Snow Flower
Rp. 66.000,-
Rp. 66.000,-
Judul aslinya "Snow Flower and The Secret Fan<http://www.amazon.com/gp/product/1400060281/sr=8-2/qid=1153110848/ref=pd_bbs_2/102-0621059-7132143?ie=UTF8>"
karya dari Lisa See <http://www.lisasee.com/> terbitan tahun 2005.
Diterjemahkan oleh Qanita dengan judul "Snow Flower", Juni 2006, 551
halaman. Sampulnya bergambar gadis cina bergaun merah sedang memegang kipas
yang berwarna merah juga. Dan memang novel ini berkisah tentang kehidupan
gadis-gadis Tiongkok selama abad 19 yang setiap gerakannya sangat dibatasi
oleh tradisi.
Ini adalah roman tragedi tentang hubungan sepasang gadis yang menjadi
kembaran sehati atau '*laotong*'. Mereka adalah Lily dan Bunga Salju yang
sejak berumur delapan tahun telah dijodohkan untuk mengikat janji sebagai
sepasang laotong yang akan saling setia sepanjang masa.
Bukan, laotong bukanlah sepasang kekasih sejenis. Mereka dipasangkan untuk
menjadi sepasang gadis yang terikat satu sama lain secara emosional, dan
tidak ada interaksi yang menjurus erotis. Tidak sembarang gadis bisa
memiliki laotong, hanya mereka yang cukup sempurna dan memenuhi kriteria
tertentu yang bisa. Dengan memiliki laotong, derajat seorang gadis akan
meningkat dan layak menjadi menantu dari keluarga terpandang.
*Tentang Wanita dan Tradisi Cina*
Kisah ini dibuka dengan penderitaan yang harus dialami Lily saat ia baru
berumur tujuh tahun dan harus menjalani tradisi pengikatan kaki. Setelah
kakinya dalam proses pengikatan, keluarga Lily mendapat tawaran dari Madame
Wang untuk mencarikan Lily seorang laotong. Seorang gadis bernama Bunga
Salju dari desa Tongkou tampaknya berjodoh dengan Lily karena kebetulan
dilahirkan pada hari dan tahun yang sama dengan Lily. Mereka berdua juga
diikat pada hari yang sama. Pada usia delapan tahun mereka pun resmi menjadi
sepasang laotong.
Bunga Salju berasal dari keluarga terpandang, sementara keluarga Lily adalah
keluarga sederhana. Mama Lily sangat berharap bahwa perjodohan laotong itu
bisa mengangkat derajat Lily sehingga pantas menjadi menantu dari keluarga
yang jauh lebih beruntung daripada keluarganya.
Beberapa kali dalam setahun, Bunga Salju datang dan menginap di rumah Lily.
Mereka berdua saling belajar satu sama lain sembari menunggu datangnya
jodoh. Lily belajar tentang perilaku orang-orang terhormat dari Bunga Salju,
sementara Bunga Salju belajar tentang kegiatan rumah tangga dari keluarga
Lily. Di luar itu mereka berkomunikasi melalui sebuah kipas rahasia yang di
atasnya mereka tuliskan pesan dalam huruf2 rahasia nu shu secara bergantian.
Kipas itu mereka kirimkan bolak-balik dari Puwei ke Tongkou (lho? kok kayak
Nils dan Berit di buku sebelumnya??? :D )
Lily akhirnya mendapatkan apa yang diangankan kedua orang tuanya, ia
dipinang oleh anak kepala desa Tongkou yang sangat terhormat. Sementara
Bunga Salju ternyata malah kurang beruntung karena mendapatkan jodoh dari
keluarga sederhana dari desa Jintian.
Pertanyaanpun mulai berhamburan. Mengapa selalu Bunga Salju yang datang ke
rumah Lily, sementara Lily tidak pernah diajak ke rumah Bunga Salju?
Bagaimana bisa Bunga Salju yang berasal dari keluarga terpandang mendapatkan
jodoh dari kelas yang lebih rendah? Mampukah Lily dan Bunga Salju menjalani
kehidupan yang penuh tekanan dalam keluarga suami mereka masing2? Bagaimana
kelanjutan hubungan laotong mereka setelah status sosial Lily dan Bunga
Salju berubah dan bertukar?
*Tradisi Pengikatan Kaki*
Kisah ini sarat dengan deskripsi tentang tradisi kuno di Cina pada abad 19.
Berbagai macam ritual dan kepercayaan yang mungkin bagi kita yang hidup di
jaman modern ini terdengar aneh dan tidak masuk akal. Dan banyak dari
tradisi itu yang meletakkan wanita hanya sebagai manusia kelas dua.
Sungguh ngeri membaca penuturan tentang bagaimana pengikatan
kaki<http://en.wikipedia.org/wiki/Foot_binding>dilakukan terhadap
gadis-gadis kecil di Cina pada masa itu. Kaki diikat dan
dipaksa sedemikian rupa agar bisa berubah bentuk menjadi seperti bunga Lili
Emas yang mungil dan cantik. Karena kaki yang berbentuk bunga Lili Emas
adalah salah satu kriteria untuk menjadi wanita terhormat. Dan wanita
berkaki lebar yang tidak menjalani pengikatan kaki hanyalah pantas menjadi
pelayan. Semua itu demi status dan kecantikan yang relatif.
