Title: ARTIKEL PASKAH
\o/ \o/~~~~~~~~(((( Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Gal.5:25 ))))~~~~~~~\o/ \o/
 

ARTIKEL PASKAH

 

SETELAH KEGAGALAN ITU
    (Yohanes 18:12-27)

  William Shakespeare dalam karangannya yang berjudul Hamlet menuliskan dialog antara Hamlet dengan Ophelia sebagai berikut;
                "Engkau boleh meragukan bahwa bintang-bintang itu api,
                 Engkau boleh meragukan bahwa matahari itu bergerak,
             Engkau boleh meragukan bahwa kebenaran itu dusta,
    Tetapi, jangan sekali-kali engkau meragukan cintaku (But never doubt I love)."

                Dalam bentuk kalimat yang lain namun pengertiannya sama, bukankah kalimat seperti ini pernah diucapkan oleh seorang rasul yang bernama Simon Petrus? Mari kita perhatikan Yohanes 13:36-38,  Petrus seakan-akan berkata demikian "Oh Tuhan aku mengasihi Engkau, aku akan memberikan nyawaku bagiMu. Oh Tuhan Engkau boleh ragu terhadap Yudas Iskariot, Yohanes dan Tomas, tetapi jangan ragu terhadap aku. Sebab aku ini lain, ya.. aku ini lain. Sekali lagi aku akan memberikan nyawaku bagiMu"
                Tetapi Tuhan Yesus berkata kepadanya: “Nyawamu akan kau berikan kepadaKu? Aku berkata kepadamu Petrus, sebelum ayam berkokok dua kali engkau telah menyangkal Aku sebanyak tiga kali."
                Inilah suatu kenyataan hidup yang sedang dihadapi oleh Petrus. Dia seakan-akan menjadi seorang yang begitu pengecut, dia gagal dalam ucapannya sendiri. Yang lebih parah, ia nanti akan menyangkal diri Yesus sebanyak tiga kali. Timbul pertanyaan untuk kita semua, siapa sebenarnya yang ingin mengalami kegagalan? Tentu tidak seorangpun yang  mau bukan! Semua orang hanya ingin sukses. Siapa yang ingin dirinya dicemooh? Penulis yakin dan percaya kita semua pasti tidak mau. Namun, bukankah tatkala dunia sedang berusaha mencari keadilan, Petrus seakan-akan diperlakukan secara tidak adil,  terutama oleh para pengkhotbah yang senantiasa memfokuskan penyangkalannya sebagai topik renungan atau khotbah. Bukankah masih ada banyak hal positif dari Petrus ini yang bisa kita pelajari? 
                Mari kita lihat ayat 15, di sini dicatat bahwa Simon Petrus dan seorang murid yang lain mengikuti Yesus sampai ke halaman istana imam besar, tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Di sini kita dapat melihat dengan jelas bahwa semua murid-murid Yesus yang lain tidak berada di tempat, mereka entah lari ke mana. Kemungkinan besar mereka bersembunyi karena takut ditangkap juga.
                Coba kita bayangkan apa yang pernah dilakukan Petrus, hanya dia yang telah mengacungkan pedang untuk melawan pasukan yang dibawa Yudas Iskariot, walaupun keadaan waktu itu cukup menakutkan. Sementara itu murid-murid yang lain bengong dan bungkam. Sekarang Petrus sendiri yang mengikuti Yesus dan melihat bagaimana keadaan Gurunya selama di persidangan yang penuh "rekayasa" ini. Mengapa kita katakan penuh "rekayasa". Ada beberapa alasan untuk menjawabnya;
                1. Yesus ditangkap tanpa  ada kesalahan yang dapat dituduhkan kepada-
  Nya.
                2. Yesus ditanyai sesuatu, padahal biasanya harus ada saksi.
                3. Yesus disidangkan pada malam hari, dan menurut tradisi itu tidak lazim.
                4. Saksi-saksi palsu dihadirkan dan pengakuannya dipercaya dan dijadikan 
pedoman untuk menghukum Yesus        

