\o/ \o/~~~~~~~~(((( Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Gal.5:25 ))))~~~~~~~\o/ \o/

Kepenuhan Berkat Pentakosta

 

Karl Barth, seorang teolog besar abad ke-20 pernah mengatakan bahwa abad ke-20 adalah abad yang akan banyak membicarakan tentang Roh Kudus. Memang, tampaknya Pribadi ketiga Allah Tritunggal ini kurang banyak dibicarakan dalam perkembangan sejarah dogma atau pengajaran iman kristen. Namun ini adalah hal yang wajar dan dalam pengertian tertentu bahkan alkitabiah, karena tentang Roh Kudus sendiri dikatakan bahwa “Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, ... Ia akan memuliakan Aku (Kristus)” [Yoh 16;13-14]. Dan justru di sinilah terletak kebesaran kemuliaan Roh Kudus, Ia tidak memuliakan diriNya sendiri, akan tetapi memuliakan Yesus Kristus. Sama seperti Yesus Kristus tidak memuliakan diriNya sendiri, melainkan memuliakan Allah Bapa yang di sorga, demikian pula Roh Kudus.

 

Roh Kudus memimpin seseorang kepada Yesus Kristus. Ini sekaligus menjadi ujian untuk membedakan apakah suatu karya sungguh merupakan karya Roh Kudus atau bukan. Kepenuhan Roh Kudus selalu membawa manusia kepada pengenalan yang lebih dalam akan Yesus Kristus. Semakin seseorang hidup dipenuhi kuasa Roh Kudus, semakin ia menghidupi Kristus di dalam hatinya. Itulah isi keseluruhan hidup kristen, yaitu hidup di mana Kristus berkarya di dalam dan melalui kita. Hidup kristen bukanlah apa yang kita kerjakan bagi Tuhan, apa yang kita kontribusikan kepada kekristenan dan Gereja, melainkan apa yang Tuhan kerjakan melalui kita. Prinsip ini begitu penting karena banyak orang ‘bekerja’ bagi Tuhan tapi tidak sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaanNya. Roh Kudus memimpin kita untuk mengerti dan meresponi, bahkan mempersilakan Kristus untuk sepenuhnya berkuasa dalam kehidupan kita.

 

Roh Kudus bukan hanya memimpin kita kepada pengenalan akan Yesus Kristus, Roh Kudus juga memimpin kita untuk mengenal diri sendiri. Ia akan membangkitkan kesadaran manusia akan dosa-dosanya. Roh Kudus ini justru membawa kepada pengenalan bahwa kita semua adalah orang berdosa. Semakin kita dipenuhi Roh Kudus, semakin kita sadar akan kelemahan, kejahatan, dosa, keakuan kita yang seringkali terselubung. Pekerjaan Roh Kudus adalah melakukan mujizat yang terbesar yaitu membangkitkan orang yang mati di bawah kuasa dosa, orang yang tidak percaya menjadi seorang percaya. Tidak ada seorang pun yang sanggup percaya dari dirinya sendiri, jika hal itu tidak dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya. Ketika Yesus selesai melakukan mujizat lima roti dan dua ikan yang telah mengenyangkan ribuan orang, banyak orang mau mengikut Dia. Akan tetapi, banyak juga yang kemudian meninggalkan Dia karena kecewa, sebab mereka tidak dapat mengerti pengajaran Tuhan Yesus yang menyatakan diriNya sendiri sebagai Roti Hidup. Mereka tadinya mau mengikut Yesus karena mujizat itu telah mengenyangkan perut mereka, menyelesaikan persoalan fisik yang saat itu mereka hadapi, akan tetapi Tuhan Yesus sesungguhnya ingin mendidik mereka ke dalam persoalan yang lebih dalam yaitu kebutuhan rohani mereka akan Roti Hidup. Di sini kita mempelajari bahwa pemenuhan kebutuhan fisik itu sesungguhnya hanya sarana saja untuk membawa seseorang ke dalam pengertian yang lebih dalam yaitu untuk mengerti mujizat yang terbesar (lebih besar daripada sekedar perubahan lima roti dan dua ikan) yaitu bahwa Yesus Kristus yang adalah Roti Hidup sanggup mengenyangkan kelaparan jiwa manusia, yaitu mereka yang percaya kepadaNya.

