IAGI: militansi, prioritas, dan logistik

Andang Bachtiar (Ketua Umum IAGI)


Kawan lama saya dari Kanada meng-cc-kan ke saya emailnya yang sedang mendiskusikan 
tentang kasus Banyu-Urip Cepu TAC Block, dimana terjadi keprihatinan yang mendalam di 
beberapa kalangan rekan-rekan Indonesia professional migas di luar negeri bahwa 
ternyata -kembali- Cepu Block di"kerjasamakan" dengan pihak asing, padahal banyak yang 
merasa bahwa "Indonesia" pun sebenarnya mampu menanganinya sendiri; apalagi diketahui 
bahwa cadangan minyak disitu adalah lebih dari 300 MMBO, sehingga tergolong sebagai 
"giant field". Untuk mengkaitkan saya dengan topik pembicaraan, kawan tersebut 
mempertanyakan: bagaimana suara (Ketua) IAGI dalam masalah ini? Selanjutnya dia juga 
mempertanyakan, mengapa tidak muncul analisa dan proposal tandingan dari kelompok 
profesional seperti IAGI, HAGI, IATMI, Ikatan2 Alumni dan sebagainya? Semua yang dia 
hubungi selalu bilang: "Kita (INDONESIA) mampu." Tapi tidak ada proposal tandingan 
yang bisa diolah oleh Pertamina, DPR, media, kelompok profesional, dll. 
Profesionalisme yang mempunyai visi adalah mengatakan, "apa yang haq adalah haq" dan 
mencoba mewujudkannya dalam gelanggang profesional. Kalau kita bicara sebagai 
profesional, lalu bikin jumpa pers tandingan, minta ketemu anggota parlemen, dll, ini 
dampaknya akan luar biasa. Apalagi kalau data dari Pertamina cukup lengkap. Kawan 
tersebut juga menambahkan bahwa: peranan kaum profesional dan kelompok profesional 
selama reformasi di Indonesia sangat minim. Di banyak negara lain kaum profesional dan 
kelompok profesional itu bagian penting sekali dalam perumusan kebijakan. Kebijakan 
enerji alternatif itu tidak bisa disusun oleh 2 juta orang di lapangan. Hanya kaum 
profesional di bidang itu yang bisa. Begitu juga kebijakan pendidikan, lingkungan, 
industri, perbankan, hukum, pertambangan, dsb. Di AS, Kanada, Eropa Barat kelompok 
profesional itu, selain sebagai perumus dan pemantau kebijakan, punya beberapa fungsi 
lain, seperti: pool of talent. Kelompok profesional itu menjadi semacam gelanggang 
pertarungan ide-ide. Dari gelanggang itu parpol, anggota parlemen, dsb, mencari
bakat-bakat untuk mengembangkan ide-ide dalam parpolnya.

Lepas dari masalah pro&kontra soal  Banyu Urip yang dikerjasamakan lagi, saya menjawab 
kawan tersebut justru dengan menekankan pada kenapa tidak ada analisa & proposal 
tandingan dari kelompok profesional (baca: IAGI) dan lebih jauh lagi: kenapa peran 
kelompok profesional (baca: IAGI) dalam gerak reformasi di Indonesia saat ini sangat 
minim. Menurut saya, permasalahan dasarnya ada pada 3 kata kunci: militansi, skala 
prioritas, dan logistik

