http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=198372 Minggu, 20 Nov 2005,
Menulis Itu Mukjizat Ahmad Badrus Sholihin* Di kalangan kita masih sering ada anggapan bahwa untuk menjadi seorang penulis tidak cukup hanya berbekal pengetahuan dan latihan. Menurut mereka, kemampuan menulis adalah bakat alamiah yang hanya dimiliki oleh segelintir orang istimewa saja. Shakespeare, Faulkner, Chekov, dan Gibran misalnya, adalah beberapa nama yang menjadi penulis besar karena anugerah bakat alam yang mereka miliki. Atau dengan kata lain kemampuan menulis adalah kemampuan yang sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah. Apakah memang benar demikian? Dalam buku yang judul aslinya On Writing: A Memoir of The Craft ini, Stephen King memberikan sebuah sanggahan. Menurutnya, bekal sebagai penulis memang sudah ada dalam diri seorang penulis. Namun, bekal itu tidaklah istimewa. Banyak orang yang punya bakat sebagai penulis atau tukang cerita, dan bakat-bakat itu dapat diperkuat dan dipertajam. Dan, untuk itu, kita hanya harus melakukan dua hal: banyak membaca dan banyak menulis. Sanggahan King mungkin terkesan menyederhanakan persoalan. Tetapi jika kita menelusurinya dalam memoir sekaligus satu-satunya karya nonfiksinya ini, kita akan mafhum bahwa penulis papan atas Amerika yang dianggap sebagai dewa cerita horor dan thriller ini, tidak sedang bermain-main dengan pendapatnya. Dia berani menyimpulkan demikian setelah selama 30 tahun lebih terjun secara total dan mengabdikan hidup sepenuhnya menjadi penulis. Bukti dari proses ini adalah 35 novel yang cukup berkualitas dan mendapatkan berbagai penghargaan, dan sukses secara pemasaran dengan menjadi best-seller di seluruh penjuru dunia. Buku bersampul hitam ini tidak seperti lazimnya sebuah memoir, yang biasanya hanya berkisah tentang jalan hidup yang ditempuh oleh seseorang hingga mencapai taraf tertentu dari keseluruhan masa hidupnya. Lebih dari itu, di dalamnya King memberi "pelajaran" menulis yang merangkum prinsip, paradigma, teori, metode, teknik dan kiat-kiat khusus, yang disajikan dengan gaya bertutur sambil mengajak untuk berbagi pengalaman. Di bagian pertama yang bertajuk "C.V.", King menunjukkan sebagian dari berbagai insiden dan situasi kehidupan yang membuatnya berkeinginan untuk menjadi jenis penulis seperti sekarang. Fase ini dia maklumatkan sebagai sebuah proses menjadi. Karena dia tidak percaya bahwa penulis bisa dibuat, baik oleh keadaan atau oleh keinginannya sendiri. Hal ini dipertegas oleh perjuangannya untuk terus menulis dalam kondisi apa pun selama hidupnya yang penuh liku; kehilangan seorang ayah dan hidup dalam kemiskinan sejak kecil, bekerja sebagai tukang celup kerah, menjadi guru dengan gaji pas-pasan, terjerat dalam kecanduan alkohol dan narkoba selama belasan tahun, dan hampir tewas ditabrak mobil. Di bagian kedua, "kotak perkakas", King memberi penjelasan singkat tentang alat yang dibutuhkan untuk menggali bakat menulis yang diumpamakannya dengan "artefak" purba yang terpendam. Jika untuk menggali harta karun, orang membutuhkan skop, bor, cangkul, dan lain sebagainya, maka untuk menulis seseorang membutuhkan kosakata, tatabahasa, dan gaya penulisan. Cukup tiga saja? King langsung beralih ke bagian ketiga yang merupakan inti dari buku ini, "Tentang Menulis". Seperti yang telah disinggung di depan, King menekankan pada pembahasan tentang "banyak membaca dan banyak menulis". Membaca merupakan proses belajar dalam dua hal: pertama, menyerap pengetahuan yang terkandung dalam buku-buku yang kita baca untuk dijadikan perbendaharaan sumber tulisan kita sendiri. Kedua, melakukan penilaian terhadap sebuah bacaan. Ketika kita menilai sebuah bacaan itu baik, maka ada dorongan untuk membuat karya sebaik itu atau yang lebih baik lagi. Ketika kita berhadapan dengan sebuah bacaan