Setelah film Emak ingin naik haji, saya rasa inilah film terbaik dari Hanung
Bramantiyo dibandingkan dengan menjuual mimpi fiksi di AAC. Dengan latar
belakang sejarah yg kuat di laur cerita film ini IMHO adalah film yg sangat
recommended untuk ditonton ..  Dibandingan dengan yg terdahulu adegan
mubazir baru di trailer saja mondar mandir sekitar gurun and pyramid dengan
kesan pamer :p (manding nonton transformers 2 yg kase ancor2 pyramid
wkwkwkw)

 

Thanks

Richie (Yg blum pernah nonton AAC KCB, ada bo KBH (Ksatria Baja Hitam))

 

Trailer :

http://www.youtube.com/watch?v=rG4eZUHPp3A

 

review :

http://movie.detikhot.com/read/2010/09/07/111422/1436611/918/sang-pencerah-k
isah-sang-panutan-bangsa?h991103207

 

 

Gambar

 

Jakarta - Sejarah membuat orang bijak, begitu pepatah lama berkata. Tetapi,
menurut filsuf Jean-Paul Sartre, manusia dikutuk untuk terus memilih selama
dia hidup. Dan 'Sang Pencerah' yang disutradarai dan skenarionya ditulis
oleh Hanung Bramantyo ini juga mengalaminya.

Tidak. Saya tidak bilang kalau film ini jelek. Bahkan, selain 'Catatan Akhir
Sekolah' dan 'Get Married', film ini termasuk karya Hanung yang terbaik.
Mungkin karena temanya, Yogya dan Muhammadiyah, dekat dengan sang sutradara.

Lihat saja, film berdurasi 112 menit ini berhasil meyakinkan penontonnya
untuk menikmati Yogyakarta di akhir abad ke-19. Tentu, selain sang
sutradara, Departemen kostum/wardrobe (Retno) sangat berjasa dalam hal ini.
Lihat saja bagaimana Kebun Raya Bogor disulap menjadi Malioboro beserta
Tugunya. Atau, yang paling spektakular, adalah bagaimana mereka membangun
replika Kabah satu banding satu untuk adegan thawaf kala haji, dengan begitu
meyakinkan, ditambah footage orang berhaji tempo dulu. 

Atau, dalam soal make-up (Jerry Octavianus), bagaimana sang istri, Siti
Walidah, baik yang diperankan Marsya Natika atau Zaskia Adya Mecca berkulit
sawo matang. Tya Subiakto yang menggawangi music score juga turut
menyumbangkan atmosfir yang signifikan.

Satu lagi yang bersinar adalah penata sinematografi Faozan 'Pao' Rizal yang
mempersembahkan karya terbaiknya. Para pemain pada umumnya, khususnya Lukman
Sardi dan Ikhsan Idol yang menjadi KH Ahmad Dahlan, tampil cemerlang. Juga
aktor lainnya seperti Slamet Rahardjo Djarot dan Giring Nidji.

Kisah berfokus pada sejarah hidup pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan,
sejak lahir hingga mendirikan Muhammadiyah pada 12 November 1912. Ia,
beserta 5 muridnya (Sudjak, Fachrudin, Hisyam, Syarkawi, Abdul Ghani)
berada pada masa di mana
praktik-praktik ritual melenceng dari kemurnian ajaran Islam. Atau
bagaimana, kala itu, sebuah sekolah Islam dianggap haram memakai bangku dan
meja dengan alasan itu semua buatan kafir.

Dan sejarah menunjukkan fungsinya, bagaimana ia menjadi cermin betapa
kurangnya Indonesia kiwari akan sosok panutan yang patut diteladani. Juga
bahwa sejak dulu hingga sekarang, praktik kekerasan atas nama agama
berlangsung. Masa itu, saling
menuding 'kafir' adalah hal biasa, sedangkan pembaruan dianggap sesuatu yang
mengancam. Misalnya saja bagaimana Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh
yang menjadi mujaddid kala itu dituduh sesat hanya karena menerbitkan
Al-Manar (dan,
sebenarnya, al-Urwatul Utsqa) dari Paris. 

Yang  menarik lainnya, Kiai kita ini bisa menguasai medan dakwah (lihat
adegan di sekolah Belanda) atau menggunakan cara dakwah yang dianggap
nyeleneh, bahkan mungkin hingga kini (misalnya, mengajarkan agama dengan
biola, atau memakai perumpamaan agama dengan musik), dan tidak hanya
mengajarkan toleransi, tetapi juga koeksistensi alias bekerja sama dengan
yang tidak sealiran.

Tentu saja, membuat film sejarah tentang biopic tokoh sekaliber KH Ahmad
Dahlan tentu saja tidak mudah, dan Hanung cukup berhasil mengatasinya.
Khususnya, berbagai masalah sensitif yang menyangkut Sri Sultan Hamengku
Buwono hingga Muslim tradisionalis.

