|
\o/ \o/~~~~~~~~(((( Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Gal.5:25 ))))~~~~~~~\o/ \o/ From: GBI Buaran <[EMAIL PROTECTED]>:
Kalau Tuhan
Menegor!
Beberapa perawat berseragam putih-putih setengah berlari-lari mendorong tempat tidur. Suasana emergency room menjadi sangat sibuk. Para perawat bergegas membenahi peralatan dari tabung O2, selang-selang infus, penyangga leher dan peralatan medis yang lain. Dalam keadaan setengah sadar, saya dipindahkan dari mobil ke tempat tidur dorong. Satu langkah pertolongan pertama standar rumah sakit disiapkan. Saya terbaring lunglai. Beberapa bagian tubuh yang terluka mengeluarkan darah yang sangat banyak. Jahitan di beberapa titik sangat perih karena hanya dilakukan dengan bius lokal. Yang paling parah adalah bagian atas alis mata sebelah kanan sobek sehingga memerlukan 19 jahitan. Sementara jari kaki kanan satu retak sehingga perlu di semen. Mata kanan terpaksa harus di tutup perban. Kaos oblong putih yang penuh lumuran darah di gunting paksa karena mengganggu pernafasan. Benar-benar sekarat dengan penyangga leher yang membuat tidak bisa bergerak. Hampir satu jam, saya akhirnya di dorong ke ruang perawatan. Seluruh badan saya mengalami kontraksi otot. Rasa sakit menjalar sampai ke seluruh tubuh. Berkali-kali saya harus menjerit-jerit menahan kontraksi otot hingga suster-suster jaga kepayahan. Untuk mengurangi rasa sakit, akhirnya mereka melakukan terapi khusus. Samar-samat saya dengar kemungkinan saya mengalami geger otak karena kepala membentur aspal. Satu hal yang sangat menakutkan. Apakah saya akan cacat seumur hidup? Apakah saya akan mengalami gangguan saraf dan otak? Beberapa jam sebelum tabrakan hebat itu, saya keluar dari komplek perumahan dengan mengendarai sepeda motor bebek membonceng seorang teman. Tujuan saya adalah Pom Bensin yang berjarak hanya 1 KM dari rumah. Saya hanya mengenakan kaos oblong putih, celana pendek dan sandal jepit. Setengah bercanda di pom bensin, saya bersenda gurau dengan pelayan pom bensin yang kebetulan saya kenal. Dalam beberapa menit kemudian, motor saya kemudian melaju kembali ke arah rumah. Beberapa mobil angkutan umum ramai berseliweran di jalanan. Mereka memang raja jalanan yang kadang-kadang tidak mau peduli keselamatan pengendara yang lain. Dengan berhenti dan menurunkan penumpang seenaknya, mereka memaksa kendaraan kita rem mendadak. Hanya beberapa meter dari gerbang komplek, sebuah angkot memberi send kiri hendak berhenti. Saya mencoba mengimbanginya dengan menginjak pedal gas karena kebetulan di depan mobil masih berjarak jauh. Dengan kecepatan normal saya melaju di tengah jalur jalanan dua arah tanpa pembatas. Entah dari mana, sebuah mobil melaju dengan cepat dari depan. Terlambat, saya harus memacu motor dengan lebih cepat lagi untuk melewati angkot di depan. Tiba-tiba, dari belakang mobil yang meluncur cepat itu muncul motor dengan kecepatan tinggi. Dan, bummm.. Dua motor bertemu di tengah jalur. Saya terpental setelah berguling-guling di atas aspal. Masih dalam keadaan sadar, saya mencoba berdiri dan menyeret bangkai motor yang tergeletak tidak jauh. Setelah mencoba berdiri, samar-sama mata saya melihat teman yang saya bonceng berlari menjauh massa yang mulai berkerumun. Sementara kerumunan massa cepat sekali memenuhi jalanan. Dunia seperti gelap dan semuanya jadi samar-sama. Tanpa saya sadari saya sudah tergeletak di sebuah klinik kecil. Beberapa perawat sudah bersih-bersih. Sebuah rujukan di tujukan ke rumah sakit yang lebih lengkap. Sebuah mobil akhirnya melarikan saya ke sebuah Rumah Sakit Swasta yang lebih modern. Beberapa detik sebelum tabrakan hebat itu terjadi, pandangan mata agak sedikit buram. Beberapa bulan sebelumnya saya telah menghadiri prosesi wisuda di sebuah auditorium. Sebuah gelar sarjana yang saya dapatkan dengan pengorbanan yang besar selama lima tahun. Menjadi seorang sarjana yang saya impikan sejak lama, ternyata tidak seindah angan-angan. Setumpuk masalah menyangkut pilihan pekerjaan mulai silih berganti. Beberapa teman-teman satu angkatan kemudian sudah "ngantor" dengan dasi dan busana necis. Masuk seminari dan komitmen melayani di ladang Tuhan setelah lulus adalah komitmen saya sebelumnya. Masih jelas dalam ingatan saya ketika mengangkat tangan kanan dan mengucapkan janji wisudawan di depan audiens, "Saya berjanji akan mengabdi dalam pelayanan di ladang Tuhan." Tetapi ketika beberapa tawaran "dunia" terlihat lebih menggiurkan, hati manusia kadang-kadang jadi mendua. Jabatan manager di sebuah bank swasta nasional dengan dukungan finance yang bagus tentu memiliki godaan dengan suara yang lebih menawan. Dunia sedang menunjukkan kelihaiannya. Memang tidak menjadi masalah kalau kita bekerja part time di gereja dan separuhnya di market