Catatan lama. Maaf, kalau ternyata sudah pernah
dikirim Judul mewakili isi :)

***

Obrolan minggu pagi saat sarapan dengan
sahabat-sahabat memang menarik dan inspiratif. Dari
tema yang satu beralih ke tema yang lain dengan mulut
tak berhenti mengunyah, sementara tangan sibuk ambil
makanan ini dan itu. Kemudian sampailah pada keluhan
seorang sahabat tentang dua anaknya yang mengalami
kesulitan berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran.
Salah seorang dari dua anaknya itu malah sudah cukup
parah, sampai akhirnya dia merasa perlu untuk membawa
anaknya ke psikiater anak. Dia bertanya kepada kami,
apakah ada obat yang dapat membantu seseorang untuk
bisa berkonsentrasi. Sahabat saya yang lain
menyarankan agar anak tersebut dibawa ke alam bebas,
dibiarkan menikmati alam, melakukan olah raga, dan
agar dijauhkan dari televisi. Karena menurutnya,
televisi bisa merusak konsentrasi anak. Kemudian
berkembanglah percakapan menjadi diskusi yang menarik.

Salah seorang anaknya ada di situ bersama kami.
Seorang gadis manis yang duduk di kelas 8 dan mengeluh
kepada saya karena dia merasa tidak pernah bisa
mengerti mata pelajaran Fisika. Mata pelajaran yang
menurutnya tidak ada gunanya sama sekali. Saya tidak
bisa berkomentar banyak, karena saya pun tidak suka
dan tidak bisa Fisika. Saat saya tanya dia ingin
kuliah apa kelak, dia menjawab ingin mempelajari
komputer dan informatik (yang sebenarnya berhubungan
banyak dengan fisika dan matematika, dua mata
pelajaran yang tidak disukainya). Alasan kenapa dia
ingin mempelajari komputer dan informatik adalah
karena dia suka internet dan permainan di komputer.
Namun, dia kemudian menekankan, yang dia sukai dari
internet adalah chatting dan permainan online
interaktif yang bisa dilakukannya bersama
teman-temannya.

Diskusi yang berkembang tadi jadi mengarah ke hal-hal
apa yang sebaiknya dilakukan agar seorang anak bisa
berkonsentrasi penuh saat dia belajar. Fokus pada satu
hal saja. Disarankan: jauhkan anak dari televisi dan
internet. Sudah disadari bahwa kedua media tersebut
bisa membuat seseorang kecanduan, duduk berjam-jam di
depannya, sampai lupa segala. Itu mungkin termasuk
berkonsentrasi juga: ada di depan TV dan komputer.
Tapi, apa yang dilakukan? Di depan TV tetap saja tidak
berkonsentrasi pada satu acara, melainkan sibuk
mengganti-ganti saluran jika tidak ada acara yang
menarik atau saat sebuah acara sedang menayangkan
iklan. Di depan komputer? Bisa membuka beberapa window
pada waktu yang bersamaan. Apalagi jika komputer
dilengkapi internet. Sambil menunggu satu site
terbuka, bisa langsung membuka site yang lain. Jika
sedang membaca satu artikel, bisa langsung klik link
yang lain. Belum lagi saat chatting. Begitu tampil
visible, bermunculanlah box-box percakapan. Dalam satu
waktu bisa „melayani“ banyak orang. Tidak cukup dengan
„bicara“ dengan satu orang, bisa juga dilakukan secara
bersamaan lewat conference. Tidak hanya lewat tulisan,
lewat suara pun bisa. Bahkan jika dilengkapi dengan
webcam bisa tampil visual juga.

Dunia menjadi lebih kecil. Jarak tidak ada lagi. Waktu
pun berhasil dilompati. Informasi datang berlebih pada
waktu yang sangat singkat. Banjir informasi. Sampai
otak dan mata pun rasanya tidak punya kesempatan lagi
untuk menyaring dan menyeleksi mana yang harus
disimpan dalam memori, mana yang dibiarkan lewat saja.
Akibatnya, semua hanya masuk sekilas-sekilas dan
keluar dengan cepat. Secepat tampilan window yang
terbuka dengan satu kali klik saja. Sampai mata pun
rasanya tidak sempat berkedip, box-box percakapan
sudah bermunculan minta ditanggapi. Terlebih jika
koneksi internetnya sangat cepat, membuka beberapa
site bisa hanya dalam hitungan detik saja. Kalau
koneksi internet lambat, yang untuk membuka satu site
saja, meminjam istilah salah seorang teman, lamanya
bisa „empat tahun monyet“, orang masih bisa melakukan
hal yang lain. Sambil menunggu satu site terbuka, bisa
masak dulu atau makan dulu.

