-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5035194/85-tahun-syafii-maarif-cermin-berjalan-demokrat-sejati?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

85 Tahun Syafii Maarif: Cermin Berjalan Demokrat Sejati

Abd Rohim Ghazali - detikNews
Minggu, 31 Mei 2020 10:56 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Buya Syafii Maarif di kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Jumat (3/1/2020).
Buya Syafii Maarif (Foto: Usman Hadi)
Jakarta -

Ahmad Syafii Maarif yang akrab disapa Buya adalah sosok intelektual muslim yang 
yang unik. Namanya melambung tinggi, tapi tetap akrab dengan tukang sapu, 
tukang kebun, pedagang sayur, dan marbot masjid. Dalam beraktivitas, sepanjang 
masih bisa melakukannya sendiri, pantang baginya meminta bantuan orang lain. Ia 
membawa tas, menyetir mobil, dan mencuci pakaian sendiri. Hobinya naik sepeda 
dan sampai sekarang masih ia lakukan.

Lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935, Buya berusia 85 tahun pada 
Minggu, 31 Mei 2020. Karena perjalanan hidupnya yang terjal dan penuh liku, ia 
kerap menyebut dirinya "terdampar di pantai karena belas kasihan ombak."

Jika kita senaraikan beberapa nama intelektual muslim papan atas di Indonesia 
saat ini, kita bisa pastikan beliaulah yang paling tua. Tapi semangatnya masih 
menyala-nyala seperti anak muda. Bicaranya lugas. Kritik-kritiknya sangat tajam 
walau dikemas dengan bahasa metaforis. Politikus rabun ayam, politikus ikan 
lele, dan preman berjubah adalah di antara metafora yang khas dan orisinal dari 
Buya.

Untuk menggambarkan cara berpolitik yang baik, Buya menyebutnya dengan politik 
garam, metafora yang ia pinjam dari Mohammad Hatta, salah satu tokoh republik 
yang selain ia kagumi. Selain kagum pada Hatta, Buya juga meneladani cara-cara 
hidupnya yang saleh, bersahaja, dan tepat waktu.

Seperti kata pepatah, "tua-tua kelapa, makin tua banyak santannya," Buya 
bagaikan oase yang tak pernah kering. Hingga saat ini masih aktif berkiprah di 
ranah keislaman dan kebangsaan, termasuk memenuhi dahaga intelektualisme 
anak-anak muda. Di usia yang makin menyenja, Buya masih tetap produktif dengan 
karya-karya yang inspiratif.

Salah satu inspirasi yang sulit mencari padanannya, setidaknya untuk saat ini, 
adalah sikap kesederhanaan dan keterbukaannya dalam menerima beragam perbedaan. 
Buya merupakan cermin berjalan dari seorang demokrat sejati. Banyak tokoh 
berbusa-busa bicara kesederhanaan, tapi belum tentu mewujud dalam tindakannya 
sehari-hari. Banyak tokoh memiliki pandangan yang hebat tentang demokrasi dan 
keterbukaan, tapi dalam tindakan sehari-hari masih mempersoalkan perbedaan ras, 
suku, dan agama. Buya, dalam bahasa pemimpin organisasi agama Budha 
cum-pengusaha Sudhamek AWS, adalah "walk the talk" (menjalankan apa yang 
dikatakan).

Dimulai dari Rumah

Dalam suatu perbincangan santai tentang demokrasi di Indonesia, salah satu 
sahabat Buya, (almarhum) Nurcholish Madjid pernah mengatakan bahwa sikap 
demokrat seseorang bisa dilihat secara makro dan mikro. Secara makro, pandangan 
dan gagasannya tentang demokrasi, sedangkan secara mikro, bagaimana menerapkan 
demokrasi dalam keluarga dan lingkup organisasinya. Ada yang berpandangan ideal 
secara makro, tapi bermasalah secara mikro, misalnya otoriter dalam memimpin 
organisasi. Demokrat sejati adalah yang memadukan antara makro dan mikro.

