On March 13, 2020, Microsoft cofounder Bill Gates announced in a LinkedIn post 
that he would step down from the boards of Microsoft and Berkshire Hathaway to 
spend more time overseeing philanthropic ventures, with a continued focus on 
global health and development.

Bill Gate meletakkan jabatannya supaya lebih banyak lagi “mengabdi” kepada 
usaha-usaha memberi “sedekah”. Kok tidak ada yang menamakannya “bilyuner 
rakyat” ya???

Sent from Mail for Windows 10

From: ChanCT [email protected] [GELORA45]
Sent: Friday, 10 April 2020 10:38
To: GELORA_In
Subject: [GELORA45] Bagaimana “Miliuner Rakyat” Tiongkok Tampil Didunia?

  
Bagaimana 
“Miliuner Rakyat” Tiongkok Tampil Didunia?
Penulis: Zisi – Pengamat GuanCha
https://www.guancha.cn/zisi/2020_04_09_546078_s.shtml 
2020-04-09  07:26:08
Diterjemahkan oleh: ChanCT
Menghadapi wabah global epidemi Pneumonia Corona Baru, Tiongkok berkemampuan 
dengan cepat meluncurkan bantuan kepada dunia.
Pada saat negara-negara besar didunia membutuhkan bantuan bahan mengatasi 
epidemi yang kritis itu, justru Tiongkok sebagai negara manufaktur terbesar 
didunia, baru saja melewati "titik balik" mengatasi epidemi dan berkemampuan 
menyisihkan sumber daya mendukung dunia. Harus dinyatakan inilah keberuntungan 
umat manusia. Kapasitas produksi masker Tiongkok saat ini adalah 12 kali lipat 
sebelum wabah, mencapai 116 juta per hari. Menurut laporan PIIE (Peterson 
Institute for International Economics), Tiongkok telah menyumbang 43% kebutuhan 
seluruh dunia dalam lima kategori utama "peralatan pelindung diri", pada tahun 
2018 hanya "peralatan pelindung mulut-hidung", Uni Eropah-Amerika Serikat lebih 
dari 70% berasal dari Tiongkok.

Sebuah tulisan tanggal 26 Maret Akademi Peneliti tersebut mengatakan, jika 
Tiongkok menangguhkan ekspor karena kebutuhan darurat domestik, negara-negara 
di seluruh dunia akan kehabisan pasokan. Beruntunglah, ekspor PEE Tiongkok 
turun hanya 15% dalam dua bulan pertama tahun 2020 dibandingkan dengan periode 
yang sama tahun 2019, dan bahkan kurang dari penurunan rata-rata produksi lain 
yang mencapai 17%. Tulisan itu mengatakan, data ekspor Tiongkok akan membuat 
para pembuat kebijakan di berbagai negara merasa sedikit tenang, karena 
kenyataan Tiongkok tidak membatasi ekspor peralatan medis dan bahan-bahan yang 
penting lain bagi seluruh dunia. [1]
Tentu saja, Tiongkok tidak akan secara sepihak menghentikan distribusi pada 
saat kebutuhan mendesak diberbagai negara didunia dalam keadaan darurat 
menghadapi epidemi. Sebaliknya, Tiongkok melakukan yang terbaik untuk 
memberikan bantuan dari luar. Yang dilaksanakan tidak hanya oleh pemerintah 
Tiongkok, tetapi juga pengusaha swasta Tiongkok.
Yang paling menonjol adalah sumbangan besar-besaran peralatan mengatasi-epidemi 
kepada dunia oleh Jack Ma Foundation dan Alibaba Foundation. Berdasarkan 
pengumuman yayasan, sejauh ini, kedua yayasan itu berturut-turut telah 
menyumbangkan hampir 100 juta keping dengan belasan item kepada rumah sakit 
mengatasi-epidemi didalam negeri dan lebih dari 140 negara didunia. Sampai hari 
ini, belum ada komplain kualitas atau masalah lain, apalagi ditolak oleh negara 
atau lembaga mana pun.
