bisa dikatakan bahwa tidak mungkin Indonesia merdeka tanpa ada perlawanan
terhadap penjajah. Dan tidak mungkin ada semangat perlawanan terhadap
penjajah jika tidak ada dorongan jihad. Ajaran jihad adalah risalah Islam,
risalah Islam tersebar ke seluruh dunia berkat Rasulullah Saw.

Tidak heran Bung Tomo berteriak Allahu Akbar dalam melawan penjajah di
Surabaya. Sebab dirinya tahu tidak ada semangat patriotisme yang mampu
melawan penjajah kecuali atas perlindungan dan kekuatan dari Allah.
Aktivitas jihad dilakukan karena jihad telah difatwakan oleh Hadratus
Syeikh KH Hasyim Asy’ari.

Dari sini kita ketahui bahwa Rasulullah Muhammad Saw telah menginspirasi
kaum Muslim di seluruh dunia termasuk di negeri ini untuk berjuang melawan
ketidakadilan dan penjajahan. *Wallahu a’lam bishshawaab.*

Detty Arianti Shareh, SE

Kirim email ke