Survei:
Jangan Jadikan Karyawan TI 'Sapi Perah'
Fransiska Ari Wahyu - detikinet karyawan TI (ist)

Inggris - Seringkali karyawan TI harus bekerja lembur. Ironisnya, gaji mereka 
sering tidak sebanding dengan jumlah jam kerja. Ketika mengajukan protes, suara 
mereka tidak digubris.

Hal ini terungkap dalam sebuah survei yang digelar sebuah situs lowongan kerja 
di Inggris.

Survei yang melibatkan 500 karyawan TI ini mengungkap bahwa hampir separuh 
responden bekerja lebih lama daripada yang mereka lakukan dua tahun lalu. Lebih 
dari seperempat responden bekerja selama 48-60 jam per minggu. Walaupun 3/4 
responden mengaku jam kerjanya tidak melebihi peraturan jam kerja di kawasan 
Eropa, yakni maksimal 48 jam per minggu. Sementara, sekitar 5 persen responden 
mengaku bekerja selama 60-75 jam dalam seminggu.

Dikutip detikINET dari Vnunet, Rabu (27/8/2008), jumlah jam kerja yang 
melampaui batas ini merugikan karyawan. Sekitar 40 persen responden menyebutkan 
bahwa kesehatan mereka menjadi terganggu, 64 persen mengaku bahwa kehidupan 
sosial mereka menjadi terganggu, dan 41 persen mengaku tidak memiliki kehidupan 
sosial.

"Majikan harus bertanggung jawab terhadap dampak jumlah jam kerja berlebihan 
yang dapat merugikan kesehatan karyawan," tandas Alex Farrell, managing 
director www.theitjobboard.co.uk.

Hanya 10 persen karyawan TI yang mengaku mendapat gaji tambahan untuk kerja 
lembur, walaupun lebih dari separuhnya mengaku harus membawa pulang pekerjaan 
tambahan tersebut. Kendati mendapat perlakuan yang kurang adil, hanya 15 
responden yang mengaku mengajukan protes kepada pimpinan mereka. Malangnya, 
sekitar 80 persen dari yang mengajukan komplain mengaku tidak mendapat 
tanggapan dari pimpinannya.

Sumber: http://www.detikinet.com/

---
Norman Security Suite 7 Antivirus+Antispyware Personal Edition.
http://ronar.net/e-shop/
---


      

Kirim email ke