Negara Bagian New York, salah satu daerah yang paling parah terkena dampaknya 
di dunia, baru saja menerima peralatan mengatasi-epidemi dari Tiongkok, 
Gubernur Andrew Cuomo didepan konferensi pers berterima kasih kepada pemerintah 
Tiongkok, Ma Yun, Cai Chongxin dan Konsul Jenderal Tiongkok di New York Huang 
Ping. Sebelum itu, beliau juga menyatakan berterima kasih kepada perusahaan 
Tiongkok Huawei yang juga telah memberi sumbangan.
Tentu bukan masalah sepele bagi pengusaha swasta Tiongkok melakukan kegiatan 
amal didunia. Karena miliuner swasta Tiongkok memiliki karakter khusus, mereka 
tidak sejenis dengan taipan dinegara-negara lain di dunia, dan mereka pada 
dasarnya berbeda watak dengan borjuasi umumnya di Amerika dan dunia Barat.
“Miliuner Rakyat” Tiongkok
Yayasan Ma Yun mengatakan bahwa dimasa-masa sulit epidemi, dengan transportasi 
udara dan distribusi ke ratusan negara harus diatur secara lebih cermat dan 
teliti untuk menjamin kualitas peralatan yang disumbangkan. Untuk melakukan 
ini, tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi juga harus mencapai hasil 
sesuai efisiensi dan pelaksanaannya. "Bisa mewakili amal adalah naluri hati 
manusia, kebaikan dan saling-bantu, sedang berkah terbesar berbuat amal adalah 
menyempurnakan diri kita sendiri."
Pernyataan ini tidak merendah, terutama mengingat kelompok khusus yang diwakili 
oleh "kita sendiri" di sini. Sebagaimana dipublikasikan minggu lalu, <<Gerakan 
Amal Global Mengatasi-epidemi — Ma Yun, mengapa ada opini publik didalam dan 
luar negeri yang tidak simpatik?>> tulisan itu menyatakan:
Di Tiongkok, tidak ada "masyarakat terbaik bisa dibeli dengan uang" apalagi 
"pemerintah terbaik bisa dibeli dengan uang" seperti di Amerika Serikat. Oleh 
karena itu, kelompok Miliuner Tiongkok adalah kelompok yang sangat istimewa. 
Jika mereka diberi afiliasi politik, mereka pada dasarnya adalah "Miliuner 
Rakyat" atau "Miliuner Sosialis", karena identitas diri Ma Yun mewakili — 
Miliuner Anggota Partai Komunis Tiongkok.
Banyak orang merasa sulit memahaminya, apakah dalam teori ortodoks maupun dalam 
pengalaman praktis, tidak mudah untuk menghubungkan dua konsep "Rakyat" dan 
"Miliuner" pada satu orang.
Secara teoritis, konsep rakyat konsisten dengan proletariat dan masyarakat 
umum, bertentangan dengan kelas kapitalis dan borjuis. Dari pengalaman, rakyat 
adalah mayoritas manusia umumnya dan biasa saja, sedang miliuner adalah 
minoritas, mereka kaya-raya, jadi bertolak belakang. Namun, keadaan aneh 
"Miliuner Rakyat" telah benar-benar terjadi di masyarakat Tiongkok sekarang ini.
Ambil contoh “Forbes China 400 Rich List”, di antaranya, kekayaan pribadi atau 
keluarga dari beberapa miliar hingga ratusan miliar kekayaan yang terakumulasi 
dalam 40 tahun terakhir ini, tidak seorangpun kekayaan diperoleh dari warisan 
dalam silsilah keluarga, kecuali ada beberapa merupakan "generasi kedua 
Miliuner", jadi kebanyakan adalah orang menjadi kaya raya di generasi mereka 
sendiri. Ini berarti bahwa mereka semua berasal dari kelompok Rakyat itu. 
Meskipun keluarga mereka dan lingkungan yang berkembang juga sangat berbeda, 
mereka tidak dapat dipisahkan dari atribut rakyat karena mereka juga bagian 
dari Republik Rakyat Tiongkok. Bisa dipastikan mereka tidak tergabung dalam 
bangsawan, klas kapitalis, ataupun elite kekuasaan, dll.
