|
\o/ \o/~~~~~~~~(((( Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Gal.5:25 ))))~~~~~~~\o/ \o/ FNLTNL
(1)
Keajaiban Kasih Karunia Tuhan Oleh: John Adisubrata BUKAN SALAH IBU MENGANDUNG 'Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,
menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena
kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar
menyadarinya.' (Mazmur 139:13-14)
Pernahkah di dalam mengarungi tantangan arus kehidupan yang sering penuh
perjuangan sulit untuk dipahami oleh daya pikiran, kita mencari sesuatu yang dapat kita kambing-hitamkan sebagai penyebab segala kegagalan dan
penderitaan yang harus kita alami? Tidak jarang tuduhan tersebut kita lontarkan
dalam bentuk gerutuan akan semua perasaan
kekurangan-kekurangan yang kita miliki, seperti tabiat, sikap, tingkah laku, dan
… yang paling sering, adalah paras dan
perawakan tubuh jasmani kita.
Seringkali kita mengingini kesempurnaan
karakter, wajah, atau bentuk tubuh sesama, dengan menangisi, yang menurut pendapat kita, merupakan
kekurangan-kekurangan yang kita miliki. Padahal, apakah sebenarnya
kekurangan-kekurangan tersebut? Kurang cantik? Kurang tampan? Kurang mancung?
Kurang tinggi? Kurang tegap? Kurang jantan? Kurang luwes? Kurang wibawa? Kurang
sabar? Kurang kaya? Kurang sehat? Bahkan: Kurang ajar? Apakah gerutuan-gerutuan seperti itu merupakan bagian dari
berbagai-macam kekurangan-kekurangan lain yang ada di dalam daftar kita?
Marilah kita telusuri sejenak kehidupan seorang anak Tuhan dari kota Brisbane, Australia, agar kita dapat mensyukuri SEMUA kelebihan-kelebihan yang telah Tuhan karuniakan
KHUSUS kepada kita. Sekilas hidup pemuda
yang hampir berumur 22 tahun ini pasti akan membuat Anda terpesona mengagumi
kasih Tuhan, sebab setiap umat ciptaan-Nya harus mengambil keputusan sendiri di dalam menyadari tujuan hidupnya sebagai alat yang sudah dipilih untuk kemuliaan Nama dan Kerajaan Tuhan, apapun keadaannya. Sesuai dengan firman-Nya
(Efesus 1:4-5; Galatia 1:15-16), tidak ada seorang pun yang kebetulan lahir,
atau hadir di dunia ini tanpa suatu tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan sebelumnya.
Namanya Nick Vujicic. Ia bermukim di salah satu 'suburb' kota Brisbane yang letaknya tepat bersebelahan dengan daerah dimana kami
bertempat-tinggal. Karena itu kadang kala kami berpapasan di dalam shopping centre(s) setempat. Pada waktu berhadapan
muka dengannya, saya selalu berusaha untuk tidak menatap matanya, bahkan
berpura-pura seolah-olah tidak melihatnya, dengan harapan, agar ia tidak merasa
sebagai pusat perhatian orang-orang. Saya tidak mengetahui latar belakang Nick
sampai pertengahan bulan Oktober 2004 yang lalu, ketika ia diundang untuk pertama-kalinya sebagai tamu terhormat gereja kami, untuk memberikan khotbah
diselingi kesaksian hidup yang malam tersebut dapat menyebabkan hati nurani setiap pendengarnya merasa tertegur sekali.
Dengan 'berdiri' sambil 'berjalan' kian kemari di atas panggung tambahan altar gereja, Nick memulai kisah
perjalanan hidupnya. Sejujurnya, kami semua mendapat kesulitan amat besar untuk
menerima kisahnya, disebabkan oleh karena
bakat berkomunikasi yang dimiliki olehnya. Sepanjang penyajiannya ia selalu memperlihatkan sikap positif yang mengagumkan, dan karena orangnya kocak sekali,
para hadirin mau tak mau tertawa terpingkal-pingkal pada waktu mendengar dan
menyaksikan tingkah lakunya, meskipun bola-bola mata mereka terlihat lembab digenangi oleh airmata. Terus terang saja, malam itu saya sendiri tidak dapat
memutuskan tindakan yang harus saya lakukan, apakah saya mau menangis, atau …
haruskah saya ikut tertawa dengan jemaat yang lain?