            
                Seharusnya sekarang yang perlu kita ingat tentang Petrus bukan lagi kegagalannya, melainkan keberaniannya yang menyebabkan dia tetap tegar dan dekat dengan Gurunya ( ingat waktu itu semua murid yang lain telah melarikan diri ).
                Suatu kesalahan yang telah diperbuat oleh seseorang, dan apabila orang tersebut kemudian sadar; ia akan merasa sangat menyesal sekali. Satu contoh dapat kita lihat dari kisah seorang hamba Tuhan yang melayani di Cina yakni Pendeta Wang Ming Thao. Tatkala ia memberitakan Injil di Cina, ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara selama dua puluh tiga tahun. Menurut kesaksiannya, di dalam penjara ia disiksa, dipukul, dihukum strum dengan kursi listrik, semua ini dilakukan oleh pihak pemerintah supaya pendeta ini menolak iman percayanya. Suatu hari, ketika ia baru selesai distrum di kursi listrik, ia dipaksa untuk menandatangani sebuah surat pernyataan yang menyatakan bahwa ia tidak percaya Tuhan Yesus lagi.  Dengan setengah sadar ia pun menandatangani surat itu. Setelah sadar,  ia merasa sangat terpukul dan  menyesal sekali. Kemudian dia minta pengampunan dari Tuhan. Maka sebagai peringatan baginya, ia membeli seekor ayam jantan, dan memeliharanya di dalam penjara untuk mengingatkan dirinya seperti Petrus yang pernah menyangkal Yesus.
                Simon Petrus sebagai seorang yang boleh dikatakan "pragmatis" yang biasanya selalu mengambil keputusan dengan cepat dan praktis, apa lagi yang harus dilakukannyua selain memberi jawaban yang spontan ketika orang bertanya tentang dia dan Gurunya? Kegagalan itu hanya terjadi pada orang yang luar biasa berani seperti Petrus tatkala menghadapi keadaan yang tidak biasa atau boleh dikatakan sangat terpaksa.  Sekali lagi, benar Petrus mengalami kegagalan; tetapi ia gagal dalam situasi saat semua orang telah melarikan diri.
                Kita perlu ingat bahwa Petrus sangat mengasihi Tuhan Yesus. Meskipun teman-teman lain lari, ia tetap bertahan.  Ia sedemikian mengasihi Yesus sehingga tidak ada langkah yang cukup beralasan baginya supaya meninggalkan Gurunya walau akhirnya ia jatuh, gagal bahkan menyangkal. Nah, sebagai konsekwensinya maka Petrus harus menebusnya dengan tangisan penuh kesedihan; dan barangkali hal ini jarang dilakukan oleh orang se-pragmatis Petrus.  Namun kalau kenyataannya kita melihat Petrus menangis dengan sedih, itu hanya karena di dalamnya ada "Kasih" yang saat itu mungkin agak terluka dan tergores.
                Selain itu, resiko yang harus diterimanya cukup banyak. Salah-satunya ialah; berita kegagalannya akan tersebar. Mungkin orang-orang akan menilainya pengecut, penghianat, atau barang kali ada yang agak nakal; mereka menirukan suara ayam berkokok untuk mengenyek Petrus.  Kita tidak ingin menganggap bahwa hanya Petrus yang merupakan murid terbaik. Tetapi selama masih ada yang namanya "manusia", siapa berani mengklaim dirinya sempurna?  Siapa yang bebas dari kelemahan dan kekurangan? Sesungguhnya orang yang hanya pandai mengecam orang lain dan mengangkat diri sendiri menjadi teladan adalah orang yang paling tidak pantas untuk diteladani.
                Sebagai orang yang pragmatis, dalam kehidupan Petrus "menangis" dan "menyesal" tak pernah berlangsung terlalu lama. Oleh sebab itu setelah Yesus mati, Petrus menjadi orang pertama yang paling tanggap terhadap situasi baru ini. Maka ia segera mempunyai ide yakni kembali ke profesinya yang lama.  "Aku mau pergi menangkap ikan" (lihat Yohanes  21:3).  Kembali menangkap ikan adalah sikap yang paling praktis dan realistis. Sebab memang itulah keahliannya yang lama sebelum Tuhan Yesus hadir dalam kehidupannya. Menangis dan berkabung tidak akan sanggup merubah keadaan atau  menghidupkan kembali Sang Guru.
                Namun keinginan Yesus terhadap Petrus justru lain, Yesus ingin Petrus tetap dalam panggilanNya. Itulah sebabnya bukan kebetulan jika Tuhan Yesus menemui Petrus di tepi pantai, dan selanjutnya ada suatu pembaharuan dalam pelayanannya. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku, lebih dari kapalmu, jalamu, hasil ikanmu, atau dibandingkan dengan teman-temanmu yang lain?”  Pertanyaan ini membuat Petrus terharu, karena secara berturut-turut Yesus melontarkan pertanyaan yang sama. Lalu perintah Yesus kepadanya "Gembalakanlah domba-dombaKu"
                Tuhan Yesus sepertinya mau ingatkan Petrus bahwa  “Aku tidak sudi engkau kembali menangkap ikan, tetapi tugas utamamu adalah sebagai penjala manusia, yakni membawa orang-orang untuk percaya kepada-Ku.”  Dengan ketiga pertanyaan inilah, kembali hati Petrus tergugah dan ia tak sanggup menahan tangis.  Ia sadar, ia pernah menyangkal Gurunya tiga kali, sehingga seakan-akan Yesus menyindirnya dengan mengajukan pertanyaan sebanyak tiga kali pula.
                Selanjutnya kalau kita melihat masa akhir hidup Petrus, sungguh terjadi suatu kebangunan rohani yang dahsyat. Ada 5.000 orang yang bertobat melalui khotbah yang disampaikan Petrus, belum terhitung perempuan dan anak-anak ( lihat Kisah para -rasul  4).  Bahkan menurut tradisi, demi pekabaran Injil yang dilakukan Petrus, ia ditangkap dan disalibkan dengan terbalik. Ia mati demi Injil.  Sekarang mari kita kembali mengoreksi diri, apakah memang benar kita lebih baik dari Simon Petrus?
                Kegagalan kita mungkin tidak sampai menyangkal Yesus, tetapi mungkin di gereja kita gagal membina satu persekutuan yang indah dengan sesama kita. Sebagai suami atau isteri kita gagal membina rumah tangga kita dengan baik, ada percekcokan terus. Atau kita gagal mendidik anak kita dengan baik, sehingga hati kita susah.  Sebagai pegawai atau staff kita merasa gagal dalam tugas-tugas yang diberikan atasan.  Atau sebagai orang Kristen kita gagal memenuhi tuntutan Tuhan; bahkan sering kali kita menyakiti hati Tuhan. Kita senantiasa jatuh di dalam dosa yang sama.
                Bukankah sewaktu kita baru pertama kali bertobat kita juga seperti Petrus dengan sesumbar berkata "Nyawapun akan kuberikan kepadaMu Tuhan", aku tetap mengasihi-Mu. Sejalan dengan waktu, mungkin kini kasih kita kepada Tuhan mulai berkurang, kita malas melayani Dia, kita kurang semangat melayani.  Janji tetap tinggal janji dan sementara itu kita kembali ke manusia lama.  Tuhan Yesus tidak mengingini kita demikian,   Ia akan berkata "stop dari kegagalanmu", mari bangkit, Aku akan memperbaharui engkau.
                Sekarang apa yang harus kita perbuat? Tatkala kita mengenang kematian Yesus di atas kayu salib; mari kita bangkit dari kegagalan itu. Jangan terbuai dengan kegagalan yang terus menerus. Tuhan pasti akan memperbaharui kita.