Namun, kenyataan rakyat yang ini benar-benar berhasil mengumpulkan kekayaan 
dalam jumlah besar dan menjadi benar-benar kaya. Menurut Forbes Rich List, 
jumlah orang Tionghoa yang memasuki klub US $ 1 miliar telah meningkat dari 64 
di tahun 2010 menjadi 324 ditahun 2019. Di antara mereka, Ma Huateng, Ma Yun 
dan Xu Jiayin masing-masing berada di peringkat 20, 21, dan 22. Bersanding 
dengan super borjuasi dari negara-negara di seluruh dunia.
Namun dalam kegiatan amal, skala sumbangan mereka sebanding dengan sumbangan 
para filantropis borjuis itu. Dalam menghadapi epidemi saat ini, mereka sangat 
aktif dalam menyumbangkan uang dan materi. Sudah ada banyak laporan di media, 
jadi tidak perlu mengulang di sini.
Sungguh nampak aneh. Seandainya mereka berada di Amerika Serikat atau 
negara-Barat lainnya, kekayaan mereka cukup besar untuk menjadikan mereka 
burjuasi di puncak masyarakat dan ikut memimpin negara, mereka akan terlibat 
membuat undang-undang, mengendalikan pemerintah, memanipulasi opini publik, dan 
mempengaruhi masyarakat, mereka akan membuat semua sistem sosial melayani 
kebutuhan modal, mencerminkan kehendak modal. Bahkan kegiatan amal, sebagaimana 
disebutkan dalam artikel sebelumnya, sebenarnya merupakan bagian integral dari 
perilaku yang berkuasa, yang pada dasarnya adalah keterlibatan uang dalam 
masyarakat, dan memiliki sifat yang mirip dengan keterlibatan uang dalam 
politik, yaitu sumbangan politik.
Tetapi di Tiongkok, orang kaya adalah bagian dari rakyat dari awal sampai 
akhir, walaupun mereka memiliki kekuatan pribadi, mereka tidak dapat 
mengesampingkan kekuatan publik, walaupun mereka mengendalikan sejumlah besar 
modal, mereka tidak dapat mengesampingkan politik. 
Inilah yang disebut "Miliuner Rakyat". Dari sudut pandang ekonomi, memang 
miliuner, dari sudut pandang politik adalah Rakyat — bagian dari politik 
Demokrasi Rakyat adalah rakyat, bahkan dengan status Rakyat berpartisipasi 
dalam Musyawarah Politik dan ikut mengambil keputusan sebagai rakyat.
Dengan demikian, kegiatan amal dan amal mereka tentu saja adalah kegiatan amal 
"Miliuner Rakyat", dan mereka memiliki watak baru yang berbeda secara mendasar 
dari kegiatan amal dan amal kls kapitalis.
Ma Yun cs harus memahami hal ini untuk kegiatan amal global dalam memerangi 
epidemi. Apa yang dikatakan adalah "melakukan amal mewakili kebaikan hati 
manusia, ketulusan dan semangat saling membantu, dan berkah terbesar melakukan 
amal adalah meningkatkan diri sendiri, harus layak sesuai watak khusus 
“Miliuner Rakyat” berbuat amal.
Kekhususan masyarakat Tiongkok
"Miliuner Rakyat" diproduksi ditengah-tengah rakyat. "Miliuner Rakyat" dapat 
berjalan seiring dengan miliuner kapitalis berbagai negara. Mereka dapat pergi 
ke dunia untuk melakukan kegiatan amal dan amal di seluruh dunia dalam usaha 
memeningkatkan kesejahteraan rakyat dunia. Dalam perjalanan sejarah, tidak ada 
negara yang mencapai tingkat setinggi kali ini, yang sekali lagi menunjukkan 
kekhususan masyarakat Tiongkok.
