tirto.id
https://tirto.id/1965-dan-mereka-yang-berani-merawat-ingatan-emP8
*1965 dan Mereka yang Berani Merawat Ingatan*
06 Desember 2019
------------------------------------------------------------------------
https://mmc.tirto.id/image/otf/82x82/2016/06/17/avatar-Lilik-HS2_square.jpg
<https://tirto.id/c/lilik-U>
*Lilik HS*
**
Perjumpaannya dengan politik dimulai sejak tahun 1994. Perkenalan yang
membawanya pada garda gerakan pra reformasi 1998. Saat ini, mengisi
waktunya setiap hari dengan menulis dan menjadi pegiat Hak Asasi Manusia.
------------------------------------------------------------------------
Pekan lalu, tiga hari berturut-turut saya lari pagi keliling kompleks
Universitas Sebelas Maret, Solo. Saya menikmati suasana kampus yang
akronimnya kerap memicu perdebatan itu. Udara masih segar. Nyaring
ocehan burung, rontokan bunga angsana yang berwarna kuning cerah dengan
bentuk kelopak seperti lonceng membuat jalanan di dalam kampus seperti
di musim gugur.
Ada tiga orang saya jumpai usai lari pagi. Pertama adalah Mbah Karno, 74
tahun. Ia tengah menenteng satu kantung besar berisi dua ratus potong
tahu goreng yang hendak dititip ke kios makanan dekat pasar Panggungrejo
ketika saya menyapa dan membantu membopong kantung plastiknya. Mbah
Karno tersenyum, membenahi letak kerudung yang melorot yang bikin
anak-anak rambut putihnya mencuat keluar. Ia bilang, tahun 1960-an ia
berdagang batik di Pasar Klewer. Modalnya habis untuk menyekolahkan
tujuh anak.
Mendengar ia menyebut tahun 1965, tiba-tiba saya ingat berita tentang
pidato Prabowo Subianto yang tengah ramai dibincang: "Dengan demikian
ideologi komunis dan gerakan komunisme di Indonesia patut diduga masih
tetap eksis!" Teks pidato itu dibacakan oleh Rektor Universitas
Pertahanan Letnan Jenderal Tri Legionosuko dalam pembukaan acara bedah
buku “PKI Dalang dan Pelaku G30S 1965” di kantor Lembaga Ketahanan
Nasional, pada Sabtu, 23 November 2019.
Saya pun tergelitik bertanya pada Mbah Karno, “Waktu /gegeran /1965,
Simbah menyaksikan tidak?”
“Waaa… ya sudah. Saya dengar ada gegeran di desa saya. Lha itu
orang-orang dijemputi dari rumahnya. /Trus/ dibuang, ke bengawan itu….”
Saya memungkasi obrolan. Matahari baru saja menyembul keluar, rasanya
janggal membahas tema yang begini berat. Kami pun beralih ke tema-tema
enteng. Tentang jenis tahu yang cocok untuk dibuat tahu isi dan tahu bacem.
Esoknya, saya bertemu Mbah Wulan, 65 tahun, penjual tengkleng, makanan
/maknyus/ khas Solo berbahan baku tulang dan kepala kambing. Ia tengah
menguliti empat buah kepala kambing ketika saya lewat. Senyumnya
merekah. Saya pun berhenti, membenarkan tali sepatu yang ambyar, lalu
membuka percakapan soal cara mengolah tengkleng. Ia sudah berjualan
tengkleng sejak 30 tahun lalu. Mulai dari digendong keliling kampung,
hingga sekarang sudah punya kios tetap dan pelanggan setia. Mengingat
usianya, saya tak tahan untuk bertanya tentang ‘tahun yang tak pernah
berakhir’ yang telah mengubah peradaban Indonesia, yakni peristiwa 1965.
Baca juga: "Semakin Marak Razia Buku, Semakin Menguat Solidaritas
Pelapak"
<https://tirto.id/semakin-marak-razia-buku-semakin-menguat-solidaritas-pelapak-ef6v>
“Wah, ya, saya tahu. Waktu itu ada /gegeran/. Di kali sebelah desa saya
banyak yang /mayit-mayit/ mengambang!” ujarnya sambil mengayun pisau,
membelah kepala kambing yang telah dikuliti bulu-bulunya. “Itu baunya
sampai berbulan-bulan /ndak ilang/…”
Lagi-lagi saya kemudian menyudahi obrolan. Adegan ia menguliti kepala
kambing dan tema tentang 1965 itu bikin ulu hati saya mendadak ngilu.
Esok paginya, saya bertemu dengan Mbah Ahmad, penjual buah dari
Jumantono, Karanganyar, sekira 20 km dari kampus UNS. Ia menyerahkan KTP
kepada saya ketika saya dengan hati-hati menanyakan umurnya, 77 tahun.
Hari itu ia membawa beberapa sisir pisang bawen, mangga manalagi, buah
naga dan beberapa butir durian asli Jumantono. Pukul 04.00, anaknya
mengantar ke Terminal Karanganyar naik sepeda motor dengan dua keranjang
besar di kanan dan kiri. Lalu ia naik bis jurusan terminal Solo dan
turun di depan kampus UNS.
