*Kalau terlalu besar diberitakan angka kematian pasien Coronavirus akan
menunjukan ketidak mampuan rezim mengantur dan mengurus negara, jadi
sedikit tipu-tipuan tentu sengaja dilakukan.atau lebih jelas lagi boleh
dilakukan. Bukankah membohong untuk menyelamatkan muka dan diri dibolehkan,
makanya korupsi sana sini selama ini?  Bukan saja dalam hal Coronairus,
tetapi juga dalam banyak hal terdapat gejala yang sama. Untuk keselamatan
diri, maka percaya dan sembah sejutlah kepada kekuasaan  sang raya, pasti
aman sentosa, penuh dosa. heheheheh*e

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200429150105-20-498502/klaim-jokowi-dan-keterbukaan-data-corona-yang-rapuh?utm_source=notifikasi&utm_campaign=browser&utm_medium=desktop


Klaim Jokowi dan Keterbukaan Data Corona yang Rapuh

CNN Indonesia | Kamis, 30/04/2020 09:10 WIB

Bagikan :

[image: Klaim Jokowi dan Keterbukaan Data Corona yang Rapuh] Ilustrasi.
Pemakaman dengan prosedur Covid-19 di Indonesia. (AFP/BAY ISMOYO)


Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden *Jokowi
<https://www.cnnindonesia.com/tag/jokowi>* mulanya mengklaim semua data
korban *virus corona <https://www.cnnindonesia.com/tag/corona>* di
Indonesia dipaparkan secara terbuka, tidak ada yang ditutupi. Jumlah korban
terinfeksi, meninggal dan sembuh yang diumumkan merupakan realitas utuh di
lapangan.

"Tidak ada sejak awal kita menutup-nutupi masalah yang ada (soal corona),"
kata Jokowi,  Senin (20/4).

*Reuters,* kemarin, dalam laporan bertajuk* 'Exclusive: More than 2,200
Indonesians have died with coronavirus symptoms, data shows'* mengungkap
data bahwa lebih dari 2 ribu orang di Indonesia meninggal dengan gejala
corona. Bahkan, data itu diambil dari hanya 16 dari total 34 provinsi di
Indonesia yang terinfeksi corona.

Pemerintah tak membantah mengenai laporan itu. Pemerintah menyebut kematian
tersebut dimungkinkan bagi warga berkategori pasien dalam pengawasan (PDP)
dan orang dalam pemantauan (ODP) terkait corona.
Lihat juga:

 Pemerintah Buka Layanan Curhat Masyarakat Selama Corona
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200429133233-20-498443/pemerintah-buka-layanan-curhat-masyarakat-selama-corona/>

Ketua Pakar Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito
mengakui ada 19.897 orang yang diduga terjangkit corona di Indonesia belum
diuji. Alasannya, antrean panjang spesimen yang menunggu diproses di
laboratorium yang kekurangan staf. Beberapa orang, kata dia, telah
meninggal sebelum sampel mereka dianalisis.

"Jika mereka (laboratorium) memiliki ribuan atau ratusan sampel yang perlu
mereka uji, mana yang akan mereka berikan prioritas? Mereka memberikan
prioritas kepada orang-orang yang masih hidup," katanya.
Lihat juga:

 ODP-PDP Keluyuran di Surabaya Raya Dijerat UU Wabah Penyakit
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200429103239-20-498344/odp-pdp-keluyuran-di-surabaya-raya-dijerat-uu-wabah-penyakit/>



*Penelusuran Kematian PDP*
Berdasarkan olah data manual yang dilakukan* CNNIndonesia.com* per Selasa
(28/4), tercatat hanya 11 provinsi yang memberikan informasi mengenai angka
kematian PDP di daerahnya.

Sementara itu, hanya tiga provinsi yang mengungkap angka kematian
berdasarkan kategori ODP.

Kemudian tak semua provinsi memiliki situs Covid-19 yang bisa diakses untuk
masyarakat memantau perkembangan. Tercatat Sulteng, Kalbar, Kaltara, Papua
Barat, Papua dan NTT tak memiliki situs pantau Covid-19.

Dari data yang dihimpun, total angka kematian dari kategori PDP mencapai
616 orang. Tersebar di Banten (144 orang), Yogyakarta (7 orang), Jawa Timur
(235 orang), Riau (75 orang), Bengkulu (9 orang), Lampung (13 orang), Aceh
(1 orang), Sulsel (81 orang), Sulbar (4 orang), Kalbar (42 orang), dan
Papua Barat (5 orang).
Lihat juga:

 Satpol PP Bekasi Dipersenjatai Bambu Tertibkan Pelanggar PSBB
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200429141247-20-498495/satpol-pp-bekasi-dipersenjatai-bambu-tertibkan-pelanggar-psbb/>

Sementara itu, hanya tiga provinsi yang mengunggah informasi soal kematian
seseorang dalam kategori ODP dengan angka kematian mencapai 55 orang.
Tercatat di Jawa Timur 53 orang dan masing-masing satu orang di Bengkulu
dan Lampung.