Kekhususan rakyat Tiongkok pertama kali muncul dengan negara Republik Rakyat 
Tiongkok yang khusus. Mengenang kembali sejarah, Republik Rakyat Tiongkok 
didirikan pada tahun 1949, pada saat mempersiapkan pembentukan negara baru, 
terutama menyoroti atribut politik "rakyat". Pada bulan Juni tahun itu, Mao 
Zedong menulis dalam artikel "Tentang Diktator Demokrasi Rakyat":
“Peradaban borjuis Barat, demokrasi borjuis dalam konsep Republik borjuis, 
dalam hati rakyat Tiongkok Demokrasi Borjuis telah bankrut. Demokrasi Borjuis 
harus menyerahkan posisinya pada Demokrasi Rakyat yang dipimpin oleh kelas 
pekerja, sedang Republik Borjuis memberi jalan kepada Republik Rakyat.”
Pada saat itu, Liga Veteran, Zhang Xiruo, yang berpartisipasi dalam persiapan 
pembentukan Republik Rakyat Tiongkok, menyatakan pendapat begini:
“Menurut saya sangat baik disebut Republik Rakyat Tiongkok. ... adalah sebuah 
Republik bukan Otokrasi, sebuah Demokrasi bukan Diktatur, dan sebuah negara 
kekuasaan Rakyat bukan kekuasaan Borjuis.” [2]
Menurut penjelasan Dong Biwu di Sidang Musyawarah Politik Rakyat Tiongkok:
“Republik menjelaskan sistem nasional kita. Sebutan "RAKYAT" dalam Demokrasi 
Baru Tiongkok hari ini mengacu pada empat kelas: Buruh, Petani, Borjuis kecil 
dan Borjuis nasional dan elemen demokrat patriotik ...” [3]
Sistem nasional ditetapkan sebagai "Republik Rakyat", maka semua aspek negara 
tentu saja pemerintah Rakyat, disebut Pemerintah Rakyat Pusat sejak awal 
berdiri, tentara disebut Tentara Pembebasan Rakyat, mata uang itu disebut RMB, 
bank disebut Bank Rakyat Tiongkok, pengadilan disebut Pengadilan Rakyat, dan 
polisi Polisi Rakyat, guru adalah Guru rakyat, seniman adalah Seniman rakyat, 
koran adalah Harian Rakyat, dan radio disebut Stasiun Radio Rakyat Pusat ... 
Sebagaimana diperdebatkan oleh Wen Yang dalam buku "Republik Rakyat" yang 
diterbitkan pada tahun 2017, yang disebut Negara Diktator Demokrasi Rakyat 
secara politis menentang semua jenis kediktatoran aristokratik, kediktatoran 
borjuis, dan kekaisaran baru.


Itulah situasi ketika negara baru didirikan. Tetapi dalam periode berikutnya, 
karakteristik nasional warganya tidak terlalu menonjol. Ini disebabkan oleh 
polarisasi Perang Dingin setelah Perang Dunia II. Tiongkok baru digolongkan 
sebagai "kubu sosialis yang dikepalai Uni Soviet," dan seolah-olah menjadi 
anggota "keluarga sosialis" yang mirip dengan Uni Soviet dan negara-negara 
Eropa Timur. Namun segera, antara dua gerakan historis yang berbeda secara 
mendasar dengan cepat meluas. Meskipun negara-negara di kubu sosialis adalah 
negara-negara berdasarkan ideologi Marxis, Republik Rakyat Tiongkok, sebagai 
hasil dari gerakan pembebasan rakyat sejati, pada dasarnya tidak sesuai dengan 
kelompok Sovyet dan EropahTimur yang telah berubah menjadi sebuah kerajaan 
baru. 
Teori "Tiga Dunia" ditahun 1960-an dan 1970-an dalam perjuangan melawan "dua 
hegemoni" Amerika Serikat dan Uni Sovyet, mencerminkan posisi politik Republik 
Rakyat. Hasil dari perjuangan sengit menunjukkan Tiongkok terus menerus 
menghilangkan berbagai elemen non-rakyat didalam negeri melalui gerakan politik 
berturut-turut, dan karakteristik negara rakyat menjadi semakin menonjol; 
Sebaliknya, didalam kelompok Sovyet dan Eropah-Timur makin menjauhi bahkan 
terpisah dari rakyat menjadi kekuasaan aristokrat baru dan berakhir dengan 
kehancuran total.