Persoalan mendasar adalah bagaimana menjelaskan karakter mulia KH Ahmad
Dahlan yang santun dan toleran disukai baik oleh Muslim atau non-Muslim dan
masuk dalam berbagai organisasi macam Jamiat Khaer, Syarikat Islam (SI),
hingga Boedi Oetomo dengan visinya untuk pembaruan agama yang mau tidak mau,
melawan mayoritas Muslim yang kala itu berbaur dengan mistik kejawen
(istilah populernya kala itu: TBC, Takhayul, Bid'ah, Churafat) dan bahkan
madzhab Masjid Agung Kauman, simbol aliran agama resmi kesultanan
Yogyakarta. 

Walhasil, sedikit sekali pembahasan mendalam tentang bagaimana KH Ahmad
Dahlan menjelaskan tentang beda 11 dan 23 rakaat salat Tarawih, atau soal
Yasinan dan tahlilan, atau mengucapkan gelar Sayyidina (tuanku) setelah nama
Nabi Muhammad . Tentu akan menarik bagaimana akhlak mulia Sang Kiai bisa
mengatasi perbedaan dan tentu rakyat belum berhenti melihat jamaah terus
konfrontasi antara kaum modernis dan tradisionalis berkenaan hal-hal yang
sifatnya cabang (furu'iyah). 

Pernah saya mendengar berita akan ada adegan tentang Dahlan muda, Muhammad
Darwis, melakukan perjalanan laut ke Mekkah untuk berhaji. Di sana, dia
bertemu dan bersahabat dengan (nantinya) pendiri Nahdhatul Ulama (NU) KH
Hasyim As'ari. Dan
kelak keduanya, bersama Agus Salim, berguru pada orang yang sama, Imam
madzhab Syafiiyah di Masjidil Haram asal Indonesia bernama Ahmad Khatib.
Sayang adegan ini tidak ada.

Hal lain yang mengganjal adalah ide bahwa nasionalisme KH Ahmad Dahlan makin
menyala kala ia bersentuhan dan lalu menjadi anggota Boedi Oetomo. Saya bisa
memahami betapa Boedi Oetomo sangat penting dalam mencerahkan pemikiran
kebangsaan sang kiai, bahkan sampai bertemu dan berdiskusi dengan Dr Wahidin
Sudirohusodo. Dan dari situ timbul konflik yang mengasyikkan, bagaimana ia
ditakutkan akan menjadi Islam Kejawen akibat hubungannya dengan organisasi
yang didominasi oleh Jawa Ningrat itu. Atau, bagaimana KH Ahmad Dahlan
'berbahasa dengan bahasa kaumnya' dengan memakai beskap, sesuatu yang
menjadi simbol orang kafir. 

Tetapi, alangkah menariknya bila juga diceritakan persinggungannya dengan
SI, organisasi bervisi kebangsaan yang lahir lebih dulu dari Boedi Oetomo
dan berasal dari berbagai etnis dan suku seluruh Nusantara.

Tapi saya bisa memaklumi. Hanung terpaksa harus memilih bagian mana yang
dimasukkan dan mana yang dibuang.  Adegan dialog tentang barang kafir, atau
'hidupi Muhammadiyah, jangan hidup dari Muhammadiyah', tentu ada.  Tetapi
ada hal-hal
sensitif yang kurang diangkat. Dan masalah lainnya adalah tentang
bahan-bahan seputar pribadinya, khususnya saat masih bernama Muhammad
Darwis, yang cukup langka. Mungkin, kiprah KH Dahlan di SI juga kekurangan
bahan. Tentu ini menjadi catatan tersendiri urusan kearsipan di negeri ini.

Sayangnya, ada penyederhanaan soal mengapa Islam di Jawa mempraktikkan
mistisme dan sinkretisme. Di awal film, ada pernyataan semua itu karena
Syekh Siti Jenar, tetapi bagi yang mengkaji sejarah agama di Nusantara tahu
bahwa kondisinya tidak sesimpel itu. Karena, Wali Songo juga mengajarkan
tasawuf, dan bahkan ada teori bahwa Islam di abad pertengahan masuk dari
Gujarat (India) yang memakai pendekatan 'sufisme' yang kemudian banyak yang
terselewengkan atau disalahtafsirkan dan berbaur dengan ajaran lokal.
Intinya, bukan tokohnya, tapi salah tangkapnya itulah yang menjadi sumber
masalah.

Bagaimana pun, 'Sang Pencerah' adalah sebuah film sejarah yang dibuat dengan
layak dengan nilai produksi di atas rata-rata. Sekali lagi, film ini juga
menjadikan sejarah sebagai pelajaran di masa kini. Mengutip  sejarahwan
Kuntowijoyo:  sejarah itu seperti spiral, dia akan terus berulang tetapi
selalu maju ke depan. Misalnya: toleransi, koeksistensi, kekerasan berbalut
agama, dan semangat perubahan yang kurang. Inilah sebuah film yang wajib
tonton saat liburan Lebaran. (iy/iy)

<<image001.jpg>>

Kirim email ke