Ya, dipijet, ya di-elus2, pijet alus........? Op do 16 apr. 2020 om 09:52 schreef Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <[email protected]>:
> > > > *Keistimewaan dari pijit-pijitan ini ialah urat yang stres dan tegang bisa > jadi lembut dan membuat yang dipijit menjadi relax jasmaniah dan rochaniah.* > > On Thu, Apr 16, 2020 at 12:03 AM 'B.H. Jo' [email protected] [GELORA45] < > [email protected]> wrote: > >> >> >> Kutipan: Menurut dia, spa khas Bali jauh lebih dikenal ketimbang Thai >> massage atau layanan yang lain. ”Kata orang di sini, Bali massage itu lebih >> rileks.. Enjoyable. Titik-titik pijatannya pas. Tidak terlalu kuat, tapi >> titiknya tepat,” kata ibu satu anak tersebut. >> Dwika sendiri menyebut tangan terapis Bali punya daya magis. ”Magic >> hand,” ujarnya, lalu tersenyum. Kali ini, yang keluar adalah magic smile. >> >> Siapa yg pernah menikmati pijaran ala Bali Magic hand? Dimana sih >> keungulannya? >> >> >> On Wednesday, April 15, 2020, 02:31:38 PM PDT, Sunny ambon >> [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote: >> >> >> >> >> *Piiatan terapi semua otot demi keseimbabang rohaniah dan jasmaniah? * >> >> >> https://www.jawapos...com/ibu-kota-baru/05/04/2020/pijatan-terapis-indonesia-jadi-langganan-petinggi-negara-kazakhstan/ >> <https://www.jawapos.com/ibu-kota-baru/05/04/2020/pijatan-terapis-indonesia-jadi-langganan-petinggi-negara-kazakhstan/> >> >> >> *Pijatan Terapis Indonesia Jadi Langganan Petinggi Negara Kazakhstan* >> >> *Laporan Doan Widhiandono dari Kazakhstan* >> >> IBU KOTA BARU <https://www.jawapos.com/ibu-kota-baru/> >> >> 5 April 2020, 21:56:08 WIB >> >> [image: Pijatan Terapis Indonesia Jadi Langganan Petinggi Negara >> Kazakhstan]*KELUARGA BESAR: Dubes RI untuk Kazakhsan dan Tajikistan >> Rahmat Pramono (dua dari kiri) bersama staf KBRI dan WNI di Nur-Sultan pada >> malam tahun baru, 31 Desember 2019. Sebagian besar WNI itu adalah terapis >> spa di ibu kota Kazakhstan. (Doan Widhiandono/Jawa Pos)* >> >> >> Di bawah kepemimpinan Nursultan Nazarbayev, Kazakhstan mengalami kemajuan >> pesat. Negeri itu kian modern dan terbuka. Tidak seperti era Uni Soviet. >> Sektor pariwisata menggeliat, ekspatriat berdatangan. Peluang tersebut >> dimanfaatkan tenaga kerja Indonesia yang punya keahlian khusus: memijat. >> >> — >> >> *MADE* Dwika Jarianti masih merasa geli tatkala mengingat >> pengalaman-pengalaman awalnya sebagai pemijat. ”Waktu itu ada turis >> bertanya apakah saya bisa memberi layanan happy end,” ungkap perempuan >> kelahiran 12 Januari 1987 tersebut. Dwika mengangguk mantap. Dia dapat >> memberikan layanan yang happy end. >> >> Turis cowok tersebut langsung antusias. ”Dia langsung memulangkan >> istrinya ke hotel. Setelah itu, dia datang lagi minta pijat,” ujar alumnus >> SMAN 1 Tejakula, Singaraja, tersebut. Eh, setelah pijat, si turis menagih >> layanan *happy end*. Dwika yang usianya baru saja memasuki 20-an tahun >> pun bingung. >> >> ”Saya bilang, ’*Yes, after massage you will be happy*’,” kisahnya, >> kemudian terbahak. Dwika saat itu belum paham bahwa *happy end* dalam >> dunia perpijatan adalah istilah untuk layanan plus-plus yang mengarah ke >> aktivitas sensual dan seksual. ”Ya, saya nggak tahu,” kata ibu satu anak >> tersebut, lantas tertawa. Dia mengaku, sampai saat ini selalu menghindari >> layanan-layanan yang ”menjurus” seperti itu. >> >> Dwika mengisahkan perjalanan hidupnya itu pada sebuah siang bersuhu minus >> 15 derajat Celsius, 4 Januari lalu. Menurut dia, jalan hidup memang >> menuntunnya untuk bekerja sebagai terapis spa. Selepas SMA pada 2004, Dwika >> tak bisa meraih cita-citanya untuk kuliah lagi. Putri seorang kepala >> sekolah dan guru itu harus bekerja di sebuah