[gp2000]%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
++ Mailing List BPK Gerakan Pemuda GPIB ++
Forum Diskusi Antar Pemuda GPIB
BPK GP GPIB [w] httw://milis.gpgpib.org
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% I-KAN
Hari-hari ini saudara-saudara kita kaum Muslimin lagi merayakan Idul Adha,
hari raya kurban! Peringatan ini adalah bagian yang terkait dengan peristiwa
yang dialami Abraham saat ia diminta Tuhan untuk mempersembahkan putranya.
Ia rela dalam ketaatan yang luar biasa kepada sang pencipta. Harian Kompas
tanggal 4 Maret memuat satu tulisan yang menarik tentang solidaritas
kemanusiaan universal oleh Azyumardi Azra, yang membahas tentang Hikmah Idul
Adha dan Ibadah Haji. Tulisan tersebut antara lain mengangkat keterkaitan
ibadah kurban dan haji dengan Ibrahim (Abraham), dan beliau menulis bahwa
"dalam perspektif keimanan (kredo) Islam, setiap Muslim sesuai dengan
ketentuan Rukun Iman, wajib percaya kepada kitab suci Taurat (Torah) dan
Injil (Bible)." Adanya peringatan hari raya kurban ini, juga mengingatkan
kita akan ketaatan yang luar biasa dari seorang hamba Tuhan Abraham yang
rela mengorbankan putranya sebagai wujud kesungguhan keberimanan dia.
Berbicara dan berpikir tentang kurban, pada umumnya kita membayangkan adanya
kurban hewan yang disembelih dan dipersembahkan sebagai wujud pemujaan, dan
kurban pertanggungan/pengampunan dosa--dosa yang telah diperbuat oleh
manusia. Itulah sebabnya Kristus sendiri mengurbankan diri-Nya di kayu
salib, sebagai ganti kita orang berdosa untuk penebusan dosa kita. Kurban
Yesus Kristus di kayu salib ini merupakan kurban yang lengkap bagi orang
percaya yang datang kepada-Nya bertobat dan menerima Dia sebagai
Juruselamat. Kalau demikian masih perlukah kurban dari kita? Perjanjian Baru
tidak lagi menuntut dari kita kurban hewan pengganti, karena semuanya telah
dilengkapi oleh Kristus. Namun justru Rasul Paulus dalam suratnya kepada
Jemaat di Roma berbicara sesuatu yang luar biasa. "Karena itu,
saudara-Saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang
berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1).
Pada umumnya kita masih terpaku dan terpukau pada kurban hewan, kurban
benda. Kita lebih banyak membicarakan persembahan yang mati, persembahan
yang belum tentu adalah kurban. Penegasan Paulus menuntut persembahan yang
hidup, yaitu "tubuhmu" (pasti yang masih hidup), karena tubuh yang sudah
mati bukan lagi tubuh, ia kembali menjadi debu. Namun, bagaimanakah kita
mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup? Kurban yang
hidup? Dalam suatu kebaktian di Inggris, seorang pemuda hadir dalam
kebaktian tersebut, dimana ada kesempatan membawa persembahan. Ternyata pada
waktu kolekte dikumpulkan. pemuda ini tak memiliki uang. Namun ia bertekad
memberi persembahan yang terbaik. Ia tak punya uang, yang ada adalah buku
catatannya. Ia merobek satu lembar dan menulis, "Yang saya persembahkan
adalah tubuh saya, hidup saya." Beberapa tahun kemudian pemuda ini berlayar
ke India menjadi utusan Injil, mempersembahkan seluruh hidupnya untuk
melayani dan meyaksikan Tuhan.
Persembahan anak muda ini kiranya mengajak kita untuk sungguh-sungguh
menggumuli apakah persembahan kita adalah persembahan yang hidup atau
persembahan yang mati. Persembahan atau kurban yang hidup adalah ia yang
mencakup keseluruhan hidup kita, pikiran kita, perilaku kita, kata kita,
interaksi kita, pekerjaan kita, ibadah kita seluruhnya kita lihat sebagai
satu kesatuan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kurban kita adalah kata-kata
yang menyatakan kasih dan kebenaran; langkah kita adalah niat untuk
mengangkat harkat sesama di hadapan Tuhan; perilaku kita adalah wujud kasih
pada sesama dan kasih pada Tuhan; karya dan usaha kita adalah yang membawa
sejahtera bagi sesama. Ini semua adalah bagian dari kurban yang hidup, yang
diperkenan Allah untuk menyatakan dan mewujudkan keselamatan dan
kesejahteraan bagi manusia.
Dalam suasana krisis multi dimensi yang kita alami di negeri tercinta ini,
di mana ribuan anak bangsa lagi merintih dalam penderitaan, terusir dari
tempat tinggalnya, banyak anak bangsa yang dilanda ketakutan dan kesedihan,
banyak anak bangsa yang lagi putus asa, sulit mencari kerja, sepertinya tak
ada masa depan, saat-saat inilah bangsa dan negara kita sangat memerlukan
kurban yang hidup untuk membawa keselamatan, kelepasan dan kesejahteraan.
Siapkah kita mempersembahkan kurban yang hidup?
Selamat menggelar persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah,
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%[gp2000]
"... Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau
muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam
kesucianmu" -- 1Tim 4:12
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
[w] Homepage GP GPIB http://www.gpgpib.org
[w] GPmail! http://mail.gpgpib.org
[w] GPCities! http://www.gp2000-list.com
[w] Buku Sejarah GP GPIB http://www.menitijalanberliku.com
[w] Milis GP2000 : http://milis.gpgpib.org
[m] Milis e-SBU : [EMAIL PROTECTED]
[m] Milis BPK PA/PT GPIB : [EMAIL PROTECTED]