Originally from : Ronny Purwadi <[EMAIL PROTECTED]>
Originally dated: Thu, 02 Dec 1999 10:00:58 +0700

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~<e-Software>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~Forum Diskusi Software dan Internet untuk Kristen-Katholik~~~~~~~




-------- Original Message --------
From: adnan basalamah <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Teknologi Telepon Indonesia Sudah Uzur
To: ITB-Netz <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], Pau-Mikroz
<[EMAIL PROTECTED]>


Teknologi Telepon Indonesia Sudah Uzur.

Onno W. Purbo, Luthfi K. Arif dan Adnan Basalamah.
Computer Network Research Group ITB.

Kemungkinan akan ada beberapa pendapat yang akan timbul dengan
penggunaan
judul di atas. Jika kita memihakan diri pada rakyat Indonesia yang
menjadi
pengguna jasa telepon, pertanyaannya sederhana saja ^� apa yang akan di
^�derita^� oleh rakyat dengan penggunaan teknologi uzur tersebut?
Jawaban
singkatnya juga sederhana ^� tarif telepon menjadi tinggi. Belum lagi di
tambah tidak efisiensinya manajemen di Indonesia yang menyebabkan
penambahan
biaya overhead yang lumayan. Terlepas dari masalah manajemen, mari pada
kesempatan ini kita pandang masalahnya dari sisi netral sudut teknologi
saja. Seharusnya judul yang dipilih adalah ^�Mengapa rakyat yang harus
menanggung kesalahan kebijakan teknologi telekomunikasi yang salah?^�.

Jika kita membaca beberapa tulisan yang berkaitan dengan Telekomunikasi,
contohnya ada beberapa buah di Bisnis Indonesia, tampak bahwa
argumentasi
akan bertumpu pada investasi US$ yang cukup mahal per SST dan rendahnya
pendapatan per SST sehingga masa payback dibutuhkan waktu yang relatif
lama
yaitu 10-15 tahun. Salah satu yang eksplisit adalah artikel ^�Tarif
telepon
naik salah, tak naik salah^� yang merupakan laporan khusus pada tanggal
14
Oktober 1999 - dalam artikel tersebut ditulis secara eksplisit bahwa
investasi teknologi yang digunakan oleh Telkom sekitar US$1000-1250 per
SST
dengan pemasukan US$125 / line / tahun. Kemudian dengan berbagai kondisi
/
argumentasi tampaknya operator jaringan telekomunikasi kita di Indonesia
sudah bersusah payah untuk berjuang supaya jaringan telekomunikasi di
Indonesia menjadi layak & affordable digunakan oleh masyarakat
indonesia.

Komentar singkatnya. Dengan kebijakan teknologi & manajemen yang dipilih
oleh telkom / operator jaringan telekomunikasi yang ada sekarang dan
dengan
adanya monopoly dll ^� harga yang diberikan Telkom / Indosat adalah
harga
yang tampaknya minimal yang bisa diperoleh masyarakat dengan teknologi &
manajemen yang mereka pakai sekarang. Akan tetapi perlu di ingat disini
bahwa masyarakat pengguna tidak diberikan pilihan / alternatif untuk
memilih
jika mereka ternyata mampu untuk membangun sendiri jaringan
telekomunkasinya
karena dari sisi hukum ^� semua jaringan telekomunikasi harus di
selenggarakan oleh operator jaringan yang memperoleh lisensi dari
pemerintah.

Pertanyaannya sekarang ^� apakah tidak ada alternatif teknologi
telekomunikasi yang lain? Apakah US$1000-1250 / SST merupakan
satu-satunya
alternatif teknologi? Apakah tidak ada teknologi telekomunikasi lain
yang
bisa menekan harga SST dibawah US$1000? Jelas kalau ternyata US$1000
adalah
bottom-line dari harga teknologi telekomunikasi dengan kualitas yang
baik
maka kita semua (bangsa Indonesia) tidak punya banyak pilihan kecuali
mengikuti pola tarif yang digunakan Telkom / Indosat yang di setujui
oleh
Pemerintah sesuai UU 36/1999. Respons kami yang singkat adalah ^�
alternatif
teknologi telekomunikasi yang lebih murah itu ada & cukup banyak
tersedia -
kami melihat banyak alternatif teknologi yang berkembang saat ini yang
mampu
menekan harga per SST menjadi jauh dibawah US$1000. Selain itu di
Indonesia
saat ini sangat banyak idle capacity terutama di operator-operator
jaringan
selular, jika saja monopoly Telkom / Indosat tidak ada maka sebetulnya
idle
capacity tersebut dapat digunakan dan dapat menekan biaya telekomunikasi
lebih murah lagi.