Kita masih berada dalam minggu mengenang Pentakosta, suatu peristiwa besar yang selalu dikenang oleh Gereja Tuhan segala tempat. Bagaimana kita mengenang peristiwa ini? Sebagian gereja mengajarkan bahwa kita harus menanti turunnya Roh Kudus, seperti para murid juga telah menanti pencurahanNya pada kurang lebih 2000 tahun yang lalu. Sementara sebagian gereja lain mengajarkan bahwa karena peristiwa itu terjadi hanya sekali dan selamanya, tidak dapat diulangi (sama dengan penyaliban Yesus Kristus yang hanya terjadi sekali untuk selamanya), maka kita orang kristen tidak perlu berdoa, berpuasa untuk kepenuhan Roh Kudus ini, toh sudah dicurahkan dan ketika kita percaya bukankah Roh Kudus juga sudah tinggal di dalam hati kita? Kedua pandangan ini sama-sama keliru. Yang pertama keliru karena konsep yang salah seolah Roh Kudus perlu turun kembali, mengulangi peristiwa Pentakosta yang memang hanya terjadi sekali saja untuk selamanya. Namun yang kedua juga keliru, karena tidak mengerti dan tidak membedakan hidup sebagai orang percaya yang sudah ditinggali oleh Roh Kudus dengan hidup di dalam kepenuhan Roh Kudus.

 

Para teolog berbeda pendapat mengenai apa itu baptisan Roh Kudus, akan tetapi kalau toh kita tidak sanggup untuk mencerna perdebatan mengenai hal itu, satu hal tetap merupakan sebuah fakta yang sangat jelas: tidak semua orang kristen hidup dalam kepenuhan Roh Kudus. Kepenuhan berkat sebagaimana terjadi dalam peristiwa Pentakosta ini, alangkah jarangnya terdapat dalam gereja-gereja. Kita memang tidak mungkin mengulangi kembali peristiwa bersejarah tersebut (karena yang disebut sejarah hanya boleh terjadi satu kali saja), namun ini sama sekali tidak berarti bahwa sebagai orang percaya kita tidak perlu lagi bergumul untuk mendapatkan kepenuhan berkat sebagaimana pernah Tuhan kerjakan pada masa yang lampau. Mari kita membaca kembali tulisan-tulisan tentang kebangunan rohani yang pernah terjadi. Di situ kita melihat ada pekerjaan Roh Kudus yang ‘tidak biasa’ dikerjakanNya dalam GerejaNya. Perhatikanlah reformasi, kebangunan rohani di Inggris melalui Whitefield dan Wesley, lalu Jonathan Edwards di bagian benua yang lain, Spener, Zinzendorf, Tholuck, Kohlbr�gge di Jerman, Moody, Finney dan masih banyak sederetan nama yang dapat disambung. Semuanya menyatakan karya Roh Kudus yang dinyatakanNya secara khusus melalui orang-orang yang dikehendakiNya. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang memiliki kepenuhan kuasa dari tempat tinggi. Adakah kita merindukan kepenuhan ini dalam kehidupan kita? Bukankah kita seringkali ‘puas’ (self-satisfied) dengan berkat yang sudah ada pada kita? Kita tidak menginginkan berkat yang lebih penuh lagi. Kita tidak memiliki true spiritual appetite.

 

Mari kita belajar untuk bergumul memperoleh kepenuhan berkat Pentakosta ini dalam hidup kita, sehingga pelayanan kita, bahkan seluruh hidup kita adalah hidup yang sepenuhnya merupakan karya dan pekerjaan Tuhan yang dinyatakanNya melalui kita. Lalu bagaimana kita dapat memperoleh kepenuhan ini?

 

Yang pertama, kita harus percaya bahwa Tuhan ingin agar kehidupan setiap orang percaya (termasuk Saudara dan saya) dipenuhi oleh Roh Kudus, memiliki kepenuhan Roh Kudus. Inilah jalan pertama, sama seperti halnya dengan keselamatan, kita dibenarkan hanya melalui iman dan percaya, maka kita juga harus belajar percaya bahwa Tuhan ingin dan sanggup memberikan kepenuhan Roh Kudus dalam hidup kita. Keinginan Tuhan untuk memenuhi kita dengan RohNya bahkan lebih besar daripada keinginan kita untuk mendapatkannya. Kita mendasarkan iman dan harapan kita pada kehendak Tuhan, bukan kehendak kita. Bagian Tuhan adalah memberikan kepenuhan berkatNya bagi kita, bagian kita adalah percaya dan bergumul untuk mendapatkanNya. Ini bukanlah dua hal yang bertentangan, ini justru merupakan respon yang benar dalam menanggapi kehendak Tuhan. Karena Tuhan sungguh-sungguh berkenan untuk memberikan, maka saya menjalankan bagian yang harus saya kerjakan yaitu terus berharap dan memohon berkat tersebut. Hal ini sama halnya dengan keselamatan kita: bagian Tuhan adalah memberi kasih karunia kepada siapa yang dikehendakiNya, bagian kita adalah bertobat dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita tidak dapat mengatakan “karena Tuhan toh sudah memilih, maka saya tidak perlu lagi bertobat (atau jika kita sudah percaya “tidak perlu lagi memberitakan Injil”). Ini absurd, tidak masuk akal, irrasional, dan merupakan tanggapan atau respon yang keliru terhadap kehendak Tuhan. Demikian juga dengan kepenuhan berkat Roh Kudus: bagian Tuhan adalah berjanji dan memberi, bagian kita adalah bergumul untuk mendapatkan dengah hati yang penuh percaya.

