-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1849-gigit-jari-politisasi-haji



Sabtu 06 Juni 2020, 05:00 WIB 

Gigit Jari Politisasi Haji Usman Kansong, 

Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Gigit Jari Politisasi Haji MI/Ebet Usman Kansong, Dewan Redaksi Media 
Group. “SEPERTI ikan haring yang dipak.” Begitu Snouck Hurgronje, Penasihat 
Urusan Pribumi untuk Pemerintah Hindia Belanda, menggambarkan kondisi jemaah 
haji Indonesia di kapal uap yang membawa mereka berangkat ke Mekah pada 
pertengahan abad ke-19. Kondisi jemaah haji Indonesia kiranya lebih parah lagi 
di kapal layar yang menjadi alat transportasi beribadah haji sebelum kapal uap 
ditemukan. Mereka menderita berbulan-bulan terkatungkatung di laut menantang 
maut dalam perahu layar. Beratnya perjalanan menuju Tanah Suci rupanya tak 
menyurutkan umat Islam Indonesia berangkat haji. Banyak yang harus menabung 
bertahuntahun supaya bisa berangkat haji. Tak sedikit yang menjual sawah, 
tanah, atau harta lainnya agar bisa berhaji. Jumlah jemaah haji Indonesia 
bertambah pada pertengahan abad ke-19 setelah kapal uap menjadi alat 
transportasinya. Pada 1859 jumlahnya sudah mencapai 2.000 orang. Setelah 
Terusan Suez dibuka pada 1869 jumlahnya meningkat pesat. Pada 1927 jumlahnya 
mencapai 52 ribu o rang lebih. Jemaah haji Indonesia termasuk yang terbesar 
jika dibandingkan dengan jemaah dari negara-negara lain sejak dulu hingga kini. 
Pemerintah kolonial Belanda memandang orang-orang Indonesia yang berhaji 
fanatik menjadi sumber pemberontakan terhadap pemerintahan ‘kafi r’. Sampai 
akhir abad ke-19 kegaduhan di desa-desa sering dipimpin ulama yang umumnya 
haji. Pemerintah Belanda menempatkan konsul di Jeddah yang sejak 1945 
ditingkatkan statusnya menjadi kedutaan untuk mengatur dan mengawasi jamaah 
haji Indonesia. Snouck Hurgronje-lah yang kemudian meyakinkan pemerintah 
Belanda bahwa berhaji membuat orang Indonesia radikal dan fanatik hanyalah 
mitos. Politisasi haji oleh pemerintah kolonial Belanda pun berhenti. Orang 
Indonesia sejak dulu memandang haji sesuatu yang sangat istimewa. Haji bukan 
cuma ibadah, melainkan juga status. Sepulang berhaji, Anda berhak dipanggil 
‘Pak Haji’ atau ‘Bu Hajjah’, berhak menaruh huruf H atau Hj di depan nama Anda. 
Bila Anda tidak punya gelar akademik untuk ditaruh di depan nama Anda, 
berhajilah supaya gelar haji bisa diletakkan di depan nama Anda. Banyak pejabat 
muslim di masa Orde Baru berhaji supaya bisa mencantumkan gelar ‘H’ di muka 
namanya. Kita mengenal Menteri Penerangan H Ali Moertopo dan H Harmoko. Bahkan 
Pak Harto mendapat tambahan huruf H dan M di depan namanya jadi HM Soeharto, 
Haji Muhammad Soeharto, setelah naik haji pada 1990-an. Pengamat menilai naik 
hajinya Presiden Soeharto bersifat politis. Pak Harto ketika itu hendak 
mendekatkan diri dengan umat Islam. Namun, politisasi haji oleh Pak Harto 
tampaknya gagal. Kekuatan kelompok Islam ikut menjatuhkan Pak Harto pada 1998. 
Begitu istimewanya haji, pemerintah melalui Kementerian Agama berupaya 
sebaik-baiknya mengurus haji. Sebagian besar kerja Kementerian Agama ialah 
mengurus haji. Itulah sebabnya diusulkan namanya diganti saja menjadi 
kementerian urusan haji. Kementerian Agama baru saja memutuskan membatalkan 
pemberangkatan haji. Penyebabnya, pemerintah Arab Saudi belum bisa memastikan 
ada atau tiadanya ibadah haji tahun ini. Padahal kloter pertama semestinya 
berangkat akhir Juni 2020. Pemerintah tidak punya cukup waktu untuk 
mempersiapkan keberangkatan 221.000 jemaah haji. Pertimbangan lain, pemerintah 
mengutamakan keselamatan rakyat Indonesia dari bahaya pandemi covid-19. Argumen 
ini sesuai dengan syariat. Syariat mensyaratkan keamanan berhaji. Syariat 
mengajarkan umat bahwa menghindari kemudaratan lebih penting daripada mendapat 
kemaslahatan. Saudi kelihatannya tidak mengadakan ibadah haji tahun ini karena 
jumlah warganya yang terjangkit covid-19 sangat tinggi. Jumlah orang terjangkit 
covid-19 di Saudi hingga kemarin lebih dari 93.000 orang. Dengan jumlah 
sebanyak itu, Saudi berada di urutan 16 negara-negara terjangkit covid-19. 
Bandingkan dengan Indonesia yang hingga kemarin jumlah penderita covid-19-nya 
lebih dari 29.000 orang dan berada di urutan 34. Saudi tentu tidak menghendaki 
jumlah orang yang terjangkit covid-19 di sana bertambah akibat tertular jemaah 
haji dari negara lain. Sepanjang 14 abad sejarah peradaban Islam, sudah 40 kali 
haji ditunda karena wabah, perang, dan konfl ik. Pemberangkatan jemaah haji 
Indonesia pada 1946, 1947, dan 1948 juga batal akibat agresi militer Belanda. 
Pemerintah tentu mempertimbangkan secara hati-hati keputusan pembatalan haji 
2020. Pemerintah sudah berkonsultasi dengan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, 
juga Majelis Ulama Indonesia. Para jemaah pun ikhlas keberangkatan mereka 
berhaji tertunda. Akan tetapi, bukan Indonesia namanya bila tak ada kegaduhan. 
Ada saja yang mencoba ’menggoreng’-nya. Karena pertimbangan pembatalan 
pemberangkatan jemaah haji sangat kuat, tak terbantahkan, ‘tukang gorengan’ 
menggorengnya dengan isu rupiah. Dikatakan dana haji dipakai untuk memperkuat 
nilai rupiah terhadap dolar. Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji Anggito 
Abimanyu membantah duit haji dipakai untuk memperkuat nilai rupiah terhadap 
dolar. Nilai rupiah dalam tiga hari terakhir ternyata menguat tanpa dana haji. 
Kalaupun dipakai memperkuat nilai rupiah, seorang teman calon jemaah haji 
berkata, “Ya, enggak apa-apalah. Hitung-hitung pahala buat yang enggak jadi 
berangkat hari ini, termasuk saya.” ‘Gorengan’ kiranya tak sampai matang. 
Selamat gigit jari mereka yang memolitisasi pembatalan haji.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1849-gigit-jari-politisasi-haji






Kirim email ke