Sebelum membicarakan lebih lanjut, dimana kita semua dapat melihat
alternatif tersebut? Bagi para pembaca yang mempunyai akses Internet
sangat
kami sarankan untuk melihat-lihat http://www.pulver.com/gateway/ yang
memiliki daftar panjang teknologi telepon di masa datang terutama
menggunakan Internet, mulai dari suplier komponen gateway, perangkat
keras &
perangkat lunak untuk gateway, IP based PBX / PABX, low density gateway,
IP
gatekeeper, IP telepon billing sistem, FAX melalui IP telepon dll.
Referensi
yang sangat menarik untuk melihat operator telekomunikasi generasi
mendatang
ada baiknya melihat pada http://www.pulver.com/nextgen yang banyak
membahas
tentang operator telekomunikasi generasi mendatang, bahkan ada beberapa
operator yang menspesialisasikan dirinya pada minute exchange dan
bandwidth
exchange untuk pembicaraan telepon yang mungkin sulit dibayangkan dalam
environment monopoly yang ada di Indonesia sekarang. Jangan kaget kalau
ternyata sangat banyak sekali operator telekomunikasi generasi mendatang
yang menumpukan teknologinya pada teknologi Internet yang jelas lebih
murah
per SST-nya di bandingkan investasi teknologi yang dilakukan oleh Telkom
/
Indosat. Secara umum investasi infrastruktur internet telepon bisa
mencapai
sekitar 10 kali lebih murah dibandingkan infrastruktur telepon
konvensional.

Bagaimana kondisi di dunia global saat ini? Seperti kami sarankan
sebelumnya
ada baiknya coba untuk membaca http://www.pulver.com/nextgen untuk
informasi
lebih lanjut. Secara umum sebagian besar dari kebijakan teknologi yang
diusulkan untuk membangun telkom generasi mendatang akan berbasis pada
teknologi internet (istilahnya IP-centric network) yang saat ini menjadi
alternatif utama bagi pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang
murah
dan reliable.

Jangan terlalu kaget kalau Frank Ianna, presiden direktur dari AT&T
Network
Services telah menghentikan pembelian semua peralatan switch telepon
tradisional mereka hanya akan melakukan investasi menggunakan peralatan
IP-centric network. Jadi sebuah kebijakan yang sangat salah jika Telkom
/
Indosat / operator telkom di Indonesia jika mereka masih berkutat dengan
teknologi telepon tradisional ^� jelas harga jual ke pasar akan tinggi &
menjadi beban konsumen. Belum lagi jika IP-centric network ini
digabungkan
dengan jaringan dengan bandwidth lebar yang memungkinkan konvergensi
multimedia dengan infrastruktur telekomunikasi, sehingga membuka peluang
yang besar bagi usaha telekomunikasi mulai dari conference calling,
integrasi internet kecepatan tinggi ke telepon, entertainment dll.

Mengapa IP-centric network? Internet saat ini menjadi sebuah unifying
dan
enabling protokol bagi semua jenis / bentuk komunikasi. Karena
infrastruktur
internet sangat ekonomis dibandingkan jaringan tradisional.
Pengembangkan
infrasruktur internet membutuhkan waktu beberapa minggu dibandingkan
infrastruktur telepon tradisional yang membutuhkan waktu beberapa bulan
bahkan tahun. Internet memungkinkan pemaksimuman penggunaan jaringan
telekomunikasi tradisional yang membutuhkan sambungan khusus setiap
pelanggan menjadi bit informasi dengan banyak sumber pada Internet. Oleh
karena rendahnya kebutuhan teknis maupun biaya infrastruktur ditambah
dengan
fleksibilitas yang sangat tinggi dari Internet akan menjadi penyebab
utama
penggunaan Internet sebagai  infrastruktur utama telkom generasi
mendatang.

Supaya pembicaraan kita mencapai bottom-line dengan cepat pertanyaan
lebih
lanjutnya adalah - berapa perkiraan harga jika kita menggunakan
teknologi
Internet / internet telepon? Mari kita membahas secara bertahap
alternatif
teknologi telekomunikasi yang digunakan baik dari jaringan lokal,
jaringan
regional maupun jaringan internasional.

