Di Balik Gemuruh Kepulangan Habib Rizieq
Seri pemikiran Francis Fukuyama #23
R53 - Wednesday, November 11, 2020 21:00
https://www.pinterpolitik.com/di-balik-gemuruh-kepulangan-habib-rizieq
Penyambutan kepulangan Habib Rizieq Shihab (foto: Suara.com) 
6 min read

Kepulangan Habib Rizieq Shihab ke Indonesia benar-benar disambut meriah oleh 
pendukungnya. Tidak hanya memadati terminal 3 bandara Soekarno-Hatta, massa 
juga telah bersiap menyambut sang Habib di kediamannya di Petamburan. Lantas, 
mungkinkah sambutan meriah tersebut menunjukkan masalah Great Disruption yang 
ditulis oleh Francis Fukuyama?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Kasus Basuki Thahaja Purnama (BTP) atau Ahok jelas merupakan preseden yang 
membuat nama Habib Rizieq Shihab melambung ke atas jajaran sosok paling 
berpengaruh di tanah air. Kemarin, dalam rangka menyambut kepulangannya ke 
Indonesia setelah menetap selama 3,5 tahun di Arab Saudi, ribuan massa terlihat 
memadati bandara internasional Soekarno-Hatta.

Gemuruh massa juga tidak ketinggalan menanti Imam Besar Front Pembela Islam 
(FPI) tersebut di kediamannya di Petamburan, Jakarta Pusat. Suka atau tidak, 
disambutnya Habib Rizieq bak pahlawan jelas memperlihatkan bagaimana pemimpin 
Persaudaraan Alumni (PA) 212 ini begitu ditunggu-tunggu kepulangannya.. Ia 
mungkin dinilai bak cahaya di lorong yang gelap gulita.

Pengamat politik Rocky Gerung memiliki komentar yang menarik dalam menanggapi 
kepulangan Habib Rizieq. Tegasnya, disambut megahnya sang Habib dengan 
keikhlasan adalah perwujudan harapan publik bahwa sang Imam Besar dapat membawa 
perubahan di tengah perputaran roda politik negeri ini. Lebih menarik lagi, 
mantan dosen Ilmu Filsafat Universitas Indonesia (UI) ini juga menilai Habib 
Rizieq hendak mengubah cara berpolitik saat ini yang berbasis uang, menjadi 
politik berbasis akhlak dan legitimasi.

Mengacu pada asumsi tiada api tanpa asap, mungkinkah terdapat pertalian antara 
megahnya penyambutan kepulangan Habib Rizieq dengan laju pemerintahan Joko 
Widodo (Jokowi) saat ini?


Kapitalisme dan Social Capital
Bertolak dari asumsi Rocky bahwa Habib Rizieq diharapkan sebagai pembawa 
perubahan, tampaknya begitu relevan bagi kita untuk melihat buku Francis 
Fukuyama yang berjudul The Great Disruption: Hakikat Manusia dan Rekonsiliasi 
Tatanan Sosial. 

Istilah Great Disruption dimaksudkan Fukuyama untuk menjelaskan fenomena di 
mana pemerintah tengah mengalami defisit kepercayaan yang meluas di tengah 
masyarakat. Great Disruption bertolak dari kemajuan pesat teknologi dan ilmu 
pengetahuan yang mengubah tatanan kehidupan sosial, khususnya dalam hal 
produksi kapital.

Menurut Fukuyama, kemajuan teknologi tersebut tidak hanya mengubah cara manusia 
berekonomi, melainkan juga turut berdampak pada perubahan sosial, seperti 
meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan.

Di sini, Fukuyama memperkenalkan konsep penting, yakni social capital. Kendati 
tidak memberikan definisi yang rigid tentang apa itu social capital, konsep 
tersebut secara sederhana dapat didefinisikan sebagai serangkaian nilai-nilai 
atau norma-norma di antara para anggota suatu kelompok masyarakat yang 
memungkinkan terjalinnya kerja sama di antara mereka. Singkatnya, social 
capital dapat kita samakan dengan trust atau kepercayaan di tengah masyarakat.

Idealnya, Fukuyama mengharapkan suatu kelompok masyarakat memiliki social 
capital yang besar karena itu tidak hanya dapat meningkatkan kerja sama, 
melainkan juga memangkas ongkos produksi. Pasalnya, dalam iklim kelompok 
masyarakat yang minim social capital atau trust, berbagai jenis kerja sama, 
khususnya kerja sama ekonomi, selalu dibebani oleh biaya transaksi tambahan 
guna sebagai pengganti dari minimnya trust.

Misalnya, dalam membuat suatu kerja sama ekonomi, karena A dan B tidak saling 
memercayai, keduanya harus diikat oleh kontrak yang rigid, atau harus memiliki 
jaminan agar tidak dikhianati. Kasusnya tentu akan berbeda apabila keduanya 
memang sedari awal saling memercayainya satu sama lain.

Dalam bab terakhir bukunya, Fukuyama memberikan pertanyaan penting, yakni 
“apakah kapitalisme menghancurkan social capital?”. Menurutnya, jawaban atas 
pertanyaan tersebut bisa “iya”, dan bisa juga “tidak”.

