*Sebagai masyarakat beragama maka banjr atau panas terik etc adalah
kehendak Sang Maha Berkuasa maka oleh karena terimalah sebagai suatu takdir
mulia.*

https://bali.antaranews.com/berita/179474/banjir-kembali-sambangi-penduduk-jakarta


Banjir kembali sambangi penduduk Jakarta

 Minggu, 9 Februari 2020 7:57 WIB
[image: Banjir kembali sambangi penduduk Jakarta]

Kondisi Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa Kota Bogor, Jawa Barat
mengalami peningkatan akibat hujan yang turun sejak Jumat malam (7/2/2020)
(ANTARA/HO-Komunitas Peduli Ciliwung Bogor)
Jakarta (ANTARA) - Banjir tampaknya masih sangat lekat dengan Jakarta dan
entah sampai kapan persoalan itu akan dapat dituntaskan.

Banjir di beberapa lokasi di DKI Jakarta pada Sabtu (8/2) merupakan
kejadian kedua kalinya selama kurun waktu 2020. Di beberapa lokasi justru
yang ketiga kalinya.


Berapakalipun banjir, dampaknya tetap sama, yakni kerugian materi di pihak
warga yang terdampak dan kesibukan atau kerepotan aparat terkait
menanganinya. Warga yang tidak terdampak secara langsung pun harus
merasakannya karena terkendala dalam aktivitasnya akibat jalan tergenang.

Kalau melihat kronologinya, potensi banjir kali ini telah diprediksi sejak
Jumat (7/2) sore. Hal itu berdasarkan tingginya curah hujan di wilayah
Bogor (Jawa Barat), disamping curah hujan yang mengguyur Jakarta sepanjang
hari itu.

Pada pukul 21.15 WIB disampaikan informasi kepada publik bahwa tinggi
permukaan air di Bendung Katulampa Bogor mencapai 100 sentimeter. Dengan
ketinggian permukaan air itu maka Jakarta masuk Siaga III Banjir.

Pukul 21.30 WIB, disampaikan lagi informasi perkembangan situasi dan
kondisi dari Katulampa bahwa debit air naik dengan ketinggian air mencapai
110 sentimeter. Saat itu wilayah Puncak dan Bogor masih diguyur hujan.

Rentang Waktu
Dalam kurun waktu enam sampai sembilan jam setelah informasi perkembangan
itu, luapan air dari Katulampa akan sampai di wilayah Jakarta. Prediksi itu
berdasarkan fakta selama ini mengenai rentang waktu antara kondisi di
Katulampa dengan perkiraan kondisi di Jakarta.

Adanya rentang waktu tersebut merupakan kesempatan paling tepat bagi warga
untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan air. Tinggal melihat seberapa
tinggi air Ciliwung apakah akan meluap dan merangsek ke permukiman atau
tidak.


Tanda-tanda banjir kemudian disampaikan dalam bentuk imbauan oleh jajaran
terkait di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.Suku Dinas (Sudin) Sumber Daya
Air (SDA) Jakarta Selatan, misalnya, langsung menyampaikan perkembangan
mengenai naiknya debit air di Sungai Ciliwung ke masyarakat.

Imbauannya jelas, yakni masyarakat di bantaran Sungai Ciliwung harus segera
mempersiapkan diri akan datangnya banjir. Sedangkan untuk mengantisipasi
dan mengatasi banjir, pasukan biru telah disiagakan. di lokasi-lokasi yang
potensial banjir.

Pasukan biru merupakan petugas yang harus memantau genangan kemudian
sesegera mungkin melakukan tindakan agar selokan dan drainase dapat
mengalirkan air secara cepat. Pasukan ini juga segera bertindak apabila ada
selokan atau drainase yang tersumbat sampah.

Selain itu memastikan pompa air bekerja secara optimal untuk menyedot dan
memompa air yang menggenang. Tampak jelas kerja keras yang harus mereka
lakukan dalam situasi seperti itu.

Terjadi
Kekhawatiran terjadinya banjir lagi di DKI Jakarta benar-benar terjadi di
sejumlah lokasi. Pada Sabtu pagi, berdasarkan data dari Suku Dinas
Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Jakarta Timur setidaknya
11 lokasi di wilayah setempat terendam banjir dengan ketinggian bervariasi.