“Waktu /gegeran/ 1965, sampai ke Jumantono, /ndak/, Pak?”
Ia memicingkan matanya sebentar, menatap saya lekat-lekat lalu menjawab
agak keras.
“Wah, lha, iya. Waktu Gestok itu ya di Jumantono juga geger. Ada yang
diambil. Masih saudara juga. Itu kan gara-gara Soeharto mau berkuasa,
mau mengambil dari Pak Karno!”
Perbincangan pun harus terinterupsi oleh seorang pembeli yang
memilih-milih durian.
Sambil berjalan menuju penginapan, saya termangu.. Kisah-kisah seperti
ini tercecer sepanjang jalan. Menjadi gumpalan ingatan orang-orang yang
menyaksikannya secara langsung. Ada keluarga dekat yang diambil paksa
lantas tak pulang. Ada tetangga yang mereka temukan mengapung di tengah
bengawan. Berjarak lebih dari 50 tahun sejak peristiwa, tak serta-merta
membuat seluruh ingatan lindap. Ada memori kelompok yang terlanjur
mengakar di alam bawah sadar. Pengalaman-pengalaman personal warga di
tengah tahun-tahun penuh gejolak itu saling bertaut dan membentuk
suasana kebatinan yang kental: ngeri, sedih, marah, takut, masgul, serta
gamang menatap zaman.
Sore harinya, di sebuah pameran Biennale Jogja XV di Taman Budaya
Yogyakarta, saya terkesima di sebuah ruang pameran instalasi Kelompok
Studio Malya yang mengusung tema “Have You Heard It Lately?” Ruangan
temaram itu diisi dengan 65 kaleng dengan kabel terjuntai, berisi
rekaman audio para korban 65.
Seorang gadis berkerudung asyik memotret. Saya bertanya “Ini pameran
tentang apa ya?”
Ia menggeleng. “Enggak tahu, Kak. Motret saja. Lucu. Kaleng-kalengnya
kayak telepon. Artistik.”
Oh. Okay.
Saya menyapa seorang anak muda yang tampak kusyuk mendengarkan
suara-suara dari telepon kaleng.
“Itu cerita tentang apa sih?”
“Tentang PKI. Komunis. Yang kejam-kejam itu, lho...”
Oh, baiklah..
Esok paginya, di kampus FISIP UNS menggelar acara seminar “Melaung HAM
Bersama Sivitas Akademika UNS” yang diselenggarakan oleh Indonesia untuk
Kemanusiaan, Komnas HAM dan FISIP UNS, seorang perempuan sepuh
mengangkat tangannya. Namanya Mbah Bethet, salah seorang
penyintas peristiwa 1965. “Kami ingin menuntut keadilan, meskipun kami
sadar jalannya akan sangat panjang. Mungkin sampai saya mati keadilan
itu juga tidak datang. Saya cerita di sini, agar kita semua, khususnya
anak-anak tahu peristiwa ini. Agar tidak sampai terulang kembali…”
Suasana pun menjadi sejenak hening.
*Dipaksa Kebas*
Tentu tidak mudah menjalani hidup di sebuah negeri yang tak pernah punya
kehendak untuk membuka sejarah kelam bangsanya sendiri. Semua serba
membuat gamang.. Peristiwa 1965 yang dialami langsung oleh para korban
telah menyisakan torehan luka hingga bergenerasi selanjutnya.
Disaksikan oleh orang-orang di sekitarnya yang mau tidak mau turut
menelan trauma di kepala. Kekerasan negara telah menerjang hingga
hal-hal paling subtil dan personal dalam hidup manusia. Lalu Orde Baru
yang dipimpin Soeharto sukses membangun narasi sejarahnya sendiri, kisah
tentang Kesaktian Pancasila, pembunuhan para jendral dan aneka mitos
kekejaman yang terus-menerus direproduksi. Narasi tunggal versi Orba
dikokohkan lewat buku-buku sejarah, film, bangunan museum dan kurikulum
sekolah.
Pasca-Orde Baru, mulai banyak terbit tulisan-tulisan sejarah dari
perspektif korban. Forum-forum testimoni untuk bicara kebenaran digelar
di banyak tempat. Sastra, film, lagu-lagu mulai bersenandung di banyak
ruang. Akan tetapi, tetap tak sanggup menandingi narasi raksasa Orba
yang kadung menjalar hingga ke tulang sumsum. Museum-museum dengan
narasi tunggal masih tegak berdiri. Buku-buku sejarah tak juga direvisi.
Ajaibnya, film Pengkhianatan G30S/PKI yang telah sempat berhenti tayang,
kini kembali diputar di televisi dan layar tancap dengan sponsor dari
institusi tentara.
Baca juga: Film Pengkhianatan G30S-PKI: Fakta Sejarah atau Propaganda
Orba?
