|
\o/ \o/~~~~~~~~(((( Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Gal.5:25 ))))~~~~~~~\o/ \o/ From: Paulus Wijaya ARTIKEL PASKAH SETELAH KEGAGALAN
ITU William Shakespeare dalam karangannya yang
berjudul Hamlet
menuliskan dialog antara Hamlet dengan Ophelia sebagai
berikut; DIA
MENDERITA untuk DITELADANI! Dialog Jumat pagi itu pahit sekali.
Dari pihak penonton: "Turunlah dari salib itu jikalau Engkau Anak
Allah!" Orang -orang yang lewat melontarkan
penghinaan terhadap Kristus yang disalibkan. Mereka tidak hanya berteriak atau
berbicara. Mereka "melontarkan" batu verbal, kata-kata. Mereka memang bermaksud
menyakiti. "Kita sudah mematahkan tubuhNya. Ayo sekarang kita patahkan
semangatNya!" Jadi, mereka memasang busur mereka dengan panah-panah ‘rasa benar
sendiri’ lalu membidikkan panah-panah pedih penuh racun kepada
korbannya. Dari sekian adegan yang terjadi
sekitar salib, inilah yang paling membuat aku marah. Manusia-manusia macam apa
itu, ku bertanya pada diriku sendiri, yang tega mengejek orang yang sedang
sekarat? Siapa yang begitu keji, sehingga mau membubuhi garam pencemoohan pada
luka-luka terbuka? Bukan main rendahnya dan sesat untuk mengolok-olok orang yang
kesakitan. Siapa yang mau mempermainkan orang yang duduk di kursi listrik? Atau
siapa yang mau menunjuk dan menertawakan orang yang sudah diikat tali gantung di
lehernya? Yakinlah bahwa ini adalah pekerjaan iblis serta antek-antek
setannya. Lalu penjahat nomor dua di salib
menyerang: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkan diriMu dan kami!"
Kata-kata yang dilontarkan hari itu dimaksudkan untuk menyakiti. Dan tidak ada
yang lebih sakit dari kata-kata yang dimaksudkan untuk melukai hati. Itu
sebabnya Yakobus menyebut lidah sebagai api. Luka-luka bakar yang disebabkan
oleh lidah sama-sama merusak dan membahayakan seperti luka-luka obor las.
Akan tetapi, semua ini bukan hal
baru bagi Anda. Pasti Anda juga pernah mengalami hal serupa. Pernah merasakan
ejekan yang dimaksudkan untuk menyengat perasaanmu. Seorang terkasih membanting
Anda dengan cercaan atau kata-kata yang tidak sengaja terucap. Dan Anda
tergeletak di lantai, terluka. Mungkin kata-kata itu dimaksudkan untuk melukai
Anda, mungkin juga tidak. Luka Anda dalam sekali. Anda terluka di dalam. Hati
yang patah, harga diri yang terluka, perasaan tersinggung. Barangkali luka Anda
sudah lama. Sekalipun panahnya sudah lama dicabut, tapi ujungnya masih juga
bercokol ... di bawah kulitmu. Kepedihan lama tiba-tiba saja timbul kembali,
tidak mungkin mengetahui kapan dia timbul tapi jelas terasa, mengingatkan Anda
akan kata-kata keras yang belum dimaafkan. Jika Anda pernah menderita, atau
sekarang Anda menderita karena kata-kata seseorang, Anda pasti senang mengetahui
bahwa ada obatnya bagi bilur-bilur pedih itu. Renungkanlah kata-kata berikut yg
terdapat dalam 1 Petrus 2:23, "Ketika
Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia
tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan
adil." Anda lihat apa yang tidak dilakukan
oleh Yesus? Ia tidak membalas. Ia tidak menyerang balik. Ia tidak mengatakan,"
Nanti kuhajar kau!" "Berani bilang di depan saya?" "Awas nanti, kalau saya sudah
bangkit!" Tidak, ucapan-ucapan ini tidak pernah terdengar dari mulut Kristus.
Anda lihat apa yang dilakukan Yesus? Ia menyerahkan diriNya "kepada Dia yang
menghakimi dengan adil". Atau secara jelas, Ia membiarkan Tuhan yang menghakimi.
Ia tidak membalas dendam. Ia tidak menuntut permintaan maaf. Ia tidak menyewa
tukang pukul. Malah, anehnya, Ia membela mereka: "Ya Bapa, ampunilah mereka,
sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Ya, memang dialog Jumat itu pahit
sekali. Batu-batu verbal memang dimaksudkan untuk menyengat. Bagaimana sampai
Yesus, yang badanNya kesakitan, matanya hampir dibutakan karena darah yang
mengalir dari luka-lukaNya, dengan paru-paru yang megap-megap, Ia masih
bisa berbicara membela penjahat-penjahat yang sama sekali tidak ada belas
kasihan, itu sama sekali tidak masuk di akal. Tidak pernah saya menyaksikan
kasih yang begitu besar. Kalau ada orang yang berhak atas pembalasan, maka
Yesuslah orangnya. Tetapi Ia tidak membalas. Sebaliknya, Ia mati bagi mereka.
Bagaimana itu dapat dilakukan olehNya? Saya tidak tahu. Yang saya tahu ialah
bahwa tiba-tiba luka-lukaku sendiri terasa tidak sakit lagi. Rasa dendamku dan
rasa tersinggungku tiba-tiba terasa
kekanak-kanakan. Kadang-kadang aku bertanya-tanya, apakah kita tidak melihat kasih Kristus sama jelas pada penderitaan yang harus ditanggungNya maupun pada mereka yang diampuni dosa serta pelanggaran oleh Nya? ( Max Lucado ) Surfing yo Surfing ke RDSB.org ! webnya barusan di renov ! berkatnya makin komplit aja ! Daftar Member di RDSB.org heratis ! buat akses webmail, forum, MIDI dan masih banyak lahi ! Jangan lupa mampir juga ke http://tokobuku.rdsb.org, koleksinya langka, mutu dan manteb ! o)---------------------------( Milis ini didukung oleh I-KAN )--------------------------(o http://rdsb.org ; http://beritasorgawi.com ; http://ob.or.id Berhenti dari Milis : [EMAIL PROTECTED] Langganan Milis : [EMAIL PROTECTED] Administrasi & Teknis : [EMAIL PROTECTED] petunjuk nomail,mail,digest,gantiemail : [EMAIL PROTECTED] |
Title: ARTIKEL PASKAH
