https://fokus.tempo.co/read/1304287/kala-virus-corona-menggoyang-ekonomi-indonesia/full&view=ok



*Kala Virus Corona Menggoyang Ekonomi Indonesia*

Reporter:
*Fajar Pebrianto*

Editor:
*Rahma Tri*

Kamis, 6 Februari 2020 18:


<https://statik.tempo.co/data/2020/02/03/id_911746/911746_720.jpg>


*Suasana hari pertama di lokasi observasi WNI yang dievakuasi dari Wuhan,
Cina di sebuah hanggar di Lanud Raden Sadjad, Natuna dalam foto yang
diunggah pada Senin, 3 Februari 2020. Sebanyak 238 WNI menjalani masa
karantina selama 14 hari*

*untuk memastikan tidak tertular virus corona. Twitter/@Kemenkes*


*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Penyebaran virus corona
<https://bisnis.tempo.co/read/1304330/rei-jelaskan-bagaimana-virus-corona-berimbas-ke-properti-ri>
yang
tak kunjung reda bahkan semakin meluas tak pelak membuat pemerintah
Indonesia panas-dingin. Bagaimana tidak, Cina, negara pusat penyebaran
virus mematikan itu, adalah mitra utama Indonesia dalam segala lini bisnis.
Ketergantungan ekonomi antara kedua negara ini sangat besar.

 “Turis Cina yang datang ke Indonesia juga mencapai 2 juta orang tahun
lalu,” kata Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan,
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, saat
dihubungi di Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020.

Di sisi investasi, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM ) mencatat Cina
sebagai negara yang menanamkan investasi terbesar di Indonesia sepanjang
Triwulan IV 2019. Nilai investasi Cina
<https://bisnis.tempo.co/read/1304349/penerbangan-dari-cina-disetop-bali-berpotensi-kehilangan-rp-50-m>
di
Indonesia sebesar US$ 1,4 miliar atau 20,4 persen dari seluruh investasi.

"FDI (*Foreign Direct Invesment*) Tiongkok itu meningkat. Memang kami
tawarkan ke semua negara. Pemerintah Indonesia tidak memberikan skala
prioritas kepada Cina tapi mereka lebih agresif," kata Kepala BKPM Bahlil
Lahadalia di kantornya, Jakarta, 29 Januari 2020.


Dia mengatakan realisasi investasi
<https://bisnis.tempo.co/read/1304334/virus-corona-muatan-kapal-kargo-asal-cina-anjlok-10-persen>
Cina
pada 2019 sebesar 83 persen. Bahlil mengatakan Cina berani berinvestasi di
banyak sektor, salah satunya di infrastruktur hilir yang tidak banyak
dilakukan negara lain. "*Feasibility study* dan intuisi (Cina) itu
seimbang. Kalau Jepang lama. Makanya Jepang tergeser," ujar dia.

Di sisi perdagangan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selama
ini 16 persen komoditas ekspor Indonesia dikirim ke Cina. Pun sebaliknya,
22 persen produk impor yang masuk ke Indonesia berasal dari Negeri Tirai
Bambu ini.

Iskandar juga menyampaikan, tahun 2019 lalu, total ekspor
<https://bisnis.tempo.co/read/1304310/ditolak-bali-ntt-siap-tampung-warga-timor-leste-eks-wuhan>
non-migas
Indonesia mencapai US$ 154,99 miliar (92,52 persen dari total ekspor). Dari
jumlah ini, negara tujuan terbesar ekspor non-migas Indonesia adalah Cina
dengan nilai US$ 25,85 miliar atau 16,68 persen


Situasi yang sama terjadi pada impor. Tahun 2019, total impor non-migas
Indonesia mencapai US$ 148,84 miliar (87,18 persen dari total impor). Dari
jumlah ini, negara asal impor terbesar kembali adalah Cina, dengan nilai
US$ 44,58 miliar atau 29,95 persen.


Contoh nyata ketergantungan Indonesia akan produk impor asal Cina sudah
terlihat nyata di pasar tradisional hari ini. Belum lagi pemerintah resmi
menghentikan secara total impor produk makanan dari Cina, harga bawang
putih di pasaran sudah meroket lebih dari 100 persen. Awal Januari, harga
bawang putih di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta masih berkisar Rp 22.000
per kilogram. Kini harga bawang putih sudah melambung sampai lebih dari Rp
50.000 per kg karena stok di pasaran sudah menipis. Selama ini, Indonesia
memenuhi kebutuhan bawang putih
<https://bisnis.tempo.co/read/1304248/virus-corona-harga-bawang-putih-bisa-meroket-hingga-100-ribu>nasional
dengan mengimpornya dari Cina.


