~~~~~~~Forum Diskusi Software dan Internet untuk Kristen-Katolik~~~~~~~ To : [EMAIL PROTECTED] CC : [EMAIL PROTECTED] Teman-teman. Saat ini di "dunia persilatan internet" tengah digoncangkan oleh ulah Telkom yang berusaha mencaplok pelanggan-pelanggan ISP dengan cara menaikkan tarif sambungan baru hingga 10 kali. Akibatnya banyak ISP yang terpaksa menaikkan abonemen dan tak mampu menambah sambungan modem baru. Di Kalimantan dan NTB hal ini sudah terjadi. Dan peristiwa ini menimbulkan kegaduhan para netters di milis-milis. Bersiap-siaplah menanggung tarif ISP yang akan naik karena monopoli PT Telkom. Di bawah ini ada 2 artikel dari Detik.com yang layak untuk di baca. ________________________ http://www.detik.com/net/2001/01/24/2001124-143937.shtml Telkom Naikkan Tarif Telepon ISP Tarif Langganan Internet Naik 75% Reporter: Donny B.U. detikcom - Jakarta, Tampaknya Telkom (baca: KSO) tak jera jua menuai caci-maki. Pasalnya, entah karena berkuping tebal atau sebab lain, KSO yang 'menguasai' Divre I Sumatera, Divre VI Kalimantan dan Divre VII Indonesia Timur (Bali dan NTB) menaikkan tarif abonemen line telepon call in only yang digunakan oleh Internet Service Provider di atas kewajaran. Akibat kenaikan ini beberapa ISP terpaksa menaikkan tarif abonemen berlangganan internet hingga 75 persen. IndoNet Denpasar misalnya menaikkan aboneman dari Rp 22.000 per bulan menjadi Rp 38.500. Mulanya line telepon ISP yang digunakan pelanggannya untuk melakukan dial-up ke Internet tersebut dimasukkan ke dalam kelompok bisnis dan hanya dikenakan biaya sebesar Rp. 32.700 (belum termasuk PPN). Entah karena apa, Beberapa bulan terakhir ini tarif tersebut harus ditambah dengan biaya Commitment Fee ISP sebesar Rp. 240.900 (belum termasuk PPN). Sehingga total yang harus dibayar oleh ISP kepada Telkom untuk setiap satu line telepon adalah sebesar Rp 273.600 (belum termasuk PPN) per bulan! Ujung-ujungnya, para pelanggan akses Internet di ISP-ISP tersebut harus menanggung biaya berlangganan yang terpaksa ikut-ikutan naik. Contohnya ISP IndoNet yang di kota-kota lain mengenakan tarif abonemen Rp 22.000,- per bulan, khusus di Denpasar terpaksa naik menjadi Rp 38.500 per bulan. Kenaikkan sebesar 75% tersebut tentu saja memberatkan pelanggan ISP dan ujung-ujungnya akan menghambat penetrasi Internet di Indonesia. Di mailing-list Genetika ([EMAIL PROTECTED]) juga disebutkan bahwa IndoNet Balikpapan juga turut menaikkan biaya abonemen kepada pelanggannya. Sedangkan WasantaraNet Samarinda tidak sanggup menambah lagi line telepon karena untuk setiap penambahan 10 line akan dikenakan tarif Rp 3 juta per bulan. Padahal jumlah line telepon yang sudah terpasang tidak lagi sebanding lagi dengan pertumbuhan jumlah pelanggan. Sedangkan ISP di Bandung tidak bisa lagi mendapatkan line telepon tambahan karena KSO Divre Jawa Barat enggan memasok line telepon tambahan karena kuota line telepon yang disepakati untuk dibangun telah terpenuhi. Heru Nugroho, ketika dihubungi detikcom pada Rabu (24/1/2001), menyatakan kegusarannya terhadap KSO tersebut. "Operator (KSO - Red.) tersebut bakal tutup kuping dan masa bodo karena mereka tidak punya hati nurani," ujar Heru. "Kita ini seperti jaman penjajahan, cuman sekarang bedanya penjajahan tersebut dilakukan oleh operator tersebut yang dimotori oleh orang asing sebagai mitra KSO-nya Telkom," tambah Ketua II Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Managing Director MelsaNet tersebut dengan nada geram. Senada dengan Heru, Onno W. Purbo melalui e-mail kepada detikcom turut menyesalkan tindakan KSO tersebut. "KSO sudah cukup keterlaluan bagi masyarakat Indonesia," ujar Onno. "Apakah kita harus menunggu hingga selesainya perjanjian KSO tahun 2010?" tanya Onno gusar. "Hal