Pesan Terakhir Ucok untuk Mama Sebelum Hilang saat Rusuh 1998
*Feybien Ramayanti*, CNN Indonesia | Rabu, 11/12/2019 09:35 WIB
Bagikan :
Pesan Terakhir Ucok untuk Mama Sebelum Hilang saat Rusuh 1998Kampus
Trisakti mengenang para korban 1998. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia -- 12 Mei 1998 jadi hari terakhir Paian Siahaan
dan istrinya mendengar suara putra mereka Ucok Siahaan. Hari itu pula
jadi momentum*Tragedi Trisakti
<https://www.cnnindonesia.com/tag/tragedi-trisakti>*; penembakan
terhadap sejumlah*mahasiswa <https://www.cnnindonesia.com/tag/mahasiswa>*.
Ucok merupakan salah satu mahasiswa dari 13 aktivis yang dinyatakan
sebagai korban penculikan 1997/1998 dan masih hilang sampai sekarang.
Lihat juga:
Menggugat Keseriusan Jokowi untuk Selesaikan Kasus HAM
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191210143502-20-455697/menggugat-keseriusan-jokowi-untuk-selesaikan-kasus-ham/>
Ketika itu, Ucok, yang turut berjuang menyuarakan aspirasi masyarakat
menolak rezim Orde Baru, menyempatkan waktu menelpon ke rumah untuk
memperingatkan kedua orang tuanya agar tak keluar rumah.
"Mama jangan keluar-keluar rumah. Jakarta hari ini lagi rusuh. Yang
penting stok makanan sudah disiapkan di rumah. Di luar bahaya," tutur
Ucok saat itu melalui sambungan telepon, seperti dikisahkan Paian
kepada/CNNIndonesia.com/, Selasa (10/12).
Melihat situasi Jakarta yang kala itu sedang memanas, ada perasaan takut
dalam hati Paian akan keselamatan puteranya. Terlebih karena jarak dari
rumahnya di Depok dengan kampus cukup jauh, Ucok memilih menginap di
indekos sehari-harinya.
Monumen Tragedi Trisakti, Jakarta Barat.Monumen Tragedi Trisakti,
Jakarta Barat. (CNN Indonesia/Teguh Yuniswan)
Namun, ia tak bisa membendung rasa kepedulian Ucok terhadap nasib
Indonesia yang saat itu ia anggap penuh ketidakadilan. Paian bercerita
anaknya memang punya rasa kepedulian yang tinggi terhadap keluarga
maupun orang-orang di sekitarnya.
"[Ucok] anaknya memang keras. Kalau ada salah menurut dia, dia pasti
langsung maju. Tapi walaupun keras dia juga perhatian dengan orang
tuanya," ujarnya dengan logat Batak yang sesekali masih kental terdengar.
Di sisi lain, Paian juga menyebut Ucok sebagai pribadi yang punya empati
tinggi. Ia ingat betul rasa bahagia dan haru tiap kali Ucok memberikan
kado-kado spesial untuk ulang tahunnya. Misalnya, dasi, karena Ucok tahu
ayahnya sering pakai dasi untuk bekerja
Lihat juga:
Sumarsih Usai 20 Tahun Menuntut: Semua Presiden Cuma Janji
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181115100205-20-346702/sumarsih-usai-20-tahun-menuntut-semua-presiden-cuma-janji/>
Selang beberapa hari setelah Tragedi Trisakti yang menewaskan empat
orang mahasiswa, Paian dan istrinya menerima telepon yang jadi mimpi
buruk untuk keduanya.
Kawan kuliah Ucok menelpon ke rumah. Ia ingin berbicara dengan Ucok yang
ia pikir sudah pulang ke rumah dari kemarin.
"Ucok belum pulang. Masih dikosan," jawab Paian kepada kawan Ucok.
"/Lho/, dia sudah pulang kok dari kemarin. Dijemput jam 8 malam
kemarin," kata temannya heran.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Dari situ rentetan kejanggalan yang terjadi beberapa hari ke belakang
berbarengan menghantui Paian.
*Dibuntuti*
Sebelumnya, Paian mengaku sudah beberapa kali mendapati
pertanda-pertanda bahwa ada yang meneror Ucok.
"Awalnya saya enggak curiga, tapi ternyata banyak hal-hal yang
menunjukan bahwa dia memang dicari waktu itu," kata dia.
Ia bercerita kala dirinya dibuntuti oleh orang tak dikenal dalam
perjalanan dari kantor ke rumah. Saat itu ia tengah mengendarai mobil
yang kerap dipakai Ucok.
Lihat juga:
Wawan, Rompi Antipeluru, dan Sayur Asam Yang Belum Disantap
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180516222451-20-298812/wawan-rompi-antipeluru-dan-sayur-asam-yang-belum-disantap/>
"Saya tahu diikuti dari Tanjung Barat, kalau saya pelan dia pelan. Kalau
saya kencang dia kencang. Waktu itu saya yang bawa, tapi mobil sering
dipakai dia (Ucok). Persis diikuti sampai depan rumah," ceritanya.
Karena heran dan penasaran, sesampai di depan rumah Paian memberanikan
diri mendekati mobil yang membuntutinya. Namun, mobil tersebut langsung
melaju.