<https://tirto..id/film-pengkhianatan-g30s-pki-fakta-sejarah-atau-propaganda-orba-eiZe>
Hantu komunisme terus saja bergentayangan bahkan hingga lebih dari 50
tahun kemudian. Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen, Mantan Kepala Staf Komando
Cadangan Strategis Angkatan Darat adalah satu di antara pihak yang terus
menjadi pengusungnya. Beberapa bulan lalu ia tersandung kasus dugaan
kepemilikan senjata api. Oleh karenanya, September tahun ini Kivlan tak
lagi bernyanyi senyaring biasanya. Kivlan terdiam, giliran Prabowo,
mantan rival Jokowi dalam dua kali Pilpres yang kini diangkat sebagai
Menhan, yang kini melaungkan kembali tentang hantu komunisme.
Pernyataan Prabowo ini mengerikan. Ia bisa menjadi legitimasi untuk
membenarkan ‘hantu komunisme’ yang baru lenyap usai Pilpres 2019.
Sebagai menteri pertahanan, Prabowo adalah representasi negara.
Alih-alih merintis jalan untuk pelurusan sejarah, justru Prabowo kembali
menabuh genderang perang. Ia membuka ruang yang berpotensi mempersempit
ruang kebebasan sipil. Pada tahun-tahun belakangan, masih saja ada razia
buku, film, dan segala atribut yang dianggap mengandung ideologi komunisme.
Inilah dampak dari negara yang tak pernah punya kehendak untuk
meluruskan sejarah bangsanya. Seluruh bangsa ini diajak berjalan sambil
terus memanggul luka sejarah yang tak pernah diobati. Akan kekerasan
negara yang tak pernah dibuka dan dimintakan maaf. Kita terperangkap
dalam semak belukar impunitas yang tak ada ujungnya. Akibatnya,
rupa-rupa keberingasan baik yang dilakukan oleh aparat negara maupun
kelompok masyarakat sipil hilir mudik di hadapan kita. Lontaran
“Bunuh!”, dan “Halal darahnya!” bisa kita dengar dari panggung ceramah
agama hingga pawai di jalan-jalan raya. Dan kita hanya bisa terkesiap
sesaat, untuk kemudian memakluminya. Nalar kita dibuat tumpul. Batin
kita dipaksa menjadi kebas.
*Menolak Kebohongan*
Zaman terus berputar. Para korban dan saksi sejarah satu satu pergi.
Satu generasi terus bertumbuh dengan rasa asing atas sejarah bangsanya
sendiri. Tak ada upaya memutus rantai kekerasan. Tak ada bangunan
penanda ingatan akan peristiwa di masa lampau seperti Museum Holocaust
atau Jewish Holocaust Memorial Wall sebagai penanda jejak kekejaman Nazi
di Jerman, atau The May 18 Democratic Archive di Gwangju, yang merekam
jejak peristiwa pembantaian Gwangju tahun 1980 yang menjadi titik
tonggak transisi demokratik di Korea Selatan.
Patahan ingatan akan peristiwa gelap itu tetap berderak di masing-masing
kepala yang semakin rapuh dan mudah lupa. Peristiwa 50 tahun silam
semakin berjarak dari generasi hari ini.
Namun, demikian hukum besi sejarah bekerja, selalu ada anak-anak zaman
yang menolak bungkam dan enggan disumpal kebohongan. Salah satunya,
sebuah metafora indah dari instalasi Studio Malya yang dipamerkan di
Biennale XV Yogyakarta, yang menyimbolkan perbincangan isu 65 yang hadir
samar-samar. Setiap kaleng berisi hasil rekaman audio dari wawancara
dengan kolaborator memuat pesan utama mengenai komitmen untuk memutus
kekerasan dan membagi praktik rekonsiliasi sehari-hari yang sedang
diupayakan. Mereka bilang, ini sebagai ruang untuk memantik isu ini
sebagai perbincangan sehari-hari. Telepon kaleng, suara-suara dari masa
silam yang terdengar sama, perlu didengarkan kembali. Didekatkan kembali
kepada generasi kini.
Prabowo, Kivlan Zein, dan lain-lainnya boleh saja terus jualan hantu
komunisme. Rezim pun bermain aman tak mau repot dengan urusan pelurusan
sejarah masa lalu. Namun, selalu ada anak-anak muda yang menatah
keberanian untuk merawat ingatan.
Mumpung Mbah Karno, Mbah Wulan dan Mbah Ahmad masih bisa berkisah.
Mumpung Mbah Bethet dan para korban masih bisa bercerita. Agar
membincang peristiwa 1965 tak lagi dianggap tabu dan menakutkan, ia
harus hadir dalam ruang sehari-hari, menjadi bagian pengetahuan dan
pergulatan generasi masa kini. Karena perisitiwa 1965 salah satu fondasi
yang membentuk cara kita bernalar dan berbangsa hari ini.
*/*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera,
tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id <https://tirto.id/>./*
Prabowo dkk boleh saja terus jualan hantu komunisme. Namun, selalu ada
anak muda yang berani merawat ingatan.