|
\o/ \o/~~~~~~~~(((( Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Gal.5:25 ))))~~~~~~~\o/ \o/ From: "jobsterix" <[EMAIL PROTECTED]>
o)----------------------[ Hapus dan Edit Pesan yang tidak perlu ]----------------------(oSaya sangat tertarik dengan email tentang Keyta Sihombing (mungkin di sini sudah pernah diposting) yang disebarkan oleh rekannya, Donda.Saya tertarik karena lewat email itu, tergambar Keyta memiliki semangat hidup, dia juga adalah orang yang sangat menarik, disukai dan disayangi kawan-kawannya. Tulisan ini sebetulnya akan terbit di Harian Sore Sinar Harapan edisi Sabtu 29/5 ini. Leukemia Ini Tak Akan Membuatku Berhenti Bersyukur Sinar Harapan, Sabtu 29 Mei 2004 Oleh Keyta Sihombing Duniaku saat ini adalah kotak isolasi berukuran sekitar 2x2 meter persegi di Rumah Sakit PGI Cikini. Sudah lima minggu aku berada di sini. Dokter telah memvonisku terkena leukemia. Aku mengingat setiap momennya sampai vonis itu turun. Sebelumnya, aku menderita sakit maag yang sangat akut. Sebulan aku diopname karena demam terus-menerus di RS PGI Cikini. Aku harus mengikuti tes USG (Ultra Sonografi) untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi dalam tubuhku, belum cukup juga ternyata untuk mengetahui apa sakitku. Aku harus menjalani endoskopi. Ternyata ada batu kecil di empedu. Lima minggu aku menghuni rumah sakit, sampai akhirnya aku diizinkan pulang ke rumah. Tiga hari kemudian, tulang belakangku terasa sangat sakit. Aku menangis. Tulang belakangku seperti dipukul-pukul balok. Aku tak kuat. Aku tak mengerti sakit apa aku ini dan kenapa rasa sakit yang mengerikan ini menyerangku. Aku ajak kakakku, Mekarti, ke dokter ahli tulang. Tadinya, kami hendak ke dokter di Pasar Minggu, terasa lebih mudah karena rumahku di kawasan Halim Perdanakusuma itu juga. Dokternya tidak bertugas di hari Rabu itu. Dia baru ada di hari Jumat. Tak mungkin aku menunggu. Aku sudah tak tahan. Akhirnya aku ke RS PGI Cikini ini. Aku dianjurkan ke dokter endoskopi, namun oleh bagian endoskopi aku dirujuk ke bagian rematik. Serangkaian tes kujalani lagi. Dokter memvonisku anemia karena aku kekurangan darah merah, dan darah putihku banyak. Ternyata sel darah merahku (haemoglobin-Hb) rendah. Aku disuruh opname. Aku menolak. Aku trauma dengan ritual infus-menginfus ini. Sebulan lebih diinfus, tanganku bengkak. Aku memilih pulang saja. Namun, kondisiku menjadi begitu dilematis. Aku bergumul dengan rasa sakitku yang semakin menjadi. Dua hari kemudian aku mendatangi rumah sakit lagi. Ternyata, Hb dalam tubuhku makin rendah. Aku kembali menghuni rumah sakit. Hari ketiga aku dites BMP (diambil sampel sumsum tulang belakang). Kemudian, dokter akan memindahkan aku ke ruang isolasi. Aku sangat sedih. "Loh kok aku jadi mengidap penyakit menular, Dok?" asumsiku jika ditempatkan di ruang isolasi berarti aku terkena penyakait menular. Aku bilang, "Dokter tolong jujur, aku sakit apa?" Profesor Karmel yang juga adalah dokter yang menanganiku (berikutnya aku sapa dengan "Profesor") berkata,"Kau terkena leukemia." Hasil periksa darah, terutama sampel yang diambil dari sumsum tulang belakang, memperjelas penyakit apa yang kuderita. Penyakit ganas yang menyerang sumsum