Sebagai demokrat sejati, jejak Buya bisa dilacak mulai dari rumah. Menurut 
Muhammad Hafiz, satu-satunya putra Buya yang tersisa (dua lainnya meninggal 
waktu kecil), keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak, hidup dalam 
suasana demokratis dan liberal, di mana berlaku one person one voice. Ketiganya 
memiliki suara yang equal dalam menyampaikan pendapat. Kadang disertai adu 
argumen dan malah bisa sampai debat kusir yang tidak ada ujung. "Namun opini 
pribadi tetap dihargai," kata Hafiz dalam buku Cermin untuk Semua, Refleksi 70 
tahun Ahmad Syafii Maarif (2005).

Di dalam buku yang sama, pendapat Hafiz selaras dengan pendapat ibunya, Hj. 
Nurkhalifah (istri Buya). Menurutnya, Buya tidak pernah memaksa, termasuk 
perihal keputusannya untuk berbusana muslimah (memakai jilbab). Semua ia 
lakukan atas kemauan sendiri.

Menjaga Muhammadiyah

Sikap demokratis Buya semakin menonjol saat memimpin Muhammadiyah. Menjadi 
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama satu periode (2000-2005) ditambah 
kurang lebih satu setengah tahun sebelumnya karena Amien Rais sebagai Ketua 
Umum periode 1995-2000 mengundurkan diri karena mendirikan dan memimpin Partai 
Amanat Nasional (PAN), partai paling reformis pada saat berdirinya, 28 Agustus 
1998.

Memimpin organisasi sebesar Muhammadiyah pada era spirit demokrasi masyarakat 
menyala-nyala jelas bukan perkara gampang. Apalagi, lokomotif demokrasi saat 
itu adalah Amien Rais, ketua umum yang digantikan Buya. Euforia berpartai, 
terutama PAN, berimbas sangat kuat mewarnai perjalanan Muhammadiyah dari 
tingkat pusat hingga daerah dan ranting di seluruh Indonesia.

Secara pribadi, Buya sangat mendukung sahabatnya, Amien Rais, menjadi calon 
Presiden RI. Ia bahkan kerap berseloroh, andaikan dirinya masih semuda Amien, 
pasti mau juga menjadi Presiden. "Tapi sayang, usia sudah uzur," kata Buya 
sambal tertawa.

Namun, sebagai pemegang amanat organisasi, Buya berkewajiban menjaga 
Muhammadiyah dari pengaruh "negatif" politik praktis. Pada saat pembukaan 
Sidang Tanwir Muhammadiyah, 24 Januari 2002 di Bali, ia memberi garis demarkasi 
antara dakwah yang menjadi tugas utama Muhammadiyah dengan politik yang menjadi 
tugas partai. Dengan ungkapan yang khas, Buya mengatakan begini:

"Politik mengatakan: Si A adalah kawan, si B adalah lawan. Dakwah mengoreksi: 
Si A adalah kawan, si B adalah sahabat. Politik cenderung berpecah dan memecah, 
dakwah merangkul dan mempersatukan."

Meskipun demikian, Buya tak bisa mengelak dari tuntutan sebagian besar peserta 
Tanwir yang hasrat politiknya sedang memuncak. Sebagai ketua umum yang memiliki 
otoritas di atas yang lain, bisa saja Buya memaksakan kehendak. Tapi, cara 
seperti itu jauh dari karakternya, maka ia pun harus tetap taat pada keputusan 
Tanwir yang merekomendasikan "kader terbaik" sebagai calon Presiden pada Pemilu 
2004.

