~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~<e-Software>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~Forum Diskusi Software dan Internet untuk Kristen-Katolik~~~~~~~ URL : http://www.tempo.co.id/majalah/index-isi.asp Ilmu & Teknologi NO. 46/XXVIII/17 - 23 Jan 2000 Kekayaan Genetik yang Tersembunyi Indonesia ternyata menyimpan kekayaan informasi genetik yang sangat mahal nilainya. Bila mau, keanekaragaman genetik itu bisa dijual. _________________________________________________________________ NEGERI ini memang tengah bangkrut. Tapi Indonesia juga negara yang kaya-raya. Kekayaan yang tersimpan di negeri ini sungguh luar biasa. Bukan hanya memiliki sumber daya alam, republik ini juga punya keragaman genetik. Ketika proses revolusi pengobatan tengah menggeliat, saat ini, keragaman genetik-selain yang homogen-adalah salah satu sumber informasi yang sangat dibutuhkan. Kekayaan alami yang dimiliki negara ini, karena itu, mungkin tak akan cukup bila dihargai dengan jutaan dolar Amerika saja. Lihat saja yang terjadi di Islandia. Saat ini, penduduk Islandia yang cuma 270 ribu orang itu tengah menjadi obyek penelitian suatu perusahaan bioteknologi guna dibaca materi genetiknya. Sejak Desember 1998, pemerintah Islandia memang telah mencatatkan diri sebagai negara pertama di dunia yang menjual hak pengodean genetik penduduknya. Harganya, bukan main, mencapai US$ 200 miliar. Dan ini bukan satu-satunya yang diperoleh Islandia. Bila kelak dari penelitian itu dihasilkan obat-obatan, negara kaya itu masih akan mendapatkan royalti. Bagi peneliti dan industri farmasi, Islandia memang negara yang menarik. Penduduk negeri ini telah begitu lama terisolasi sehingga bersifat homogen: bermata biru dan berambut blonde. Kelebihan lain, negara ini menjaga baik catatan riwayat kesehatan (medical record) warganya. Dengan catatan itu, para peneliti akan lebih mudah melakukan studi yang tak ternilai dalam genetika manusia, khususnya yang berkaitan dengan pengetahuan mendasar mengenai sejumlah penyakit. Dari penelusuran itu, nantinya, akan dikembangkan obat-obatan baru yang pendekatannya sama sekali berbeda dengan obat-obatan yang kini digunakan dalam dunia kedokteran. Setidaknya, dari pembacaan materi genetik penduduk Islandia ini, Hoffman-La Roche, Swiss-perusahaan farmasi yang punya hak eksklusif untuk mengakses datanya-berharap bisa mengungkap gen-gen orisinal yang menyebabkan 12 jenis penyakit. Penjualan kode genetik penduduk Islandia ini sendiri awalnya tidak berlangsung mulus. Sebelumnya, pro-kontra berlangsung cukup panas. Sementara sebagian besar warga Islandia mendukung, sejumlah ilmuwan dan dokter justru menentang dengan keras. Selain mempersoalkan monopoli data oleh Hoffman-La Roche, mereka mengkhawatirkan kerahasiaan catatan kesehatan warga Islandia. Toh, riuh seperti itu tak menghalangi industri farmasi untuk berburu informasi genetik. Suksesnya perusahaan farmasi menembus Islandia justru mengilhami perusahaan lain untuk melakukan kegiatan serupa. Indonesia rupanya termasuk yang dilirik. Menurut Sangkot Marzuki, pakar biologi molekuler yang memimpin lembaga penelitian Eijkman, Jakarta, beberapa perusahaan dari Eropa dan Jepang sudah ada yang mendekatinya. Mereka, kata Sangkot, menanyakan kemungkinan untuk bisa masuk dan mengakses keanekaragaman gen di Indonesia. Untuk meneliti dan mengembangkan obat-obatan dengan pendekatan genetika, memang dibutuhkan bukan hanya populasi yang homogen, tapi juga yang beraneka ragam. Tak aneh bila Indonesia-meski belum begitu dikenal dunia-masuk dalam hitungan. Memang, semua ini masih dalam taraf penjajakan. Namun, hal itu menunjukkan potensi luar biasa yang dimiliki negeri ini. Indonesia punya populasi yang terisolasi dan homogen. Dengan kekayaan etnisnya, negara ini juga memiliki populasi yang beraneka ragam. Sangkot, yang bersama timnya telah menyelesaikan penelitian keanekaragaman genetik pada 28 populasi di Indonesia, memperkirakan ada lebih dari 500 grup etnis yang dimiliki Indonesia. Karena itu, bisa terbayangkan betapa mahalnya harga yang harus dibayarkan untuk membeli hak pengodean genetik penduduk negeri ini. Sayangnya, populasi di Indonesia nyaris tak punya catatan kesehatan yang "layak jual". "Sebab, sebenarnya, yang dijual Islandia adalah materi genetik dan medical record. Dengan begitu, kalau tidak ada medical record-nya, menjadi tidak berguna. Sementara itu, pelayanan kesehatan di sini kan masih rendah," kata Sangkot. Meski demikian, itu tak berarti apa yang dimiliki Indonesia lalu menjadi tak berguna. Menurut Sangkot, justru ketiadaan catatan kesehatan itu bisa dijadikan salah satu syarat yang harus diajukan kepada perusahaan bioteknologi yang tertarik mengakses kode genetik populasi Indonesia. Jadi, mereka bisa mengakses asalkan juga melakukan pelayanan kesehatan penduduk. Masalahnya: apakah warga dan pemerintah Indonesia sendiri siap menjual kekayaan tersembunyi yang dimilikinya itu? Sejumlah pertanyaan pasti akan timbul, terutama pada masyarakat yang diteliti. Bukan tak mungkin kecurigaan timbul. Di Islandia pun proyek pembacaan kode genetik itu sempat menimbulkan kontroversi. Apalagi potensi ini mungkin tidak pernah disadari-terpikir pun barangkali tidak-oleh warga Indonesia. Bagaimanapun, Indonesia punya potensi dan bukan sesuatu yang tak mungkin bila negara ini dijadikan sasaran penelitian genetika. Karena itu, mau tidak mau, hal ini harus diantisipasi tak hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh warganya. Bagi Sangkot, pola seperti yang dipilih Cina lebih cocok untuk diterapkan Indonesia. Cina, yang punya sekitar 80 juta orang yang terdiri atas 50 grup etnis, sebenarnya sejak lima tahun lalu memang juga punya proyek semacam yang dilakukan di Islandia. Hanya, Cina melakukan kerja sama besar-besaran secara sederajat (equal partnership) dengan Amerika Serikat. Para peneliti Cina juga ikut terlibat dalam penelitian. "Jadi, kita tidak cukup hanya menerima uang seperti di Islandia, tapi perlu ada kerja sama yang equal dengan mitra asingnya. Selain itu, kita harus ikut menjadi share-holder dalam mengeksplorasi keanekaragaman gen yang ada," kata Sangkot, peraih doctor of science-jenjang akademis tertinggi, di atas S-3, dalam sistem Inggris dan Persemakmuran-dari Universitas Monash, Australia. Gabriel Sugrahetty, Dwi Wiyana Dwi Malistyo <[EMAIL PROTECTED]> PGP keyID:0x22D53664 --- http://come.to/dwi ----------------------------------------------------------------------- SUBSCRIBE---> To: [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong UNSUBSCRIBE---> To: [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong
