Mudah-mudahan bermanfaat

-------Original message-----
From: "Rudy Sutadi, MD" <[EMAIL PROTECTED]>

Yth. Ibu Ina Fenton,

Jadwal imunisasi MMR adalah pada usia 15 bulan.
Berdasarkan data statistik di UK & USA, bahwa setelah diperkenalkannya
vaksin MMR maka terlihat peningkatan jumlah penyandang autisme, semakin
tahun semakin banyak saja.

Sebagai contoh, di California sejak dimulainya vaksinasi MMR pada tahun
1978, jumlah penyandang autisme semakin meningkat setiap tahunnya. Yaitu
yang biasanya ditemukan kurang dari 200 pasien baru per tahun, meningkat
menjadi hampir 600 orang per tahunnya pada tahun 1990-an.
Begitu juga di Inggris. Vaksinasi MMR mulai dilakukan pada tahun 1988.
Sejak itu terjadi peningkatan jumlah penyandang autisme baru. Yaitu yang
biasanya kurang dari 250 per tahunnya, terus meningkat sampai hampir 400-an
per tahunnya pada awal tahun 1990-an, dan hampir 600 pada tahun 95-96.

Pada penelitan Dr. Wakefield, terdapat dugaan tentang hubungan antara
vaksinasi MMR dengan autisme.Studi awal dari Andrew Wakefield meneliti
hubungan antara Krohn's disease (penyakit inflamasi usus) dengan virus
campak (measles). Setelah publikasinya banyak orangtua dari penyandang
autisme yang menghubunginya dan mengatakan bahwa anak-anak mereka juga
mempunyai masalah pencernaan (chronic bowel problems). Apakah mungkin ada
hubungan gangguan mental dan fisikal tersebut dengan virus vaksin?
Pada tahun 1998, Andrew Wakefield mempublikasikan hasil studinya, serta
teorinya, di Lancet. Yaitu salah satu majalah kedokteran yang bereputasi
baik di dunia. Pada 12 anak yang mempunyai symptom (gejala-gejala) yang
sama yaitu inflamasi usus, dia sebut sebagai enterokolitis autistik, 8
dariorangtua melaporkan bahwa perilaku anak-anak mereka menjadi buruk
setelah vaksinasi MMR. Kemudian pada studi lebih lanjut yang melibatkan 160
anak, terdapat hasil yang sama, yaitu adanya virus campak pada usus
anak-anak penyandang autisme yang sebelumnya tidak mempunyai masalah
sebelum vaksinasi MMR.
Penelitian di laboratorium-laboratorium Jepang menunjukkan hasil yang sama
dengan hasil penelitian Wakefield. Walau demikian, memang Wakefield belum
membuktikan bahwa virus campak yang ditemukan adalah sama dengan virus
campak yang berasal dari vaksin MMR. Hal ini merupakan langkah besar
selanjutnya yang perlu dilakukan dalam penelitian genetik virus tersebut.
Jawabannya mudah-mudahan akan dapat diketahui dalam waktu tidak lama lagi.
Menurut saya, kita lebih baik melakukan tindakan yang berhati-hati. Lebih
baik berjaga-jaga, daripada sudah terjadi anak-cucu-saudara menjadi
autistik setelah vaksinasi MMR.
Wakefield menganjurkan pemberian vaksinasi secara tersendiri/terpisah
antara measles, mumps, rubella. Tidak dilakukan berbarengan dalam satu
dosis sekali suntik yaitu MMR.
Namun sampai saat ini belum ada vaksin yang terpisah khusus untuk mumps dan
rubella saja.
Selama belum ada, mungkin juga ada baiknya untuk menunda pemberian
vaksinasi MMR.
Ditunda sampai kapan?
Agak sulit menjawabnya. Karena ada juga laporan yang menyebutkan timbulnya
gambaran autistik pada anak usia 4 tahun setelah mendapat MMR.
Namun karena autisme bisa berkembang/didiagnosis sampai sebelum usia 3
tahun, maka paling tidak sampai umur tersebut, dan diyakini tidak ada
masalah pada anak.

Batita yang risiko tinggi untuk autisme adalah bila kemungkinan adanya
faktor genetik, misalnya :
- Kakaknya autistik, kemungkinan adiknya akan autistik 10-20%
- Saudara (sepupunya, oom/tantenya, dan lain-lain yang sedarah) autistik,
kemungkinan autistik adalah 2-3 sampai 9 %
- Saudara kembarnya autistik, kemungkinan 95% (2 telur), 100% (1 telur)
- Saudara autistik dengan fragile-X, kemungkinan 50%
- Salah satu orangtua autistik, kemungkinan 46%
- Hal-hal lain yang angkanya belum jelas, misalnya ada keluarga yang
retardasi mental, kesulitan belajar, terlambat bicara, dlsb.

Namun apakah akan diberikan atau tidak, ataukah ditunda, itu semua
semata-mata orangtualah yang harus memutuskan. Bukannya dokter. 
Sehingga bila diberikan atau tidak diberikan kemudian terjadi sesuatu, itu
bukan merupakan tanggung jawab dokter.
Sebab harus disadari bahwa penundaan pemberian suatu imunisasi akan
meningkatkan risiko tertularnya penyakit yang bersangkutan.

Demikian sementara ini, semoga bermanfaat.

Dr. Rudy Sutadi, SpA


Kirim email ke