semoga bermanfa'at

>Ini ada suatu pembahasan - resensi buku tentang ilmu baru kesuksesan
>bekerja -- ADVERSITY QUOTIENT.
>
>Adversity Quotient
>Tinjauan Buku : Paul G Stoltz, Adversity Quotient.  Penerbit Grasindo, Jkt
>2000, 430 halaman
>
>Cerdas (IQ) saja belum tentu bisa sukses.  Matang secara emosionalpun (EQ)
>demikian.  Ada satu lagi faktor utama : AQ (Adversity Quotient).  AQ adalah
>kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan sanggup
>untuk bertahan hidup.
>
>Fakta menunjukkan bahwa anak cerdas (IQ tinggi) belum tentu bisa sukses.
>Ada kasus seorang anak bernama Ted Kaczynski yang begitu cerdas sehingga dia
>lulus dari Harvard Univ dalam usia 20 tahun dan meraih doktor dalam ilmu
>matematika.  Profesi sebagai dosen di Harvard ditinggalkannya ketika dia
>tertarik pada teknologi bom.  Kejeniusannya akhirnya membuat dia terpuruk di
>penjara karena dia menewaskan dua orang dan mencederai 22 orang lainnya.
>Selain itu ada penelitian menunjukkan bahwa pemilik perusahaan umumnya
>adalah orang yang drop-out dari pendidikan, tetapi para eksekutif di
>bawahnya adalah mereka yang berpendidikan tinggi dan terpelajar.  Stoltz
>menyimpulkan bahwa ada faktor lain berpengaruh dalam kesuksesan seseorang :
>AQ.  Dengan AQ, seseorang diukur kemampuannya dalam mengatasi setiap
>persoalan hidup.  Faktor dominan pembentuk AQ adalah sikap pantang menyerah.
>AQ akan menjadi faktor penentu sukses, jika orang lain gagal, sementara
>kesempatan dan peluang yang dimiliki sama.
>
>Stoltz membagi tiga tipe menusia yang diibaratkan sedang dalam perjalanan
>mendaki gunung : Pertama,  quitters yaitu mereka berhenti di tengah jalan
>dalam proses pendakian.  Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah
>jalan.   Yang kedua adalah para campers yang itu mereka yang tidak mencapai
>puincak, tetapi sudah puas dengan apa yang telah dicapai.  "Ngapain
>capek-capek" adalah motto mereka.  Orang-orang ini sekurang-kurangnya sudah
>merasakan tantangan, dan selangkah lebih maju dari para quitters.  Banyak
>potensi diri yang tidak teraktualisasikan, dan pendakian itu sebenarnya
>belum selesai.   Yang ketiga adalah para climbers yaitu mereka yang selalu
>optimistik, selalu melihat harapan, dan selalu menetapkan sasaran-sasaran
>baru dalam kehidupan.  Mereka mengalami susah-senang dan mereka menikmati
>semuanya.  Mereka tahu bahwa sukses melalui upaya yang tidak mudah akan
>menimbulkan kepuasan tiada tara.  Mereka berasumsi bahwa "sesuatu itu
>mungkin".
>
>Rentang AQ meliputi tiga golongan : AQ rendah (0-50), sedang (95-134),
>tinggi (166-200).  Menurut Stoltz, AQ bisa ditingkatkan, dan hal ini dibahas
>dalam bagian ketiga bukunya.  Buku ini dilengkapi dengan metode mengukur AQ
>sendiri dan  latihan-latihan.
>
>Nampaknya kajian penting ini akan melengkapi studi tentang IQ dan EQ.
>Kalangan bisnis bisa menerapkannya untuk meningkatkan kualitas karyawan.
>Khazanah ilmu psikologi juga akan makin bertambah. Semoga bisa segera
>diterapkan di Indonesia.  Siapa memulainya?


Kirim email ke