tulang belakangku dan akan menyebar ke seluruh tubuh. Penyakit ini juga dikenal dengan kanker darah. Ketika dibilang leukemia aku tidak kaget. Aku hanya terdiam. Ada rasa tak percaya. "Aku ini pendonor darah, Dok. Terakhir, aku donor daran bulan Desember 2003. Nggak mungkinlah aku sakit itu," kataku. Tiba-tiba di dalam hatiku, bahkan sampai detik ini, ada keberanian untuk menghadapi segala sesuatunya. Aku merasa tak gentar, mungkin karena aku sudah tidak merasa sakit lagi. Tapi, aku masih bingung, kenapa aku harus masuk ke ruang isolasi. "Agar kau tidak terkena kuman-kuman yang di luar ini. Kau harus steril. Semua barang yang ada di sekitar kau harus steril juga, makanya kau masuk ke ruang ini," demikian penjelasan Profesor. Aku mengerti sekarang. Setelah masuk ke ruang isolasi, aku diberi tahu akan menjalani kemo (kemoterapi). Komentar awalku,"Apa itu itu kemo?". Aku pernah denger, tapi kan definisi dan penjabaran kemo itu apa, reaksinya seperti apa, bentuknya kayak, aku nggak mengerti. Saat Profesor menjelaskan bahwa nanti saya akan lemas, panas tinggi, pusing, dan lain-lain. Di situ ada rasa sedikit takut. Aku langsung nggak mau dikemo. Satu bulan kemudian badanku makin lemah. Tapi aku berdoa, "Ya Tuhan, aku beriman padaMu." "Profesor, aku tak perlu kemo, aku mau pulang saja." "Kalau Keyta mau pulang, silakan," kata Profesor. Namun, apa daya. Aku tak bisa pulang. Tulang-tulangku makin sakit, dan tubuhku melemah. Berdiri saja aku susah. Keluargaku yang membawaku pulang. Setelah itu, ada seorang teman yangmenganjurkan aku ke dokter di Rumah Sakit Darmais. Namun, apa yang terjadi. Sang dokter malah menegurku,"Kok dibiarkan begini? Kenapa nggak dikonsultasi sama psikolog bahwa kamu tuh nggak mau dikemo? Kamu nih memang harus dikemo." Tapi saya tetap bersikukuh. Aku meyakini bahwa Tuhan pasti sembuhkan aku. Terus terang saja, aku jadi keras hati. Tapi kondisi badanku tak bisa sekeras hatiku. Kondisiku makin drop. Aku malah lemas dan tak bisa bergerak. Bercak-bercak merah di badan mulai muncul. Akhirnya, aku minta pindah ke RS Darmais. Namun, keadaan berbicara lain. Mobil yang membawaku nggak bisa menembus rumah sakit karena banjir yang terjadi di Grogol dan sekitarnya. Akhirnya aku balik lagi pulang ke rumah. Keesokan harinya aku kembali ke Darmais. Ternyata, aku nggak ditolong lagi, tapi dianjurkan langsung ke RS Cikini karena yang menangani aku tuh seorang profesor. Profesor Karmel. Akhirnya, aku menyerah. Aku balik ke RS Cikini dan bersedia untuk dikemo. Saat menjalani kemo, aku nggak ada merasa takut. Aku yakin Tuhan besertaku. Aku serahkan diriku padaNya. Aku kuatkan diriku dengan berkata pada diriku sendiri bahwa dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah milik Tuhan Yesus. Puji Tuhan, selama kemo tujuh hari tujuh malam itu, aku nggak merasa apa pun. Rasa lemas, muntah-muntah, demam, dan lain-lain itu nggak ada. Aku merasa Tuhan menjamahku. Ketika mau menjalani kemoterapi, aku memuji-muji Tuhan sekencang-kencangnya. Tubuhku dimasuki jarum suntik cukup lama, sekitar setengah jam, dan aku terus bernyanyi. Mungkin orang lain berpikir aku kesepian di ruang isolasi ini. Tapi tidak, aku tidak kesepian. Dorongan besar dalam