Saat ini, larangan memang baru berlaku untuk rute penerbangan
<https://bisnis.tempo.co/read/1304094/indonesia-stop-rute-penerbangan-tiongkok-dpr-cina-jangan-marah>
Indonesia-Cina
khusus penumpang komersial. Selain itu, juga ada larangan baru terbatas
pada impor produk hewan hidup. Namun, kata Carmelia, penurunan tingkat
keterisian ruang muat ini terjadi karena importir ikut berhati-hati
mengimpor bahan pangan lainnya. “Karena khawatir tidak ada yang beli di
sini,” ujar Carmelia.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang
Pariwisata, Kosmian Pudjiadi, mengatakan sejumlah hotel di Bali mulai
kehilangan tamu. Sebab, 1,4 juta dari 2 juta turis Cina, memiliki destinasi
ke Bali. “Mereka sekarang enggak ada turisnya,” kata Kosmian.

Kosma juga mendapat kabar bahwa aktivitas beberapa pabrik mulai terganggu,
Sebab, ada pekerja mereka yang merupakan warga Cina, belum bisa kembali ke
Indonesia akibat penerbangan Indonesia-Cina sudah ditutup sementara oleh
Kementerian Perhubungan. “Pabriknya stuck, kebanyakan di proyek PLTU
(Pembangkit Listrik Tenaga Uap),” kata Kosmian.

Atas berbagai situasi ini, berbagai langkah antisipasi mulai dilakukan
pemerintah. Salah satunya untuk mengantisipasi dampak bagi daerah-daerah
yang bakal kehilangan turis Cina. Daerah-daerah itu adalah Bali, Kepulauan
Riau, Manado, dan Danau Toba, Sumatera Utara.

Dalam rapat terbatas dua hari lalu, Iskandar menyebut pemerintah bakal
memprioritaskan perjalanan dan acara dinas di daerah-daerah ini. “Pesannya
ke semua menteri yang melaksanakan,” kata Iskandar.

Menanggapi situasi ini, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics
(Core) Indonesia, Piter Abdullah juga melihat bahwa wabah virus corona akan
memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia di Triwulan I 202. Situasi ini
terjadi dari turunnya kinerja sektor pariwisata, hingga pasokan bahan baku
industri manufaktur dari Cina yang terhambat.

Untuk itu, Piter menyarankan pemerintah untuk lebih fokus dalam ekonomi
domestik, sebagai solusi atas berbagai potensi pelemahan ini. Salah satunya
dengan menjaga daya beli masyarakat untuk mendorong konsumsi.

Setidaknya, kata Piter, kebijakan-kebijakan yang menggerus daya beli
masyarakat harus dihentikan, di tengah situasi penyebaran wabah virus corona
<https://bisnis.tempo.co/read/1304308/virus-corona-ganggu-pariwisata-kadin-usulkan-2-hal>
ini.
“Jangan ada lagi kebijakan seperti menaikkan iuran BPJS Kesehatan, cukai
rokok, hingga harga gas,” kata dia.


*Winarsih, 43 tahun, pedagang sayur-sayuran di Pasar Kramat Jati, Jakarta
Timur, pada Sabtu, 4 Mei 2019, mengeluhkan pasokan bawang putih menipis
sehingga harna naik tajamsampai 100 persen. Tempo/Adam Prireza*

Begitu ada kabar keran impor bawang dan makanan lain dari Cina ditutup,
pasar kalang kabut. Harga-harga melambung. Inflasi pun di depan mata.

Tak hanya hubungan perdagangan yang erat, di bidang pariwisata pun
Indonesia bisa dibilang tergantung pada Cina. Turis Cina termasuk yang
paling banyak bertandang ke Indonesia, setelah turis Malaysia dan
Singapura. Tahun 2019, Indonesia didatangi oleh 16,1 juta wisatawan
mancanegara atau turis asing. Dari jumlah ini, 2 juta atau 12,8 persen di
antaranya merupakan turis asal Cina.



Tapi kini, setelah ‘goyangan’ virus corona, mau tak mau Indonesia harus
bersiap-siap menghadapi segala risiko. Pertama, mulai terjadi penurunan
volume ekspor-impor yang menyebabkan keterisian ruang muat kapal kargo
berkurang. Ketua Umum Asosiasi Pemilik Kapal Nasional Indonesia (INSA)
Carmelia Hartoto menyebut penurunan volume muatan kapal ini mencapai 10
persen.

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of
Economics and Finance atau Indef, Abdul Manap Pulungan bahkan
memperkirakan pertumbuhan
ekonomi <http://www.tempo.co/tag/pertumbuhan-ekonomi>Indonesia pada 2020
tidak akan mencapai target 5,3 persen. Hal itu tak lain karena virus corona
telah menyebar ke berbagai negara.

"Pertumbuhan ekonomi 5,3 persen tidak realistis untuk 2020. Kondisi global
tertekan karena performa Cina yang turun dan menyebarnya virus corona
<http://www.tempo.co/tag/virus-corona>," kata Abdul Manap di ITS Tower
Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020.

Kirim email ke