Pengikatan kaki juga melambangkan kepatuhan seorang wanita dan kemampuannya
bertahan dalam penderitaan. Mama Lily tak pernah bosan memberikan petuah
"hanya lewat penderitaan kau akan mendapatkan kecantikan". Tapi patuh dan
bertahan belumlah cukup, karena perlu keberuntungan untuk mendapatkan kaki
bunga lili emas. Sebagian meninggal karena infeksi, dan sebagian lagi
kakinya malah rusak tak berbentuk. Penderitaan yang sia-sia.
*Budaya yang Tidak Memihak Wanita*
Terkungkungnya kehidupan wanita menjadi menu utama dari kisah ini.
Sebagaimana kebanyakan dari budaya dan tradisi kuno di berbagai penjuru
dunia, wanita cina diletakkan hanya sebagai warga kelas dua dan sekedar
pelengkap dunia laki-laki.
Kehidupan laki-laki dan kehidupan wanita dipisahkan dengan jelas. Wanita
hanya boleh tinggal di ruangan lantai atas dan dapur. Tidak boleh keluar
rumah tanpa pengawalan. Di ruangan lantai atas mereka membordir, membuat
sepatu, atau sekedar bernyanyi dan berbagi cerita. Di luar itu adalah dunia
laki-laki yang tidak perlu mereka ketahui.
Bisa dibilang wanita diperlakukan layaknya hanya sebagai alat pembuat anak
laki-laki selanjutnya. Anak laki-laki adalah kebanggaan keluarga. Wanita
yang tidak mampu melahirkan anak laki-laki harus siap dibuang dari keluarga
suaminya. Sedangkan wanita yang mampu melahirkan banyak anak laki-laki telah
mendapat tiket untuk menjalani masa depannya dengan lebih baik, karena telah
memiliki pelindung dan penopang hidup.
*Sepasang Kembaran Sehati*
Drama yang dibangun dalam novel ini lebih menyorot tentang hubungan Lily dan
Bunga Salju sebagai sepasang laotong. Tradisi dan penderitaan menjadi latar
belakang layaknya arus air di sekitar mereka yang membuat hubungan mereka
naik atau turun atau malah terhempas di bebatuan. Penderitaan yang dialami
Lily dan Bunga Salju tidak didramatisir hingga mendayu-dayu, karena mereka
bisa tetap tegar menghadapinya dan tetap merasakan kebahagiaan karena ada
kembaran sehati yang selalu setia dan mendukung.
Drama dengan emosi mendalam baru tergambar saat Lily dan Bunga Salju
terbentur masalah rumit dalam hubungan mereka. Sebuah kesalah pahaman mampu
memporak-porandakan hubungan mereka yang sebenarnya telah berhasil melalui
berbagai macam peristiwa tragis.
Hubungan sepasang laotong memang sebuah hubungan yang sangat istimewa.
Bahkan dikatakan bahwa ikatan sepasang gadis sebagai kembaran sehati
posisinya lebih tinggi daripada ikatan pernikahan. Pembaca yang bebas
ber-'fantasi' mungkin akan segera mengidentikkan Lily dan Bunga Salju adalah
sepasang, maaf, lesbian. Karena memang mereka berdua banyak mengumbar kata2
cinta dan kata2 puitis romantis satu sama lain. Tapi hanya sebatas itu,
sebatas keterikatan hati, tidak lebih.
*Pedih, Penuh Perjuangan*
Kisah tentang wanita2 cina yang menyentuh, penuh dengan kepedihan tapi
mereka berusaha menghadapinya dengan ketegaran. Perjuangan hidup untuk
menjaga dan meraih kehormatan sebagai wanita yang dihargai semua orang
sungguh penuh batu cadas. Bukan hanya harus mampu bertahan di bawah aturan
tradisi yang merendahkan kedudukan mereka, tapi juga harus mampu bersaing
dengan wanita-wanita lain yang juga tidak ingin ditindas selamanya.
Melalui novel ini kita juga akan dibawa menyelami tradisi dan kebudayaan
Cina di abad 19 yang dikupas dengan detil. Rumitnya persiapan pernikahan
hingga hari pernikahan, njelimetnya aturan kehidupan yang berkelas-kelas,
sengsaranya menjadi wanita yang hanya diharapkan sebagai penghasil anak
laki-laki, semua itu memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan di
Cina pada abad 19.
Alur kisahnya terasa sedikit lambat, karena tampaknya penulis ingin
memasukkan sebanyak mungkin paparan tentang budaya Cina yang eksotis. Tapi
tidak menjadi membosankan, karena detil tentang budaya itu cukup menarik
juga untuk diikuti. Pembaca wanita mungkin akan menjadi marah terhadap
budaya yang sangat merendahkan kaum wanita itu, dan kemudian gemas dengan
kepasrahan tokoh2 wanita yang tidak mampu menentang tradisi. Namun ya itulah
yang terjadi pada masa itu, ini hanya cerita tentang masa lalu yang semoga
bisa menjadi guru untuk masa sekarang.
PS.
Eh, sebentar... waktu aku selesai membaca novel ini, menutupnya dan
meletakkannya di tumpukan novel2, kok kayaknya ada yang aneh...
Ah! itu dia!... kenapa kok tulisan di samping sampulnya terbalik ya kalau
dibandingkan yang lain?
Sengaja pengen tampil bedakah? atau memang tidak ada aturan baku untuk
posisi tulisan di punggung buku? Tapi kan jadi aneh kalo dijajarkan dengan
novel2 lain... :)
--
Q-inside : http://qyu.blogspot.com
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___
----------------------------------------------------
Mail Archives: http://groups.yahoo.com/group/himasad/
Untuk keluar dari keanggotaan milis:
kirim e-mail kosong ke alamat [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| School education | Pre school education |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "himasad" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