Semua hal dikerjakan dalam waktu bersamaan. Akibatnya
tidak ada lagi waktu dan kebiasaan untuk fokus dan
konsentrasi pada satu hal. Orang jadi cepat bosan,
karena ada hal-hal lain yang lebih menarik untuk
dilihat. Otak dan mata tidak terlatih lagi untuk
fokus. Wajar saja rasanya jika kemudian banyak orang
menderita gangguan konsentrasi. Selain itu, orang juga
bisa menjadi cepat lupa, karena semua informasi bisa
didapat dengan sekali klik atau tekan. Ingatan hanya
jadi ingatan jangka pendek saja. Paling banter jangka
menengah. Ingatan jangka panjang hanya terjadi jika
ada hal yang benar-benar istimewa.

Semua yang hadir saat sarapan tadi memberi komentar
yang sama, bahwa sampai pada titik tertentu teknologi
yang semakin maju malah membuat manusia jadi tidak
„manusiawi“ lagi, dalam arti semua jadi mengandalkan
mesin dan teknologi. Mesin dan teknologi yang pada
tujuan awalnya dibuat untuk membantu manusia malah
justru membuat manusia jadi tergantung padanya. Tidak
hanya tergantung, tapi sudah sangat tergantung sampai
jika tidak ada membuat hidup seakan lumpuh. Kadang
orang bahkan mengeluarkan uang lebih untuk mesin dan
teknologi itu daripada untuk makan atau pakaian yang
layak. Telefon genggam bukan lagi sekedar alat
komunikasi yang mungkin awalnya dibuat agar seseorang
mudah dihubungi dan menghubungi di mana saja. Dia
sudah berubah fungsi menjadi „gaya hidup“ dan
„penghubung dunia“.

Komputer tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat
„penghitung“ seperti makna awal kata 'compute' yang
berasal dari bahasa Latin 'computare' yang artinya
menghitung. Tapi ternyata kata komputer yang berasal
dari bentukan awal 'con' dan 'putus' ini juga bermakna
„bersih, membersihkan“, bahkan kata 'putare' sendiri
juga memiliki makna „memotong, mengamputasi“.
Memotong, membersihkan, dan mengamputasi apa? Menarik
juga untuk dipikirkan lebih lanjut. Tafsirannya sudah
tampak jelas. Komputer yang dilengkapi internet bahkan
bisa meringkas dan menghubungkan dunia dalam satu
kotak logam.

Berguna? Tentu saja. Tetapi semua hal ada sisi baik
dan buruknya. Sepanjang tidak berlebihan. Idealnya
begitu. Pada kenyataannya tetap saja sulit untuk
menyeimbangkan. Pada dasarnya manusia memang selalu
ingin berlebih dalam satu atau beberapa hal saja.
Akibatnya, ketika hal tersebut hilang, atau rusak atau
tidak ada, maka rasa kehilangannya pun akan terasa
besar. Bahkan rasanya „separuh nyawa“ diambil. Begitu
mungkin analogi hiperbolisnya.

Kami, yang ada saat sarapan, berkomentar dengan sadar
bahwa mesin dan teknologi selain membawa keuntungan,
juga ada kerugiannya. Kenapa kami bisa berkomentar
dengan lancar soal kerugian dan keuntungan itu? Karena
kami mengalaminya sendiri. Kami adalah orang-orang
yang sudah „sangat tergantung“ pada mesin dan
teknologi tadi.

Telefon genggam adalah satu hal yang diingat pertama
kali saat akan pergi. Tidak boleh ketinggalan. Hidup
ada di situ. Semua nomor telefon tersimpan di situ.
Suatu hal yang dulu bisa diingat di dalam kepala,
sekarang bisa dilihat dengan sekali tekan. Jika sedang
bosan menunggu, ibu jari bisa bermain menekan keypad
untuk „berbincang“ lewat sms.

Komputer dengan internet? Itu dunia kami sekarang. Hal
yang dilakukan pertama kali setelah bangun tidur
adalah menyalakan komputer yang terkoneksi ke internet
untuk kemudian menyapa orang-orang di seberang benua
dan samudera. Komputer pula yang dimatikan terakhir
kali menjelang tidur. Tidak ada komputer dan internet
bisa kelabakan. Karena artinya tidak bisa menyapa
teman-teman di dunia maya lagi, tidak bisa chatting
sampai tertawa-tawa sendiri, ketinggalan informasi
terbaru, rasanya jadi terisolir. Padahal dengan
internet semua bisa dilakukan hanya dengan duduk dan
sekali klik. Belanja, berkomunikasi, mencari
informasi, belajar (termasuk belajar memasak yang dulu
dilakukan dengan trial and error sendirian), bahkan
membaca kitab suci pun bisa lewat komputer dan
internet (apakah namanya masih tetap kitab? Saya tidak
tahu). Untuk yang tinggal bukan di komunitas muslim,
adzan untuk panggilan shalat pun bisa diset otomatis
di komputer.