Memperhatikan wajah mudanya yang amat tampan untuk pertama-kalinya, saya
dapat melihat sinar kedewasaan di dalam Kristus yang berkilauan terang terpancar
keluar dari dalam dirinya, melalui wajah tersenyum-simpul berlesung pipit yang
dapat menyentuh dan menimbulkan rasa haru di dalam hati. Dengan mempergunakan
kefasihan bakat yang sangat mengherankan, Nick mengingatkan kami semua, bahwa
kita sebagai umat-Nya, tidak seharusnya menggerutu atas perasaan kekurangan-kekurangan yang kita miliki,
tetapi selalu memakai segala kenyataan
kelebihan-kelebihan karunia Tuhan, untuk melaksanakan amanat agung-Nya.
Pada masa pertumbuhannya sebagai anak seorang pendeta sebuah gereja tradisional di Melbourne, Australia, Nick merasa bahwa doa-doanya
tidak pernah mendapat jawaban dari Tuhan. Sedari kecil ia harus tabah menghadapi
berbagai-macam tantangan, baik di sekolah maupun di tempat-tempat umum. Saat itu
ia tidak bisa mengerti, mengapa Tuhan mengijinkan 'hal-hal seburuk itu' menimpa hidupnya. Ia berpikir:
"Jika Tuhan mengasihi aku, mengapa Ia membiarkan diriku menanggung penderitaan
sebesar ini?" Seringkali ia mempertanyakan keberadaan Tuhan, terutama mengenai kebenaran kasih-Nya.
Nick lahir di kota Melbourne, pada tanggal 4
Desember 1982. Seruan: "Puji
Tuhan!" adalah kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulut ayah, atau keluarganya, pada saat Nick menghirup udara segar untuk pertama-kalinya di atas ranjang rumah sakit. Umumnya, ibu-ibu yang baru saja
melahirkan selalu mempunyai keinginan untuk segera memeluk dan mencium bayi-bayi
mereka seketika itu juga. Tetapi hal itu tidak terjadi pada saat kelahiran Nick!
Penuh kekecewaan, ibunya langsung memerintahkan para perawat rumah sakit untuk
membawa Nick keluar dari dalam kamarnya. Mereka sekeluarga amat tertegun melihat
keadaannya. Bahkan dokter-dokter di situpun terpana, tidak dapat menerangkan
kepada mereka, sebab-musabab medis kelahiran Nick yang amat berbeda dengan kelahiran bayi-bayi lain pada umumnya.
Seluruh keluarga, dan juga jemaat gereja yang digembalakan oleh ayahnya
tidak bersukacita, tetapi malah bersedih hati atas kehadirannya di dunia. Mereka
menangis tersedu-sedu, pada waktu ayah Nick menyuruh pamannya, pada acara ibadah
di hari Minggu sesudah kelahirannya, untuk membacakan di atas altar Yohanes 9,
ayat 1 dan 2. Pamannya berusaha untuk mengerjakan permintaan ayahnya, tetapi di
balik sedu sedan jemaat yang hadir di situ, sepatah katapun tidak dapat keluar
dari dalam mulutnya.
Seperti keluhan-keluhan Nick semenjak kecil, mereka bertanya-tanya: "Jika
Tuhan Mahakasih, mengapa Ia mengijinkan hal seperti ini terjadi, dan justru menimpa keluarga orang-orang Kristen yang hidup penuh pengabdian?"
Mula-mula ayah Nick memperkirakan, bahwa anaknya ini tidak akan dapat bertahan hidup lama. Tetapi ternyata Nick membuktikan kepada mereka semua, bahwa
meskipun keadaannya seperti itu, ia adalah seorang bayi yang sehat bagaikan bayi-bayi lain pada umumnya. Kenyataan tersebut menyebabkan mereka menjadi bimbang dan kuatir sekali, ketika mereka mulai memikirkan masa depan Nick. Pada
saat itu tantangan terbesar bagi iman keluarga pengikut Kristus yang setia ini
adalah … meragukan kedaulatan Tuhan di dalam setiap
perkara.
