Terima kasih atas posting tentang enterpreneur. Memang sering kita jumpai enterpreneur yang hanya lulusan SMA/SMP bisa memiliki rumah mewah, mobil mewah, tanah ratusan hektar bahkan sampai pesawat terbang. Dan hebatnya lagi sang enterpreneur yang dimaksud bisa menggaji ribuan karyawan yang lulusan S1, S2 (MM), sampai S3...Suatu fenomena menarik. Tetapi sayangnya, sekalinya jatuh/pailit/kredit macet, terkadang sangat menyakitkan seperti rumah Liem Sioe Liong yang katanya sering dilempari penduduk, terus didemo ribuan sampai ratusan ribu karyawannya dengan tuntutan upah buruh, kesejahteraaan, dll ditambah lagi sering diburu INTERPOL bila melarikan diri ke luar negeri. Jadinya tidur tak enak, makan tak enak, pergi tak enak, & berbagai penyakit yang menimpanya. Dan walaupun beberapa konglomerat bermasalah bisa lolos dari aparat hukum & tinggal di rumah mewah di Los Angeles, atau PAris, atau London, tetap saja semua jadi serba tidak enak bagi konglomerat yang bermasalah(jatuh/pailit/kredit macet). Belum lagi pertanggungjawaban kepada YME. Jadi bagaimanapun juga menjadi profesional (karyawan tetap yang dibayar pemilik atau profesional mandiri seperti pengacara, konsultan, notaris) maupun enterpreneur / investor semua sama-sama beresiko....
Mohon maaf bila tidak berkenan & tolong koreksi bila salah... Agung Rahmat Zulkarnain, On Fri, 21 Jun 2002 08:45:13 +0700 Kiki Sudiana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Artikel menarik buat kita-kita. > Intinya : Jangan lama-lama jadi karyawan. > > >From: All The Winners <[EMAIL PROTECTED]> > >Just FYI, (For Your Information) > > > >pengirim posting asli: Budi Budiman > >------------ > >KOLOM - Purdie Chandra > >Ingin Kaya? Jangan Jadi Karyawan! > > > >Nyaris setiap bangun tidur, diva Indonesia, Kris > Dayanti, sudah ditawari > >peluang konser atau menyanyi di panggung senilai puluhan > juta hanya untuk > >membawakan 3-5 lagu. Kalau sehari saja bisa menghasilkan > >puluhan juta rupiah, tinggal hitung sendiri penghasilan > bulanannya. > >Belum lagi tawaran iklan berbagai produk. Namun, > pernahkan kita dengar > >pertanyaan: Kris Dayanti kuliah di mana atau meraih > gelar sarjana apa? > > > >Jangankan Kris Dayanti, Tasya dan Joshua -- dua bocah > cilik Indonesia > >yang masih SD -- pun sudah mampu menghasilkan duit > ratusan juta bahkan > >miliaran rupiah. Sejarah wirausaha (entrepreneur) juga > mencatat, > >banyak pengusaha bahkan konglomerat Indonesia yang > sukses membangun > >imperium bisnis mereka meski pendidikannya hanya SMP > bahkan SD. > > > >Mungkin tak perlu terlalu banyak mencari contoh orang > lain. Kalau saja > >saya dulu memilih menamatkan kuliah saya di Universitas > Gadjah Mada, hampir > >pasti saya tak akan berani memulai bisnis Bimbingan > Belajar Primagama, yang > >kini berubah menjadi holding company beromset di atas > seratus miliar rupiah. > >Meski dulu saya belum membaca buku laris Robert > Kiyosaki, If You Want to > >Be Rich and Happy, Don`t Go to School?, saya > >sudah sadar bahwa pintar dan dapat ranking di sekolah > tidak menjamin > >seseorang akan sukses dan kaya-raya. > > > >Saya bahkan punya keyakinan, semakin lama seseorang > sekolah, semakin > >tidak kreatiflah dia. Karenanya, semakin takut pula dia > mengambil risiko -- > >sikap penting yang amat diperlukan bila seseorang ingin > sukses menjadi > >wirausaha. > >Dan, saat ini, menjadi business owner adalah jalan > kongkret menjadi > >kaya-raya. Lewat pekerjaan yang ditekuni bertahun-tahun, > akhirnya > >seseorang umumnya ingin hidup makmur dan terjamin masa > depannya. Istilah > >gampangnya, hidup kaya-raya. > > > >Namun, tak banyak orang yang menyadari bahwa sejak masuk > kuliah > >sebenarnya seseorang telah menyiapkan dirinya hidup > miskin. Contoh > >ekstremnya, kalau > >seseorang sejak muda bercita-cita menjadi guru, jangan > harap di usia > >pensiunnya dia bisa membeli Mercy terbaru dan tinggal di > perumahan elite. > >Demikian juga, bidan atau perawat rumah sakit mustahil > mampu mengkredit > >Toyota Kijang LGX di usia pensiunnya. Lain ceritanya > kalau > >dia memiliki jiwa wirausaha, sehingga