Inilah kunci-utama untuk memahami “Reformasi dan Keterbukaan” Tiongkok setelah 
1978. Dalam 28 tahun sebelumnya, di satu sisi, telah mencapai kekuasaan rakyat 
di negara ini, di sisi lain, didunia internasional telah memenangkan lingkungan 
damai tanpa "perang". Dengan titik balik kekuasaan politik Deng Xiaoping, 
sebuah negara rakyat merdeka mulai menggunakan strategi internasional, merebut 
peluang secara menyeluruh pembangunan ekonomi, dan dalam jangka waktu satu 
generasi untuk mewujudkan kemajuan ekonomi dahsyat.
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Tiongkok begitu pesat, muncul 
kelompok-kelompok rakyat baru di Republik Rakyat — "Pengusaha Rakyat" dan 
"Miliuner Rakyat", tidak beda dengan atribut politik "Guru Rakyat" dan "Seniman 
Rakyat" yang lahir pada awal terbentuknya Republik Rakyat Tiongkok. Tetapi 
tidak lagi gunakan atribut politik "borjuis nasional" seperti dulu lagi.
Mengapa dikatakan kita tidak bisa menegasi periode sejarah sebelum “Reformasi 
dan Keterbukaan” dengan periode setelah “Reformasi dan Keterbukaan”, sebaliknya 
juga tidak bisa menegasi periode sejarah setelah “Reformasi dan Keterbukaan” 
dengan periode sejarah sebelum “Reformasi dan Keterbukaan". Karena sejak awal 
sudah berjalan diatas jalur utama Republik Rakyat, adanya konsistensi logis 
yang melekat antara perkembangan politik dan pembangunan ekonomi Republik 
Rakyat.
Mengapa pada tahun 2015, merayakan Peringatan 70 tahun Kemenangan Perang 
anti-fasis meneriakkan slogan "Rakyat Pasti Menang!", sedang pada tahun 2019 
merayakan Peringatan 70 Tahun Republik Rakyat Tiongkok meneriakkan slogan 
"Hidup Rakyat"? Mengapa di dunia hanya Tiongkok yang dapat membenarkan dan 
dengan bangga menganggap "Rakyat Pasti Menang" dan "Hidup Rakyat" sebagai 
deklarasi politiknya sendiri? Karena Tiongkok hari ini diwakili oleh Republik 
Rakyat yang sedang selangkah demi selangkah menuju kemenangan bersejarah dalam 
perjuangan jangka panjang melawan berbagai republik otokrasi, republik 
kapitalis dan kekaisaran baru. [4]
Sejak Kongres Nasional ke-18 Partai Komunis Tiongkok, Sekretaris Jenderal Xi 
Jinping mengulang penekanan "perkembangan berpusat pada rakyat" dan "tidak 
melupakan niat awal dan selalu ingat misi" adalah untuk terus menekankan 
komitmen yang melekat di prinsip dasar Republik Rakyat. Komitmen tersebut terus 
dipertahankan di era baru setelah melalui dua tahap, sebelum dan sesudah 
“Reformasi dan Keterbukaan”, dengan demikian mendapatkan keberhasilan besar 
dalam sejarah Dunia — Tiongkok telah menjadi satu-satunya Republik Rakyat yang 
menang, Dan Rakyat Tiongkok menjadi satu-satunya Rakyat yang menang. [4]
Reaksi Dunia
Ma Yun cs yang mewakili “Miliuner Rakyat” di Tiongkok, telah terdorong ke pusat 
gelanggang sejarah dunia oleh kemenangan Republik Rakyat.
Dalam menghadapi epidemi kali ini, beberapa yayasan yang dipimpinnya menghadapi 
kegiatan amal global, telah menyebabkan berbagai reaksi publik, didalam negeri 
dan internasional. Ini normal saja. "Miliuner Rakyat" yang lahir di Republik 
Rakyat adalah hal baru terjadi dalam diri sendiri. Tidak ada konsensus dan 
evaluasi di Tiongkok, apalagi di dunia.