minimarket. Setelah itu, dia >> mencoba peruntungan di dunia terapis spa. ”Pindah-pindah kerja,” ujarnya, >> lantas menyebutkan beberapa tempat spa yang pernah disinggahinya. >> >> Namun, garis hidupnya kian membaik tatkala istri Made Poliana itu >> bersekolah di Spa Bali International Academy (SBIA) di Jimbaran pada 2008. >> Oleh pengelola sekolah dan para gurunya, Dwika dinilai berbakat. Dia lulus >> dalam waktu enam bulan. ”Padahal, saya sambi. Kuliah, kerja, kuliah, >> kerja,” tutur perempuan berparas manis tersebut. Itu pun dilakoninya tanpa >> memberi tahu kedua orang tuanya. >> >> KEAHLIAN KHUSUS: Siti Nurjanah merapikan duang massage di HOtel Rizos >> President, Nur-Sultan. (Doan Widhiandono/Jawa Pos) >> >> Materi di akademi itu pun tak gampang. Untuk lulus, Dwika harus menguasai >> 12 teknik treatment. Mulai Bali massage, Thai massage, aromaterapi, >> manicure, pedicure, foot massage, hingga creambath. ”Saya lalu ditawari >> kerja di Turki oleh Ibu Puspiani (Ni Wayan Puspiani, direktur SBIA, Red),” >> ujar Dwika. Setelah dua tahun di negeri itu, Dwika pulang karena menikah.. >> >> Putrinya, Kesya, lahir pada 2012. Saat sang putri berumur lebih dari 1 >> tahun, Dwika kembali melanglang buana. Dia bekerja di Kazan, Tatarstan, >> bagian dari negara federasi Rusia. Setelah itu, pada 2014, Dwika pindah ke >> Kazakhstan. Awalnya, dia bekerja di Rixos President Hotel selama 3,5 tahun >> sebelum akhirnya berlabuh ke The Ritz-Carlton. >> >> Di hotel mewah tersebut, Dwika mendapat gaji bersih sekitar USD 1.000 per >> bulan (sekitar Rp 15 juta). Itu belum termasuk komisi-komisi berkisar USD >> 300 (sekitar Rp 4,5 juta) plus komisi penjualan produk. Tabungannya mewujud >> menjadi tanah seluas 5 are (500 meter persegi) di Bali. >> >> Tapi, merantau sekian lama, Dwika tentu ingin pulang. Dia rindu anaknya. >> Walaupun anak itu pula yang membuat Dwika meneguhkan diri tetap bekerja >> untuk menghidupi buah hatinya. ”Saya pengin anak saya bekerja tidak seperti >> saya. Mungkin dia jadi PNS. Atau suster (perawat, Red),” harap Dwika. >> >> Pengalaman Dwika tidak hanya terlihat dalam wujud materi. Dia punya >> kesempatan berkenalan dengan tokoh-tokoh penting di Kazakhstan. Termasuk >> Presiden Kassym-Jomart Tokayev? Atau mantan Presiden Nursultan Nazarbayev? >> Dwika hanya tertawa. ”Saya enggak boleh bercerita. Itu kan rahasia klien,” >> katanya. >> >> Siti Nurjanah, perempuan Banyuwangi yang jadi terapis di Rixos President >> Hotel, justru lebih gamblang. ”Saya baru dipanggil ke resident,” katanya >> pada 8 Januari malam di tempat kerjanya. Memijat presiden Kazakhstan? >> Nurjanah mengangguk. ”Tapi, yang gitu aja ceritanya,” ujarnya. >> >> KEAHLIAN KHUSUS: Made Dwika Jarianti (kanan) bersama Niluh Made Radina >> Duhita, rekannya sesama terapis spa di Hotel The Ritz Carlton. (Doan >> Widhiandono/Jawa Pos) >> >> Nurjanah adalah sesepuh para terapis di Kazakhstan. Perempuan kelahiran 6 >> September 1973 tersebut ada di Kazakhstan sejak April 2009. Lebih dari >> setahun sebelum KBRI berdiri. >> >> Menurut dia, spa khas Bali jauh lebih dikenal ketimbang Thai massage atau >> layanan yang lain. ”Kata orang di sini, Bali massage itu lebih rileks. >> Enjoyable. Titik-titik pijatannya pas. Tidak terlalu kuat, tapi titiknya >> tepat,” kata ibu satu anak tersebut. >> >> Menurut dia, tamu hotelnya selalu mencari pemijat dari Bali. ”Kan tangan >> kita beda,” kata alumnus SBIA itu, lalu terkikik. >> >> Dwika sendiri menyebut tangan terapis Bali punya daya magis. ”Magic >> hand,” ujarnya, lalu tersenyum. Kali ini, yang keluar adalah magic smile. >> >> Editor : Ilham Safutra >> >> Reporter : */c10/dos >> >> - >> >> >> >> - >> >> kazakhstan <https://www.jawapos.com/tag/kazakhstan/> >> >> >> >