Untuk jaringan telekomunikasi lokal (jarak 5-10 km) dari pengalaman kami
di
CNRG ITB & AI3 Indonesia di lapangan maka barangkali alternatif yang
paling
murah sejauh ini adalah teknologi CDMA IEEE 802.11 yang mempunyai
kecepatan
2-11 Mbps bekerja pada frekuensi 915MHz, 2.4 GHz, 5.6GHz & 10GHz. Dengan
2Mbps data jika kita menggunakan prinsip codec PCM biasa yang digunakan
Telkom maka 2Mbps kira-kira ekivalen dengan 30 SST, sedang jika kita
menggunakan kompresi internet telepon seperti G.723 maka 2Mbps kira-kira
sama dengan 200 SST! Berapa biayanya? Investasi peralatan yang kami
gunakan
adalah sekitar US$6000 untuk sambungan 2Mbps di 2.4GHz ^� jika kita
menggunakan codec PCM biasa (30 SST), maka biaya investasi saluran lokal
adalah sekitar US$200 / SST, bayangkan jika kita menggunakan codec G.723
maka biaya investasi saluran lokal adalah US$30 / SST artinya sekitar
1/30
lebih murah dibandingkan dengan investasi yang dilakukan oleh Telkom /
Indosat saat ini. Belum lagi jika kita menggunakan peralatan 11Mbps yang
harganya hanya sekitar 2 kali peralatan 2Mbps artinya investasi per
SST-nya
dapat di banting menjadi beberapa US$ saja sehingga penggunakan
telekomunikasi di Indonesia akan semakin ceria bukan? Semua teknologi
ini
sudah ada & kami di CNRG ITB telah biasa menggunakannya sejak 2-3 tahun
belakangan ini yang jika digunakan dengan baik akan memberikan kualitas
yang
baik - Menarik bukan?

Argumentasi selanjutnya mungkin pada peralatan switching telepon yang
digunakan. Peralatan yang digunakan di kantor-kantor telepon saat ini
terus
terang bukan peralatan yang murah orde-nya mulai dari beberapa milyar
bahkan
mungkin ratusan milyar untuk peralatan yang dapat menghandel ratus ribu
SST.
Bagaimana dengan internet telepon, sekarang ini berkembang keluarga
protokol
H.323 yang berfungsi sebagai ^�sentral telepon^� dan dapat berbicara
dengan
sentral telepon konvensional ^� yang menarik, keluarga H.323 ini
dijalankan
di komputer bukan di sentral telepon, jadi yang harus kita invest adalah
komputer dengan memory yang cukup besar dengan kecepatan yang cukup
tinggi
untuk menghandle ratus ribu sambungan tadi. Tentunya bisa kita bayangkan
bahwa harganya akan jauh lebih rendah dibandingkan sentral telepon
tradisional yang digunakan oleh operator jaringan telekomunikasi di
Indonesia sekarang. Harga switch internet telepon dapat mencapai 30 ^�
70 %
lebih rendah dibandingkan harga switch tradisional, dengan kapasitas
yang
sama ditambah dengan kemampuan yang jauh lebih menarik. Sebagai contoh,
switch IP telephony yang dibuat oleh Summa Four (telah diakuisisi oleh
Cisco
System) menawarkan kemampuan yang sama dengan switch tradisional
ditambah
dengan kemampuan programmable. Kemampuan programmable ini menawarkan
penyedia jasa telekomunikasi melakukan pemrograman pada switch untuk
disesuaikan dengan jasa yang akan ditawarkan ke pelanggan, tentu saja
dengan
biaya yang lebih murah dan membebaskan ketergantungan dari vendor. Tanpa
kemampuan programmable, biasanya perusahaan telekomunikasi harus
mengganti
perangkat lunak pada switch yang digunakan secara periodik guna
menambahkan
atau melengkapi feature dari switch tersebut. Tentu saja proses
penggantian
ini tidak murah dan ditambah dengan jenis serta bentuk jasa yang
diberikan
sangat terbatas pada feature yang ada pada perangkat lunak tersebut.
Informasi switch ini dapat dilihat di http://www.vco4k.com atau di
http://www.cisco.com/warp/public/cc/cisco/mkt/ps/vco4k/index.shtml.
Developer switch internet telepon adalah Excel Switching (baru
diakuisisi
oleh Lucent Technologies) dengan informasi yang dapat dilihat pada
http://www.xl.com

Tentunya solusi switch H.323 ini bukan hanya di monopoly oleh operator
jaringan telekomunikasi ^� tetapi wartel / kantor kecil / usaha rumahan
(SOHO) pun dapat menggunakan solusi H.323 dalam bentuk PC biasa yang
menjalankan software H.323 sebagai virtual PBX software tersebut dapat
di
beli di http://www.quicknet.net yang biasanya di bundle dengan perangkat
keras Internet PhoneJACK untuk membantu kompresi G.723 pada internet
telepon. Total harga untuk kelas SOHO ini berkisar sekitar US$200-300 /
unit
yang bisa dipakai oleh beberapa sambungan sekaligus ^� artinya masih
lebih
murah dibandingkan investasi per SST dengan  teknologi telekomunikasi
tradisional. Arti dari semua ini lagi-lagi investasi peralatan dengan
teknologi mendatang dapat ditekan lebih rendah daripada teknologi
telekomunikasi tradisional.

