<>< ============================ I-KAN ============================ ><> <>< ><> <>< ><> <>< ><> <>< <>< <>< ><> ><> ><> <>< ><> <>< ><> <>< ><> <>< ><> <>< -= Milis GP2000 =- ><> <>< MAILING LIST B.P.K GERAKAN PEMUDA G.P.I.B ><> <>< *established 1 July 1999* ><> <>< ><> <>< =============================================================== ><> Ada sebuah anekdot yang sempat bikin Kak Okta terbahak pada saat dilontarkan di acara retreat BPK GP Mupel Jabar 2 beberapa waktu lalu. Kira-kira bunyi anekdot yang disampaikan seorang peserta itu begini: Suatu malam terjadi kebakaran besar. Sebuah perkampungan terbakar dan menghanguskan isinya. Penduduk sekitar kampung banyak yang langsung menolong. Termasuk sejumlah pemuda gereja di sekitar situ. Pemuda dari gereja X, (sebenarnya peserta tadi menyebutkan salah satu denominasi gereja) langsung menolong menyiramkan air agar api segera padam. Dari gereja Y para pemudanya langsung membentuk tim doa untuk mendoakan supaya api kebakaran tersebut tidak memakan korban jiwa. Kemudian datang pemuda dari GPIB. Melihat kejadian itu, seorang di antaranya berkata, "Hah, ada kebakaran? Sebaiknya kita rapat saja dulu. Berkoordinasi dengan Majelis," katanya.
Mendengar cerita tadi saat itu saya memang tidak terlalu terbahak, tapi hanya tersenyum getir. Ini sebuah satir yang terang menyindir. Kemudian tadi pagi saya ke Yogya untuk berkoordinasi dengan Koordinator Lapangan Posko Bencana Yogya. Cerita serupa juga saya dengar. Pada saat terjadinya gempa, salah satu denominasi gereja yang berada di Yogya terpaksa mesti meluncur ke Solo karena jalur komunikasi saat itu sangat tidak menentu sehingga mereka bisa meminta bantuan melalui jalur komunikasi yang ada di Solo tadi. Tak seberapa lama, hanya berselang sehari, bantuan sebesar 700 juta rupiah pun mengucur. Maka dari dana yang ada ini segera dilakukan upaya-upaya pertama untuk menolong korban gempa. Sementara, GPIB perlu waktu sekitar 3-4 hari baru jelas apa yang mau dibuat. Bahkan salah satu warga jemaat yang kebetulan menjabat sebagai ketua RW di daerahnya sudah mendapat pertanyaan dari warganya, "Mana nih gerejanya Pak RW bantuannya? Gereja lain sudah dari jauh-jauh hari memberi bantuan." Jelas si Ketua RW hanya bisa memberi alasan bahwa GPIB sudah dan sedang membantu daerah lain. Ketika di Margo Mulyo, awalnya beberapa warga jemaat yang berada di gereja situ tidak menyadari kehadiran saya sebagai wakil dari Dewan Pemuda. Mereka sempat ngobrol sesama warga jemaat lainnya. Saya cuma nguping saja. Obrolan itu tentang rencana kedatangan rombongan dari salah satu GPIB di Bandung yang katanya akan berkunjung untuk menyalurkan bantuan secara langsung kepada korban. Tampak dari pengamatan saya panitia posko kebingungan dengan kedatangan ini karena memang tahapan pekerjaan mereka untuk penyaluran bantuan sudah closing dan sedang mempersiapkan tahap selanjutnya yaitu rehabilitasi rumah warga jemaat, aset gereja berupa pastori dan asrama serta bantuan kepada gereja-gereja kecil non GPIB di sekitarnya. "Ya, sudah, antar mereka ke salah satu lokasi, lalu secara simbolis saja mereka menyerahkan bantuan itu. Sisanya masuk gudang," kata salah seorang panitia. Sejumlah cerita tadi perlahan menarik saya pada sebuah kesimpulan, GPIB tampak kagok menangani hal-hal yang bersifat darurat seperti itu. Juga, gerakan yang ada pun tampak sporadis dan kurang sistematis. Seingat saya memang MS sempat memberi himbauan kepada seluruh jajaran GPIB untuk turut menyalurkan bantuan. Akan tetapi gerakannya cenderung bermacam-macam. Ada yang tak merasa perlu untuk datang ke lokasi sehingga bantuan cuma ditransfer saja, ada yang berbondong-bondong memakai bis menuju ke lokasi untuk menyerahkan bantuan nominal maupun natura. Memang, sih, semua sayang Yogya dan mencoba membuat yang terbaik untuk Yogya. Saya tidak melihat kejadian-kejadian tadi itu sebagai suatu yang perlu dipersoalkan secara berlebihan. Okelah toh akhirnya Posko sudah berjalan dengan baik. Dari Departemen Pelkes pun sudah ada yang sempat tinggal di Yogya dan bekerja bersama Posko. Utusan dari Tim Posko Yogya pun sudah melaporkan kemajuan pekerjaannya kepada Majelis Sinode di Jakarta. Beberapa gerakan spontan juga dilakukan oleh GP dari Magelang yang mengirimkan relawan, bahkan dari Salatiga sudah merencanakan membuat ABSP untuk membangun beberapa gedung gereja di daerah Kotagede berkenaan dengan HUT BPK GP ke-56. Melihat laporan yang secara berkala dibuat oleh tim posko, dana berupa nominal sudah mencapai angka 300 juta, bantuan natura tak terbilang jumlah dan jenisnya. Yang bikin saya sedikit gundah adalah, adakah sistem yang bisa diterapkan di GPIB dalam menangani keadaan darurat seperti ini sehingga tidak terkesan lamban? Semestinya kita sudah bisa belajar dari kejadian di Aceh dan Nias, sehingga sudah ada upaya-upaya