dengan keahliannya > dia mendirikan > >klinik atau rumah bersalin di rumah, yang bisa dikelola > bersama kolega > >bidan lain. Salah satu contoh yang berhasil > mengembangkan cara serupa adalah > >Grup RS Hermina di Jakarta. Memang, cukup banyak bidan > berjiwa wirausaha yang > >berani mengelola usaha rumah bersalin seusai berdinas di > rumah sakit. > >Setelah berkembang menjadi klinik dan rumah bersalin > besar, mereka pun > >membeli tanah di tempat lain untuk mengembangkan > usahanya. Dengan begitu, > >BMW atau Mercy pun bisa dibelinya dengan mudah. > > > >Banyak pula orang yang terbuai oleh sukses semu selama > bertahun-tahun > >menjadi karyawan. Kalau kita menjadi manajer pemasaran > bank dan suatu > >ketika berhasil memasarkan produk tertentu, pastilah > kita berharap mendapatkan > >kenaikan gaji dari sukses itu. Ketika itu didapat, kita > merasa kerja kita > >berhasil. Padahal, keuntungan atau bertambahnya kekayaan > sang pemilik > >bank jauh berlipat dari kenaikan gaji yang diberikan > kepada karyawan yang > >bekerja pada bank miliknya. Siapa yang lebih untung dan > lebih kaya: > >karyawan yang > >punya ide pemasaran yang cemerlang, ataukah pemilik bank > yang pasif dan > >mampu membayar lebih mahal kepada karyawan yang kreatif > untuk mengelola > >untungnya menjadi berlipat? Jelas pemilik bank yang > lebih > >banyak diuntungkan. > > > >Jadi, mengapa mesti bertahan jadi karyawan? Bisnis > kadang bisa dimulai > >dari kesadaran akan potensi diri sendiri. > >Sayangnya, tak banyak orang menyadarinya. Untuk memulai > bisnis, seorang > >ahli farmasi, misalnya, sering kali tak menyadari bahwa > keahliannya > >adalah modal utama memulai bisnis. Sebab, mindset ahli > farmasi tersebut > >adalah > >long life to be an employee. Maka, ketika suatu saat ia > berhasil menemukan > >ramuan obat antikanker, dia memilih menjual paten > penemuannya kepada pabrik > >farmasi besar. Sang ahli farmasi hanya menerima royalti > tanpa pernah tahu > >persis > >keuntungan bersih yang tentu saja jauh lebih besar > dibanding royalti yang > >diberikan kepadanya. Padahal, kalau saja sang penemu > memilih mencari > >mitra bisnis yang mau membiayai penemuannya agar menjadi > bisnis farmasi yang > >besar dan menguntungan, tentu kehidupannya jauh lebih > kaya. Dengan bekal > >cetak > >biru penelitiannya yang profitable, tak sulit sebenarnya > sang penemu > >mendapatkan mitra bisnis yang mau membantu permodalan > bisnisnya. Investor > >tentu semakin percaya karena uangnya dikelola oleh orang > yang tepat. Dan > >yang pasti, sang ahli bisa menjadi pemilik bisnis > sembari terus > >mengembangkan penelitian lain sambil > >menghitung keuntungan bisnis yang dikelolanya sendiri. > Bahkan, suatu > >saat ia bisa membayar ahli lain yang lebih hebat > darinya untuk mengembangkan > >bisnis farmasinya. > > > >Ini hanya satu contoh. Masih ada jutaan peluang yang > sayang kalau keliru > >dilihat kemungkinannya mengubah nasib Anda. Jadi, sekali > lagi, jangan > >terlalu lama menjadi karyawan. Mulailah mewujudkan mimpi > Anda menemukan > >jalan menjadi pengusaha yang mapan secara finansial. > Yakinlah, jutaan > >peluang bisnis selalu tersedia. Lihatlah peluang yang > belum dikerjakan > >orang lain. > > > >Kita tahu, misalnya, begitu banyak orang yang menjual > wedang jahe, dari > >pasar becek hingga kaki lima. Tugas wirausaha adalah, > bagaimana membuat > >wedang jahe mampu mendatangkan uang ratusan juta atau > bahkan > >miliaran rupiah. Itu yang perlu kita cari tahu dan > mencobanya. Atau, > >silakan nekat terus menjadi karyawan, niscaya Anda akan > menyesali saat > >pensiun nanti. > > > >Penulis adalah Presiden Direktur Grup Primagama, juga > Pengelola dan > >Mentor Utama Entrepreneur University. > > > >Salam, > >Djajusman > ----------------- Kemudahan Hosting PlasaCom ------------------------------- Hosting menjadi lebih mudah dan murah dengan keringanan 50% biaya registrasi mail hosting dan webhosting selama bulan Juni 2002. Klik http://idc.plasa.com untuk pendaftaran ---------------------------------------------------------------------------------------