Jika diperhatikan dengan baik dari penjelasan di atas maka sebetulnya
model
pengembangan infrastruktur telekomunikasi akan lebih distributed
dibandingkan dengan kondisi jaringan telekomunikasi dengan teknologi
tradisional yang ada sekarang. Teknologi Internet memungkinkan
terbentuknya
sebuah jaringan telekomunikasi yang sangat terdistribusi dengan banyak
switch / sentral / PBX terkait di dalamnya. Konsep WARTEL / WARNET akan
berubah dengan dipasangnya switch / sentral / PBX secara lokal. Di
perkantoran / kompleks perumahan, investasi kabel jaringan menjadi
rendah
karena kita cukup menarik satu saluran kecepatan tinggi ke lokasi yang
kemudian di kaitkan ke sentral kecil sebelum di sebarkan ke pengguna.
Semua
ini hanya dimungkinkan jika teknologi internet dapat di adopsi tanpa
terbentur dengan proses monopoly / regulasi yang berlangsung. Kami
merencanakan untuk mengadakan roadshow seminar mensosialisasikan
teknologi
WARNET, internet telepon ini yang akan di mulai Insya Allah pada tanggal
29
Januari 2000 di Aula Barat ITB ^� informasi lebih lanjut pada
[EMAIL PROTECTED]

Bagaimana dengan jaringan telekomunikasi regional & internasional,
konsep
yang sama sebetulnya berlangsung - terus terang jika kita ingin kualitas
yang baik dengan harga yang relatif murah per SST-nya maka kita
sebaiknya
menggunakan fiber optik atau microwave dengan bandwidth lebar. Detailnya
mungkin agak sulit dijelaskan dalam tulisan singkat ini. Secara garis
besar
ada beberapa alternatif yang bisa kita gunakan:

1. Saat ini ada banyak sekali bandwidth yang idle di jaringan
telekomunikasi
di Indonesia terutama di operator-operator selular. Sebagian besar
bandwidth
ini mengggunakan microwave bandwidth lebar & fiber optik dan dapat
diperoleh
dengan harga murah. Jika saja monopoly tidak ada maka bandwidth idle ini
dapat digunakan dan dapat menekan harga.
2. Melakukan unbundling komponen infrastruktur telekomunikasi, contohnya
kita dapat menyewa hanya fiber optik-nya saja bukan end-to-end solution.
Proses unbundling harus dibuat transparan ke publik sehingga publik
dapat
dengan mudah memilih jasa mana yang dia inginkan tapi tidak semua
komponen
di sewa.
3. Ijin untuk melakukan resale infrastruktur telekomunikasi,
sederhananya
operator telkom generasi mendatang diijin untuk membeli hanya fiber
optik
milik Telkom sekarang yang kemudian dijual lagi untuk SLJJ dengan biaya
murah ke pasar.
4. Sebagai gambaran saja, kita dapat menyewa saluran SLI internasional
minimal 1/3 lebih murah jika kita dapat  langsung melakukan bisnis
dengan
operator internasional tanpa melalui operator jaringan SLI di Indonesia
yang
ada sekarang. Hanya regulasi di Indonesia menutup kemungkinan itu semua.
5. Alternatif lain jika kita bermodal besar ^� melakukan investasi
jaringan
telekomunikasi sendiri umumnya berbandwidth lebar dan jarak jauh.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan inspirasi bagi kita semua
bahwa
sebetulnya cukup banyak alternatif teknologi infrastruktur jaringan
telekomunikasi yang tersedia. Pertanyaannya, fairkah jika kita
membiarkan
masyarakat / pengguna menanggung beban kesalahan pemilihan / kebijakan
teknologi oleh operator jaringan telekomunikasi? Bolehkan masyarakat /
bangsa ini memilih ^� jika ternyata ada alternatif teknologi yang
ternyata
lebih murah & lebih baik? Kami mengerti posisi pemerintah menjadi serba
sulit karena sudah menjanjikan investor Indosat & Telkom proteksi pada
saat
IPO disamping tugas yang dibebankan untuk ^�melindungi^� aset bangsa
berupa PT
Telkom & PT Indosat (yang notabene sekarang sudah merupakan public
company
bukan BUMN lagi). Sulit memang, tapi mau tidak mau kita harus melalui
hal
ini semua untuk kepentingan bangsa Indonesia.

I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% e-Software
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN!  Mazmur 111:10a / Amsal 9:10a
-----------------------------------------------------------------------
        WEB---> http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-software
  SUBSCRIBE---> To:   [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong
UNSUBSCRIBE---> To: [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong

Ayo. Mampir di Muara Informasi Kristen [MIK] http://www.sabda.org

Kirim email ke