Bisa “iya”, karena dalam sejarahnya, ataupun dalam berbagai analisis, 
kapitalisme memang dinilai buruk bagi social capital. Apalagi, kapitalisme atau 
aktivitas ekonomi yang lebih mengedepankan kepentingan (kalkulasi untung-rugi) 
di atas kewajiban moral, telah berkonsekuensi atas hancurnya ikatan-ikatan 
sosial.

Fukuyama misalnya mencontohkan pada kasus di Amerika Serikat (AS) pada tahun 
1980-an dan 1990-an. Saat itu, sebagai respons atas pembukaan ekonomi AS 
terhadap persaingan domestik dan global yang lebih besar, banyaknya sektor 
ekonomi yang menjadi tunduk pada kekuatan kompetitif telah memberi efek negatif 
terhadap social capital.

Di sisi yang berbeda, Fukuyama menyebut jawabannya bisa jadi “tidak”. Tulisnya, 
kendati kapitalisme seringkali merupakan kekuatan destruktif, namun kapitalisme 
juga menciptakan norma-norma baru untuk menggantikan norma-norma yang telah 
dihancurkannya. Dengan kata lain, hendak ditegaskan bahwa kapitalisme sejatinya 
tidak pernah membiarkan dirinya tidak memiliki social capital.

Fukuyama misalnya mencontohkan agen ekonomi swasta yang menjalankan aktivitas 
ekonomi dengan menjunjung kejujuran, keterampilan, dan resiprositas. Dewasa 
ini, trust memang menjadi nilai jual tersendiri dalam transaksi ekonomi..


Mengharapkan Pemimpin Kuat?
Dengan mengacu pada meningkatnya demonstrasi dalam dua tahun terakhir, 
khususnya demonstrasi penolakan revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan 
Korupsi (UU KPK) dan UU Cipta Kerja, suka atau tidak, itu adalah indikasi dari 
tengah meningkatnya distrust atau ketidakpercayaan di tengah masyarakat 
terhadap pemerintah. 

Apalagi, pada kasus UU Cipta Kerja yang bertendensi melanggengkan kepentingan 
pemilik modal dan pengusaha, jelas memperlihatkan tingginya ambisi pemerintahan 
Jokowi terhadap perekonomian. James Guild dalam tulisannya Jokowinomics Gambles 
with Indonesia’s Democratisation menyebutkan bahwa Presiden Jokowi seperti 
menggadaikan politik demokrasi demi ambisinya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Jika pernyataan Guild benar adanya, maka ini adalah jawaban “iya” dari Fukuyama 
bahwa kapitalisme berkonsekuensi pada kehancuran social capital. Pada konteks 
Indonesia, jamak diketahui bahwa masyarakat telah mengalami surplus kecurigaan 
terhadap kekuasaan karena mengalami rezim yang begitu diktator di bawah 
kepemimpinan Soeharto.

Oleh karenanya, segala bentuk pemerintahan yang dijalankan dengan tidak 
mengedepankan semangat demokrasi seperti yang dicita-citakan reformasi akan 
berkonsekuensi pada kehancuran sosial capital atau distrust di tengah 
masyarakat. Pada level yang ekstrem, ini akan mengakibabkan Great Disruption.

Jika benar distrust telah terjadi di tengah masyarakat akibat berbagai 
kebijakan non-populis pemerintahan Jokowi, ini tampaknya mengafirmasi 
pernyataan Rocky bahwa meriahnya penyambutan Habib Rizieq merupakan bentuk dari 
harapan atas perubahan.

Pasalnya, dengan koalisi raksasa pemerintah saat ini, bahkan disebut sebagai 
pemerintah terkuat sejak reformasi, itu membuat trias politika dan check and 
balance tidak berjalan semestinya karena lemahnya posisi oposisi. Bertolak dari 
keadaan ini, besar kemungkinan kehadiran Habib Rizieq yang terbukti memiliki 
karisma mumpuni untuk menghimpun massa sekiranya dinilai sebagai sosok yang 
akan menambah daya gedor oposisi.

Dalam tulisannya Checks and Balances, Fukuyama menyebutkan bahwa kuatnya 
kelompok kepentingan yang mengatur kebijakan di AS, telah melahirkan harapan di 
tengah warga AS agar pemimpin yang begitu kuat dapat lahir untuk mengatasi 
masalah tersebut.

Mengacu pada Fukuyama, jika masyarakat Indonesia saat ini begitu merasa telah 
terbelenggu oleh oligarki, seperti mulusnya pengesahan UU Cipta Kerja, boleh 
jadi membuat Habib Rizieq dinilai sebagai sosok pemimpin kuat yang dapat 
menantang dominasi para oligark tersebut.

Bagaimana pun, terlepas dari adanya kelompok yang tidak menyukai Habib Rizieq, 
gemuruh penyambutannya kemarin jelas menunjukkan bagaimana besarnya harapan 
masyarakat terhadap Imam Besar FPI tersebut.

Kita nantikan saja sejauh mana Habib Rizieq akan berperan dalam proses politik 
ke depannya. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)

Kirim email ke