Seluruh negara-Barat merupakan negara kapitalis yang mempraktikkan sistem 
kapitalisme termasuk dalam Diktator Borjuis, dan adalah lawan alami di dua 
ujung anti-pode dengan politik Republik Rakyat, yang menjalankan Diktator 
Demokratik Rakyat. Tentu jangan melihat kenyataan negara-Barat setiap hari juga 
berbicara tentang rakyat dan mengklaim mewakili rakyat. Tapi, kenyataan tak 
bisa disangkal, kelas penguasa di negara-Barat kaum borjuis, aristokrasi baru, 
dan kaum imperialis, justru bertolak belakang dengan konsep politik rakyat.
Di mata Republik Kapitalis menjadikan Republik Rakyat adalah musuh, karena 
Republik Rakyat Merdeka berarti perlawanan tegas terhadap kolonialisme 
lama/baru negara-Barat, yang tidak bisa diterima oleh modal kapitalis. Sedang 
Republik Rakyat terus berkembang menuju kemenangan dan menjadi kekuatan dunia, 
bukan saja menjadi penentang, tapi sudah tak beda dengan pemberontak, dan telah 
menjadi ancaman serius bagi Republik Kapitalis dan tatanan kapitalis didunia.
Melihat beberapa opini publik dunia-Barat dalam dekade terakhir, yang agresif 
terhadap Tiongkok, akan ditemukan satu hal aneh: dunia-Barat menyatakan 
Tiongkok harus mempraktikkan demokrasi liberal seperti Barat, karena hanya 
dengan demokrasi liberal negara Anda menjadi lebih makmur dan kuat. Tetapi dari 
sudut pandang Tiongkok, kemajuan Tiongkok bertambah makmur dan kuat justru 
membuat dunia-Barat makin tidak senang, semakin berusaha keras menghadang dan 
menekan, penilaian serius lembaga Gudang Kecerdasan-Informasi Barat terhadap 
pertumbuhan kekuatan Tiongkok sama dengan serangan kasar media Barat, serangan 
histeris terhadap Tiongkok. 
Sedikitpun tidak sejalan dengan logika "Saranku Demi Kebaikan Anda!". Mudah 
dapat terlihat dunia-Barat ingin Anda menjalankan demokrasi liberal, bukan 
berharap Anda menjadi lebih makmur dan kuat, tetapi bertujuan sebaliknya. Dari 
hakekat analisa, menggunakan demokrasi liberal untuk melemahkan kekuasaan 
politik Republik Rakyat dan mempersiapkan medan perang invasi modal Barat 
dengan perang finansial. Begitu gagal  mencapai hasil bahkan menjadi bumerang, 
tentu akan membuat dunia-Barat lebih histeris bahkan kalap.
Terutama harus mempertimbangkan fakta mendasar: Menurut perhitungan para 
sarjana sayap kiri, sejak Perang Dunia II berakhir, populasi Dunia Ketiga 
sekitar 55 juta yang mati secara langsung korban neo-kolonialisme Barat, sedang 
populasi yang secara tidak langsung dibantai tercatat ratusan juta. Bahkan 
kekejaman mirip genosida itu dilakukan atas nama demokrasi dan kebebasan. [5]
Setelah melihat jelas hal ini, mudah memahami mengapa serangan opini publik 
terhadap Tiongkok yang dilakukan politisi dan media Barat, Amerika akan menjadi 
lebih agresif dan lebih keras, bahkan setelah merebaknya epidemi, menghadapi 
krisis dalam negara sendiri yang makin parah, tapi terus menggigit Tiongkok 
lebih keras. Juga dipahami mengapa pemerintah Tiongkok dan sektor swasta telah 
mengambil pendekatan dua arah untuk memerangi epidemi, mengulurkan bantuan dari 
luar, tapi menerima balasan sementara negara-Barat, Eropa dan Amerika berujung 
dengan kisah "petani dan ular" (maksudnya: Air susu dibalas tuba! — ChanCT).
