\o/ \o/~~~~~~~~(((( Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Gal.5:25 ))))~~~~~~~\o/ \o/
From: "leonardo kama" <leok...>
 
" EMOSI ROHANI TIMBUL DARI PEMAHAMAN ROHANI "
  Dari Buku " Pengalaman Rohani Sejati " Jonathan Edward
  Hal : 90 - 94 Penerbit Momentum, 1'st edition 2003

Emosi-emosi rohani bukanlah kehangatan yang tanpa terang. Emosi-emosi ini
timbul dari pencerahan rohani. Orang Kristen sejati merasakan, karena ia
melihat dan memahami hal-hal rohani lebih dari pada sebelumnya. Ia memiliki
pandangan yang lebih jernih dan lebih baik daripada sebelumnya ; apakah ia
menerima sejumlah pemahaman baru tentang kebenaran Allah, atau ia menemukan
kembali pengetahuan yang pernah di punyainya tetapi kemudian hilang. " Dan
inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan
dalam segala macam pengertian" ( Filipi 1:9). "Dan telah mengenakan manusia
baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar
menurut gambar Khaliknya" (Kolose 3:10).

Sekarang saya ingin menegaskan bahwa ada perbedaan yang besar antara
pengetahuan doktrinal dan pengetahuan spritual. Pengetahuan doctrinal
melibatkan intelektual belaka, sedangkan pengetahuan spitual merupakan suatu
pengertian hati ( a sense of the heart ) yang olehnya kita melihat kekudusan dalam doktrin-doktrin kristen. Pengetahuan selalu melibatkan intelek dan
hati bersama-sama. Kita perlu memahami apa makna suatu doktrin Alkitab
secara intelektual, dan merasakan/menikmati ( taste) keindahan yang kudus
dari makna tersebut dengan hati kita.

Seseorang dapat memiliki banyak pengetahuan tentang berbagai doktrin di
dalam inteleknya tetapi tidak mempunyai kerinduan akan keindahan kekudusan
dalam doktrin tersebut. Ia mengetahui secara intelektual dalam kepalanya,
tetapi ia tidak mengetahui secara spiritual dalam hatinya. Pengetahuan
doctrinal belaka dapat di ibaratkan sebagai pengalaman seseorang yang telah
melihat dan menyentuh madu. Pengetahuan spiritual dapat di ibaratkan sebagai
pengalaman seseorang yang telah mengecap manisnya rasa madu dengan lidahnya.
Ia mengetahui jauh lebih banyak tentang madu ketimbang orang yang sekedar
melihat dan menyentuhnya saja !

Dengan demikian, suatu pemahaman spiritual tentang Kitab Suci tidak identik
dengan suatu pemahaman tentang perumpamaan, tipologi, dan alegorinya.
Seseorang mungkin mampu menafsirkan semua itu, sekalipun tanpa mempunyai
secercah terang spiritual dalam jiwanya. "Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan
..tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna" ( 1 Korintus 13:2). "Makna rohani" Kitab Suci terletak pada keindahan kebenaran yang ilahi di dalamnya, bukan pada penafsiran akurat atas makna simboliknya.

Sekali lagi , jika Allah melalui Roh Kudus, mewahyukan secara langsung kehendak-Nya kedalam pikiran kita, itu bukanlah pengetahuan rohani.
Pengetahuan semacam itu semata-mata merupakan pengetahuan doctrinal, bukan
pengetahuan spiritual. Fakta tentang kehendak Allah merupakan doktrin, sebagaimana halnya fakta tentang natur dan karya Allah! Maka , kita tetap hanya berurusan dengan pengetahuan doctrinal saja, jika kita tidak merasakan keindahan yang kudus dari kehendak Allah.

Ada lagi kesalahan umum mengenai pemahaman rohani yang ingin saya koreksi.
Sebagian orang menyatakan bahwa Allah mewahyukan kehendak-Nya kepada mereka dengan cara menanamkan sebuah teks Alkitab dalam pikiran mereka - seringkali
berupa teks mengenai tokoh Alkitab dengan kehidupannya. Sebagai contoh,
seorang Kristen sedang mempertimbangkan untuk pergi ke sebuah negeri asing,
dimana ia akan menghadapi banyak kesulitan dan bahaya. Firman Allah kepada
Yakub dalam Kejadian 46:4 muncul dengan jelas dalam pikirannya, "Aku 
sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah aku juga akan
membawa engkau kembali." Firman ini berkenaan dengan diri Yakub dan
kehidupannya, tetapi orang Kristen tersebut menafsirkannya di tujukan pada
dirinya. Ia menafsirkan "Mesir" sebagai negeri asing yang terdapat dalam
pikirannya, dan berpikir bahwa Allah berjanji untuk menyertainya pergi ke
sana dan membawanya kembali dengan selamat, Ia mungkin menyebut ini suatu
"pemahaman rohani " dari teks tersebut, atau sebagai karya Roh Kudus yang
mengaplikasikan teks ini kepada dirinya.
Meskipun demikian, tidak ada unsur spiritual dalam hal ini. Pemahaman spiritual melihat apa yang sebenarnya dicatat dalam Alkitab; bukan membuat
penafsiran baru atasnya. Membuat penafsiran baru terhadap Kitab suci itu
identik dengan membuat sebuah Kitab Suci yang baru! Itu sama dengan
menambahi firman Allah, suatu tindakan yang dikutuk Allah ( Amsal 30:6). Makna spiritual yang sejati dari Alkitab adalah makna asli pada saat pertama kali Roh menginspirasikannya. Makna asli ini seharusnya dapat di lihat oleh
setiap orang, sekiranya mereka tidak buta secara spiritual.