strategis dan sistematis pada saat keadaan darurat ini dilakukan. Ada semacam keadaan "tidak mendesak tapi penting" yang disediakan untuk mempersiapkan sebuah sistem tanggap darurat, crisis center, task force atau apalah namanya. Sehingga, pada saat terjadi keadaan "penting dan mendesak" semacam gempa Yogya ini, secara otomatis sistem itu bekerja. Seperti perangkat Emergency Lamp yang mempersiapkan dirinya diisi daya dari aliran listrik yang kala itu masih tersedia, sehingga pada saat aliran listrik mati, lampu tersebut tetap bisa menyala. Nah, mekanisme Emergency Lamp seperti itulah yang semestinya ada di organisasi semacam GPIB ini. Saya malah sempat terpikir bila di waktu-waktu yang relatif aman, ada semacam gerakan bersama ataupun berkala atau berkesinambungan berupa, yah contohnya saja, malam dana kemanusiaan. Ketika dalam satu Mupel membuat acara malam dana yang dananya itu tersimpan untuk dana cadangan di kas BP Mupel, yang apabila sewaktu-waktu terjadi keadaan Force Majeur di wilayah tersebut, dana tersebut bisa dipakai sebagai dana awal sementara dana bantuan kemungkinan akan mengalir di kemudian hari. Dan ini secara otomatis disalurkan tanpa perlu rapat, koordinasi atau sejenisnya. Yah, saya rasa ini hanyalah ungkapan yang bisa saja keliru mengingat berbagai keterbatasan persepsi yang saya miliki. Toh, sebelum-sebelumnya saya tidak terlalu menggubris isu-isu seperti ini. Tapi memang saya pun mesti banyak belajar dan benar-benar mengerti.... Ada lagi sebuah kisah pilu yang saya dengar sepanjang saya di Yogya. Saya ceritakan saja dengan sudut pandang orang pertama seperti di bawah ini: "Nama saya, ah, tak pentinglah nama saya siapa. Saya datang dari Ternate sekitar tahun 2000 ketika di daerah saya itu terjadi konflik. Di Ternate saya sudah hancur dan tidak punya apa-apa lagi. Saya mengungsi ke Yogya hanya dengan pakaian yang ada di badan saya bersama dengan anak-anak saya. Di Yogya saya gantungkan nasib saya selanjutnya. "Dengan daya dan kemampuan yang saya miliki, saya bekerja keras mengumpulkan uang lalu saya tabung sehingga sedikit demi sedikit saya bisa merencanakan membangun sebuah rumah. Lalu dibangunlah sebuah rumah dengan biaya yang cukup besar, sekitar 97 juta rupiah. Hati saya begitu berbunga-bunga melihat tahapan pengerjaan rumah saya itu dengan impian akhirnya saya bisa punya rumah sendiri. "Dan hari yang saya impi-impikan itu datang juga, saya akan menerima kunci rumah saya dari tukang yang saya sewa sebagai tanda bahwa saya sudah siap menghuni rumah tersebut. Sampai pada hari Sabtu, 27 Mei 2006, gempa merubuhkan rumah yang belum sempat saya huni itu rata dengan tanah. Saya meratap. Benar Tuhan itu adil? Kenapa kehancuran selalu menimpa saya? Saya salah? Kenapa berkat-berkat dan keberuntungan bisa mampir kepada orang lain tetapi kepada saya seolah berkat itu enggan menghampiri?" Kisah ini memang saya dramatisir karena memang saya tidak mendengar secara langsung dari si orang Ternate itu. Saya hanya mendengar kisah dari warga GPIB Margo Mulyo kebetulan ngobrol sama saya. Indonesia butuh Emergncy Lamp. Merapi siap-siap mau muntah lagi. Belum lagi jika bumi menggeliat lagi. Krakatau diisukan juga sedang harap-harap cemas. Tsunami sudah seperti istilah sehari-hari yang bisa saja terucap, padahal yang mengucapkan belum tentu tahu arti persisnya apa. Ada kisah lucu yang saya dapat dari majalah Tempo. Ketika isu Tsunami merebak di Yogya, salah seorang pemuda membopong kakeknya yang sudah lumpuh keluar rumah. Ketika sedang sibuk mengamankan kakeknya yang sudah sangat renta itu, si pemuda teringat anaknya yang masih di dalam rumah. Kuatir anaknya tertimpa reruntuhan dan bingung kalau-kalau Tsunami benar terjadi dan kakeknya nanti hanyut, maka dia "sangkutkan" kakeknya itu di sebuah pohon, kemudian dia lari ke rumahnya untuk mengambil anaknya. Setelah dia kembali untuk menurunkan kakeknya, tentu saja si kakek kebingungan kenapa dia mesti "disangkutkan" ke pohon segala. Si cucu menjelaskan, "waduh maaf, Eyang, itu tadi katanya ada Tsunami." Si kakek kemudian manggut-manggut sebentar tapi kemudian memasang wajah bingung lagi, "Lha Tsunami itu opo?" tanyanya lagi. Cheers, Raymond Soedira GPIB Immanuel Depok __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com <>< ============================ GP2000 =========================== ><> <>< ><> <>< Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau ><> <>< muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam ><> <>< perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam ><> <>< kesetiaanmu dan dalam kesucianmu - 1 Timotius 4 : 12 ><> <>< ><> <>< =============================================================== ><> Anda sekarang terdaftar di i-kan-untuk-gp2000 dengan: [EMAIL PROTECTED] Untuk unsubscribe, forward message ini ke [EMAIL PROTECTED]