Kejanggalan lainnya juga terjadi beberapa hari sebelum kerusuhan, ketika
Ucok pulang ke rumah. Karena sudah lama tidak pulang ke rumah, Paian
menyuruh Ucok bermalam di rumah hari itu. Ucok pun setuju.
Aktivis HAM mengkritisi para jenderal yang ada di lingkaran Jokowi,
salah satunya adalah eks Menko Polhukam Wiranto yang diduga terkait
dengan sejumlah kasus HAM.Aktivis HAM mengkritisi para jenderal yang ada
di lingkaran Jokowi, salah satunya adalah eks Menko Polhukam Wiranto
yang diduga terkait dengan sejumlah kasus HAM. (CNN Indonesia/Adhi
Wicaksono)
Namun seseorang tak dikenal tiba-tiba mencari Ucok lewat sambungan
telepon. Setelah berbicara dengan orang di balik telepon itu, Ucok
langsung buru-buru kembali ke kosnya dan tak jadi bermalam. Itu jadi
hari terakhir Paian bertatap muka dengan puteranya.
Sampai saat itu ia tak kepikiran bahwa rentetan kejanggalan itu berbuah
raibnya Ucok hingga kini, 21 tahun kemudian. Harusnya, kata dia,
sekarang Ucok sudah berusia 43 tahun.
"Padahal dia sudah janji tanggal 17 Mei itu kan dia ulang tahun. Dia
bilang bakal pulang ke rumah sama teman-temannya, mau rayakan ulang
tahun," ujar Paian.
Lihat juga:
Jaksa Agung Ungkap Hambatan Penyelesaian Kasus HAM Berat
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191107142131-12-446354/jaksa-agung-ungkap-hambatan-penyelesaian-kasus-ham-berat/>
*Komitmen HAM*
Setelah menerima telepon dari kawan kuliah Ucok itu, Paian dan istrinya
kalang-kabut mencari keberadaan puteranya. Aparat kepolisian jadi
lembaga pertama yang mereka datangi setelah tak juga menemukan batang
hidung Ucok.
Mengaku tak dapat hasil dan upaya yang memuaskan dari polisi, Paian
akhirnya mengadukan kasus anaknya ke aktivis HAM Munir Said.
"Saya lapor ke Munir. Munir bilang kasus seperti itu umum terjadi. Tidak
menculik langsung, tapi sudah dibuntuti," tuturnya.
Lukisan bergambar Munir, aktivis HAM yang juga jadi korban pembunuhan
oleh aparat negara. (Safir Makki)
Hingga kini, tepat tanggal 10 Desember 2019 pada Hari HAM Internasional,
Paian belum juga mendapat pencerahan akan keberadaan maupun kondisi Ucok.
Ia mengaku ikhlas dengan kepergian puteranya selama pihak
berwenang tetap mengupayakan pencariannya. "Tapi kalau kepastian
keberadaannya itu, itu yang harus kita perjuangkan. Mencari 13 orang
yang hilang itu. Apapun hasilnya kita sudah legowo," ujar Paian.
Sejarawan senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman
Adam, mengatakan istilah 'culik-menculik' memang tidak asing pada era
kepemimpinan Presiden RI kedua Soeharto.
Hal itu diindikasikan dengan pidato Soeharto pada peringatan ulang tahun
Komando Pasukan Khusus dan Rapat Pimpinan ABRI di Pekanbaru.
Lihat juga:
Mahfud Klaim Negara Sudah Tak Lakukan Pelanggaran HAM
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191210194427-12-455813/mahfud-klaim-negara-sudah-tak-lakukan-pelanggaran-ham/>
"[Dalam pidatonya, Soeharto mengatakan] jadi kalau ada sekian ratus MPR,
yang 50 persen lainnya setuju dan 50 persen menolak, maka culiklah satu
orang yang menolak itu. Sehingga upaya itu tidak berhasil. Soeharto
mengatakan istilah culik itu, jadi sepertinya menculik sesuatu yang
sudah tidak aneh," tuturnya, pada acara peringatan Hari HAM
Internasional di Cilandak, Jakarta Selatan
Ditemui pada kesempatan berbeda, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan (KontraS) mengatakan era pemerintahan Presiden RI Joko
Widodo juga belum bisa diharapkan terkait penyelesaikan kasus
pelanggaran HAM masa lalu.
"Presiden Joko Widodo belum pernah mengeluarkan pernyataan terkait
peristiwa pelanggaran HAM berat di masa lalu dan upaya penyelesaiannya.
Hal ini mencerminkan Jokowi tidak memahami peristiwa dan jalan
penuntasannya," tutur Divisi Pemantauan Impunitas KontraS Dimas Bagus
Arya di Kantor Kontras, Senen, Jakarta Pusat.
Dia mengatakan perlu sinergi antara Komnas HAM dan Kejaksaan Agung dalam
penuntasan kasus tersebut. Namun, keduanya malah saling lempar balik
berkas penyelidikan kasus pelanggaran HAM masa lalu.
Seperti diketahui ada sembilan berkas kasus pelanggaran HAM yang
dikembalikan Kejaksaan Agung ke Komnas HAM, setelah sebelumnya sempat
dilimpahkan.
Salah satu diantaranya terkait Peristiwa Trisakti yang menjadi akar
menghilangnya putera Paian, Ucok. Kini, dalam momentum peringatan Hari
HAM Internasional 2019, 21 tahun setelah peristiwa itu, kasus-kasus itu
pun masih gelap.
*(gil)*