tersebut memalukan. Mentang-mentang masyarakat tidak ada pilihan, terus seenak perutnya saja KSO bikin kebijakan tarif," tandas praktisi Internet dan anggota Masyarakat Telematika (Mastel) tersebut. Dalam mailing-list Genetika tersebut juga diungkapkan bahwa pihak pemerintah, dalam hal ini Dephub, Ditjen Postel dan Telkom tidak dapat berbuat banyak dengan tingkah polah KSO tersebut. Tentu saja pemerintah jeri menghadapi KSO, karena memprotes tindakan KSO bagaikan memercik air di dulang akan terkena muka sendiri. Siapa lagi yang mengundang KSO masuk untuk bermitra dengan Telkom, kalau bukan pemerintah sendiri. Siap-siap saja daerah lain kena getah KSO tersebut. Tampaknya anda akan perlu merogoh kocek anda lebih dalam untuk dapat menikmati Internet. (dbu) http://www.detik.com/net/2001/01/24/2001124-165109.shtml Tindakan Menaikkan Tarif Telepon ISP Telkom Niat Rebut Pelanggan ISP? Reporter: Farida Farid detikcom - Jakarta, Keputusan KSO yang menguasai Telkom Divre VI Kalimantan, Divre I Sumatera dan Divre VII Indonesia Timur (Bali dan NTB) dalam menaikkan tarif abonemen line telepon call in only yang digunakan oleh Internet Service Provider (ISP) sebesar Rp 300 ribu per line membuat gusar banyak pihak. Berdasarkan informasi yang beredar di mailing-list (milis) Genetika ([EMAIL PROTECTED]), kuat disinyalir bahwa Telkom bertujuan merebut pelanggan Internet ISP yang mulai terseok-seok karena dikenakan biaya langganan yang mahal. Menurut milis tersebut, hangat dibahas mengenai agenda Telkom Divre VI yang telah meluncurkan layanan ISP TeleNet Plus di Balikpapan pada Agustus 2000. Acara peluncuran ini diinformasikan sempat tertunda dua kali dari rencana semula, yaitu November 1999 dan April 2000. Untuk sementara, TeleNet Plus baru bisa diakses di Balikpapan dengan tarif Rp 300 per menit. Tahun 2001 ini, direncanakan aksesnya akan dikembangkan ke beberapa kota tambahan termasuk Samarinda, Bontang, dan Banjarmasin. Produk TeleNet Plus ini tidak sama dengan TelkomNet Instant milik Telkom Divisi Multimedia, yang khabarnya ditolak kehadirannya di Kalimantan. Diinformasikan Divre VI sudah mempunyai produk yang sejenis. Berkaitan dengan ulah KSO tersebut, sekali lagi Ketua II Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Heru Nugroho, menyatakan bahwa keputusan KSO Telkom wilayah Kalimantan untuk memberlakukan tarif ISP sekitar Rp 300 ribu per bulan amat disayangkan. Diduga, Telkom berniat melakukan persaingan tidak sehat dengan menaikkan tarif ke ISP. Hal ini terjadi karena kenaikan ini secara tidak langsung ISP akan menaikkan tarif ke pelanggan dan akhirnya tidak terlalu berbeda jauh biayanya dengan TeleNet Plus. Benarkah kenaikan tarif ini berkaitan dengan persaingan TeleNet Plus dengan ISP yang ada? "Berkaitan dengan kenaikan tarif ini, pihak Kandatel Samarinda telah menolak adanya kaitan kenaikan tarif ini dengan adanya produk Telenet Plus," ujar koordinator acara Milenium Internet Roadshow (MIR2001) Samarinda, Sandjaja Kosasih. Sandjaja berharap kenaikan total menjadi Rp 300 ribu per jalur telpon ini tidak jadi direalisasikan. Meski sebelumnya, telah dilakukan kenaikan tahap pertama sebesar Rp 100 ribu pada Agustus 2000 dan secara penuh kenaikan itu akan direalisasikan pada April 2001. ---------- Dwi Malistyo <[EMAIL PROTECTED]> Web pribadi : http://dwi.come.to Link Bisnis : http://www.swausaha.com/members/dwi.html PGP keyID:0x22D53664 ------ Hemat Bandwith : Hapus pesan yang tidak perlu sebelum reply ------ SUBSCRIBE---> To: [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong UNSUBSCRIBE---> To: [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong Moderator: Ronny <[EMAIL PROTECTED]>, Alex <[EMAIL PROTECTED]> Web : http://hub.xc.org/cgi-bin/lyris.pl?enter=i-kan-software