Salah satu lokasi yang terendam adalah pertokoan di Jalan Jatinegara Barat
dengan ketinggian air sekitar 40 sentimeter. Penyebabnya adalah luapan
Ciliwung sejak Sabtu pagi.


Di Jakarta Selatan, beberapa lokasi juga tergenang banjir. Salah satunya di
Kemang dengan genangan bervariasi, dari 30 hingga 70 sentimeter.

Posko banjir Jakarta mencatat intensitas hujan yang cukup tinggi pada Sabtu
(8/2) dini hari menyebabkan enam kecamatan di Jakarta Utara terdampak
banjir. Genangan banjir itu tersebar di enam kecamatan, 10 kelurahan, 31 RW
dan enam RT, dengan ketinggian air 10-45 sentimeter.

Genangan air juga terjadi di kawasan Ancol. Pada pukul 12.00 WIB,
ketinggian air sekitar 15-30 sentimeter menggenangi pintu masuk kawasan
wisata Ancol sehingga pengunjung mengurungkan niatnya untuk menikmati akhir
pekan di kawasan itu.

Pemerintah setempat melakukan penanganan menggunakan pompa dari Dinas
Sumber Daya Air dan pompa milik kelurahan dan bantuan PPSU. Kerja keras
pihak terkait memompa air serta mempercepat aliran air ke drainase dan
tali-tali air menyurutkan genangan.

Drainase
Sejumlah warga terdampak genangan dan petugas di lapangan mengemukakan,
banjir kali ini umumnya karena luapan kali dan saluran air (drainse) yang
kelebihan kapasitas daya tampung. Cuaca Jakarta yang hujan juga ikut
menambah beban drainase dan debit air di kali.

Genangan di permukiman dan pertokoan di Jalan Jatinegara Barat diduga
akibat luapan Ciliwung. Luapan itu menyebabkan aliran air dari drainase
yang semestinya masuk Ciliwung justru berbalik. Luapan Ciliwung kemudian
menyebabkan genangan di permukiman, jalan dan pertokoan.


Persoalan kapasitas drainase dan tali-tali air tampaknya perlu menjadi
perhatian serius. Pondok Kelapa dan Duren Sawit dan Cipinang Melayu,
misalnya, sebenarnya merupakan wilayah yang tidak jauh dari Banjir Kanal
Timur (BKT), tetapi masih terdapat genangan.

Sejak dibangun hingga saat ini, belum pernah ada cerita bahwa BKT meluap.
BKT membentang dari Cipinang Cempedak ke arah timur melintasi Cakung, Pulo
Gadung hingga ke arah utara, Teluk Jakarta.

Di saat banyak sungai yang mengalir dari arah selatan (Bogor) meluap,
aliran air di BKT lancar jaya. Hanya saja di beberapa permukiman dan ruas
jalan masih terdapat genangan.

Mungkin hal itu disebabkan drainase dan tali-tali-tali air ke akses BKT
tersendat karena kelebihan kapasitas. Hal itu bisa jadi akibat tersumbat
sampah atau kurang lebar.

Sedangkan harapan penyelesaian luapan Ciliwung--yang selama ini dituding
sebagai penyebab utama banjir di Jakarta--diyakini banyak pihak akan bisa
terwujud bila ada sodetan dari Kampung Pulo/Bidaracina ke BKT. Sudah cukup
lama gagasan itu digaungkan dan sedang dalam proses pembangunan.

Banjir merupakan persoalan krusial dan akut yang masih harus diselesaikan
oleh pemerintah. Persoalan lain seperti upaya mengatasi kemacetan
perlahan-lahan mulai bisa dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

Begitu juga dengan penanganan polusi udara yang semula menempatkan Jakarta
sebagai salah satu kota besar dengan predikat terburuk kualitas udaranya di
dunia, mulai bisa dilihat perkembangannya. Namun warga masih menunggu upaya
yang lebih optimal dalam penanganan banjir.

Pewarta : Sri Muryono
<https://bali.antaranews.com/berita/179474/banjir-kembali-sambangi-penduduk-jakarta#>
Editor : Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA

Kirim email ke