-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/289435-merdeka-belajar-dan-ekonomi-politik-pendidikan



Rabu 12 Februari 2020, 06:10 WIB

Merdeka Belajar dan Ekonomi-Politik Pendidikan

Alexander Aur Dosen Filsafat Fakultas Liberal Arts Universitas Pelita Harapan, 
Karawaci, Banten | Opini
 
Merdeka Belajar dan Ekonomi-Politik Pendidikan

Dok.uph

PADA 24 Januari lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim 
meluncurkan program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka. Masyarakat, khususnya yang 
menaruh perhatian terhadap pendidikan Indonesia, dapat mengunduh dan menyimak 
detail program tersebut pada laman www.kemendikbud.go.id.

Setelah menyimak detail Merdeka Belajar: Kampus Merdeka, sesungguhnya program 
itu tidak terlepas dari era dan situasi disruptif yang terjadi saat ini. 
Situasi tersebut tampak melalui revolusi teknologi 4.0 yang mengedepankan 
teknologi big data. Perkara big data juga menjadi perhatian Presiden Jokowi 
saat memilih Nadiem sebagai menteri.

Apa itu ekonomi-politik pendidikan? Mengapa big data menjadi alasan 
ekonomi-politik pendidikan? Apa gambaran tentang manusia, terutama peserta 
didik dan guru yang terlibat langsung dalam proses dan tujuan pendidikan, dalam 
bingkai teknologi big data?

Ekonomi-politik pendidikan

Pendulum pendidikan Indonesia pada periode kedua Presiden Jokowi tidak hanya 
berada pada posisi filosofis dari pendidikan, yakni mendidik manusia-manusia 
muda menjadi pribadi-pribadi beradab. Lebih dari itu, pendulum pendidikan 
semakin jelas bergeser posisi teknis-pragmatis, yakni pendidikan sebagai upaya 
memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.

Artinya, pendidikan berlangsung dalam selubung motif ekonomi, yakni pemenuhan 
kebutuhan pasar akan tenaga kerja.

Ekonomi-politik pendidikan yang demikian, bukan hal yang baru di Indonesia. 
Pemerintah saat ini menajamkannya lagi dengan cara menginisiasi teknologi big 
data untuk menggerakkan pendidikan. Dengan begitu, pendidikan menjadi salah 
satu lokomotif penggerak dan pemenuh motif ekonomi pasar kerja digital.

Orientasi pendidikan yang demikian, dinyatakan oleh Nadiem secara 
terang-benderang dengan menggunakan istilah link and match pendidikan (Media 
Indonesia, 24/10/2019). Dengan kata lain, proses dan tujuan pendidikan harus 
bertautan erat dengan pemenuhan kebutuhan pasar tenaga kerja digital.

Manusia dalam big data

Dalam konteks pemenuhan kebutuhan pasar tenaga kerja itulah big data merupakan 
hal yang pasti. Jika dirunut jauh ke belakang, asal-usul big data berakar pada 
konsep data dalam epistemologi empiris. Epistemologi ini menyatakan bahwa data 
merupakan kumpulan fakta indrawi yang diperoleh melalui pengamatan atau 
observasi terhadap peristiwa, aktivitas, dan transaksi.

Konsep itu menyingkapkan sebuah pandangan filosofis yang menyatakan bahwa 
kesadaran manusia bekerja berdasarkan data indrawi. Dengan cara kerja kesadaran 
seperti itulah dunia dapat ditelaah dan menghasilkan pengetahuan tentang dunia.

Pada era digital sekarang, data diperoleh melalui cara kerja artificial 
intelligence (AI) yang beroperasi dalam sistem komputer sangat canggih. AI 
secara mudah mengakses dan mengolah fakta-fakta seluruh alam semesta. Bahkan, 
pada masa depan, manusia dengan seluruh aktivitas dan disposisi batinnya 
merupakan fakta yang dengan sangat mudah diakses oleh AI. Teknologi AI juga 
akan dengan mudah menyelesaikan segala persoalan manusia (Yuval Noah Harari, 
2015).

Dengan kecerdasannya, AI mengumpulkan fakta sangat besar dan kompleks mengenai 
manusia dan dunia. Hasil pengumpulan itulah yang disebut big data.

Dalam konteks kepentingan ekonomi-politik sebuah negara, big data selanjutnya 
dikelola sebagai informasi. Pemaknaan atas informasi menghasilkan pengetahuan. 
Berdasarkan pengetahuan inilah negara mengambil keputusan dan menetapkan 
kebijakan publik mengenai hal tertentu (Bdk., Jean-Louis Monane and Soraya 
Sedkaoui, 2016, xxviii-xxxv).

Mengapa pemerintah saat ini sangat mementingkan big data manakala menggerakkan 
ekonomi-politik pendidikan? Karena dengan big data yang solid dan valid, 
pemerintah memiliki informasi dan pengetahuan mengenai kapasitas dan kompetensi 
manusia Indonesia saat ini.

Dalam era revolusi industri 4.0, pemerintah mengondisikan sedemikian rupa agar 
lembaga pendidikan menghasilkan lulusan yang terdigitalisasi. Itulah manusia 
Indonesia unggul pada era revolusi industri 4.0 ini. Cita-cita di balik 
ekonomi-politik pendidikan.

Boleh jadi, Menteri Pendidikan yang ahli teknologi 4.0 akan mendigitalisasi 
proses dan tujuan pendidikan pada semua jenjang. Jika demikian, manusia--guru 
dan siswa--dalam teknologi big data ialah deretan data besar dan kompleks yang 
siap didigitalisasi demi menjawab dan memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja 
digital.

Bila kita mengikuti tren dunia digital saat ini, wajar bila manusia menjadi 
terdigitalisasi dan mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja digital. Namun, bila 
kita mengenakan sikap duc in altum (bertolak lebih ke dalam) dan memandang 
secara mendalam dunia teknologi digital, justru tersingkap pula watak yang 
sungguh paradoks dari manusia yang terdigitalisasi.

Watak paradoks itu sudah diantisipasi filosof Herbert Marcuse manakala revolusi 
industri modern sedang marak. Dalam karyanya One Dimensional Man (London, 
1964), Marcuse mengumandangkan suara kenabian mengenai paradoks teknologi dan 
industri. Baginya, masyarakat industri modern ialah manusia satu dimensi. 
Sistem kapitalisme dengan seluruh aparatusnya mengondisikan manusia sedemikian 
rupa sehingga segala akktivitasnya diorientasikan mendukung satu sistem, yakni 
kapitalisme.

Alih-alih menjadi manusia yang terdigitalisasi sesuai dengan semangat zaman 
revolusi teknologi 4.0, manusia yang demikian ialah makhluk rasional satu 
dimensi: ia mendigitalisasi dirinya dan mengorientasikan hidupnya hanya kepada 
kapitalisme digital. Manusia hidup dalam sangkar kapitalisme digital nan riuh.

Dalam sangkar kapitalisme digital yang riuh itulah program Merdeka Belajar: 
Kampus Merdeka menyisakan beberapa pertanyaan kecil ini: Apakah manusia--guru 
dan murid--sungguh-sungguh merdeka (bebas) di dalam era dan situasi distruptif 
ini?

Masihkah proses belajar sebagai masa dan momen manusia mengalami perjumpaan, 
yang di situ guru dan murid berekspresi secara merdeka? Atau sebaliknya, guru 
dan murid terdeterminasi oleh artificial intelligence yang beroperasi dalam 
teknologi digital.
 





Kirim email ke