Kemenangan Republik Rakyat adalah kegagalan Republik Kapitalis. "Pengusaha 
Rakyat" dan "Miliuner Rakyat" dari Republik Rakyat mulai bergerak keluar 
didunia, pertanda peran burjuasi Barat mulai menarik diri dari dunia. Reaksi 
sengit para politisi dan media di Amerika Serikat dan dunia-Barat sebenarnya 
mencerminkan perubahan sejarah yang luar biasa dijaman ini. Mungkin Tiongkok 
sendiri belum sepenuhnya menyadarinya, tetapi pihak musuh secara alami telah 
memsastikan dengan sangat sensitif.
Laporan Kongres Nasional ke-19 Partai Komunis Tiongkok menyatakan diperlukan 
mengambil alih perjuangan besar, proyek besar, tujuan besar, dan impian besar. 
Ini adalah seruan sesuai kenyataan. Setiap langkah Republik Rakyat mencapai 
kemenangan di dunia tersirat perjuangan saat ini mengandung impian sejarah.
Namun, Republik Rakyat dalam politik luarnegeri berkomitmen untuk perdamaian, 
pengembangan, kerja-sama, tidak berinisiatif memprovokasi lawan mempertegang 
pertempuran. Tiongkok tetap mematuhi hubungan baru antar negara besar "saling 
menghormati, saling menguntungkan, dan menang-bersama". Inilah Prinsip 
Persahabatan dengan semua negara didunia. Seperti yang berulang kali ditekankan 
Presiden Xi Jinping dalam menjelaskan konsep "Sabuk dan Jalan" dengan komunitas 
umat manusia senasib, "persahabatan antar negara terletak pada saling mencinta 
rakyat bersama, sedang mencintai rakyat bersama termanifestasi pada hubungan 
erat antara rakyat kedua negara."
Ada pertempuran besar juga ada persahabatan yang saling menguntungkan. Inilah 
situasi sekarang yang dimulai dari Ma Yun cs sebagai perintis “Miliuner Rakyat” 
Tiongkok dalam membuat langkah besar keluar didunia.. Untuk memahami situasi 
unik ini, tidak sulit dapatkan referensi banding dari orang super kaya Amerika, 
juga tidak sulit dapatkan banyak bantuan dari tradisi "Budaya Pedagang 
Zhejiang" Tiongkok. "Miliuner Rakyat" bukanlah kelas borjuis, atau kelas 
komprador, apalagi kelas feodal. Sebaliknya, kelompok ini merupakan lompatan 
sejarah dari kelas penguasa feodal, kelas komprador, dan kelas borjuis. Mereka 
hanya bisa ditetapkan posisinya setelah kemenangan Republik Rakyat, dan hanya 
bisa berkembang lebih lanjut seiring dengan perkembangan usaha dan tujuan besar 
“Komunitas Umat Manusia Senasib”.
Bill Gates tidak lagi dibarisan depan, sedang Hu Xueyan dan Yu Qiaqing juga 
sudah tidak lagi dibelakang. “Miliuner Rakyat” Tiongkok baru saja mulai 
memasuki Perjalanan didunia. Nama yang tertulis diatas spanduk Garda Depan 
tepatnya adalah Ma Yun, anggota Partai Komunis Tiongkok dan Ren Zhengfei, 
anggota Partai Komunis Tiongkok.
 
Bahan referensi:
[1]  
https://www.piie.com/blogs/trade-and-investment-policy-watch/covid-19-chinas-exports-medical-supplies-provide-ray-hope
[2]  http://cpc.people.com.cn/GB/64162/64172/85037/85040/6637862.html
[3]  Idem.
[4]  https://www.guancha.cn/WenYang/2019_10_08_520498.shtml
[5]  Noam Chomsky dan Andre Vrcek(A.S.), "Tentang Terorisme Barat" 
Diterjemahkan oleh: Xuan Dongbiao -Beijing: CITIC Press, 2016-12
 
 


Kirim email ke