1.1. Kaum dan kelompok profesional terlahir untuk tidak jadi militan. Kalau mereka 
jadi militan, mereka tidak akan lagi profesional. Padahal militansi itulah yang 
diperlukan untuk bisa proaktif membuat analisa & proposal tandingan dan menyebarkannya 
dan sekaligus mengimplementasikannya. Dengan militansi, kaum atau kelompok yang semula 
profesional akan mencabutkan dirinya dari akar kesetiaan pada profesionalisme-nya dan 
mulai berpindah, melompat atau bergeser pada substrat yang lebih luas bernama a.l.: 
ideologi, nasionalisme, agama, dan bahkan bisnis. Dibutuhkan makelar-makelar yang 
bernama politisi, aktifis LSM, anggota DPR, konglomerat atau bahkan seorang menteri 
untuk menggugah kaum/kelompok profesional memberikan analisa & proposal tandingan-nya 
itu. Ketika saya beri muatan bisnis, nasionalisme atau bahkan ideologi pada Ikatan 
Ahli Geologi Indonesia, maka saya sudah tidak berpijak pada tataran profesional lagi. 
Makanya saya tidak memakai atribut IAGI ketika saya banyak bergerak diluaran sebagai 
penasehat ahli bupati-bupati penghasil MIGAS (FKDPM) atau apalagi ketika mencari 
nafkah (bisnis) sebagai penasehat ahli eksplorasi di beberapa perusahaan perminyakan 
dan pertambangan. Kaum profesional yang "profesi"nya sebagai pengamat perminyakan, 
pengamat ekonomi perminyakan, pengamat eksplorasi, ataupun pengamat-pengamat yang lain 
memang tidak harus jadi militan untuk bisa memberikan analisa dan proposal tandingan. 
Dengan mudahnya mereka akan melakukannya, karena memang pekerjaannya adalah mengamati, 
mengajarkan, berteori, tapi tidak mengerjakan. Tetapi sayangnya, sebagian besar dari 
anggota kelompok/paguyuban profesional (termasuk juga IAGI) bukanlah pengamat. 
Kebanyakan dari mereka adalah pekerja profesional, yang punya majikan ataupun bohir, 
yang membuat mereka menjadi sangat tidak independen. Kalaupun mereka mempunyai 
pemikiran analisa & proposal tandingan (seperti yang kawan saya katakan: semua yang 
dia kenal bilang: "kita mampu"), itupun saya kategorikan sebagai "pemikiran (maaf) 
masturbasi" (meminjam istilah di kampus dulu), karena mereka tidak akan pernah bisa 
mengimplementasikannya selama mereka berpegang teguh pada asas profesionalismenya. 
Kalau mereka serius dan mau militan, harusnya mereka keluar dari status pekerjaan 
resmi mereka sekarang dan meneriakkan analisa & proposal tandingan tsb dalam kapasitas 
profesionalisme pribadi (ataupun kelompok baru yang mereka bentuk) yang lebih 
berorientasi pada substrat lebih luas yang sebutkan tadi (bisnis, partai, kelompok 
politik, LSM, dsbnya). Terus ada pertanyaan: bukankah teman-teman yang melontarkan 
ide-ide analisa & proposal tandingan dalam diskusi-diskusi kawan tsb bisa juga memakai 
status pengamat, kemudian memformal-kan hasil pengamatannya tersebut dalam lembaga 
kelompok profesional macam IAGI?? No way, tidak mungkinlah itu terjadi. Karena apa? 
Sekali lagi saya tegaskan, bahwa kalaupun mereka jadi pengamat, status 
ke-pengamat-annyapun adalah "ngambang" (seperti istilah kawan saya aussie dulu waktu 
rapat di GEA untuk mogok: bahwa sebagian besar dari kita adalah "..... ngambang"). 
Pengamatan gadungan, alias ngomong gak bayar, alias gak punya resiko, sehingga mereka 
bisa ngomong sampai menyundul langit tapi tidak punya kewajiban untuk 
mengimplementasikan apa yang diomongkan: sama saja bohong!! Bagaimana mungkin IAGI 
menanggung beban "nama", "kesan politik", "lawan-kawan" dsbnya karena memformulasikan 
ide analisa & proposal tandingan tersebut, sementara para anggotanya tidak punya 
komitmen untuk melaksanakan apa yang mereka omongkan (karena mereka terikat pada 
status pekerjaannya dimasing-masing perusahaan atau lembaga). Lha wong bayar iuran 
saja baru maksimum 20% dari keseluruhan anggota yang "mau" membayar.

