Gung, ini ada lagi artikel dari teman, enterpreneur yang nggak sekolah
dan kaya raya, masih butuh orang jenius kayak Agung RZ.
twinto
---------------------------------------------------------------------------------------------
The Two Immutable Law of Goblok
I. Hukum Pertama : The Law of Continous Supply of Stupidity
Misalkan pada suatu hari anda sedang naik mobil, tiba tiba di depan
anda
terdapat becak yg nyelonong seenaknya dan membuat anda kaget membanting
stir
ke kanan. secara otomatis otak anda memerintahkan sel sel syaraf utk
mengirimkan command ke mulut anda. automatically, anda pun berteriak
"ooo..
dasar becak goblok..". Tukang becak itu pun secara otomatis akan
menjawab,
tentu saja dengan amplituda suara yg lebih kecil: "ya kalo pinter
saya ndak
mbecak pak.."
Nah, Misalkan anda mempunyai kapabilitas untuk mengambil satu tukang
mbecak
tadi untuk mengajarinya berbagai macam ilmu, maka tukang becak tadi akan
menjadi pintar. akibat dari kepintarannya ini, dia melihat berbagai
peluang
lain untuk mendapatkan nasib lebih baik. sebagai akibatnya, tukang becak
ini
akan berhenti mbecak. Konsekwensinya, becak milik juragan becak ini ndak
ada
yg narik. persis seperti aliran elektron akibat adanya beda potensial, yg
menyebabkan adanya "hole", "hole" becak ini akan
diisi oleh calon tukang
becak potensial yg lain, yg memang kepingin mbecak.
akibatnya, ketika anda nyetir mobil di jalan, kemungkinan besar anda akan
mengalami kejadian yg sama. "ya kalo pinter saya ndak mbecak
pak.."
Dengan demikian, jika laju kedatangan orang yg kita anggap goblok ini
jauh
lebih tinggi daripada orang pinter, maka untuk tiap orang pinter,
tersedia
banyak sekali orang goblok. dengan demikian, maka sisa orang goblok yg
ada
pada suatu waktu tertentu x adalah :
t = x
__
/
| [ g(t) - p(t) ] dt
|
_/
t = 0
( integral dari g(t) - p(t) dari t = 0 ke t = x )
dimana :
g(t) = jumlah orang goblok sebagai fungsi waktu
p(t) = jumlah orang pinter sebagai fungsi waktu
perhatian : hukum ini tidak berlaku untuk orang yg mbecak karena kepingin
olah raga.
II. Hukum Kedua : The Law of the Stupid-Rich - Smart-Poor
Pyramid
Misalkan anda sebagai engineer menjumpai orang2 yg goblok tapi kaya.
anda
sebagai orang pinter bertanya tanya :" kok bisa orang goblok goblok
ini
kaya? dia kan ndak sekolah ? "
Nah, hal ini dapat diterangkan sebagai berikut :
Anda telah memilih jalan hidup sebagai orang pinter, di mana per definisi
adalah "orang yang mencari hidup dengan menjual kepintarannya".
kepintaran itu sendiri adalah hal yang tidak bisa langsung mengenyangkan
perut. agar bisa mengenyangkan perut, pintar itu harus dikonversi. cara
mengkonversinya adalah dengan menjual kepintaran anda, pada orang yg
tidak
sekolah dan tidak tahu apa apa, tidak mengerti integral dan diferensial
tingkat 2, tidak lulus kalkulus I, II, dan III, gagal memahami hukum
newton
dan mekanika, susah mencerna hukum hukum termodinamika, kagum dan
terpesona
melihat aplikasi ilmu robotika, tapi dia KAYA.
Hal ini lebih merupakan konsekwensi dari jalan hidup yang anda pilih,
yaitu
menjadi orang-pinter. agar anda bisa makan, anda butuh orang yg goblok,
tapi
kaya. perjumpaan ini akan terjadi karena sifatnya memang "yin dan
yang",
saling melengkapi.
Karena itulah anda akan jarang sekali menjumpai orang yg pinter tapi
kaya,
dia pasti tidak butuh anda, karena dia sudah punya semuanya...
Anda juga akan jarang bahkan malas menjumpai orang yg pinter tapi miskin,
karena dia pasti adalah saingan anda...
Anda bahwa akan lebih muales lagi ketemu orang goblok tapi miskin, karena
kemungkinan besar dia adalah tukang becak pada hukum pertama.
Dengan demikian, telah diuraikan bahwa anda akan selalu terhimpit di
dalam
piramida ini. akan susah sekali bagi anda utk naik ke puncak piramida,
terutama sekali karena :
1. sifat utama dari pintar adalah nearly irreversible. sekali anda
pintar,
maka hampir tidak mungkin anda bisa kembali menjadi goblok.
2. anda nggak pegang uang..
dengan demikian, diperlukan energi eksitasi yg sangat besar untuk bisa
naik
ke orbital "goblok tapi kaya"
Tetapi bagaimanapun anda masih lumayan.. paling jauh anda kan cuma
pinter...
lha saya ini lebih parah.. saya ini sudah terlanjur
jenius....