Keputusan Muhammadiyah ini menuai kritik tajam dari berbagai kalangan. Selain 
dianggap bertentangan dengan ungkapan Ketua Umumnya sendiri, Muhammadiyah 
dianggap telah berputar haluan menjadi organisasi politik. Kontroversi terus 
berlanjut hingga Sidang Tanwir tahun berikutnya (26-29 Juni 2003) di Makassar, 
Sulawesi Selatan. Setelah melalui perdebatan sengit, Sidang Tanwir memutuskan 
tidak merekomendasikan satu nama pun, termasuk Amien Rais, untuk menjadi calon 
Presiden pada Pemilu 2004. Banyak kalangan mengapresiasi keputusan Tanwir 
Makassar yang "mengoreksi" keputusan Tanwir Bali.

Apakah persoalan politik sudah selesai? Ternyata belum. Masih ada gelombang 
desakan terhadap Muhammadiyah untuk berpolitik, terutama dari tokoh-tokoh 
Pimpinan Pusat dan Wilayah, yang berafiliasi, baik langsung maupun tidak 
langsung dengan PAN. Maka pada 9-10 Februari 2004, digelarlah Rapat Pleno yang 
dihadiri anggota Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dari seluruh 
Indonesia yang keputusannya secara eksplisit mengusulkan kader terbaiknya, 
Amien Rais, menjadi calon Presiden RI.

Muhammadiyah kembali menuai kritik tajam, sampai-sampai beredar secara luas 
(waktu itu belum dikenal istilah viral) short message service (SMS) --belum ada 
Black Berry Messenger (BBM), apalagi WatsApp (WA)-- yang bunyinya kira-kira 
begini:

"Mulai tahun depan, ibadah haji bisa dilakukan di Istiqlal, dengan melempar 
jumrah di MA dan Depag yang banyak setannya. Melempar jumrah ketiga di kantor 
PP Muhammadiyah, biar Muhammadiyah konsisten dengan khitahnya, tidak melakukan 
aksi dukung mendukung capres."

Dengan mendukung capres, ada yang menganggap Muhammadiyah "berdosa" seperti 
Mahkamah Agung (MA) yang saat itu baru saja membebaskan terpidana tiga tahun 
penjara Akbar Tandjung. Begitu pula dengan Departemen -sebelum berubah nama 
jadi Kementerian-Agama (Depag) yang menurut laporan Badan Pemeriksa Keuangan 
(BPK) termasuk paling korup daripada departemen yang lain.

Primus Inter Pares

Yang mendapat kritik tak hanya Muhammadiyah, sebagai Ketua Umum, Buya juga ikut 
kena imbasnya. Saya masih ingat, mantan Sekjen PAN, Faisal Basri yang sudah 
tidak sejalan dengan Amien Rais, ikut mengritik keras Buya.

Merespon kritik-kritik itu, Buya mengatakan bahwa dirinya hanya primus inter 
pares. Dalam soal ini, Bendahara PP Muhammadiyah waktu itu, Dasron Hamid, 
memberi kesaksian: "Dalam rapat-rapat PP Muhammadiyah, walaupun pada dasarnya 
sebagai ketua beliau mempunyai otoritas, tapi tidak pernah terkesan memaksakan 
kehendak dan pendapatnya. Kalau hasil mjusyawarah A, ya A, belum pernah 
mengklaim pendapatnya sendiri sebagai pendapat PP Muhammadiyah," kata Dasron 
dalam Cermin untuk Semua.

Itulah Buya Syafii Maarif yang dalam pemikiran keislaman pernah berubah, dari 
seorang fundamentalis menjadi seorang liberalis sehingga menginspirasi Butet 
Kartaredjasa dan kawan-kawan untuk mementaskan teater Fundamentalis Insyaf 
(2016). Tapi dalam sikap, ia tak pernah berubah, konsisten menjadikan al-Quran 
sebagai landasan etik, dan menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dalam hidup 
bermasyarakat dan bernegara.

Selamat Ulang Tahun ke-85, Buya! Semoga tetap sehat, terus menjadi panutan dan 
inspirator segenap anak bangsa.

Abd Rohim Ghazali Direktur Eksekutif Maarif Institute

(mmu/mmu)
ahmad syafii maarif
buya syafii
buya syafii maarif







Kirim email ke