Tidak aneh jika pengalaman-pengalaman ini membangkitkan emosi yang kuat.
Tentu saja orang akan merasa sangat tergerak takkala mereka berpikir Allah sedang menuntun mereka melalui sebuah teks, atau secara langsung mewahyukan
kehendak-Nya kepada mereka melalui Roh-Nya. Namun, inilah yang hendak saya
tekankan: tak satu pun pengalaman - pengalaman  ini yang bersangkut paut dengan merasakan atau menikmati indahnya kekudusan Allah. Dan emosi-emosi dapat bersifat spiritual hanya ketika emosi-emosi itu timbul dari penglihatan spitual akan keindahan kekudusan Allah. Jika emosi sekedar muncul dari hal-hal yang tersirat dalam pikiran, atau kata-kata yang terlintas di kepala, maka emosi ini tidak memiliki hakikat rohani.

Sebagian besar ajaran sesat (agama palsu) di dunia di dasarkan pada pengalaman seperti ini dan pada emosi palsu yang mereka sukai. Agama-agama non-Kristen penuh hal-hal demikian. Demikian pula halnya - sangat disesalkan - dengan sejarah gereja. Pengalaman - pengalaman seperti ini menakjubkan banyak orang, terutama mereka yang kurang intelek. Mereka pikir kekeristenan itu semata-mata identik dengan perasaan, penglihatan, dan perasaan terangkat ini. Maka Iblis menyamar sebagi malaikat terang, menyesatkan banyak orang, dan merusakkan agama/ kerohanian yang sejati. Para pemimpin gereja harus senantiasa waspada terhadap tipu muslihat ini, terutama selama masa kebangunan.

Sebelum melanjutkan, saya ingin menjelaskan satu hal. Saya tidak ingin ada
orang yang salah menafsirkan perkataan saya. Saya tidak mengatakan bahwa
emosi itu tidak rohani hanya karena adanya ide-ide imajiner yang menyertainya. Nature manusia itu adalah sedemikian rupa, sehingga kita tidak dapat berpikir serius mengenai sesuatu tanpa sekaligus memiliki semacam ide-ide yang di imajinasikan. Namun demikian, jika emosi kita bersumber dari ide-ide imajiner ini, dan bukan dari pengetahuan spiritual, maka emosi kita tidak memiliki nilai spiritual. Saya ingin orang memahami perbedaan ini :
ide-ide imajiner dapat timbul dari emosi rohani, tetapi emosi rohani tidak mungkin timbul dari ide-ide imajiner.
Emosi rohani hanya dapat timbul dari pengethuan spiritual, pengertian hati yang melihat keindahan kekudusan. Dan jika ide-ide imajiner mengikuti suatu emosi rohani sejati. Maka ini bukanlah yang utama, tetapi sekedar suatu dampak sampingannya.

Soli Deo Gloria
o)----------------------[ Hapus dan Edit Pesan yang tidak perlu ]----------------------(o

Surfing yo Surfing ke RDSB.org ! webnya barusan di renov ! berkatnya makin komplit aja !
Daftar Member di RDSB.org heratis ! buat akses webmail, forum, MIDI dan masih banyak lahi !
Jangan lupa mampir juga ke http://tokobuku.rdsb.org, koleksinya langka, mutu dan manteb !

o)---------------------------( Milis ini didukung oleh I-KAN )--------------------------(o

http://rdsb.org ; http://beritasorgawi.com ; http://ob.or.id ; http://revival.or.id
Berhenti dari Milis : [EMAIL PROTECTED] Langganan Milis : [EMAIL PROTECTED]
Administrasi & Teknis : [EMAIL PROTECTED]
petunjuk nomail,mail,digest,gantiemail : [EMAIL PROTECTED]
Untuk info lebih lanjut kunjungi web kami di http://revival.or.id

Kirim email ke