Xi Jinping Adakan Hubungan Telepon dengan Presiden Perancis

2020-06-06 13:48:33 http://indonesian.cri.cn/20200606/138f8a92-ad04-6cd4-a26d-c93c3c224b18.html

Presiden Tiongkok Xi Jinping hari Jumat kemarin (5/6) mengadakan hubungan telepon dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron.

Xi Jinping menegaskan, sejak terjadinya wabah Covid-19, Tiongkok dan Perancis memelihara koordinasi strategis tingkat tinggi. Kini, solidaritas dan kerja sama adalah jalan tepat. Tiongkok dan Perancis hendaknya mendorong badan terkait kedua negara mengadakan penelitian bersama, mendukung kerja sama internasional dalam litbang vaksin dan obat-obatan, mempercepat pelaksanaan kesepahaman Majelis Kesehatan Dunia (WHA) Ke-73, meningkatkan dukungan terhadap WHO, mengadakan lebih banyak kerja sama penanggulangan wabah antara Tiongkok, Perancis dan Afrika, mendukung negara-negara kurang maju termasuk Afrika dalam penanggulangan wabah. Hendaknya mempertahankan multilateralisme, mendorong perdamaian dan kestabilan dunia.

Xi Jinping menegaskan, dirinya bersedia memelihara komunikasi erat dengan Macron, dengan baik menguasai arah, dan mendorong hubungan kedua negara berkembang secara sehat dan stabil. Kedua pihak hendaknya berfokus pada masa pasca wabah, merencanakan pertukaran berbagai tingkat tahap selanjutnya, dan mengadakan komunikasi dengan stabil, tertib dan luwes.

Xi Jinping menunjukkan, Tiongkok dan Uni Eropa adalah mitra strategis komprehensif yang memiliki kepentingan bersama yang luas. Pihak Tiongkok bersedia mengintensifkan kerja sama strategis dengan Uni Eropa, mendorong agenda politik penting Tiongkok-UE, mendukung multilateralisme, bersama menanggapi tantangan global termasuk kesehatan umum, perubahan iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, mendorong hubungan Tiongkok-UE berjalan secara lancar.

Macron menyatakan, Perancis dan Tiongkok mengadakan kerja sama baik dan memperlihatkan solidaritas dalam penanggulangan wabah. Pihak Perancis berharap dapat terus mengintensifkan kerja sama dengan Tiongkok. Perancis mengapresiasi bahwa Presiden Xi Jinping mengumumkan akan menjadikan vaksin buatan Tiongkok sebagai produk umum internasional, bersedia bersama Tiongkok melaksanakan kesepahaman WHA, mendukung peranan penting WHO, mengintensifkan kerja sama dengan WHO, dan meningkatkan dukungan terhadap negara-negara Afrika dalam penanggulangan wabah.



 Kenapa Sejumlah Pemimpin Barat Tidak Mau Komentari Tragedi
 Diskriminasi Ras di AS

2020-06-06 13:43:19 http://indonesian.cri.cn/20200606/d218c0d5-6023-a80c-379e-932e714fcde4.html

图片默认标题_fororder_1324614520

Protes akibat tewasnya George Floyd, seorang warga Amerika Serikat (AS) keturunan Afrika sedang merebak di seluruh AS. Pada saat masyarakat internasional bersama-sama mengecam penyakit kronis diskriminasi ras di AS itu, sejumlah pemimpin negara-negara Barat yang selalu suka mengungkit “demokrasi” dan “HAM” itu kali ini malah bungkam dan tidak mau mengomentari hal itu.

Baru-baru ini, Perdana Menteri Kanada Justrin Trudeau ditanyakan apa sikapnya atas “pemimpin AS mengancam akan melawan pemrotes di dalam negerinya dengan kekuatan militer”, ia kelihatan canggung dan  diam 22 detik, dan akhirnya tidak menjawab pertanyaan itu.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada seminggu sesudah peristiwa George Floyd baru memberikan komentarnya secara tidak langsung, ia mengatakan “tiada tanahnya di Inggris bagi rasisme dan kekerasan rasis”.

Sementara itu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison juga mulai main Tai Chi mengenai masalah diskriminasi ras di AS, sehingga Pemimpin Partai The Australian Greens Adam Bandt mendesak Scott Morrison   menanggapi “penampilan buruk” pemerintah AS itu.

图片默认标题_fororder_391266346

Justru seperti komentar Sky News Australia pada hari Kamis lalu ($/6), “jika pemimpin negara lain mengusir pengunjuk rasa damai dengan gas air mata atau mengancam akan menggunakan kekuatan militer, jadi pemimpin negara lain pasti akan memberi komentar.” Namun, sejumlah pemimpin negara Barat malah membuta-tuli atas tindakan pemimpin AS yang sangat mengejutkan itu. Itu sangat kontras dengan kebiasaan mereka yang suka membicarakan masalah negara lain dengan panjang lebar.

Sebenarnya, sejumlah negara sudah terbiasa mengikuti AS, tidak berani   dan juga tidak biasa melontarkan kata-kata yang keras.

Lama-kelamaan, diam saja sudah menjadi pilihan terpaksa bagi sejumlah politikus Barat, apalagi di sejumlah negara Barat itu juga terdapat masalah diskriminasi ras yang relatif parah, bahkan sejumlah politikus justru adalah pendukung supremasi orang kulit putih.  Sikap samar-samar dengan tidak mau mengomentari penyakit kronis rasisme itu justru memperlihatkan ketakutan dan kegelisahan mereka.

Meninjau kembali sejarahnya, negara-negara Barat utama memiliki sejarah gelap pelaksanaan kolonisme pada tahap awal kapitalisme, itulah sebab utama munculnya masalah diskriminasi ras di dunia. Sekarang ini, di Inggris, Australia, Kanada dan negara-negara Barat lain, ketidakadilan terhadap orang kulit berwarna dan etnis minoritas sering dilaporkan media oleh karena sebab yang rumit termasuk sistem sosial dan diferensiasi kekayaan, tidak “kalah” daripada di AS.

Terus terang, diskriminasi ras adalah bekas luka masyarakat AS juga rasa malu bersama negara-negara Barat. Komisioner HAM PBB Michelle Bachelet dalam pernyataannya menunjukkan, “rasisme struktural” dan “kepincangan yang mencolok” itu merupakan inti terjadinya protes besar-besaran. Sekaranglah waktunya untuk melakukan “reformasi mendalam dan jangka panjang”.

Kirim email ke