Melalui waktu berbulan-bulan lamanya penuh genangan tetesan-tetesan airmata
kesedihan yang tak terlukiskan, mereka terus mempertanyakan 'nasib' hidup mereka kepada Tuhan. Sampai akhirnya Roh
Kudus memberikan wahyu khusus untuk menyadarkan mereka, bahwa dari awalnya Ia
sudah memperlengkapi mereka sekeluarga dengan suatu iman yang teguh,
kebijaksanaan dan keberanian di dalam menghadapi masa depan tak menentu yang
harus mereka lalui bersama-sama.
Ketika Nick memulai pendidikannya di sekolah, ia selalu berusaha untuk 'hidup' seperti anak-anak yang lain, meskipun dari awalnya, ia harus menghadapi penolakan-penolakan, ejekan-ejekan,
bahkan gertakan-gertakan teman-teman sebayanya. Kasih yang murni disertai dukungan moral kedua orang tuanya saja, yang akhirnya dapat membantu membentuk
sikapnya, sehingga ia mampu menghadapi dan memenangkan masa-masa sulit penuh
perjuangan tersebut.
Perlahan-lahan teman-teman di sekolahnya mau menerima Nick seperti apa adanya, sebagai salah seorang pelajar yang setaraf di antara mereka. Dan tidak
lama sesudah itu, Tuhan mulai memberkatinya dengan mengirimkan banyak
sahabat-sahabat baru, yang dapat menemani dan menghibur dia dari rasa kesepian,
dan penolakan-penolakan yang pernah diderita oleh Nick sebelumnya.
Di sekolah minggu gereja ayahnya, Nick belajar, bahwa Tuhan selalu
mengasihi dan memelihara semua orang. Tetapi pikiran kanak-kanaknya
mempertanyakan ajaran tersebut, yang menurut pendapatnya, melihat nasib dan keadaannya sendiri, sukar untuk dapat dipercayai begitu saja. Apalagi ayat Alkitab yang mengatakan, bahwa ia dilahirkan sesuai
dengan gambar dan rupa Allah, seperti tertera di Kitab Kejadian 1:26. Ia mempertanyakan keseriusan dan kebenaran firman tersebut.
Nick menyadari, bahwa di antara semua teman-temannya, dirinya sendiri yang
tampak paling janggal, begitu janggal, membuat ia merasa sedih dan putus asa
sekali. Menjelang peralihan umur belasan tahun, Nick mulai kehilangan gairah
hidupnya. Benak pikirannya mendapat serangan depresi
berat yang amat menguatirkan semua anggota keluarganya. Karena merasa dirinya benar-benar tidak berharga, terutama melihat bahwa sepanjang
hidupnya ia akan selalu menjadi beban bagi semua orang di sekelilingnya, Nick
percaya, jalan keluar yang terbaik untuk mereka semua adalah … jika ia
secepatnya pergi meninggalkan dunia yang fana ini! Nick berhasrat untuk
mengakhiri semua penderitaan tersebut, dengan mengakhiri hidupnya dalam usia
amat dini!
(Bersambung)
FNLTNL
(2)
Keajaiban Kasih Karunia Tuhan Oleh: John Adisubrata RANCANGAN KASIH
KARUNIA This message has passed through an insecure network. Please direct all enquires to the message author. o)----------------------[ Hapus dan Edit Pesan yang tidak perlu ]----------------------(o RETREAT NASIONAL 2004, Hotel Setia Puncak - Jawa barat, 30 Des. 2004 - 1 Jan. 2005 Pembicara : Pnt. Daud Raubun, Pnt. Dorcas Daud, Dr. Joshua dan Janet Mills Untuk Info Lebih lanjut hubungi : [EMAIL PROTECTED] o)---------------------------( Milis ini didukung oleh I-KAN )--------------------------(o http://rdsb.org ; http://beritasorgawi.com ; http://ob.or.id ; http://revival.or.id Berhenti dari Milis : [EMAIL PROTECTED] Langganan Milis : [EMAIL PROTECTED] Administrasi & Teknis : [EMAIL PROTECTED] petunjuk nomail,mail,digest,gantiemail : [EMAIL PROTECTED] Untuk info lebih lanjut kunjungi web kami di http://revival.or.id |