place. Tetapi akan menjadi masalah besar jika untuk konsep paruh waktu ini seseorang melupakan komitmennya melayani Tuhan sepenuh waktu. Dulu saya berjanji untuk melayaniNya sepenuh waktu. Tetapi perkembangan zaman berkata lain. Perkembangan zaman seperti arus sungai yang menghayutkan idealisme ketika masih kuliah dulu. Bukankah demikian adanya kehidupan manusia? Ketika masih sengsara, idealis dan sangat terhormat, tetapi begitu hidup mapan, jadi budak jabatan, harta dan akhirnya di musuhi masyarakat. Perhatikanlah beberapa aktivis mahasiswa yang dengan gigih berdemonstrasi di jalanan, tetapi berapa persenkah di antara mereka yang tetap konsisten ketika tawaran "dunia" yang menggiurkan lewat di depan hidung? Bukankah kebanyakan mereka menjadi lebih serakah dari orang-orang yang pernah mereka paksa turun jabatan ketika unjuk rasa dulu? Menjadi seorang hamba Tuhan itu sungguh merupakan sebuah dilema. Karena merupakan public figure, maka setiap gerak-geriknya menjadi sorotan jemaat. Ketika seorang pendeta miskin, melarat, dan kurus kering maka arus "pergunjingan" dengan topik kurang berdoa akan segera beredar di jemaat. Tetapi ketika sang pendeta hidup mapan, bobot badan gemuk, dengan dukungan finasial yang berlimpah, maka gelombang "penghakiman" dengan topik tamak dan rakus akan uang kolekte akan melanda jemaat. Ketika seorang pendeta tidak punya anak, asumsi kurang berdoa berseliweran. Sebalikya, ketika pendeta punya banyak anak, doktrin kurang menguasai diri berlompatan dari mulut ke mulut. Menjadi pendeta itu dilematis. Kanan kiri salah? Tidak berapa lama, ketika secara resmi seorang profesor menggeser letak tali aneh di topi wisuda yang menandakan saya resmi menjadi sarjana, tawaran untuk "meninggalkan" gereja dan bergabung di perusahaan "dunia' silih berganti. Dengan beberapa dalih toh sudah banyak sarjana-sarjana lulusan seminari yang bekerja di perusahaan sekuler, mereka menawarkan beberapa fasilitas dan kemudahan yang saya akan dapatkan. Dari pada harus hidup bagaikan parasit dengan mengandalkan dukungan finasial dari jemaat yang belum tentu memadai, mengapa tidak "menyambar" kesempatan ini. Hati saya mulai ragu dan mulai mencoba-coba mencari alasan untuk "membatalkan" komitmen pelayanan full time di ladang Tuhan. Sebuah suara lain berbunyi dengan keras, "Ah, jangan takut, toh kamu tidak sepenuhnya meninggalkan pelayanan, kamu masih bisa berkhotbah di sela-sela liburan kantor!" Sebuah CV tak lama kemudian sudah di persiapkan. Hingga tiba siang yang naas itu. Siang di mana Tuhan berbicara dengan tangan yang teracung. "Aku tidak sudi dipermainkan!"
Dan sebuah tabrakan yang nyaris merenggut jiwa
terjadi. Malam ke dua saya terbaring dengan kaki di gantung, mata di perban, dan hampir semua bagian sebelah kanan dari kaki sampai kepala tubuh saya penuh diperban. Kontraksi otot sudah semakin jarang. Dan sebuah kabar gembira! Tengkorak kepala saya tidak tergores sedikitpun. Hasil scan menunjukkan hanya jari kaki kanan yang retak. "Terimakasih Tuhan, Engkau adalah Allah yang sungguh baik. Ketika Aku berhasrat ingin lari dari panggilanMu. Engkau justru berlari menjangkau aku. Engkau memelukku erat-erat sehingga Aku tidak punya kesempatan untuk mengingkari sebuah Komitmen. Walaupun teguranMu ini sungguh sakit, tetapi sekarang aku mengerti isi hatiMu." Sebuah doa dan linangan air mata. Sebuah komitmen yang baru dipulihkan kembali. Seperti sebuah ungkapan perasaan seorang nabi yang tidak kuat lagi menahan deraan: " Engkau telah membujuk aku ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku di bujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku. Tetapi apabila aku berpikir: 'Aku tida mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firmanNya lagi demi namaNya', maka dalam hatiku ada sesuatu yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup." (Yeremia 20:7,9) Dalam hati yang tergoda untuk "menikmati" dunia, masih terasa hangat kasih Allah. Tetapi ketika, hati mengeras, maka hanya satu cara yang efektif, sebuah teguran. Sebuah tabrakan! Dalam PelayananNya Joshua MS, STh Jl. Raden Inten II Blok A/10-11 Taman Buaran Indah Klender Jakarta Timur 13470 Surfing yo Surfing ke RDSB.org ! webnya barusan di renov ! berkatnya makin komplit aja ! Daftar Member di RDSB.org heratis ! buat akses webmail, forum, MIDI dan masih banyak lahi ! Jangan lupa mampir juga ke http://tokobuku.rdsb.org, koleksinya langka, mutu dan manteb ! o)---------------------------( Milis ini didukung oleh I-KAN )--------------------------(o http://rdsb.org ; http://beritasorgawi.com ; http://ob.or.id Berhenti dari Milis : [EMAIL PROTECTED] Langganan Milis : [EMAIL PROTECTED] Administrasi & Teknis : [EMAIL PROTECTED] petunjuk nomail,mail,digest,gantiemail : [EMAIL PROTECTED] |