*Kewajiban yang luput*
Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan
Saputra mengatakan pemerintah mesti terbuka menyikapi laju angka kematian
individu baik berstatus ODP maupun PDP corona.

Pemeriksaan status PDP dan ODP yang meninggal, kata dia, pun harus ada
pembuktian.

"Sebab PDP pasti sudah diambil swab tenggorokannya. Maka ketika dia positif
harus dinaikkan sebagai kasus positif, hanya saja statusnya sudah meninggal
dunia, kan gitu," ujar Hermawan kepada *CNNIndonesia.com*, Rabu (29/4).

Bahkan menurutnya, ketika ada orang yang mulanya ODP, kemudian dia
diperiksa swab tenggorokan namun lebih dulu meninggal, maka semestinya
statusnya naik sebagai Covid-19.

"Jadi harus tetap diperhitungkan dan harus fair," tegas dia.

"Dan memang harus diumumkan. Sekarang kan sudah ada dasar hukumnya, ada
instruksi presiden bahwa kasus ODP dan PDP juga harus dibuka ke ruang
publik," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI),
Dadang Rahmat Hidayat mengatakan pola komunikasi yang dilakukan pemerintah
merupakan sebuah pilihan. Belum mengarah pada dugaan untuk menutupi fakta
yang sebenanya.

Lagipula, kata dia, bukan hal yang salah ketika pemerintah memprioritaskan
memberi kepastian terhadap pasien-pasien yang masih hidup. Dadang juga
menyoroti ada upaya positif pemerintah menekan kecemasan di masyarakat.

"Pemerintah telah berani mengakui mengenai laporan tentang 2.000 orang yang
meninggal, itu hal yang baik. Dalam situasi ini, adalah sebuah pilihan yang
diambil pemerintah," ujar Dadang kepada *CNNIndonesia.com*, Rabu (29/4).

Bisa jadi, kata Dadang, pilihan tersebut diambil di tengah ketidakmampuan
dan keterbatasan sistem kesehatan nasional, dibandingkan banyaknya
penularan Covid-19 di Indonesia.

Namun demikian, Dadang menegaskan pilihan pemerintah tersebut bukan tanpa
ekses negatif. Salah satunya, masyarakat akan menjadi abai dan menganggap
virus corona belum massif di Indonesia.

Dadang juga menambahkan, justru akan menjadi sebuah kejahatan komunikasi,
ketika dalam kondisi pemerintah mampu mendeteksi para PDP-ODP yang
meninggal, namun itu tak dilakukan.

"Kejahatan komunikasi karena berupaya menutupi informasi," tegas Dadang
yang juga Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran tersebut.

Per Selasa (28/4), Jubir Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyebut
sebanyak 213.644 ODP dan 20.428 sebagai PDP. Paparan Yuri hanya sebatas
berapa banyak orang yang selesai pantau dan diawasi--bukan yang meninggal
dunia.

"Kalau meninggal enggak pasti covid apa saya harus sebut?," ujar Yurianto,
saat dikonfirmasi *CNNIndonesia.com*, Rabu (29/4).

Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian
Insert Status Pasien Risiko Virus Corona


Meski tak mengungkap datanya, namun Yuri mengklaim bahwa pemerintah tetap
melakukan rekap mengenai perkembangan kematian individu berstatus PDP dan
ODP di masing-masing daerah.

"Saya enggak bawa datanya," ujar dia.

Terpisah, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Didik
Budijanto menolak berkomentar mengenai temuan lebih dari 2.000 orang
tersebut.

"Berita itu terus terang saya belum tau, tapi yang jelas bahwa PDP-ODP itu
datanya dari daerah kita ambil Dinkes di daerah, dan *update* terus," ujar
dia. *(tim/ain)*

Simak video terkait di bawah ini:
<https://cnnindonesia.com/nasional/20200330155236-24-488329/video-korban-positif-corona-capai-1414-orang-75-sembuh>
VIDEO: Korban Positif Corona Capai 1414 Orang, 75 Sembuh
<https://cnnindonesia.com/nasional/20200330155236-24-488329/video-korban-positif-corona-capai-1414-orang-75-sembuh>

Kirim email ke