[gp2000]%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
++ Mailing List BPK Gerakan Pemuda GPIB ++
Forum Diskusi Antar Pemuda GPIB
BPK GP GPIB [w] httw://milis.gpgpib.org
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% I-KAN
Refleksi dari Jonathan Parapak
Akhir-akhir ini, ada dua peristiwa kecelakaan yang mendapat sorotan
pemberitaan media massa, yaitu kecelakaan kapal selam dan jatuh atau
hilangnya sebuah helikopter. Kita semua pasti ikut prihatin dengan
terjadinya kecelakaan tersebut yang membawa korban manusia. Peristiwa itu
tidak akan saya bahas dari aspek kecelakaannya, melainkan justru mendorong
saya mengadakan refleksi dari sudut pandang salah satu aspek pemanfaatan
teknologi tersebut.
Kita semua tahu bahwa kapal selam pada umumnya dibuat menyelam agar tidak
mudah dilihat oleh musuh. Dia akan terus berjalan menyelam selagi situasi
bahaya dan akan muncul ke permukaan kalau situasi lagi aman. Sebaliknya
helikopter banyak dipakai untuk mengamati peristiwa dari udara, apakah itu
keadaan lalu lintas ataukah suatu peristiwa unjuk rasa dll. Seorang di
helikopter terbang sebagai pengamat dan tidak langsung terlibat dalam
keadaan yang diamati. Memang dia bisa terlibat melalui pemberian informasi,
namun dia sendiri secara pribadi tidak ikut dalam peristiwa yang diamati.
Kedua teknologi ini dapat kita refleksikan dalam kehidupan iman kita,
apalagi dalam menghadapi suasana penuh krisis saat ini. Menjadi seorang
pengikut Kristus pada saat-saat ini penuh tantangan, penuh ancaman yang
mungkin sangat menakutkan. Dalam suasana yang demikian ini, tidak sedikit
dari kita yang mungkin memilih menjadi Kristen Kapal Selam. Kita merasakan
bahaya, kita merasakan ancaman; mungkin kita tidak diberi pekerjaan,
jabatan, bahkan tersingkir, kalau kita menampakkan diri sebagai seorang
Kristen. Kita merasa risih tampil sebagai minoritas. Lebih aman tiarap,
bahkan menjadi kapal selam dan menunggu suasana yang aman dan baik, baru
kita tampil. Kristen kapal selam ini mungkin hanya timbul pada acara resmi
Natal atau nikah.
Sikap kapal selam ini sangat merisaukan kita. Jusuf waktu di Mesir, di mana
pun ia berada, jadi budak atau dipenjara, tak pernah tenggelam. Imannya
selalu tampil dan diketahui orang, bahwa apa pun yang dikerjakannya berhasil
karena ia takut akan Tuhan (Kejadian 39). Kita juga belajar dari Daniel,
menghadapi apa pun ia tak ingin kompromi, dan ia beroleh hikmat untuk
dipakai Tuhan membawa berkat. Baik Yusuf maupun Daniel tak menunggu untuk
menjadi mayoritas, berkuasa, tidak menunggu sampai semua aman; seterusnya
mereka berbuat yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan. Sikap hidup mereka inilah
yang saya kira ingin ditonjolkan oleh Paulus dalam suratnya ke Roma
(12:1-2), yang berbicara tentang mempersembahkan tubuhmu, hidupmu, sebagai
persembahan yang kudus yang berkenan kepada Allah.
Tak ada tempat kapal selam dalam kehidupan kristiani, semuanya adalah bagian
dari perlombaan iman yang diwajibkan bagi kita (Ibrani 12:1,2). Kita wajib
berlomba dengan mata tertuju pada Yesus, yang siap memimpin iman kita pada
kesempurnaan. Kehidupan kristiani adalah perlombaan yang memerlukan
disiplin, komitmen, dan kebersandaran pada Kristus, sehingga apa pun yang
kita hadapi, mulus atau sulit, ancaman atau elu-eluan, dipuji atau dicaci,
kita akan setia kepada Dia, sehingga kita tidak akan menyelam menghindar
dari Dia yang mau memakai kita.
Kini Bangsa kita sedang memerlukan anak bangsa terbaik. Sangat mungkin bahwa
anak-anak Tuhan akan dipanggil juga memberikan yang terbaik bagi bangsa dan
negaranya, walaupun situasi krisis, menghadapi topan, ancaman, yang
dipanggil harus siap dan terlibat dalam berbagai upaya pemulihan. Memang
kita juga bisa menjadi penumpang helikopter yang pandai mengamati, tetapi
enggan terlibat langsung. Kini memang lagi eranya pengamat. Banyak yang jago
mengamati, sedikit yang turun dan langsung membawa perbaikan. Orang Kristen
juga bisa menjadi jago pengamat Kristen, tetapi tidak ikut dalam perjuangan
bersama saudaranya dalam membawa perwujudan Kerajaan Allah di dunia ini.
Helikopter yang terbang terus akan kehabisan bensin dan kecelakaan tak
terelakkan. Ia baiknya mendarat dan ikut dalam segala upaya perbaikan dan
pemulihan. Tuhan Yesus sendiri menyatakan kamu adalah Terang Dunia, Garam
Dunia. Garam memang larut untuk menggarami, memberi kenikmatan, memberi
kelestarian. Lilin memang melebur, bahkan hancur agar memberi terang.
Untungnya Tuhan Yesus tidak mengatakan: Kamu adalah helikopter! Menjadi
garam berarti memberikan yang terbaik bagi masyarakat di mana kita ada,
memberikan yang terbaik di mana kita bekerja dan mengabdi (Kolose 3:17,23).
Kini bangsa mencari anak bangsa yang siap memberikan yang terbaik bagi
bangsanya. Kini gereja Tuhan lagi memanggil anak-anak Tuhan untuk memberikan
yang terbaik bagi pelayanan dan kesaksian. Di manakan Kita? Apakah kita ada
di dalam kapal selam karena takut? Ataukah kita menikmati jadi pengamat saja
dari helikopter? Semoga kita semua kembali kepada-Nya dan mengatakan: Tuhan
inilah aku, utuslah Aku!!!
Selamat melayani,
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%[gp2000]
"... Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau
muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam
kesucianmu" -- 1Tim 4:12
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
[w] Homepage GP GPIB http://www.gpgpib.org
[w] GPmail! http://mail.gpgpib.org
[w] GPCities! http://www.gp2000-list.com
[w] Buku Sejarah GP GPIB http://www.menitijalanberliku.com
[w] Milis GP2000 : http://milis.gpgpib.org
[m] Milis e-SBU : [EMAIL PROTECTED]
[m] Milis BPK PA/PT GPIB : [EMAIL PROTECTED]