Bung Sunny, Apa bukan karena macam2 persoalan seperti tonnage yang masih terlalu kecil untuk dibawa. dan apa balikny gelondang, kosong ? Sayang Faisal Basri tidak menganalisa lebih jauh dan kapan dapat dicapai break even point, dan apa syaratnya supaya dapat ke situ ? Apa ya perlu dibarengi dengan adanya tranmigrasi, atau cukup mengembangkan daerah2 seperti idee A Hok tanam jagung dan usaha ternak di NTT. Tidak tahu apa ada yang melanjutkan. Kalau saya baca, sekarang ini yang digalakkan perindustrian. Saya pikir kalau harga pangan bisa murah (pertanian, peternakan maju dengan bibit unggul, pengairan, pemupukan, mekanisasi), meskipun harga rendah tetapi petani bisa hidup layak. Yang saya tahu hasil produksi susu di jaman saya tahun 60an hanya rata2 6-7 liter sehari, saat ini udah bisa mencapai 15-17 liter sehari dengan inseminasi buatan. Dulu dapat bantuan gratis di tanun 60an dari Zelandia Baru, dan mantri2nya yang mengerjakan inseminasi buatan dilatih dan berhasil baik. Rumput gajah juga diperkenalkan, tingginya bisa 2- 2.5m. Bisa menghasilkn ratusn ton rumput gajah per ha per tahun. Air kencing dan kotoran sapi dikembalikan ke tanah untuk memupuk. Dengan gaji pekerja tidak lebih tinggi dari negeri lain, mestinya Indonesia bisa bersaing dalam hal tenaga kerja dengan ethos kerja lebih baik dan fit karena cukup makan. Salam, KH
Pada tanggal Rab, 11 Des 2019 pukul 08.59 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > Mungkin sektor maritim sesak nafas, karena yang bertanggung jawab > mengutamakan bidang lain. > > >