diriku untuk sembuh membuat semangatku selalu bernyala-nyala di "dunia kecil"-ku ini. Pada dasarnya aku kan periang, suka membuat lelucon, suka ngomong. Dan aku seringkali menghabiskan waktuku dengan bernyanyi-nyanyi dan berpoco-poco di kamar ini. Aku bilang pada orang-orang, aku kuat kok. Memang, saat aku pulang ke rumah sebelum masuk ke sini lagi, aku sempat menonton The Passion of the Christ. Aku mendapat kekuatan. Saat ini usiaku sudah 39 tahun, November nanti usiaku akan masuk "kepala empat". Aku tujuh bersaudara, kakak tertuaku, Mekarti, dan adik bungsuku yang sangat rajin mengurusku selama di sini. Tanpa mereka, aku tak tahu bagaimana jadinya. Teman-teman dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kwitang juga begitu hebat mendukungku melewati masa-masa sulit ini. Aku aktif di gereja dari tahun 1992 sebagai guru sekolah minggu. Aku ikut paduan suara. Aku berlatih musik kolintang padahal aku orang Batak. Lucu dan membangkitkan semangat rasanya, kalau aku mengenang masa-masa itu. Menurut kawan-kawan dan orang sekitarku, aku bisa menghidupkan suasana jika ada di tengah teman-teman. Dan saat ini, teman-temanlah yang membuat semangatku tetap hidup. Aku sangat bersyukur atas hal ini. Aku juga memuji syukur padaNya karena aku merasa pribadiku berubah. Aku merasa lebih bertumbuh secara rohani. Aku sekarang tak mudah marah. Ada suster yang kadang ngeselin, namun berbagai hal yang aku telah lalui ini membuatku selalu ingin berdamai. Aku juga sekarang mendoakan orang lain yang sudah menecewakanku, aku mengampuni mereka bahkan meminta mereka diberkati dan diampuni Tuhan. Dalam doa, aku mengucap syukur karena aku menyadari penderitaan Yesus lebih dahsyat dariku. Aku jelas nggak ada apa-apanya. Dan salah satu doaku yang terpenting adalah aku mengucap syukur karena diberi kekuatan menahan rasa sakit. Aku juga tidak menyesal atas semua ini. Aku tetap setia padaNya, keluargaku jadi makin dekat denganku, teman-temanku benar-benar membangkitkan gairah hidupku. Pernah aku dapat telepon dari Australia, dan si penelepon mengajak berdoa bersama. Astaga, pikirku, kok bisa sampai ke sana kabarnya. Ternyata teman-temanku telah menyebarkan berita tentang aku lewat milis-milis Kristen di Internet. Dana bantuan pun mengalir untuk menebus obat-obatku. Pekerjaan Tuhan sungguh hebat, dan aku betul-betul merasakannya. Dan jika Tuhan izinkan aku keluar dari sini, aku akan bersaksi tentang apa yang Dia buat untuk aku. Ruang Isolasi IK II Gedung M2 Rumah Sakit PGI Cikini. Surfing yo Surfing ke RDSB.org ! webnya barusan di renov ! berkatnya makin komplit aja ! Daftar Member di RDSB.org heratis ! buat akses webmail, forum, MIDI dan masih banyak lahi ! Jangan lupa mampir juga ke http://tokobuku.rdsb.org, koleksinya langka, mutu dan manteb ! o)---------------------------( Milis ini didukung oleh I-KAN )--------------------------(o http://rdsb.org ; http://beritasorgawi.com ; http://ob.or.id ; http://revival.or.id Berhenti dari Milis : [EMAIL PROTECTED] Langganan Milis : [EMAIL PROTECTED] Administrasi & Teknis : [EMAIL PROTECTED] petunjuk nomail,mail,digest,gantiemail : [EMAIL PROTECTED] Untuk info lebih lanjut kunjungi web kami di http://revival.or.id |