 

Yang kedua, seperti dikatakan oleh missionaris Andrew Murray, kita harus mengejarnya seperti mengejar mutiara yang berharga. Sama seperti pedagang yang setelah menemukan mutiara tersebut, pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu, kita juga harus rela membayar harga, dengan meninggalkan segala sesuatu yang Tuhan tuntut untuk memperoleh kepenuhan berkat tersebut. Mungkin di sini kita bertanya, “Wah, bagaimana kalau Tuhan kemudian menuntut sesuatu yang saya sepertinya tidak mungkin bisa melakukannya?” Pertama, kita harus kembali percaya bahwa kepenuhan Roh Kudus ini lebih berharga daripada semua hal yang lain yang dapat kita kecap dan nikmati selama menumpang di dunia yang fana ini dan kedua, Tuhan mengetahui takaran iman kita masing-masing, sehingga Dia tidak akan menuntut sesuatu yang melampaui batas takaran kita dan ketiga, sekalipun di luar perkiraan dan pemikiran saya, Tuhan tetap berhak untuk meminta hal tersebut dari kita karena Dia adalah Tuhan (bandingkan Abraham yang di luar perkiraan akal sehatnya diminta untuk mempersembahkan, mengorbankan anaknya sendiri. Abraham belajar untuk taat dan kita melihat bagaimana pekerjaan Tuhan kemudian dinyatakan melalui hidupnya). Adakah yang lebih berharga daripada kepenuhan hidup Kristus yang sepenuhnya menguasai hidup kita? Jika tidak, mari kita belajar untuk mengejarnya melampaui segala sesuatu yang lain.

 

Yang ketiga, memperoleh kepenuhan dari Tuhan berarti menjadikan diri kita sendiri sebagai bejana yang dikosongkan. Dikosongkan dari segala keakuan kita, dikerat, dibentuk, bahkan ketika perlu mungkin dihancurkan agar dapat dibentuk kembali oleh Tuhan. Sayangnya, banyak orang kristen yang ingin mendapatkan kepenuhan kuasa tapi tidak bersedia masuk dalam sekolah pembentukan Tuhan. Ini adalah hal yang kontradiksi dan tidak mungkin dikerjakan. Mempersilakan Kristus bertahta dan berkuasa sepenuhnya dalam diri kita berarti mengusir kekuasaan diri sendiri dengan segala tiraninya untuk turun dari tahta kehidupan kita. Alkitab menggunakan istilah “mati, disalibkan bersama Kristus” untuk hal ini. Secara status ini hanya terjadi sekali, namun dalam proses pengudusan hal ini terjadi seumur hidup kita. Mati bagi diri sendiri dan hidup bagi Kristus. Kita selalu membaca orang-orang yang paling diberkati Tuhan adalah mereka yang memiliki karakter yang agung (great character) dan bukannya potensi atau bakat besar. Banyak orang yang sangat berbakat akhirnya dilewati saja oleh Tuhan. Demikian juga kita baca dalam kehidupan pemimpin rohani seperti Musa dan Daud. Musa, dalam paruh usia 40 tahun berinisiatif untuk membebaskan bangsanya dari perbudakan bangsa Mesir. Dia sudah mempelajari ilmu yang dapat dipelajari di Mesir, dia sangat berbakat, dan dia pikir, dia sanggup untuk membebaskan bangsanya (dengan kemampuan yang sudah ada padanya). Namun akhirnya dia dipermalukan karena bangsanya sendiri menolak kepemimpinan Musa. Musa akhirnya melarikan diri ke padang gurun dan menggembalakan ternak selama sekitar 40 tahunan. Secara potensi dan bakat Musa sudah ‘memenuhi syarat’ pada paruhan usia ke-40, namun secara pembentukan karakter, Tuhan harus menunggu 40 tahun lagi untuk mempersiapkan pemimpin umatNya. Lalu Daud, bukankah dia yang terhebat di antara semua orang Israel, karena tidak ada satupun yang berani dan sanggup untuk mengalahkan pahlawan raksasa yang bernama Goliat itu? Namun apa yang terjadi setelah itu? Langsung menjadi raja menggantikan Saul? Tidak, melainkan justru langsung dikejar-kejar dan hendak dibunuh dan dibinasakan oleh Saul. Daud harus melarikan diri dari satu gua ke gua yang lain (mirip Ossama bin Laden tapi laen sama sekali) bahkan dia harus tinggal di tanah orang kafir (bangsa Filistin) dan menetap di sana beberapa waktu lamanya. Mengapa tidak langsung menjadi raja? Karena Tuhan masih perlu membentuk karakter yang dikehendakiNya dalam diri Daud. Musa dan Daud, dua-duanya adalah pemimpin yang memiliki kuasa dari Tuhan, dan dua-duanya harus mengalami pengosongan diri hingga Tuhan dapat sungguh-sungguh memenuhi kehidupan mereka.