yang jelek, kita juga terdorong untuk menghindari apa yang telah dilakukan oleh penulisnya dan mendapat semacam sugesti bahwa kita bisa melakukan yang lebih baik darinya. King menamai proses membaca ini sebagai pusat kreatif kehidupan penulis. Sedangkan menulis menurut King adalah mencipta. Dalam suatu penciptaan seseorang mengerahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi dia sertakan seluruh jiwa dan napas hidupnya. Dalam proses menulis yang sejati, seorang penulis menjauh dan berpisah dengan dunia yang ada di sekitarnya untuk selanjutnya dia menciptakan dunianya sendiri. Untuk mencapainya seorang penulis harus terlebih dahulu menjadi dirinya sendiri dengan memegang teguh disiplin, kerja keras, kejujuran, dan ketulusan. Setelah kondisi ini tercapai lahirlah ide tentang apa yang akan ditulis. Banyak orang yang mengatakan ide ini lahir dari inspirasi, dan karenanya mereka menggantungkan lahirnya ide dari mood. Tapi bagi King, kita tidak bisa menunggu datangnya suatu inspirasi, karena sebenarnya inspirasi itu kita sendirilah yang menciptakan. Ketika seorang penulis hanya menunggu, maka sebenarnya dia belum menjadi dirinya sendiri. King mencontohkan penciptaan inspirasi ini dengan pengalamannya sendiri. Dia menulis pukul 08.00-14.00 setiap hari sepanjang tahun tanpa ada hari libur, bahkan di hari Natal, kemerdekaan, dan ulang tahunnya sendiri. Sebelum menulis, dia mengunci pintu kamarnya, menutup korden jendela, mematikan telepon, dan melarang siapa pun menemuinya, bahkan istri dan anak-anaknya sekalipun. Ini merupakan contoh ekstrem yang membayangkannya saja membuat kita merinding. Namun, rutinitas ini terhenti sama sekali ketika pada suatu pagi di bulan November 1997 sebuah mobil menabrak King yang sedang berjalan-berjalan di sekitar rumahnya. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya ini merupakan sebuah titik balik dalam kehidupan King yang dia suguhkan secara menawan dalam bagian keempat, "Tentang Kehidupan". Dia bercerita bagaimana dia bisa bangkit dari keterpurukan hidup akibat kecelakaan yang menimpanya. King menegaskan bahwa memang yang menyelamatkan hidupnya adalah perawatan medis dan perhatian tanpa batas dari istrinya, tetapi hanya menulislah yang membuat hidupnya lebih cerah dan lebih indah untuk dinikmati. Dengan itu dia mendapatkan semangat untuk hidup dan mampu melewati masa-masa kritisnya untuk kembali survive. King mengakhiri buku ini dengan sebuah paragraf panjang yang dia tujukan untuk semua penulis dan pembaca sejati, "Menulis bukanlah untuk mencari uang, menjadi terkenal, mendapat teman kencan, menjadi mapan, atau memperoleh banyak teman. Pada akhirnya menulis adalah untuk memperkaya hidup orang-orang yang akan membaca karyamu dan memperkaya hidupmu sendiri pula Menulis itu mukjizat, seperti air kehidupan air itu gratis. Jadi, minumlah " (hlm. 392). Akhirnya saya mengucapkan selamat membaca, bagi Anda semua baik penulis maupun bukan, sebuah buku yang menurut Remy Sylado belum pernah ada dalam kepustakaan Indonesia sepanjang usia 60 tahun merdeka. [] * Ahmad Badrus Sholihin, anggota Dewan Pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Taman Baru Kalisat Jember. Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Judul Buku : Stephen King On Writing Penulis : Stephen King Penerjemah : Rahmani Astuti Penerbit : Qanita, Bandung Cetakan I : September 2005 Tebal : XL + 416 Halaman ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/9.ZgmA/FpQLAA/HwKMAA/igXolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ---------------------------------------------------- Mail Archives: http://groups.yahoo.com/group/himasad/ Untuk keluar dari keanggotaan milis: kirim e-mail kosong ke alamat [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/himasad/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