 

 

DIA MENDERITA untuk DITELADANI!

Dialog Jumat pagi itu pahit sekali. Dari pihak penonton: "Turunlah dari salib itu jikalau Engkau Anak Allah!"
Dari pemimpin-pemimpin agama: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri!"
Dari prajurit-prajurit: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diriMu !"
Kata-kata yang pahit. Nada sarkastis yang kecut. Penuh kebencian. Kurang ajar. Belum cukupkah bahwa Ia dipaku di atas kayu salib? Belum cukupkah bahwa Ia dipermalukan sebagai seorang penjahat? Apakah mahkota berduri itu dianggap terlalu lunak? Atau pukulan-pukulan yang menghajar diriNya dirasa kurang lama? Bagi sejumlah orang memang begitu rupanya.

Orang -orang yang lewat melontarkan penghinaan terhadap Kristus yang disalibkan. Mereka tidak hanya berteriak atau berbicara. Mereka "melontarkan" batu verbal, kata-kata. Mereka memang bermaksud menyakiti. "Kita sudah mematahkan tubuhNya. Ayo sekarang kita patahkan semangatNya!" Jadi, mereka memasang busur mereka dengan panah-panah ‘rasa benar sendiri’ lalu membidikkan panah-panah pedih penuh racun kepada korbannya.

Dari sekian adegan yang terjadi sekitar salib, inilah yang paling membuat aku marah. Manusia-manusia macam apa itu, ku bertanya pada diriku sendiri, yang tega mengejek orang yang sedang sekarat? Siapa yang begitu keji, sehingga mau membubuhi garam pencemoohan pada luka-luka terbuka? Bukan main rendahnya dan sesat untuk mengolok-olok orang yang kesakitan. Siapa yang mau mempermainkan orang yang duduk di kursi listrik? Atau siapa yang mau menunjuk dan menertawakan orang yang sudah diikat tali gantung di lehernya? Yakinlah bahwa ini adalah pekerjaan iblis serta antek-antek setannya.