 

Yang terakhir, mari kita memohon kepenuhan berkat ini dalam ketekunan. “Berkat Tuhan hanya cukup untuk satu hari.” Kalimat ini terdengar sangat merendahkan Tuhan bukan? Masakan hanya untuk satu hari! Namun, itu adalah caraNya untuk mendidik kita belajar bergantung kepadaNya di dalam ketekunan. Di dalam Doa Bapa Kami dikatakan “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Cukup hanya untuk satu hari, bukan karena Dia tidak Mahakuasa, melainkan karena di dalam kemahatahuanNya Dia tahu bahwa kita bukanlah makhluk yang konsisten (baca: setia). Apa jadinya jika Tuhan memberikan berkat yang berlaku untuk satu tahun atau bahkan seumur hidup kita? Kita tidak akan merasa perlu untuk berdoa apa-apa lagi, karena toh berkat Tuhan berlaku untuk seumur hidup. Dalam jaman Musa, ketika orang-orang Israel mengembara di padang gurun, ada sebagian di antara mereka yang berpikir untuk menyimpan manna untuk beberapa hari, dengan harapan keesokan harinya mereka tidak perlu lagi untuk susah-payah mengumpulkannya kembali. Sekali doa berlaku untuk satu minggu! Nanti doa berikutnya, minggu depan. Apa yang terjadi? Manna itu busuk. Kehidupan kristen yang tanpa ketekunan untuk terus diperbaharui oleh Tuhan adalah kehidupan yang ‘membusuk’. Demikian juga ketika kita berharap untuk mendapat kepenuhan berkat dari Tuhan, kita mungkin tidak segera mendapatkannya, atau kita baru mendapat sebagian, jauh dari kepenuhan yang sesungguhnya, namun kita tidak boleh berhenti berharap, kerinduan itu harus terus dinyatakan. Mereka yang bertekun dalam permohonan yang benar, Tuhan akan mendengarnya.

 

Dalam masa Pentakosta ini, mari kita memohon agar Tuhan memberikan kepada kita semua, kepenuhan berkat yang sama, seperti telah dicurahkanNya kepada para muridNya.

 

Let the fire burn on in my heart, O Lord

With a pure and cleansing flame, love from Calvary

Power from Pentecost, zeal for Thy Holy Name,

Let the fire burn on, let the fire burn on


Ev. Billy Kristanto

Children of Light - Serving with LOVE through FAITH Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia Kol 3:23 Karena bagiku hidup adalah Kristus & mati adalah keuntungan Fil 1:21

o)----------------------[ Hapus dan Edit Pesan yang tidak perlu ]----------------------(o

Surfing yo Surfing ke RDSB.org ! webnya barusan di renov ! berkatnya makin komplit aja !
Daftar Member di RDSB.org heratis ! buat akses webmail, forum, MIDI dan masih banyak lahi !
Jangan lupa mampir juga ke http://tokobuku.rdsb.org, koleksinya langka, mutu dan manteb !

o)---------------------------( Milis ini didukung oleh I-KAN )--------------------------(o

http://rdsb.org ; http://beritasorgawi.com ; http://ob.or.id ; http://revival.or.id
Berhenti dari Milis : [EMAIL PROTECTED] Langganan Milis : [EMAIL PROTECTED]
Administrasi & Teknis : [EMAIL PROTECTED]
petunjuk nomail,mail,digest,gantiemail : [EMAIL PROTECTED]
Untuk info lebih lanjut kunjungi web kami di http://revival.or.id

Kirim email ke