1.2. Nah, dengan diantar oleh masalah iuran itu pula saya masuk ke masalah skala 
prioritas. Untuk organisasi profesi yang disebutkan kawan saya sebagai "kelompok" 
profesional semacam IAGI (HAGI, IATMI, PERHAPI, Ikatan ALumni dsb), skala prioritas & 
lapangan bermain (playing field) nya sangat beragam, tergantung dari elan kepemimpinan 
dan semangat generasinya. Kalau anda mau tanya: kenapa tidak tergantung AD/ART-nya 
saja? Wah,.. hampir keseluruhan organisasi profesi yang didirikan jaman orde lama - 
orde baru itu punya AD/ART yang hampir seragam. Tujuannya juga hampir seragam: 
pokoknya harus ada pembangunan nasional-nya lah. Jadi, tergantung siapa yang jadi 
sopir organisasi itu saja: prioritas apa yang dikerjakan dan lapangan bermain 
(playing-field) mana yang disentuh. Ada organisasi yang berkecimpung di tataran 
kebijakan, terus menerus memasok input ke pemerintah, selalu bicara tentang policy 
nasional, ada juga organisasi yang lebih mementingkan konsolidasi, partisipasi, 
peningkatan bargaining profesionalisme lewat pendidikan keahlian extra-perusahaan, dan 
sosialisasi profesi. IAGI dibawah kemudi saya lebih saya arahkan ke yang kedua, karena 
saya melihat tanpa partisipasi aktif, keterlibatan aktif, dan dukungan kuat aspirasi 
dari bawah, apa yang kita omongkan di atas berupa input policy dsbnya, akan menjadi 
tak bergema, sia-sia. Untuk itulah, maka tidak terlalu banyak IAGI membuat press 
release yang berhubungan dengan masalah-masalah geo-politics di Indonesia seperti 
(mungkin) pada jaman kepengurusan sebelum saya. Tetapi secara terus menerus, saya 
arahkan PP-IAGI untuk membuat dan mengirimkan masukan-masukan tertulis (yang tidak 
bombastis dan tidak jadi press-release) ke BP-MIGAS, ke Ditjen Migas, ke DPR, ke 
Menteri ESDM, dan pihak-pihak terkait lainnya tentang berbagai macam hal. IAGI 3 tahun 
kemarin dan masih akan 2 tahun kedepan,.... lebih banyak bikin sosialisasi geologi ke 
masyarakat, penyuluhan ttg bencana geologi, pendidikan untuk lsm-lsm, kursus & field 
trip buat anggota, guest lecturing, peningkatan kemampuan penulisan paper & 
presentasi, pembenahan sandi stratigrafi, dsb, dsb,... yang jauh dari kesan populis, 
bombastis dan layak press-release. Memang prioritasnya masih disitu dulu. Lha wong 
ngerjain itu semua aja sudah jungkir balik dan perlu akrobat, je..... Karena 
sebenarnya menjalankan organisasi seperti IAGI di Indonesia ini hampir sama dengan 
menjalankan himpunan mahasiswa jaman dulu: tidak dibayar, pengabdian, siap untuk 
diludahi, siap muka badak, siap kerja sendiri, siap kesepian. Mungkin ada kelompok 
profesional lain yang jauh lebih politis dari IAGI (Perhapi, ISEI, dll), tapi saya 
yakin dibalik suara mereka yang keras didunia luar; ikatan didalam, komitmen, aspirasi 
anggota, dsbnya sangat lemah. Lama-lama juga anggota akan tahu bahwa sebenarnya suara 
yang dibawakan pimpinannya itu adalah suara pimpinannya sendiri, bukan suara anggota. 
Karena apa? Karena pimpinannyalah yang membiayai organisasi, karena memang anggotanya 
tidak peduli, tidak komit untuk menghidupkan organisasi. Jadi sang pemimpin merasa 
berhak untuk menggunakan kendaraan organisasi melontarkan ide-ide "politis"nya, karena 
toch, dia sudah berkorban banyak  untuk organisasinya. Di IAGI, saya tidak mau terjadi 
seperti itu.

1.3. Masalah logistik sangat erat hubungannya dengan militansi dan skala prioritas 
diatas. Logistik kaum dan kelompok profesional ada ditangan para pemodal dan pemegang 
kekuasaan. Selama mereka tidak bergandengan tangan dengan 2 kelompok tersebut, 
logistik mereka tidak akan pernah bisa cukup terpenuhi. Ketika logistik untuk 
pemenuhan hidup layak kelas menengah tidak terpenuhi; terlupalah soal militansi, 
naiklah prioritas perut dan gengsi menjadi prioritas nomer satu. Apakah ada kaum atau 
kelompok profesional yang bisa memenuhi logistiknya sendiri sampai dia berhasil sukses 
dalam bisnis/politik? Banyak!! Tetapi ketika mereka sudah bisa memenuhi logistiknya 
sendiri, maka dia sudah berubah status menjadi pemodal atau pemegang kekuasaan. 
Panigoro, Pramono Anung, Heri Akhmadi adalah contoh
kaum profesional yang tidak lagi profesional karena mereka sudah jadi bisnisman dan 
atau politisi.Mereka bisa jadi sangat militan, tapi untuk kepentingan bisnis dan atau 
politik. Karena apa? Karena mereka sudah melewati batas ambang pemenuhan kebutuhan 
logistiknya; walaupun sebenarnya tidak ada namanya nilai mutlak batas ambang tersebut 
(karena semakin mereka meningkat, semakin tipis beda antara puas-cukup / 
tidakpuas-kurang).


Bandung, 16 Nopember 2003

Kirim email ke