Lalu penjahat nomor dua di salib menyerang: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkan diriMu dan kami!" Kata-kata yang dilontarkan hari itu dimaksudkan untuk menyakiti. Dan tidak ada yang lebih sakit dari kata-kata yang dimaksudkan untuk melukai hati. Itu sebabnya Yakobus menyebut lidah sebagai api. Luka-luka bakar yang disebabkan oleh lidah sama-sama merusak dan membahayakan seperti luka-luka obor las.

Akan tetapi, semua ini bukan hal baru bagi Anda. Pasti Anda juga pernah mengalami hal serupa. Pernah merasakan ejekan yang dimaksudkan untuk menyengat perasaanmu. Seorang terkasih membanting Anda dengan cercaan atau kata-kata yang tidak sengaja terucap. Dan Anda tergeletak di lantai, terluka. Mungkin kata-kata itu dimaksudkan untuk melukai Anda, mungkin juga tidak. Luka Anda dalam sekali. Anda terluka di dalam. Hati yang patah, harga diri yang terluka, perasaan tersinggung. Barangkali luka Anda sudah lama. Sekalipun panahnya sudah lama dicabut, tapi ujungnya masih juga bercokol ... di bawah kulitmu. Kepedihan lama tiba-tiba saja timbul kembali, tidak mungkin mengetahui kapan dia timbul tapi jelas terasa, mengingatkan Anda akan kata-kata keras yang belum dimaafkan.

Jika Anda pernah menderita, atau sekarang Anda menderita karena kata-kata seseorang, Anda pasti senang mengetahui bahwa ada obatnya bagi bilur-bilur pedih itu. Renungkanlah kata-kata berikut yg terdapat dalam 1 Petrus 2:23, "Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil."

Anda lihat apa yang tidak dilakukan oleh Yesus? Ia tidak membalas. Ia tidak menyerang balik. Ia tidak mengatakan," Nanti kuhajar kau!" "Berani bilang di depan saya?" "Awas nanti, kalau saya sudah bangkit!" Tidak, ucapan-ucapan ini tidak pernah terdengar dari mulut Kristus. Anda lihat apa yang dilakukan Yesus? Ia menyerahkan diriNya "kepada Dia yang menghakimi dengan adil". Atau secara jelas, Ia membiarkan Tuhan yang menghakimi. Ia tidak membalas dendam. Ia tidak menuntut permintaan maaf. Ia tidak menyewa tukang pukul. Malah, anehnya, Ia membela mereka: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

Ya, memang dialog Jumat itu pahit sekali. Batu-batu verbal memang dimaksudkan untuk menyengat. Bagaimana sampai Yesus, yang badanNya kesakitan, matanya hampir dibutakan karena darah yang mengalir dari luka-lukaNya, dengan paru-paru  yang megap-megap, Ia masih bisa berbicara membela penjahat-penjahat yang sama sekali tidak ada belas kasihan, itu sama sekali tidak masuk di akal. Tidak pernah saya menyaksikan kasih yang begitu besar. Kalau ada orang yang berhak atas pembalasan, maka Yesuslah orangnya. Tetapi Ia tidak membalas. Sebaliknya, Ia mati bagi mereka. Bagaimana itu dapat dilakukan olehNya? Saya tidak tahu. Yang saya tahu ialah bahwa tiba-tiba luka-lukaku sendiri terasa tidak sakit lagi. Rasa dendamku dan rasa tersinggungku tiba-tiba terasa kekanak-kanakan.

Kadang-kadang aku bertanya-tanya, apakah kita tidak melihat kasih Kristus sama jelas pada penderitaan yang harus ditanggungNya maupun pada mereka yang diampuni dosa serta pelanggaran oleh Nya? ( Max Lucado )

o)----------------------[ Hapus dan Edit Pesan yang tidak perlu ]----------------------(o

Surfing yo Surfing ke RDSB.org ! webnya barusan di renov ! berkatnya makin komplit aja !
Daftar Member di RDSB.org heratis ! buat akses webmail, forum, MIDI dan masih banyak lahi !
Jangan lupa mampir juga ke http://tokobuku.rdsb.org, koleksinya langka, mutu dan manteb !

o)---------------------------( Milis ini didukung oleh I-KAN )--------------------------(o

http://rdsb.org ; http://beritasorgawi.com ; http://ob.or.id
Berhenti dari Milis : [EMAIL PROTECTED] Langganan Milis : [EMAIL PROTECTED]
Administrasi & Teknis : [EMAIL PROTECTED]
petunjuk nomail,mail,digest,gantiemail : [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke