\o/ \o/~~~~~~~~(((( Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Gal.5:25 ))))~~~~~~~\o/ 
\o/

Hidup Ini Indah
Oleh Gede Prama

Dulu, ketika Robin Williams membintangi film Dead Poet Society yang
inspiratif itu, dan juga Tom Hanks membintangi film Forrest Gump yang
menarik itu, saya fikir tidak akan ada lagi film inspirasi kehidupan yang
seinspiratif ini. Akan tetapi, begitu menyaksikan film dengan judul Life Is
Beautiful, lagi-lagi fikiran saya disentak oleh pilosopi kehidupan yang lain
dari biasanya. Bagaimana tidak tersentak, hidup yang senantiasa ditandai
oleh siklus naik turun, diikuti oleh mood, emosi dan rasa syukur yang juga
naik turun, tiba-tiba saja ada orang yang menikmati baik siklus naik maupun
turun kehidupan.

Itulah kira-kira pesan dasar film Life Is Beautiful. Lebih menyentuh lagi,
pesan tadi disampaikan lewat tokoh seorang ayah yang mengajak anaknya untuk
selalu melihat sisi menyenangkan dari kehidupan. Sebagai ayah yang teramat
sibuk meniti karir, tiba-tiba saja saya merasa berutang banyak kepada ketiga
anak saya. Sebab, film ini menghadirkan figur seorang ayah yang tidak hanya
mencintai anaknya, tetapi senantiasa menyediakan waktu dan tenaga untuk
membuat sang anak menikmati dan mensyukuri kehidupan. Hebat bukan ?

Saya memang masih jauh dari kualitas ayah yang sehebat itu, namun amat dan
teramat penting untuk senantiasa menikmati dan mensyukuri kehidupan. Sebab
dengan lebih banyak melihat sisi menyenangkan kehidupan, kita tidak saja
sedang memproduksi tubuh dan jiwa yang sehat, namun juga menarik kehidupan
untuk bergerak ke tempat indah tadi. Persis seperti film Life Is Beautiful,
di mana sang ayah selalu bertutur kalau di akhir permainan anaknya menang
akan mendapat hadiah tank, ternyata di luar dugaan sang anak betul-betul
naik tank di akhir cerita.

Meminjam argumen David Weeks dan Jamie James dalam artikelnya yang berjudul
Secrets of the Super Young di majalah Reader?s Digest edisi Februari 2000,
orang-orang yang amat awet muda dalam hidupnya, umumnya datang dari mereka
yang selalu melihat kehidupan dalam aspeknya yang menyenangkan.

Coba perhatikan penemuan Weeks dan James setelah melakukan studi ilmiah yang
amat intensif selama sepuluh tahun. Dibandingkan orang kebanyakan,
manusia-manusia awet muda memiliki ciri-ciri unik. Dari memiliki hubungan
yang lebih romantis dengan pasangan hidup, bersahabat dengan banyak
kalangan, tidur cukup,  banyak melakukan perjalanan, sampai dengan memiliki
tekanan darah rendah hingga normal.

Yang jelas, fikiran dan cara kita menyimpulkan kehidupan memiliki peran yang
tidak kecil dalam hal ini. Sebut saja hubungan romantis dengan pasangan
hidup sebagai faktor pertamanya Weeks dan James. Ia tentu amat sangat
dipengaruhi oleh seberapa bersyukur kita pada rezeki Tuhan yang satu ini.
Orang boleh saja menyebutkan banyak ciri bagi pasangan hidup ideal. Dari
harus mampu jadi teman, kekasih, ibu/bapak, pelacur sampai dengan manajer
rumah tangga, namun tanpa kesediaan sengaja untuk menerima secara tulus
pasangan hidup kita, kemanapun ia dicari di bawah kaki langit ini, tidak
akan kita menemukan kehidupan yang romantis. Yang ada hanyalah pencaharian
yang berulang-ulang, dan sering ditandai oleh kekecewaan dan frustrasi.

Lihat saja pengalaman banyak artis yang sudah bergelimang uang ketika
berumur muda. Atau pengalaman orang yang sudah kaya sejak lahir. Atau juga
orang yang hidupnya hanya mencari kenikmatan. Dalam mencari pasangan hidup,
mereka menentukan standar setinggi-tingginga. Makanya, jangan heran kalau
rasio kegagalan pernikahan paling banyak datang dari segmen masyarakat ini.
Demikian juga frustrasi hidup.

Kembali ke cerita awal tentang hidup ini yang indah, saya amat terusik
dengan pilosopi hidup seorang ayah dalam film Life Is Beautiful. Yang
mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk melihat aspek menyenangkan dari
hidup dan kehidupan. Pertanyaan yang muncul berulang-ulang setelah menonton
film ini, bisakah kita hidup stabil menyenangkan dalam siklus hidup yang
mengenal gelombang ?

Saya pribadi memang belum menjawab positif maupun negatif terhadap
pertanyaan ini. Namun, bukankah misi hidup adalah mendidik sang aku ?
Bukankah ukurannya tidak apa yang kita capai, melainkan seberapa banyak kita
berhasil memperbaiki sang aku lewat perjalanan waktu ?

Kalau ini ukurannya, maka saya tidak menyandang iri yang dalam ke film indah
di atas. Demikian juga dengan Anda saya kira. Anda dan saya sama-sama
menyandang kelemahan dan kekurangan. Namun seberapa negatifpun kekurangan
kita, Tuhan masih memberikan kesempatan ke kita untuk mulai belajar melihat
aspek menyenangkan dari kehidupan.

Coba perhatikan sekeliling Anda. Sebenarnya ada banyak sekali sumber yang
membuat hidup ini indah dan menyenangkan. Ketika tulisan ini saya buat,
burung gereja sedang ribut-ributnya memakan nasi yang diletakkan di pinggir
kali, gemercik air kali berbunyi tidak henti-hentinya, anak saya yang
terkecil yang baru berumur tiga tahun tidak henti-hentinya meminta ikut
menekan key board komputer, bunga teratai sedang mengembang secara amat
indahnya, demikian juga dengan bunga kamboja.

Anda boleh menyimpulkan lingkungan seperti ini dengan kesimpulan apapun,
namun belajar dari film Life is Beautiful saya sedang mendidik diri untuk
melihat hidup ini secara menyenangkan. Terserah Anda !

*****
from: http://www.dynamicsconsulting.com/

salam kasih & hangat untuk Anda semua,

peace & love
~ds
><><><><><><><><><><><><><><><><><
friendster : [EMAIL PROTECTED]
><><><><><><><><><><><><><><><><><

Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com 


o)----------------------[ Hapus dan Edit Pesan yang tidak perlu 
]----------------------(o

Haleluya, Glory to the Holly Lamb, Praise Jesus ! Our God is an Awesome God ! 

o)---------------------------( Milis ini didukung oleh I-KAN 
)--------------------------(o

http://rdsb.org ; http://beritasorgawi.com ; http://ob.or.id ; 
http://revival.or.id
Berhenti dari Milis : [EMAIL PROTECTED] Langganan Milis : [EMAIL PROTECTED]
Administrasi & Teknis : [EMAIL PROTECTED] 
petunjuk nomail,mail,digest,gantiemail : [EMAIL PROTECTED]
Untuk info lebih lanjut kunjungi web kami di http://revival.or.id

Kirim email ke