-------- Forwarded Message --------
Subject: Zhong Nanshan Prediksi Virus COVID-19 Berpotensi Jangka
Panjang ; "Bantuan" Manis Mulut ala Mike Pompeo dan Siasat Politik di
Baliknya
Date: Sun, 12 Apr 2020 07:56:00 +0800
From: ChanCT <[email protected]>
To: GELORA_In <[email protected]>
Akademisi Zhong Nanshan Prediksi Virus COVID-19 Berpotensi Hadir dalam
Jangka Panjang
2020-04-11 16:15:53
http://indonesian.cri.cn/20200411/852673be-170e-a1e1-338e-22abfffea7b7.html
Akademisi Akademi Rekayasa Tiongkok, Zhong Nanshan kemarin (10/4)
melakukan seminar Online dengan ahli Korea Selatan seputar pencegahan
dan pengendalian wabah Covid-19. Zhong Nanshan mengatakan, virus corona
jenis baru tidak mungkin dikikis secara tuntas, dan berpotensi menyebar
dalam jangka panjang. Ia mendukung litbang vaksin karena “herd immunity”
akan membuat masyarakat membayar mahal.
Zhong Nanshan mengatakan, perkembangan pandemi COVID-19 secara global
akan tergantung pada dua unsur sebagai berikut:
Pertama, pandemi akan berkembang dengan mengikuti kodrat alam. Sekarang
virus corona telah mengalami mutasi gen sehingga cocok sekali untuk
hidup di tubuh manusia, apa lagi virus ini memiliki daya penyebaran yang
dahsyat dan mengakibatkan angka Kematian sebesar 20 kali lipat dibanding
virus influenza. Hal ini patut diberikan perhatian yang cukup. Dilihat
dari seluk-beluk mutasi virus COVID-19, tingkat kejangkitan penyakit
saluran pernafasan akan menurun pada musim panas.
Kedua, perkembangan pandemi akan tergantung pada intensitas intervensi.
Mengingat COVID-19 menimbulkan angka kematian yang tinggi, maka sangat
mendesak untuk mengembangkan vaksin. Metode “herd immunity” tidak boleh
diandalkan karena akan membayar mahal. Selain itu, “penjagaan jarak”
antar sesama individu harus dipertahankan, ini adalah salah satu cara
penting untuk mengurangi infeksi silang antar manusia.
Zhong Nanshan menambahkan, Tiongkok tengah mengintensifkan litbang
vaksin. Dalam hal pengembangan vaksin harus dilakukan secara
berhati-hati. “Tiongkok berharap vaksin anti COVID-19 dapat dikembangkan
dalam satu hingga dua tahun mendatang, atau pun lebih awal jika perlu,”
demikian ujar Zhong Nansha.
"Bantuan" Manis Mulut ala Mike Pompeo dan Siasat Politik di Baliknya
2020-04-11 16:48:22
Belum lama berselang AS sekali lagi berjanji akan memberikan bantuan
kepada luar negeri. Menlu AS Mike Pompeo berkomitmen AS akan menyediakan
bantuan sebesar 225 juta dolar AS kepada seluruh dunia untuk melawan
pandemi COVID-19. Ia bahkan berkoar-koar “tiada negara lain kecuali AS
yang begitu murah hati”, namun pertanyaannya ialah bagaimana pelaksanaannya?
Pada pertengahan Maret lalu, Mike Pompeo sekali lagi menyatakan,
pemerintah AS akan menyediakan dana bantuan sebesar 274 juta dolar AS,
yang tampaknya lebih besar dibanding dana bantuan gelombang pertama.
Namun jika dianalisa secara terinci, ternyata ada hal-hal yang tidak
masuk akal.
Mari kita melakukan analisa satu per satu.
Pertama, dari bantuan dana sebesar 274 juta dolar itu sebenarnya
termasuk dana bantuan sebanyak 100 juta dolar sebelumnya yang dihitung
ulang sehingga bersifat menipu.
Kedua, dari 174 juta dolar yang akan disalurkan AS, 64 juta dolar akan
diberikan kepada Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR),
sisanya yang berjumlah 110 juta dolar akan dibagi-bagikan kepada 64
negara, sehingga volume yang terbagi setiap negara akan sangat terbatas.
Lantas kita mau bertanya, apakah dana itu benar-benar telah disalurkan
ke pihak penerima bantuan? Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok
belum lama berselang memberikan responsnya, “Satu sen belum kami
terima.” Selain itu, US-AID juga berjanji akan memberikan bantuan kepada
Tiongkok untuk penanganan wabah COVID-19, namun komitmen itu hanya
tinggal di bibir saja.
Dari serangkaian penampilan Mike Pompeo sejak wabah merebak, ternyata
fokusnya bukan pada penanganan pandemi dan kerja sama internasional,
melainkan tertuju pada serangan kepada Tiongkok, berusaha meraup
keuntungan demi karier politiknya. Di hadapan krisis, bantuan yang
“manis di mulut” ala Mike Pompeo menyatakan, mereka tidak memperhatikan
penanganan wabah, melainkan hanya khawatir kalau-kalau AS akan
kehilangan hegemoni di dunia. Bantuan untuk penanganan pandemi bisa juga
digunakan politikus AS yang sombong sebagai alat geopolitiknya.
Tiongkok sebagai negara pertama yang mengontrol wabah COVID-19 telah
memberikan bantuan semampunya kepada mancanegara. Bantuan itu baik dalam
dana tunai maupun barang medis sudah disalurkan kepada pihak penerima.
Hingga saat ini, Tiongkok telah menyediakan bantuan kepada 127 negara
dan 4 organisasi internasional, mengirim tim-tim medis ke 11 negara,
antara lain, Iran, Irak, Italia dan Serbia, menyumbangkan 20 juta dolar
AS kepada WHO untuk melakukan kerja sama internasional. Sementara itu,
Tiongkok dengan tulus berbagi pengalaman dan protokol pengobatannya
dengan masyarakat internasional.
Bantuan Tiongkok selalu didasari ide yang menomorsatukan keselamatan
jiwa dan semangat kemanusiaan. Namun Mike Pompeo dan sesamanya malah
menyatakan gelisah atas hal itu, bahkan menyerang bantuan Tiongkok
sebagai “diplomasi masker” dan didasari pertimbangan geopolitik. Ini
sama sekali mengungkapkan tampan aslinya yang masih berpegang teguh pada
pikiran perang dingin dan berseribu satu akal untuk memfitnah Tiongkok
dan mengadu domba hubungan Tiongkok dengan masyarakat internasional.
Washington Post belum lama lalu menunjukkan, Mike Pompeo bersikeras
mempersalahkan Beijing untuk bertanggung jawab atas penyebaran pandemi
dengan maksud menghalangi bantuan Tiongkok kepada negara lain, yang
gagal dilakukan pemerintah Amerika Serikat.