Menguntungkan? Tentu saja. Kami menikmatinya. Saking
menikmatinya, kami sampai sering lupa bahwa sudah
banyak waktu yang lewat karena kami terlalu banyak
duduk di depan komputer dan internet melakukan entah
apa. Saking menikmatinya, ketika suatu saat komputer
itu rusak atau koneksi internet tiba-tiba putus, maka
paniknya luar biasa. Saking menikmatinya, ketika
seseorang „menghilang“ dari „peredaran“ dunia maya,
maka kita pun ikut kehilangan. Lucu memang. Urusan
perasaan tetap tidak bisa digantikan dengan mesin dan
teknologi tadi. Tidak ada perasaan yang virtual.
Perasaan tetap nyata. Ketika teman chatting kita
menyinggung perasaan kita, maka tetap saja kita merasa
sebal, dan itu tidak virtual. Jika harus pacaran jarak
jauh, tetap saja perasaan rindu tidak bisa digantikan
dengan rindu virtual. Apalagi jika patah hati. Patah
hatinya tidak bisa virtual. Tetap saja sakit.

Merugikan? Iya juga. Rekening listrik jadi naik,
karena penggunaan komputer yang non-stop. Kalau pasang
internet masih analog, maka rekening telefon ikut naik
pula. Jika pakai DSL, biasanya ada ekstra biaya
walaupun orang jadi lupa karena fasilitas internet
yang online 24 jam. Belum lagi ditambah untuk bayar
pulsa atau biaya pemakaian bulanan telefon genggam.
Belum puas, masih ada pula fix telephone di rumah.
Lainnya? Belum lagi kalau ada kerusakan, belum lagi
kalau tergiur ingin tambah feature yang lebih canggih,
lebih cepat, dan lebih menarik. Ingin lebih, lebih dan
lebih.

Kenapa kami bisa lancar berkata bla bla bla seperti
itu? Ya, karena kami kemudian membuat “pengakuan”
tentang kebiasaan dan ketergantungan kami. Sambil
bekerja di laboratorium, teman saya yang doktor di
bidang fisika masih sering melihat film dan membuka
site-site lain di luar urusan kerjanya. Belum lagi
online jurnal yang dia ikuti dan masih juga sering
chatting dan menonton soap opera berjam-jam. Tidak
saja di rumah, tapi juga di kantor. Salah seorang
teman, calon doktor di bidang biologi, juga melakukan
hal yang sama. Chatting tidak pernah ketinggalan,
apalagi kalau sedang rindu rumah. Teman yang lain,
master di bidang ekonomi, juga ketergantungan pada hal
yang sama ditambah dengan telefon yang bisa
berjam-jam. Saya? Tidak jauh beda. Saya chatting,
membuat jurnal online setelah dipaksa oleh salah
seorang teman, dan akhirnya dia berhasil, apalagi
dengan fasilitas internet 24 jam dengan biaya sangat
murah dan koneksi super cepat. Semua bisa saya lakukan
di kamar. Dunia saya ada di depan kotak logam metalik,
yang sempat „koma“ karena „minum wedang jahe“, dengan
telefon di sebelah kirinya.

Kami semua akhirnya membuat pengakuan tentang
ketergantungan kami pada tiga hal tadi: telefon
genggam, komputer dan internet. Kami tidak terlalu
tergantung pada televisi dengan alasan yang
berbeda-beda. Karena ketergantungan itu, kami
mengalami „penyakit“ yang juga sudah kronis: gangguan
konsentrasi. Seperti saat menulis ini misalnya, saya
tidak bisa berkonsentrasi penuh, karena saat
menuliskan satu kalimat, saya langsung berpikir ke
sana ke mari. Saya ingin menulis banyak hal. Akibatnya
malah saya jadi melantur ke mana-mana, tidak sesuai
dengan ide yang berdesakan sebelumnya di kepala. Tidak
bisa saya runut. Saat menulis ini juga saya masih
sempat klik sana sini untuk mencari informasi yang
dibutuhkan. Walaupun itu juga sebenarnya hanya alasan
dan pembenaran bagi „penyakit kronis“ tadi. Nah, saya
sudah melantur lagi. Bisa terlihat dengan jelas pada
tulisan ini, bukan? Sebenarnya saya mau dan sedang
menulis apa, sih? Sekarang saya pun sadar mungkin
penyakit malas membaca yang semakin parah saya alami
juga merupakan akibat lanjutan dari penyakit kronis
ini.

Setelah komentar bla bla bla dari kami, sahabat saya,
si ibu yang mengeluh soal anaknya tadi, yang kemudian
jadi terheran-heran. Tidak dinyana, teman-temannya
yang mungkin dipikirnya bisa memberikan saran atas
masalah yang dihadapi anaknya, malah menderita
penyakit yang sama, bahkan lebih parah. Sementara
ibunya terheran-heran, anak gadisnya tersenyum-senyum
dengan senangnya. Dia tidak sendiri. Orang-orang
dewasa yang ada di sekitarnya, yang seharusnya bisa
lebih dewasa dan mampu mengontrol dirinya sendiri,
ternyata lebih parah darinya.

Bayreuth, 050306

21:00

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


----------------------------------------------------
Mail Archives: http://groups.yahoo.com/group/himasad/

Untuk keluar dari keanggotaan milis:
kirim e-mail kosong ke alamat [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/himasad/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke