[gp2000]%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
              ++ Mailing List BPK Gerakan Pemuda GPIB ++
                   Forum Diskusi Antar Pemuda GPIB
       http://gp.gpib.or.id | http://milis.gp.gpib.org
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% I-KAN
Shalom,

Sebuah cerita yang di forward seorang sahabat kepada saya. Just want to share for the 
week end devotion. Mungkin sudah ada yang membaca.. but tak apalah..



Apakah mereka yang terbelakang dan bodoh merupakan rahmat Tuhan atau
sebuah kecelakaan sejarah? Barangkali, cerita saya ini bisa menjadi
salah satu kaca mata untuk melihat, bahwa ternyata apapun yang
diciptakan Tuhan memang menjadi rahmat bagi dunia.

Saya lahir tahun 78 dan dua tahun kemudian ibu saya meninggal karena
suatu penyakit. Apalah yang dimiliki seorang anak umur 2 tahun ketika
ditinggal ibunya kecuali tangis ketidaktahuan. Ketidaktahuan karena
belum bisa berpikir tetapi telah diberi Tuhan perasaan sepi dan
kehilangan. Di sebelah utara rumah saya, tinggal seorang pemuda idiot.
Dia kira-kira berumur 12 tahun ketika ibu saya meninggal. Selain itu,
di sebelahnya tinggal pula seorang pemuda lain berumur 20-an tahun yang
belum pernah bersekolah, tidak bisa membaca dan bekerja sebagai kusir
andong (kereta/bendi). Sementara di sebelah barat rumah saya, tinggal
pemuda yang juga berumur 20-an tahun, terbelakang, bodoh dan harus
keluar dari kelas I SD karena tak bisa mengikuti pelajaran sedikitpun.

Sebagai anak berumur 2 tahun, tentu saja saya belum begitu mengenal
mereka. Tetapi seiring waktu, saya mulai tahu bahwa merekalah sahabat
terbaik dalam hidup saya. Akal saya yang semakin terasah ketika berumur
5 tahun dan ingatan yang semakin kuat mematri kenangan saya dengan 3
orang hebat dalam hidup saya tersebut. Merekalah yang saya sebut
sebagai 3 pendekar dalam hidup saya. Tiga orang yang sama-sama
terbelakang, tidak bisa membaca dan sering dianggap "agak kurang"
(bahasa halus untuk sedikit gila) oleh tetangga-tetangga, tenyata
merupakan penyelamat hidup saya.

Pemuda pertama, anak belasan tahun yang saya tahu dipanggil Adek, idiot
dan selalu mengeluarkan air liur dari mulutnya. Karena tak pernah
memiliki teman bermain, saya lah yang selalu dipandangnya dari jendela
rumah. Ketika semua orang mengusir dan anak-anak lain takut untuk
mendekat, dia mencoba mengenal saya. Dialah yang kemudian merawat saya,
karena ketiadaan ibu dan ayah yang terlalu jarang di rumah. Anak idiot
itulah yang mengajari saya bermain, membuatkan wayang suket, mencari
kodok di sawah, berendam di kali atau menonton karnaval 17 Agustus yang
tiap tahun diadakan di kota kecamatan.

Pemuda dua puluhan tahun yang menjadi kusir andong tadi bernama Gandul.
Keterbelakangannya justru menjadi sumber kebaikan hati. Setiap hari,
begitu pulang dari bekerja, dia selalu menyisihkan uang Rp 50-100 di
bawah jok andongnya. Uang itu khusus disediakan untuk saya, anak SD
yang tak pernah lagi menerima uang saku dari ayahnya. Selama
bertahun-tahun, Gandul melakukan itu karena tahu bahwa saya tak pernah
bisa jajan jika dia lupa menyisihkan. Dia juga yang mengajak saya
jalan-jalan, menjadi kernet andong atau bersuka dengan kudanya.

Pemuda ketiga bernama Darsio, karena tak juga bisa melakukan apa yang
dilakukan kawan-kawannya, dia dikeluarkan dari sekolah. Mulai itulah
dia mendekati saya, mengajak saya bermain di kebunnya yang luas.
Mencarikan buah apapun yang saya inginkan. Jika saya lagi kepingin
pisang, dia akan mencarinya. Begitu pula ketika saya minta kelapa muda
di satu siang yang panas, dia akan mengajak saya ke kebun dan
memetikkan beberapa. Darsio mengajari saya berenang, kadang
berpetualang seharian ke tempat-tempat yang jauh, berjalan kaki dan
melatih keberanian saya. Karena sebelumnya saya memang terlalu penakut
dan mudah menangis. Agar tubuh saya kuat, dia juga memberi segelas susu
kedelai dari pabrik tahu milik orang tuanya hampir setiap hari.

Ketiga orang itu, 3 pendekar yang mengisi hidup masa kecil saya.
Menemani dengan tulus sehingga kini saya bisa berpikir bahwa Tuhan
memang mengambil ibu saya, tetapi Dia mengirimkan 3 orang hebat dalam
hidup saya. Ketiganya terbelakang, tidak sekolah, tak bisa membaca,
bahkan dua diantaranya sampai kini tak punya istri. Tetapi merekalah
yang mengajari saya banyak hal, menemani tahun-tahun sepi, membantu
saya siap untuk mandiri.

Kini saya 24 tahun dan akan segera menyelesaikan kuliah. Karena
pengalaman hidup itulah saya bisa bertahan hingga sekarang, merantau,
mandiri, dan memiliki pandangan positif terhadap makluk ciptaan Tuhan
seperti apapun adanya. Untunglah saya dibesarkan oleh 3 orang idiot dan
bukannya 3 orang profesor, 3 orang kaya, atau 3 bisnisman. Sehingga
saya bisa memaknai hubungan antar manusia, bukan karena kapasitas
intelektual, uang atau kesuksesan. Bagi saya, ketulusan untuk memberi
dan sikap menjadi manusia seutuhnya itu lebih penting. Berkah dari 3
pendekar hebat, dan karena itulah saya selalu beranggapan, seperti
apapun kondisinya, hidup kita diciptakan Tuhan sangat indah. Kalau mata
kita memandangnya dengan indah pula. 


"no matter how your heart is grieving...
if you keep on believing...
the dream that you wish will come true..."


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%[gp2000]
  "... Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau 
  muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
  dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam 
  kesucianmu" -- 1Tim 4:12
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
<>< Situs GPIB : http://www.gpib.or.id
<>< iuf.GPIB : http://iuf.gpib.or.id/forum/
<>< Chat In IRC : Server DALNET -Channel #gpib #gp-gpib

---
Anda sekarang terdaftar di i-kan-untuk-gp2000 dengan: [[email protected]]
Untuk unsubscribe, forward message ini ke [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke